
π LOVE OF FATE π
Β
π HAPPY READING π
.
.
...Realita tetap realita, tak peduli kamu menghindar atau tidak, semua itu tidak mengubah kenyataan yang ada....
πΈπΈπΈπΈπΈ
Namun baru juga Ele melangkah mendekat ke arah Alvin, mobil mendadak mengerem tak jauh dari mereka. Beberapa orang bertubuh tegap keluar dari mobil.
Tap...tap ...tap...
Tap...tap...
Tap...
Suara langkah kaki terdengar begitu jelas di telinga Alvin dan Ele. Sontak membuat mereka membalikkan badan. Mereka lengkap dengan berpakaian khusus sambil menodongkan senjata kepada Alvin dan Eleanor.
Alvin dan Ele begitu kaget, mereka mundur beberapa langkah untuk melindungi diri. "Siapa kalian?" tanya Alvin menarik Ele bersembunyi di balik tubuhnya.
"Minggir!" ucap salah satu pria mengarahkan pistolnya kepada Alvin. "Kami berurusan dengan wanita itu. "
Ele terkejut dengan mata terbelalak. "Tapi aku tidak mengenal kalian, apa yang kalian inginkan?" Seru Ele.
Harry keluar dari sana. Ele shock saat melihat siapa yang keluar dari mobil. Sorot mata Harry begitu tajam, menyatu di antara ke dua hidung mancung yang sempurna. Ia menikam dengan pesona wajah dingin dan tegas.
"Kau tidak berubah Ele, selalu keras kepala, apa kau tidak takut mati?" Ucapnya sinis. Ele mengerti maksud ucapan Harry.
Kemudian Harry mengerutkan keningnya, Ia mantap Alvin begitu lama. Sepertinya ia mengenal sosok pria itu. Tapi dimana? Harry benar-benar tidak tahu.
"Siapa pria itu Ele?" tanyanya dengan tegas.
Bukannya menjawab, Ele tersenyum kecut dengan alis menukik. "Untuk apa kau datang lagi, bukankah aku sudah pernah katakan jangan pernah menunjukkan dirimu lagi." ucap Ele tak kalah tegas dari Harry.
"Cih...!" Harry berdecak, "Sejak kapan kau berani mengancamku Ele," Ia tertawa nyaring di sana. Sorot matanya masih terlihat dingin. "Bukankah hidup dan matimu ada di tanganku? jangan mencoba-coba menggertakku."
"Aku tidak ingin bertemu denganmu. Sekarang pulanglah!"
"Siapa dia Ele? Apa kau mengenalnya?" Tanya Alvin setengah berbisik.
Ele melirik sekilas, namun tidak menjawab. Kemudian matanya menatap lurus ke depan, tanpa mengedip.
Harry menghela napas singkat, mengusap keningnya dan tersenyum smrik. "Aku tidak ingin mengulang ucapanku Ele, seperti kesepakatan kita, kau harus menerimanya."
"Aku tidak pernah menerima kesepakatan darimu dan aku tidak ingin kau mengatur hidupku lagi." Ele menekan setiap kalimatnya. Tangannya mengepal karena menahan amarah.
__ADS_1
Harry menggeram sampai menggertak giginya. Dengan cepat, ia mengarahkan pistolnya dan menargetkan ke arah Ele. "Berarti kau siap mati hari ini, Ele!"
"Apa yang kau lakukan?" Alvin merentangkan kedua tangannya untuk melindungi Ele. "Kau jangan berani dengan perempuan saja." ancam Alvin, walau sesungguhnya ia begitu ketakutan. Ia tak pernah menghadapi orang-orang seperti ini.
Sementara Ele terdiam kaku. Jantungnya langsung terpukul kencang saat melihat Harry menodongkan senjata ke arah Alvin.
"Aku yang harusnya bertanya, siapa kau? Jangan ikut campur!" Gertak Harry dengan mata menyorot tajam.
Glek!
Alvin menelan salivanya saat melihat tatapan Harry seakan membunuhnya tanpa menyentuh. Tampang Harry benar-benar membuatnya takut. Kedua alisnya menyatu begitu sempurna. Sorot matanya begitu tajam bak pedang yang siap menebas jantung siapapun. Rahangnya mengeras dan pupil matanya seakan ingin keluar. Mata Alvin mengedip cepat kemudian berucap.
