
💌 LOVE OF FATE 💌
🍀 HAPPY READING 🍀
.
.
...Ele.... mengingatmu itu mudah, saya melakukannya setiap hari. Tapi merindukanmu adalah sakit hati yang tidak pernah hilang. Bagaimana ini?...
🔸🔸🔸🔸🔸
Alvin disambut beberapa tim, ketika ia keluar dari mobil untuk meninjau lokasi bangunan yang baru dimulai. Bangunan yang ada dipinggir kota agak jauh dari perkotaan. Butuh waktu satu jam ke sana.
Para manager personal, manager pemasar, dan manager pabrik serta para devisi sudah berjejer rapi untuk menyambut kedatangannya. Mereka menundukkan kepala menyambut direktur utama Smith itu. Langkah kaki menggema serentak mengikuti langkah Alvin, tidak cepat dan tidak lambat.
Alvin langsung survey lapangan ini, meliputi semua jenis item kontrak yang berkaitan dengan uraian jenis pekerjaan, volume kebutuhan lapangan, maupun semua data-data yang menyangkut lokasi. Beberapa tim ikut terlibat dalam mengurus proyek ini. Survey kondisi awal semua item pekerjaan di lapangan secara detail selama periode pekerjaan. Mereka sangat luar biasa bekerja keras dalam melaksanakan pembangunan ini dengan baik. Tim dari anak cabang lainnya juga datang untuk melihat satu lagi masa depan Smith.
Alvin memberi peluang besar membuka lapangan pekerjaan bagi yang membutuhkan pekerjaan. Ia dan bersama tim yang lain berjalan memasuki area bangunan. Seseorang pria datang menyambut kedatangan mereka.
"Selamat pagi, Pak!" Sambut pria itu membungkukkan badannya untuk memberi hormat kepada direktur utama Smith. Lalu menjabat tangan Alvin dengan genggaman erat.
"Selamat pagi juga, Pak." Sapa Alvin mengulurkan tangannya untuk menjabat pria sebagai penanggung jawab atas proyek ini.
"Bagaimana proyeknya apa ada masalah?" Tanya Alvin menatap bangunan yang tersaji di hadapannya.
"Semuanya berjalan dengan baik pak, tidak ada masalah sama sekali. Sesuai permintaan anda proyek ini akan selesai secepatnya."
"Bisa saya berjalan untuk melihatnya?" Tanya Alvin sambil menatap sekitarnya.
"Tentu saja pak, silahkan!" Penanggung jawab proyek mempersilahkan Alvin melihat lokasi proyek.
Beberapa tim ikut datang termasuk Sebastian dan Mike, begitu juga dengan Marvel yang mengikuti Alvin dari belakang. Mereka membicarakan perkembangan terbaru dan kendala yang dihadapi.
Mereka berjalan beriringan sambil melihat gambar dengan serius. Alvin kembali serius memeriksa bangunan. Ia meminta sebuah bentuk laporan dari semua item pekerjaan dengan tujuan untuk mengetahui setiap perbandingan antara volume kontrak kerja dengan kajian atau perhitungan teknis yang sudah dilaksanakan. Sebastian ikut memberikan usul dan saran mengenai pembangunan itu.
"Oke pak, anda tinggal menyerahkan laporan lengkap mengenai detail pelaksanaan pada setiap pembayaran pekerjaan. Selain itu, penyedia jasa juga menyampaikan detail dari hasil survey lapangan. Laporannya bisa langsung kirim melalui email saya saja." Kata Alvin menutup berkas yang ia pegang.
"Baik pak, saya akan kirim secepatnya." Jawab lelaki itu dengan cepat.
"Maaf. Saya tidak bisa berlama-lama."
"Anda tidak makan siang dulu pak, kami sudah mengundang kepala daerah untuk makan bersama dengan anda."
"Terima kasih sebelumnya atas perhatiannya. Tapi maaf, saya tidak bisa. Ada masalah yang harus di atasi di anak cabang di desa Mulia. Lain waktu kami akan memenuhi jamuan anda."
"Baiklah kalau begitu senang bertemu dengan pak direktur." Pria itu mengulurkan tangannya kembali.
