
π LOVE OF FATE π
Β
π HAPPY READING π
.
.
AMIRA MOIS.
...Salah satu hal yang menyedihkan ketika kamu terlalu baik pada seseorang, dia akan berpikir kamu cukup bodoh untuk dimanfaatkan....
πΈπΈπΈπΈπΈ
BEBERAPA HARI KEMUDIAN.
Mobil ambulance mengantarkan Alvin sampai di depan rumah Ele. Ele memarkir mobilnya dan ikut berhenti. Ia menarik rem tangan dan mematikan mesin mobilnya. Amira yang bersamanya, dengan cepat keluar dari mobil. Ia ingin membantu Alvin turun dari sana. Ele tercengang, saat melihat Amira dengan gesit dan lincah turun dari mobilnya. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya. Lalu menarik napas dan ikut turun untuk membukakan pintu rumahnya.
"Biarkan aku membantumu, Alvin." Kata Amira tersenyum lembut menyambut tangan Alvin.
Alvin membalas senyum Amira. "Aku bisa sendiri." Ia menolak secara halus, karena Amira sudah banyak membantu Alvin selama dirawat di rumah sakit. Ia tidak mau melukai wanita itu.
"Hmmm?" Amira mengangkat alisnya melihat Alvin.
Melihat ekspresi itu, Alvin tersenyum lagi. "Maksudku aku ingin belajar berjalan sendiri. Kau bisa bantu aku turun saja."
"Ok," Amira tersenyum sambil mengulurkan tangannya untuk Alvin.
Alvin mengulurkan tongkat dan dipegang sementara oleh Amira. Lalu membantu Alvin untuk turun dari mobil. Begitu menyentuh tanah, Amira kemudian memberikan tongkat agar Alvin bisa berjalan sendiri ke dalam rumah Ele. Amira stand bye di samping Alvin. Memperhatikan langkah Alvin yang tertatih dan perlahan.
Begitu sampai di depan pintu, Ele masih memperhatikan sikap Amira yang berlebihan. Ia terus mengerutkan dahinya menatap sahabatnya itu.
"Silakan masuk Alvin. Rumah ini akan membantumu memulihkan ingatanmu kembali." ucap Amira tersenyum manis. Ia tidak perduli saat melihat tatapan protes Ele.
Alvin masuk ke dalam dan tersenyum singkat melihat rumah sederhana itu. Ia mengedarkan pandangannya ke setiap sudut ruangan. Kemudian Alvin berjalan ke arah jendela yang langsung menghadap ke luar pemandangan hijau yang terhampar luas. Ia melihat-lihat sekelilingnya. Seakan berkenalan dengan tempat barunya.
"Apa aku mempunyai banyak kenangan di desa ini?" Tanya Alvin menatap lurus ke arah luar.
"Kau mengingat suatu?"
"Astaga, sandiwara apa ini?" Teriak Ele dalam hati.
Alvin menggeleng dengan tatapan sendu. Tempat ini begitu menenangkan hatinya. "Ele, apa aku pernah membuat kekacauan?" Tanya Alvin membalikkan badannya, menatap ke arah Ele yang sejak tadi diam, ia yakin Ele tidak suka dengan kehadirannya.
"Sama sekali tidak kok Alvin. Kamu sangat baik dan pengertian. Apalagi kepada Ele, kau begitu menyayanginya. Bukankah begitu Ele?" Amira mengedipkan salah satu matanya, agar Ele mengerti gesturnya.
Alvin tersenyum lagi. "Benarkah Ele?"
Ele tersenyum kecut memalingkan wajahnya menatap ke arah lain. "Kau sama sekali tidak punya kenangan di desa ini. Sampai ingatanmu pulih pun, kau tidak pernah menemukanya di rumah ini." ucap Ele dengan tatapan sinis.
Amira dengan cepat menyikut lengan Ele, "Astaga Ele, kau ini apa-apaan sih.." Amira berucap pelan dan menekan kalimatnya.
Alvin tersenyum sambil menundukkan kepalanya.
"Itu tidak benar Alvin," Amira mengibas-ngibaskan tangannya. "Jangan pikirkan kata-kata Ele. Sekarang kamu fokus untuk memulihkan kesehatanmu aja. Nanti perlahan-lahan aku akan ceritakan semuanya. Sekarang, biar aku tunjuk dimana kamarmu." Amira dengan cepat mendekat ke arah Alvin, tanpa memperdulikan Ele.
Alvin tersenyum mengangguk saat Amira membawa tangan Alvin menuju kamarnya.
Amira memang menyambutnya dengan hangat, tapi tidak dengan Ele. Sikapnya begitu berbeda dari Amira.
