
💌 LOVE OF FATE 💌
🍀 HAPPY READING 🍀
.
.
...Berterimakasihlah pada masa lalu. Karenanya kamu bisa lebih memahami apa yang harus kau hindari....
🔸🔸🔸🔸🔸
SEMENTARA DI SISI LAIN. SATU JAM SEBELUMNYA.
Langit gelap nan pekat terlihat kilatan-kilatan cahaya nampak jelas sepertinya akan datang hujan. Arlo meluncurkan mobilnya kesebuah club tempat dia berpesta bersama teman-temannya. Hari ini Arlo menghadiri acara ulang tahun sahabatnya Jhon. Sebenarnya ia sangat malas untuk pergi ke acara seperti ini, karena desakan teman-temannya ia terpaksa datang untuk menghadiri ulang tahun sahabatnya itu. Mobil mewah miliknya terparkir asal.
TIT !
Mobil terkunci otomatis ketika Arlo menekan tombol remote, lalu melempar kuncinya ke salah satu orang yang berjaga di club. Ia melangkah masuk melihat Alexo dan Jhon sudah berada di sana. Para gadis-gadis liar yang penggila uang berusaha merayu Alexo dan Jhon untuk menghabiskan satu malam. Arlo mengambil tempat dan duduk bersama mereka.
Jhon sengaja menawarkan dua gadis cantik agar mendekati Arlo. Namun Arlo menolak dengan memberi gestur mengusir dengan tangannya agar para gadis-gadis itu pergi. Ia muak melihat para gadis yang menjual dirinya demi kenikmatan sesaat. Arlo lebih memilih setia dan tetap menjaga cinta tulusnya kepada Allura
Alexo terkekeh saat melihat reaksi Arlo, mereka tau bahwa Arlo tidak akan pernah mau menghabiskan satu malam dengan para gadis gadis penggila uang. Arlo tidak pernah menginginkan tidur satu malam dengan para j*lang kecuali wanita itu benar-benar dicintainya. itu sangat menjijikan buat Arlo.
Tawa para gadis penggila pesta memenuhi ruangan club. Seluruh pasang mata beralih fokus pada sekumpulan lelaki tampan dan kaya. Mereka berdansa mengikuti hentakan musik. Arlo masih asyik dengan winenya walau sesekali ia melihat orang-orang yang berada di club seperti kehausan hiburan saja. Arlo tak perduli. Ia tetap menghabiskan minumannya, perlahan-lahan agar ia tidak mabuk.
Tak beberapa lama, Arlo bangun dari duduknya. Sebelum ia mabuk, ia ingin pergi ke suatu tempat. Arlo membawa mobilnya dengan kecepatan sedang sambil menghidupkan audio mobil untuk menemani perjalanannya. Tatapan Arlo terlihat begitu kalut. Ia seperti memikirkan sesuatu.
Dalam sekejap Arlo sudah tiba ke tempat tujuannya. Ia menarik rem tangan dan memilih tidak langsung turun dari mobil. Ia meremas setir mobilnya sambil merunduk di antara kedua tangannya yang memegang setir mobil.
Arlo menarik napas dalam-dalam dan menatap sejenak cafe itu. Setelah sekian lama, akhirnya ia menemukan keberadaan orang tuanya. Pasangan suami istri itu tidak tahu bahwa Arlo adalah anak yang sengaja di tinggal dipinggir jalan saat usianya 10 tahun. Ia berjuang hidup sendiri hingga uncle Lukas membawanya kekediaman Smith. Arlo menyandarkan punggungnya ke kursi, lalu mengusap wajahnya dengan pelan. Setelah tarikan napas panjang akhirnya Arlo memutuskan keluar dari mobilnya.
BRUKKK!
Arlo membenarkan jasnya lalu menegakkan badan dan melangkah memasuki cafe itu.
Kring…
Bel secara otomatis berbunyi nyaring ketika pintu dari kayu itu di dorong. Alunan musik jazz terdengar lembut membuat suasana cafe terasa damai. Pengelola cafe yang terdiri atas pasangan suami istri paruh baya itu menyambut kedatangan Arlo dengan hangat dari balik meja bar.
“Hari ini datang sendiri?” tanya wanita itu dengan ramah sambil menyodorkan buku menu yang terlihat sudah sangat usang kepada Arlo. Arlo hanya mengangguk tanpa tersenyum. Ia fokus dengan buku menu yang ada di tangannya.