__ADS_1
Alvin tersenyum menyambut tangan paruh baya itu. "Senang bertemu dengan anda juga. Jangan lupa kirimkan email yang saya minta."
"Baik pak,"
Alvin melangkah mendekat ke arah Sebastian dan Mike, mereka saling berjabat tangan juga.
Marvel sedikit membungkukkan badannya, lalu membuka pintu untuk bosnya itu. Alvin langsung duduk di kursi belakang. Dengan cepat Marvel kembali duduk di kursi bagian kemudi.
"Kita langsung ke desa Mulia." ucap Alvin menyandarkan punggungnya kesadaran kursi dengan mata terpejam. Satu pekerjaan selesai, sekarang ia langsung ke desa Mulia.
🔸🔸🔸🔸🔸
Udara sejuk khas pegunungan langsung menyapa saat Alvin dan Marvel memasuki area pegunungan. Pepohonan rindang berjajar di sisi kiri dan kanan jalan membuat suasana menjadi teduh. Alvin menikmati perjalanan, ia teringat saat tinggal bersama Ele. Alvin tersenyum samar saat mengingat kenangan itu. Ia menarik napas panjang dan kembali menikmati perjalanan.
Ban mobil terus berputar, mereka melaju menyusuri jalanan yang lumayan panjang tersebut. Tiba-tiba matanya memicing ke sebuah tempat dengan pagar tinggi dan halaman luas. Bangunan di depannya terdapat bangunan cafe semi modern yang di design asri bercat hijau muda itu.
Lokasi mereka terletak di dataran tinggi dengan suhu yang sangat dingin dan sejuk.
"Tempat apa itu, Marvel?" Tanya Alvin membuka pembicaraan di sana.
"Perkebunan strawberry, tuan." Jawab Marvel.
Ser.. Aliran darahnya serasa berhenti saat mendengar kalimat itu. "Perkebunan strawberry?" Tanya Alvin untuk menyakinkan pendengarannya.
"Benar tuan. Di dalam perkebunan itu ada cafe tuan, mereka menyajikan banyak kue dari olahan strawberry. Sementara di dalamnya terdapat kebun strawberry yang bisa dipetik sendiri. Kita juga bisa meminta mereka membuat kue sesuai yang kita inginkan dari strawberry yang kita petik."
"Benarkah? Siapa pemiliknya?"
"Baiklah, nanti saya ingin mampir untuk mencicip kue-kue di sana."
"Baik tuan."
"Oh iya, jika masalah ini tidak bisa diatasi secepatnya. Kemungkinan saya harus menginap. Persiapkan penginapan selama dua hari."
"Baik tuan." Jawab Marvel cepat.
Tidak ada pembicaraan setelah itu, Marvel kembali fokus menyetir.
Sesaat setelah Marvel berhasil memarkirkan mobil layaknya pembalap, membuka pintu mobil lalu keluar untuk membuka pintu untuk pak direktur sambil terus bergumam pada diri sendiri.
"Mampus…. Mampuuusss…. Aku lupa membawa dokumen yang di minta pak direktur….” Gumam Marvel menyadari ia meninggal dokumen penting di ruangannya.
Dengan sigap Marvel membuka pintu buat pak direktur dan mengambil buku agenda untuk menulis beberapa jadwal penting pak direktur. Ia memencet tombol kunci agar mobil terkunci.
TIT!
Alvin berjalan menuju lokasi proyek,
Sementara Marvel sibuk menghubungi seseorang agar mengirim beberapa laporan melalui email. Sesekali dia membuka buku agenda dan memeriksa apakah ada yang tertinggal atau kah ada yang kurang.
__ADS_1
Alvin dan Marvel berjalan menuju jalan tikus seperti lubang tanpa cahaya. Gelap, dingin dan berbatu. Ia masuk jauh ke dalam seakan mendekati di sudut bangunan proyek. Tapi Alvin tak peduli. Ia terus berjalan.
Terdengar sayup-sayup suara beberapa orang yang berdebat di sana. Alvin akhirnya sampai berjalan menuju pemukiman warga. Ia terus mendengar aspirasi masyarakat di sana. Saling bersahut-sahutan, seperti tidak ada yang mengalah. Walau mereka belum menyadari jika pak direktur sudah berdiri di belakang mereka.