"Apakah aku pernah menyakiti hatinya?" Alvin mencoba mengingat, namun otaknya serasa buntu dan tidak menemukan apa-apa.
__ADS_1
"Ini adalah kamarmu." Amira membuka pintu kamar tepat di samping kamar Ele. "Kamu boleh istirahat di sini, Alvin." ucap Amira melangkah masuk seraya merapikan tempat tidur.
"Kamar ini sudah lama tidak digunakan. Tapi, sudah dibersihkan kok."
"Tidak usah repot-repot, Amira."
"Ahhhh...tidak apa-apa. Sekarang kami adalah bagian keluargamu." kata Amira dengan cekatan merapikan tempat tidur.
Sementara Alvin melangkah pelan, mengedarkan pandangannya, kamar ini begitu tertata rapi. Pandangannya tertuju pada bingkai foto yang ada di atas meja. Foto keluarga yang ukurannya sangat kecil. Alvin mendekat, saat melihat gambar itu, tiba-tiba kepalanya sakit.
"Ahhhhhh...." Alvin menyentuh kepalanya.
Amira dapat melihat itu, dengan cepat ia mendekat ke arah Alvin. "Kau tidak apa-apa?"
Alvin menunduk dan meringis. "Tiba-tiba kepalaku sakit."
Amira mengambil foto yang ada di tangan Alvin, dahinya mengerut. "Tidak ada yang salah dengan foto ini." batinnya. "Istirahatlah dulu," Kata Amira lagi membawa Alvin ke tempat tidur.
"Terima kasih, Amira."
Amira mengangguk, setidaknya Alvin bisa mengistirahatkan otaknya agar tidak memaksanya untuk mengingat sesuatu.
"Amira, aku ingin sendiri." kata Alvin dengan suara terendahnya.
"Heuh? Ahhhhh...baik Alvin. Jika kau butuh bantuan. Kau bisa memanggilku."
Alvin tersenyum sendu. "Terima kasih, Amira."
"Sama-sama Alvin." Amira tersenyum lalu keluar dari kamar itu.
Saat pintu tertutup, Alvin menarik napasnya, ia mencoba mengingat gambar yang ada di foto itu. Namun semuanya sia-sia Alvin akhirnya memilih mengistirahatkan tubuhnya.
πΈπΈπΈπΈπΈ
Saat menutup pintu itu kembali. Amira sangat terkejut ketika melihat Ele sedang berdiri memiringkan tubuh lalu bersandar di dinding dengan posisi melipat tangan di depan dada. Ele tersenyum sinis menatap Amira.
"Astaga Ele," Amira melangkah panjang sambil membekap mulut Ele sebelum selesai melanjutkan Kalimatnya.
"Mmmmpppp." Ele meronta, berusaha melepaskan tangan Amira dari mulutnya.
"Astaga Ele, kamu tidak kasihan dengan Alvin? Jika dia mendengar ucapanmu, Ia bisa sedih." bisik Amira melepaskan tangannya dari mulut Ele dan menarik tangannya agar menjauh dari kamar itu.
"Aku tidak perduli," kejar Ele.
"Kau tidak tahu, saat ia melihat foto keluargamu, kepalanya sakit."
"Heuh? apa maksudmu, apa wajahku menakutkan?"
"Aku juga tidak tahu, kenapa kepalanya tiba-tiba sakit saat melihat foto itu."
Ele berpikir sejenak, tapi ia tidak mau ambil pusing. "Terserah, mau dia pusing atau bagaimana, itu bukan urusanku."
"Tapi..."
Namun dengan cepat Ele menyelanya. "Ingat! Jangan sekali-kali masuk ke kamar itu lagi. Kalau tidak, aku yang akan mengusirnya dari rumah ini." ucap Ele tegas.
"Kenapa?"
"Kau masih bertanya kenapa? Kau baru mengenalnya Amira, kita tidak tahu apakah dia lelaki baik atau tidak. Dia bisa saja bersandiwara."
"Tidak mungkin Ele."
"Apa yang tidak mungkin. Kau tahu? saat polisi memeriksa isi mobilnya. Ada yang berusaha menembaknya dan aku sangat yakin dia adalah seorang penjahat."
"Ele, itu tidak mungkin. Alvin adalah lelaki baik. Aku sangat yakin itu."
__ADS_1
"Terserah, jika kau mau percaya atau tidak. Aku bosan membahas pria itu terus."
Amira tersenyum. "Kamu marah ya,"
"Siapa yang marah?"
"Lihat, wajahmu memerah menahan kesal."
"Aku tidak marah Amira." Ele mencoba bersabar menghadapi sikap Amira yang terkadang menjengkelkan.