"Kalian salah orang, jika kalian ingin merampok kami? kami tidak punya apa-apa. Lihat, kami hanya orang desa yang sedang menyaksikan acara festival di desa ini." Alvin berucap lantang untuk menutupi rasa takutnya. Sementara Ele tetap tenang tanpa takut sedikit pun.
Harry tak sabaran, ia memberi gestur untuk memerintahkan anak buahnya agar segera mengamankan Alvin.
Kedua pria itu mengangguk paham, mereka langsung mendekati Alvin dan memegang tangannya. Sontak Alvin terkejut dan berusaha melepaskan diri.
"Apa yang kalian lakukan?" bentak Ele. "Lepaskan dia!"
Harry menarik napasnya, mencoba bersabar dengan sikap Ele yang keras kepala. "Apa karena lelaki ini, kau menolak perjodohan itu Ele?"
Ele menutup mata dan menahan napasnya sejenak. "Kenapa? kau sepertinya begitu penasaran dengannya?"
"Cih..."Harry tersenyum sinis, menatap ke arah lain. Kemudian ia menatap tajam ke arah Ele. "Bukankah lelaki ini yang menghancurkan kebun strawberry kita?"
Mendengar kata 'Kita' Ele tertawa hambar. Ia masih tetap tenang. Tatapannya sedingin es. Membekukan. Matanya mengedip pelan, lalu menajam. "Kita? Sejak kapan kita seperti keluarga? Bukankah kalian sengaja membuangku ke sini?" teriak Ele, kesabarannya mulai habis.
PLAKKK
"Ele," Teriak Alvin. Namun ia tidak berdaya karena tangannya di pegang kuat. Alvin tidak bisa membantu Eleanor.
"Berani kau mengatakan itu. Dasar sampah!" Jemari kuat Harry mencengkeram baju Ele hingga membuat tubuhnya terangkat dan kemudian mendorong tubuh Ele sampai membuatnya tersungkur.
Harry berjongkok agar bisa sejajar dengan Ele, Ia menarik rambut Ele ke belakang. Lagi-lagi Alvin berontak dan tidak terima. "Apa yang kau lakukan?" teriak Alvin. "Lepaskan aku,"
Namun kedua pria itu semakin mencengkram tangan Alvin begitu kuat.
"Siapa dia?" tanya Harry menarik rambut Ele semakin kuat, hingga membuat Ele meringis kesakitan. Air matanya menetes di sudut matanya.
"Dia adalah kekasihku. Ada yang salah?"
DEG!
Mata Alvin terbelalak kaget, jantungnya terpukul kencang saat Ele mengatakan itu. "Apa itu artinya cintaku terbalaskan?"
Rahang Harry mengencang kuat, "Kau pikir aku akan percaya itu?! Dasar sampah!" Harry mendorong kepala Ele ke depan, sampai Ele terhuyung lagi.
Ele hanya bisa menahan amarahnya. Ia menggigit bibir bawahnya begitu kuat. Air matanya kembali menetes di pipinya. Tatapannya begitu tajam. Ele bahkan menantang Harry dengan senyum sinisnya.
"Ya aku memang sampah, jadi kau tidak berhak mengatur kehidupan yang seperti sampah."
__ADS_1
Harry membuang napas tidak suka. Ia tersenyum miring. "Benar, sampah akan tetap sampah, dan kau pantas dibuang ke tempat pembuangan sampah."
"Maka dari itu jangan pernah kembali lagi," Ele berteriak histeris. Dadanya naik turun begitu cepat karena menahan emosi. Ele menatap Harry penuh kebencian. "Apa kau mendengarku? tidak ada yang berubah. Perjodohan konyol itu tidak akan terjadi. Enyahlah dari hadapanku!"
Alvin diam membeku di sana. Kini sedikit demi sedikit, ia tahu arah pembicaraan mereka. Alvin diam sebagai pendengar di sana. Bagaimana pun ini masalah keluarga Ele, Ia tidak mau ikut campur dalam hal ini.
"Seharusnya kau berterima kasih karena masih menerimamu yang berani membunuh ayahku. Dasar pembunuh!"