"Aku tidak setuju tanah peninggalan orang tuaku di ganti rugi oleh perusahaan Smith. Bagaimana dengan kalian?" Kata seseorang dengan suara penuh amarah.
"Bagiku tidak masalah, asal jangan merugikan kita, yang aku tahu perusahaan Smith di kenal tidak pernah memanfaatkan warga yang ada di sini."
"Biarkan perusahaan Smith mengambil alih dan kontraktor itu merencanakan pembangunan hotel Smith. Lokasi tanahnya strategis, dan cukup jauh dari pemukiman. Luas tanahnya lima hektar. Jadi sebenarnya tidak masalah dan tidak mengganggu. Ini bisa memajukan masyarakat di desa kita. Karena tempat ini, kita tahu sendiri, banyak tempat wisata."
"Kalau pun kau tidak setuju.Tidak masalah. Terpenting dijual harus bersamaan, yang ada kau sendiri yang rugi." kata Lelaki itu mewakili yang lain.
"Kalian pastikan orang proyek itu jujur. Tidak seenaknya!" Kata pria yang satunya.
Alvin datang dan menyapa beberapa warga yang menolak untuk menjual tanahnya. Setelah menjelaskan beberapa rinci dan kemajuan yang akan warga terima di tahun-tahun berikutnya. Akhirnya beberapa warga mulai mengerti. Perlahan-lahan akhirnya mereka setuju dan menerima.
Sapaan ramah yang dilakukan langsung dari direktur Smith membuat warga mempunyai kesan tersendiri. Mereka menilai direktur bisa mengetahui langsung keluh kesah dari warga. Saling menguntungkan agar semua pihak tidak dirugikan. Pertemuan akhirnya berjalan dengan baik, Alvin tersenyum bahagia. Ternyata kehadirannya membawa dampak positif bagi warga.
Jelang siang, usai pertemuannya dengan warga. Alvin mengajak beberapa warga untuk melakukan makan siang bersama di sebuah restoran. Kembali ke rencana awal Alvin memang harus menginap di sini. Sampai sore hari mereka masih asyik berbicara dengan warga. Meminta masyarakat untuk menandatangani surat perjanjian, agar tidak ada keributan dikemudian hari.
Tiba-tiba awan mendung hitam pekat disertai rintik hujan membasahi setiap jengkal tanah sudah mulai tercium bau tanah yang menyengat dibasahi hujan. Tak menunggu lama sore itu, hujan sangatlah deras.
Selesai pertemuan dan melakukan acara makan siang dengan warga. Rasa lelah dan ngantuk tiba-tiba menguasainya. Alvin langsung ke penginapan untuk beristirahat.
"Kita kemana pak? apa kita langsung ke kebun strawberry seperti yang bapak minta?" Tanya Marvel mengikuti Alvin dari belakang.
"Aku ingin kembali ke hotel. Nanti malam kita masih ada undangan makan malam bersama bapak bupati." sahut Alvin dengan rasa lelah yang luar biasa.
"Baik pak." Jawab Marvel dengan lugas.
Setiba di hotel, Alvin mempersilakan pak direktur masuk. Sementara Marvel bersebelahan dengan kamar pak direktur.
Marvel langsung memberikan pakaian ganti untuk pak direktur.
"Maaf tuan, ini pakaian anda sudah saya bawa dari mobil."
"Terima kasih, Marvel."
"Selamat beristirahat, tuan. Kalau begitu saya permisi dulu." Kata Marvel dengan sopan lalu pamit undur diri.
Tidak ada sahutan. Alvin berjalan dengan langkah lunglai. Ia mengambil ponselnya untuk mengecas ponselnya. Lalu, menjatuhkan tubuhnya ke kasur dan mengistirahatkan tubuhnya yang lelah. Tidak butuh lama, Alvin pun tertidur.
BERSAMBUNG.....
^_^
Tolong dukung ya my readers tersayang. Ini Novel ketujuh aku 😍
Salam sehat selalu, dari author yang cantik buat my readers yang paling cantik.
__ADS_1
^_^