
💌 LOVE OF FATE 💌
🍀 HAPPY READING 🍀
.
.
...Tetapi apakah mungkin malam ini memang ada yang berbeda. Angin di malam ini meniupkan rasa yang berbeda. Sungguh terasa berbeda, apa hanya perasaanku saja?...
🔸🔸🔸🔸🔸
Di tempat Karaoke kelas VIP, kini musik dan telivisi menyanyikan lagunya sendiri. Para penghuni di dalamnya sudah puas bersenang-senang selama tiga jam bernyanyi. Mereka tertawa bersama. Bahkan sedih bersama sesuai dengan emosi lagu. Bergantian dinyanyikan sesuai dengan sejuta ekspresi wajah.
Saat semuanya memilih istirahat, Angel masih tetap bernyanyi. Ia menyanyikan lagu sesuai dengan perasaannya saat ini. Awalnya Ele, Oliv dan Raymond menikmati lagu yang di nyanyikannya. Namun di akhir kalimat, mereka tercengang dan saling berpandangan.
"Kamu jahat!!!" Teriak Angel di depan mic yang ada di tangannya.
Oliv dengan cepat menyikut lengan Angel dan mengambil mic yang di pegangnya. "Kamu gila ya? kamu mengatakan jahat di depan ibu Ele." Bisik Oliv dengan wajah tegang.
Wajah Angel berubah mengerucut. "Dia memang jahat! Aku benci!!!!" Teriak Angel sambil menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
"Astaga, Angel. Kecilkan suaramu," Oliv mulai geram melihat sikap Angel. Ia merasa tidak enak dengan bos mereka.
Angel menundukkan kepalanya. "Maaf bu, aku terlalu terbawa perasaan."
Ele hanya tersenyum tipis, "Tidak apa-apa, Angel."
"Apa dia sedang putus cinta?" Bisik Raymond kepada Ele.
Ele mengangkat kedua bahunya. Menatap sekilas ke arah Raymond yang duduk di sampingnya. "Apa terlihat seperti itu?"
"Hmmm."
Tiba-tiba panggilan dari ponsel Raymond berbunyi. Ia tersenyum saat melihat panggilan itu ternyata dari Alvin. "Aku angkat dulu, ya?"
Ele tersenyum sambil menganggukkan kepalanya. Raymond sudah beranjak meninggalkan ruangan VIP itu. Sementara Ele tak berkomentar apa-apa, ia hanya terus memperhatikan wajah Angel yang menunduk sedih.
Ele menarik napasnya, melipat tangannya di atas meja. Ia pun akhirnya bicara. "Siapa yang jahat, Angel? Apakah itu aku?"
Angel mengangkat wajahnya. Ia mengibaskan tangannya dengan cepat sambil menggeleng. "Tidak bu, ini bukan ibu." Tatapan nanar menatap ke arah Ele. Wajahnya berubah sedih lagi. "Ini soal James, bu." Mata Angel sudah berkaca-kaca, ia tidak bisa menutupi betapa hancurnya hatinya saat ini.
Alis Ele mengerut. "James yang sering menjemput kamu?"
Angel mengangguk lemah. Wajahnya mengerucut menahan tangisannya. Air bening sudah mengkristal penuh di kelopak matanya, tergelincir bebas di pipinya.
"Kenapa dengan James?" Tanya Oliv tidak sabaran saat melihat Angel menangis di depan mereka.
Angel mengusap air matanya dengan cepat. "Dia membohongiku bu, dia telah menipuku."
"Menipu apa?" Kejar Oliv.
"Ternyata...ternyata...James sudah menikah."
__ADS_1
Deg!
Ele terdiam di posisinya saat mendengar kalimat itu. Tubuhnya terasa kaku dan tidak bisa bergerak. Jantungnya berdetak kencang di dalam dadanya. Napasnya berhembus tidak stabil, wajah Ele terlihat pucat. Perasaannya juga hancur saat mengetahui Alvin ternyata sudah menikah. Jadi, Ia tahu perasaan Angel saat ini. Karena Ele pernah berada di posisi Angel.
Begitu juga dengan Oliv, ia tak bisa menutupi rasa terkejutnya. "Kamu serius? James sudah menikah?" Matanya terbelalak tak percaya.
Angel menyapu rambutnya ke atas. "Apa ibu pikir aku bohong? dan yang lebih parahnya lagi, ternyata istrinya sedang mengandunggggg. Hatiku sakit sekali, Ahhhhh...." Tangisan Angel kembali pecah. Ia tak perduli lagi, yang penting malam ini ia harus meluapkan semuanya.