"Mau pesan apa tuan?" Wanita itu mencondongkan tubuhnya ikut melihat menu yang masih di bolak-balikkan pemuda itu.
__ADS_1
Arlo masih nampak berpikir, tak beberapa lama ia akhirnya menjatuhkan pilihannya. “Mmmm...aku pesan ini, terus ini dan ini...” Arlo menunjuk ke tulisan cokelat hangat dan sandwich yang tertera pada buku menu.
“Tidak seperti biasanya tuan?” gumam pria bertubuh tegap sambil melemparkan senyumannya. "Biasanya anda memilih menu steak dan Milk Tea untuk minumannya."
Arlo tak berkomentar, ia langsung meninggalkan pasangan suami istri itu dan segera menuju ke tempat duduk favoritnya di pojok ruangan yang memiliki pemandangan langsung ke jalan.
Dari penampilan Arlo nampak seperti pemuda biasa yang tidak memiliki keistimewaan. Tapi, tidak ada satu orang pun yang tau bahwa ia seorang introvert, atau seseorang yang memiliki kondisi dimana ia lebih menyukai kesendirian dan kesunyian. Baginya kedamaian hanya ia dapatkan disaat ia berdiam seorang diri. Keresahan adalah saat ia berada di tengah orang ramai, bahkan saat ia berada di sekeliling teman-temannya pun, ia tidak merasakan hidup. Tentu saja sifat ini tidak dia dapatkan begitu saja sejak lahir, semua berawal saat ia ditinggalkan ayah dan ibunya di pinggir jalan dan berjanji akan kembali.
Kenangan buruk itu semakin jelas. Arlo menahan amarah, ia mencengkram gelas bening berkaki itu sampai pecah dan tangannya mengeluarkan darah. Rahangnya mengencang menatap sepasang suami istri itu. Napasnya keluar terbata-bata. Seakan karbon dioksida tertahan di dalam dada. Kenangan itu terlalu menyakitkan. Bagaimana takdirnya begitu kejam. Hanya ada memori-memori yang membuatnya pilu dan terluka. Bahkan hatinya remuk, terkoyak dan hancur.
Saat itu, Arlo sedang menunggu orang tuanya kembali dan membawanya pulang. Arlo menatap resah langit yang mendadak gelap. Ia bisa tahu bahwa hujan akan turun dalam curah yang lebat. Kegelisahannya makin menjadi saat rintik hujan mulai turun. Arlo berlari mencari tempat untuk berteduh. Ia menemukan toko roti yang sudah tutup. Hujan ini kembali membuat hatinya terasa pedih. Kehidupannya sangat menyedihkan. Untuk mengobati luka hatinya agar tak mengingat kejadian yang menyedihkan itu, Ia bekerja keras sepanjang waktu, agar bisa bertahan hidup dan kedua orang tuanya kembali menjemputnya. Arlo menunduk dengan pandangan kosong. Seribu pertanyaan berkecamuk di kepalanya.
"Apa ayah dan ibu mencarinya?"
"Apa mereka menyadari siapa dirinya?"
Sedih, kecewa, semuanya dirasakan sendiri. Seperti tak ada harapan untuk berusaha bangkit lagi. Dan itu benar-benar menyakitkan. Penyesalannya adalah pernah hadir ke dalam kehidupan mereka. Terbukti mereka selalu tersenyum tanpa pernah memikirkannya. Arlo tertawa sendu sambil menatap pasangan suami istri itu. Kini, Arlo bisa melaluinya sendiri tanpa mereka, bahkan ia menjadi serakah, menunjukkan ia bisa menjadi sukses. Walau Arlo harus berlari secepat angin, jatuh dan terluka, bangun dan tersakiti lagi. Ia bisa melaluinya sendiri.
Arlo tersenyum sinis di sana. Pandangannya mengarah ke rak yang berisi buku-buku tua, salah satu alasannya pergi ke sini setiap Arlo ada waktu. Arlo berjalan pelan menuju ke arah rak buku. Matanya menyisir rak buku itu dari bawah ke atas dan dari kanan ke kiri.