"Semua itu aku lakukan untuk menyelamatkan diriku."
"Kau benar-benar anak durhaka. Kau bahkan tidak tahu bagaimana nasib ibumu yang berada di penjara."
Mendengar itu Alvin begitu terkejut, Ia menggeleng berusaha mencoba mencerna setiap kata yang baru di dengarnya. Ia diam membeku di tempatnya. Untuk menelan salivanya saja ia begitu susah. Ia hanya terdiam seakan tidak percaya.
Sementara Eleanor meremas tangannya erat-erat, napasnya tersengal menahan segala gejolak yang ada di dada. Ia sudah mencoba untuk mengubur masa lalunya yang menyakitkan itu. Ia tidak ingin mengingatnya, namun setiap kenangan buruk itu seperti kaset rusak yang berputar di otaknya.
"Ibumu yang salah, ia terus menggoda ayahku hingga terperangkap dengan pesonanya."
Ele menggeleng, "Itu tidak benar." Ia berteriak sambil menutup kedua telinganya. Matanya menatap kosong dan terus menggeleng.
"Tau apa kau tentang masa lalu ibumu. Heuh?" Suara Harry naik satu oktaf. Ia tersenyum sinis dan berhasil menyulut emosi Ele.
Ele kembali menggeleng di sana. Pandangannya kosong menatap ke bawah. Suaranya seperti meringis di sana. "Tidak ....Kalian yang datang dan merusak kebahagiaanku. Setelah apa yang dilakukan ayahmu. Itu semua hasil dari perbuatannya...." Teriak Ele histeris sambil memukul bagian dadanya.
Sementara Alvin memicingkan matanya, Ia menatap ke arah Ele yang begitu berbeda. Tak seperti Ele yang cerewet dan selalu suka membentaknya. Ia semakin tidak mengerti arah pembicaraan mereka. Tak ingin berdiam diri Alvin berhasil melepaskan diri dan berlari mendekat ke arah Ele.
"Ele, kau tidak apa-apa, kenapa tubuhmu gemetar? Lihat aku!"
"Ingat! kau harus menerima perjodohan ini." Kata Harry dengan tegas. Kemudian mereka meninggalkan Ele yang terus menangis di sana.
Bahu Ele naik turun karena gemetar. Harry memang kerap menyalahkan Ele, hingga membuat Ele terpuruk dan tidak bisa lepas dari masa lalu yang kelam itu.
Saat melihat hal itu. Alvin pun langsung bertindak dengan memeluknya dengan erat. Sementara Ele terus menggeleng dengan tatapan kosong.
"Aku tidak pernah salah, aku tidak pernah menyesal melakukan itu. Kamu percayakan?" Ucapnya pelan dengan bibir gemetar.
"Iya aku tahu, aku percaya Ele. Sekarang tenanglah!" ucap Alvin berusaha menenangkan Ele. Ia terus memeluknya dengan erat. Walau Alvin tidak tahu untuk siapa kata-kata itu ditujukan. Tapi untuk saat ini, Alvin hanya berusaha menenangkannya dulu.
"Ibu, maafkan aku! Aku tidak bermaksud membuatmu menderita seperti ini. Maafkan aku!" Ele semakin melepaskan tangisan pilunya.
"Tenanglah, aku mohon tenanglah, Ele. Jangan seperti ini." Ucap Alvin begitu khawatir. Sisi Ele seperti ini tak pernah terlihat olehnya. Apa yang membuat Ele seperti ini? Semua itu benar-benar berkecamuk di otak Alvin.
"Hikkkss.... hikkkss..." Tangisan Ele tak terdengar lagi hanya suara sesunggukannya saja. Ia tak lagi gemetar, tubuhnya tidak lagi tegang. Tangannya tak lagi mencengkram baju Alvin.
Alvin tak bicara, ia hanya membelai rambut Ele berulang-ulang dengan lembut. Memeluknya dengan erat. Ia pun berusaha untuk tenang.
BERSAMBUNG.....
^_^
Tolong dukung ya my readers tersayang. Ini Novel ketujuh aku π
__ADS_1
Salam sehat selalu, dari author yang cantik buat my readers yang paling cantik.
^_^