Ele hanya bisa menarik napasnya dalam-dalam. Pikirannya berkecamuk. Bayang-bayang sosok Alvin kembali terlintas di wajahnya. Ele sudah berusaha untuk tidak mengingat wajah itu lagi. Namun kenapa Alvin seperti berada di dekatnya. Ele kembali mengembuskan napasnya, mencoba tetap kuat. Ia hanya bisa diam, menatap ke arah Angel yang terus menangis.
Oliv berdiri sambil berkacak pinggang. Ia masih tak percaya dengan apa yang di dengarnya. Oliv terus menggelengkan kepalanya.
"Aku tidak mau memikirkan pria brengsek itu lagi. Malam ini aku ingin bersenang-senang." Ekspresi wajahnya berubah sembilan puluh derajat. "Manager Oliv! Aku mau tambah minumannya lagi." Angel mengambil botol Wine yang ada di depan Ele dan menuangnya. Ia mulai menghabiskan satu gelas anggur itu sekaligus.
Oliv tercengang saat minuman di tangan Angel telah habis. Yang ia tahu anggur tidak bisa diteguk sekaligus, Oliv menggeleng tak percaya. Namun, saat Angel hendak menuangnya lagi. Dengan cepat Oliv mengambil dari tangan Angel.
"Sudah, sudah, cukup Angel. Apa kamu sudah gila? Dari tadi kau sudah banyak minum dan kau mau minum lagi?"
"Tidak manager Oliv, aku wanita kuat, aku tidak akan mabuk." Angel mengambil botol Wine itu dari tangan Oliv.
"Sudah cukup! " Oliv lagi-lagi mengambil botol wine yang tinggal setengah itu.
"Aku sudah bilang tidak akan mabuk. Lihat saja aku baik baik saja. Minuman ini sangat mahal dan sayang kalau tidak di habiskan. Bukankah begitu, bu Ele?" Angel cekukan di ujung kalimatnya. Nada suaranya sudah mulai terdengar mendayu.
"Minum tidak akan menyelesaikan masalahmu. Jadi jangan coba-coba untuk minum lagi."
"Tapi aku bisa gila karena lelaki brengsek itu, hatiku sakit sekali, manager Oliv. Kau belum merasakan bagaimana sakitnya di posisiku," Angel menepuk dadanya dan sedikit menekan kalimatnya. Napasnya berembus cepat, menahan rasa sakit di hati.
Ele hanya bisa diam menatap ke arah Angel yang terus mengisi gelasnya. Angel sama sekali tidak perduli dengan ocehan Oliv.
Angel tak perduli. Matanya kembali berkaca-kaca saat mengingat James memperlakukannya dengan manis di depan teman-temannya. Tapi tak disangka, kabar ini seperti mimpi buruk untuknya.
"Dasar pria brengsek!" Angel lagi-lagi meluapkan emosinya. "Kita lihat saja, kau akan mati di tanganku, James." Ia tersenyum sinis dan kembali mengambil minumannya. Pandangannya mulai sayu. Angel mulai merasakan pusing. Ia menggeleng cepat. Menyadarkan pandangannya.
"Aku tidak boleh mabuk. Aku wanita kuat. James harus tahu itu. Aku tidak lemah." Mata Angel mulai berkunang-kunang.
"Oh my God," Oliv hanya bisa menggeleng melihat tingkah Angel. Apakah sesakit itu putus cinta? Lebih baik ia memilih jomblo seumur hidup, dari pada merasakan sakit seperti ini.
"Sudah hentikan, Angel. Ada ibu Ele di sini. Tidak enak dengan beliau." Kata Oliv, ia sekilas melirik ke arah Ele yang terus memperhatikan Angel.
Angel akhirnya tak kuat. Ia menjatuhkan kepalanya di meja dan meracau tidak jelas. "Aku kuat, aku wanita kuat."
Oliv mencoba membangunkan Angel. "Angel, sadarlah." Namun, tidak ada jawaban.
Oliv mengembuskan napas kesal. "Haissss kamu menyusahkan sekali."
Oliv akhirnya bangun dari duduknya. "Maaf, bu Ele. Angel sepertinya mabuk berat, biar saya yang mengantarnya pulang."
Ele ikut bangun dari duduknya. "Tunggu Raymond dulu, setidaknya ia bisa membantumu."
"Ahhhh...." Oliv melepaskan senyumnya. "Itu ide bagus bu." Sepertinya ibu Ele benar-benar bisa membaca pikirannya.