“Sepertinya ada suka membaca tuan,” ucap wanita paruh baya itu dengan lirih. Seakan melayang, sebuah buku tiba-tiba disodorkan ke arah Arlo. “Cobalah baca buku ini, tuan.” ucapnya kemudian.
Arlo menerima buku itu dengan kedua tangannya. Wanita paruh baya itu tersenyum kecil, “Boleh saya berbincang-bincang dengan anda, tuan?” Walaupun Arlo tidak memberi jawaban, dia tetap mengikuti dan duduk di kursi depannya.
"Kau mengingatkanku pada seseorang?" ucap wanita itu memulai pembicaraan.
"Maaf, saya bukan bermaksud membandingkan anda dengan seseorang, tapi anda...."
Namun wanita itu menangguhkan kalimatnya karena terkejut saat melihat tangan Arlo berdarah, dengan cepat wanita itu mengambil tangan Arlo. "Maaf tuan, tangan anda berdarah. Biar saya obati."
Arlo terkejut dan menarik tangannya kembali. "Saya tidak apa-apa."
"Tapi tuan?"
Arlo mengangkat tangannya, memberikan gestur agar wanita itu tidak bicara lagi. "Saya sudah bilang, tidak apa-apa. Jangan menyentuhku." Nada suara Arlo begitu dingin menyatu dengan wajahnya yang datar.
Melihat reaksi Arlo yang seperti itu, wanita itu langsung melontarkan permintaan maaf sambil menundukkan kepala. "Maaf tuan."
Arlo memalingkan wajahnya tak ingin melihat wanita itu. Arlo kemudian menarik napasnya, lalu berbicara. "Sekarang anda boleh pergi!" Ucap Arlo dengan gestur mengusir.
Wanita itu mengangguk, lalu berlalu meninggalkan Arlo di sana. Arlo menatap punggung wanita itu sambil mengepalkan tangannya begitu kuat. Tak perduli dengan luka yang ada di tangannya. Arlo hanya ingin melampiaskan rasa kesalnya. Ia mengembuskan napasnya yang terasa sesak. Mencoba melonggarkan dasi yang dikenakannya dan membuka kancing bajunya. Ia semakin sulit bernapas. Ia mengusap wajahnya dengan kasar.
Tak beberapa lama seorang pelayan membawakan pesanannya. "Pesanan anda tuan?"
"Hhhmm. Iya, silakan!" ucapnya datar dan dingin.
__ADS_1
Cokelat hangat dan sandwich tersaji di atas meja. Pelayan itu tersenyum dan kembali berbicara. "Selamat menikmati tuan."
Arlo mengangguk dan tersenyum samar. "Terima kasih."
"Sama-sama tuan." Pelayan itu membungkukkan badannya, lalu meninggalkan Arlo.
Tiba-tiba suara handphonenya berdering-dering meminta di angkat, namun karena nomor baru, Arlo tak mau mengangkatnya. Lalu bunyi itu mati dan tak terdengar lagi.
Arlo kembali menikmati makanannya dalam diam. Ia terus memperhatikan sepasang suami istri yang tampak berbincang-bincang itu. Tatapannya mengunci tanpa berkedip.
Dering suara handphonenya terdengar lagi, Arlo berdecak sambil melihat panggilan itu, Ia
membaca di display handphonenya. Kali ini nomornya dari seseorang yang dikenalnya.
"Ehmm..ya Jack?"
"Hei dude, Astaga kenapa lama sekali mengangkatnya."
"Ada apa Jack? tidak biasanya kau menghubungiku. Apa ada yang penting?"
"Iya. Ini penting sekali dan sangat penting sekali."
"Apa itu?" kejar Arlo.
"Saya baru melihat Alvin di sini."
"Apa?" Arlo terjengkit dari duduknya karena begitu terkejut.
"Aku melihat Alvin, tapi anehnya dia tidak mengenalku dude. Apa terjadi sesuatu?"
DEG!
Arlo sangat terkejut sampai menjatuhkan handphone yang ada di tangannya. Wajahnya menegang kaku.
"Halo? Arlo, apa kau mendengarkanku? halo... Arlo... Arlo?"
TIT
Panggilan pun terputus.
BERSAMBUNG.....
^_^
Tolong dukung ya my readers tersayang. Ini Novel ketujuh aku 😍
__ADS_1
Salam sehat selalu, dari author yang cantik buat my readers yang paling cantik.
^_^