"Sudah, dari pada kita membahas hal yang tidak penting. Sekarang temani aku masak, lebih bermanfaat. Perut kenyang, hati pun senang." Kata Ele menarik tangan Amira menuju dapur.
Amira tersenyum pasrah saat tangannya ditarik. Ele mengeluarkan beberapa belanjaan yang sempat dibelinya dari desa A. Sebagian sudah Ele isi ke dalam lemari pendingin dan sebagian lagi, dia susun ke dalam lemari yang ada di dapur. Tentunya untuk stok satu minggu.
"Kau mau makan apa? kau belum makan,kan?"
"Hmm. Apa saja yang penting perut kenyang dan jangan lupa kita sudah tambah anggota keluarga." ucap Amira tersenyum.
Ele memiringkan bibirnya. Sesungguhnya ia tidak nyaman dengan kehadiran lelaki yang bernama Alvin itu. Demi kebunnya, Ia terpaksa melakukannya.
Eleanor dan Amira menyiapkan makanan untuk mereka santap malam ini. Ia membuka kulkas,mencuci sayuran. Dengan sangat lincah ia memotong-motong bahan makanan di atas talenan. Wajahnya sangat serius. Terkadang ia bermain spatula, menjinjit untuk mengambil sesuatu dan mondar mandir mengambil sesuatu.
"Tolong, ambilkan piring Mira, ikannya sudah bisa diangkat." perintah Ele masih fokus mengerjakan sesuatu.
Amira tersenyum mengangguk, ia berjalan mengambil piring dan mengangkat ikan sesuai yang diperintahkan Ele. Sahabatnya ini memang jago masak dibandingkan dengan dirinya.
"Ada lagi yang mau aku kerjakan?" Tanya Amira menatap Ele yang tampak serius.
"Sekarang cuci buah strawberry. Sebentar lagi selesai kok, aku yakin kau sudah lapar, kan?" Kata Ele memandang sekilas ke arah Amira, namun tangannya masih bergerak memotong daun seledri.
"Ehmmm..wangi sekali Ele, aku yakin Alvin pasti menyukainya." Ucap Amira ketika Ele memasukkan tumisan ke dalam wajan panas dan mengaduknya.
"Hmmm." Hidung Alvin mengendus. "Benar kata Amira, aku sampai tidak bisa tidur karena mencium wangi masakan ini." Tiba-tiba muncul Alvin, ia berjalan pelan dan perlahan sambil memegang tongkat di tangannya.
Eleanor seketika menghentikan kegiatan masaknya. Sementara Amira terkejut saat melihat Alvin sudah ada di dapur.
"Alvin?" Amira mendekat. "Seharusnya kau tidak perlu ke dapur. Biar aku yang membawa makan malammu ke kamar. Bukankah begitu Ele?" Kata Amira begitu manis, ia menggeser kursi dan membiarkan Alvin duduk dengan posisi nyaman dan tidak menyakiti kakinya.
Ele mengembuskan napas dengan pipi mengembung. Lama-lama ia jengah melihat sikap Amira yang terlalu berlebihan. Di sini, dia adalah korban yang dirugikan. Kenapa jadi Alvin yang begitu diistimewakan. Belum lagi biaya hidup Alvin, Ele yang akan tanggung sebelum ingatannya pulih. Hal itu Membuat kesabarannya benar-benar habis.
Amira membawa hasil masakan Ele di meja. Satu porsi tumisan sayur dengan campuran brokoli, potongan wortel, kentang, pabrika merah, hijau dan kuning dan juga bawang bombai. Lengkap dengan irisan daging sapi.
Mengeluarkan asap yang mengepul dengan wangi bawang dan saus yang menggugah selera.
"Kau mau makan? Biar aku siapkan." kata Amira dengan lembut.
Tak tahan lagi, Ele melempar asal spatula yang ada di tangannya.
PRANG...
Bunyi sendok yang dilempar ke wajan terdengar begitu nyaring. Alvin dan Amira bergeming melihat tindakan Ele. Alvin menggeser kursinya ke belakang dan berdiri tanpa melepaskan tatapan terkejutnya.
"Kalian bisa makan," Ucap Ele dengan wajah datar dan dingin.
Tak ingin berlama-lama di sana, Ele langsung meninggalkan dapur. Alvin bergeming seperti orang bodoh. Ia menatap punggung Ele yang hilang dibalik tembok dapur. Sementara Amira melangkah panjang mengejar Ele yang keluar dari rumah.
"ELE...! TUNGGU....!"
BERSAMBUNG.....
^_^
Tolong dukung ya my readers tersayang. Ini Novel ketujuh aku π
Salam sehat selalu, dari author yang cantik buat my readers yang paling cantik.
__ADS_1
^_^