Raymond sudah selesai melakukan panggilan. Ia melangkah masuk ke ruangan itu lagi.
"Ray, tolong antar Angel. Dia mabuk berat."
__ADS_1
"Heuh? Bagaimana dengan kamu?"
"Jangan pikirkan aku, sekarang kita utamakan Angel dulu. Kasihan dia."
"Tapi Ele?"
Ele tersenyum tipis. "Terima kasih karena mengkhawatirkanku, Ray. Tapi aku bisa pulang sendiri."
Raymond menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Rencananya hari ini gagal lagi. "Baiklah, jika itu yang kamu inginkan."
"Terima kasih Ray."
Raymond hanya bisa tersenyum, sambil memeluk tubuh Angel yang sudah tertidur di bahunya. "Aku akan mengantarnya pulang dengan selamat."
"Terima kasih karena sudah mau direpotkan."
"Aku wanita kuat." ucap Angel mengigau mabuk.
Raymond tersenyum sambil memapahnya. "Oke kalau begitu, kami duluan." Pamit Raymond yang dikuti Oliv.
Saat melihat kepergian Raymond dan Oliv. Ele hanya bisa menarik napasnya yang terasa sesak. Ia terdiam beberapa saat. Hingga akhirnya Ele memilih melangkah meninggalkan ruangan itu setelah melakukan pembayaran.
Hembusan angin malam mulai menusuk tulang, suara jangkrik terdengar di telinganya. Dingin dan sepinya malam mengiringi langkah jarum jam menuju keheningan tengah malam, Ele masih diam dalam kesendirian. Diam dan hanya diam. Kesendiriannya membuat malam ini begitu panjang.
"Benar, kesendirian sangatlah melelahkan, mengesalkan, menyedihkan, karena kita merasa tidak ada yang memperhatikan. Bisa menjadi beban yang sangat memberatkan." Ele berbicara sendiri di sana, sambil menatap bintang di langit.
Dalam hati Ele bertanya. "Kenapa merasa sendiri di kala sepi? Merasa sunyi di saat dalam keramaian? Apakah karena aku sendiri atau merasa sendiri?"
Kalimat yang sering muncul dalam hati dan tak pernah dapat sebuah jawaban pasti. Ele terpaku, Ele tergugu dan termangu pada rembulan yang ada di atas langit.
Sepertinya, langit sedang berpesta pora dengan bintang gemintang. Angannya jauh mengembara pada suatu masa waktu Ele masih kecil.
Kerinduannya semakin membuncah, terhadap dua sosok yang luar biasa dalam hidupnya. Tanpa sadar air matanya menetes dari netranya. Ele juga teringat pada kenangan yang mendalam, yang luar biasa membekas di ingatan dan hatinya. Sosok yang sangat dirindukannya, tapi tak bisa dimilikinya.
Malam ini baginya sangat dingin. Tak seperti malam-malam sebelumnya. Ele sadar ada yang berbeda atau mungkin hanya perasaannya saja. Entahlah, Ia pun tak paham. Tetapi apakah mungkin malam ini memang ada yang berbeda? Angin di malam ini meniupkan rasa yang berbeda. Sungguh terasa berbeda.
Rasa rindunya kian terasa malam ini. Sekelabat bayangan membayang di kedua netranya. Sosok yang selalu bersemi di dalam hatinya. Mungkin tak pernah terlupakan oleh Ele. Ingin ia tuliskan satu pesan untuknya.
Hai…Alvin!
Apakah kau bahagia?
Mengingatmu bahwa tak ada yang sia-sia. Aku merindukanmu, sangat merindukanmu. Aku harap kamu baik-baik saja. Ele tersenyum sendu. Ia percaya bahwa esok, Tuhan punya rencana yang lebih indah.
Ele tersenyum lagi. Ia kembali melangkahkan kaki. Berat rasanya kaki ini untuk pulang. "Apakah aku harus menginap di sini saja?"
BERSAMBUNG.....
^_^
🔸Mohon maaf agak terlambat mengirimnya. Tadi siang nulisnya uda selesai dan siap untuk dikirim. Tiba-tiba terhapus begitu saja 😭 Tahukan, bagaimana sakitnya? sakitnya sampai ke jantung, uda itu terkoyak lagi ☹️
🔸Tolong dukung ya my readers tersayang. Ini Novel ketujuh aku 😍
🔸Salam sehat selalu, dari author yang cantik buat my readers yang paling cantik.
__ADS_1
^_^