LOVE OF FATE

LOVE OF FATE
TAK BISA DATANG


__ADS_3

πŸ’Œ LOVE OF FATE πŸ’Œ


Β 


πŸ€ HAPPY READING πŸ€


.


.


...Menyedihkan ketika kamu menyadari bahwa kamu tidak sama pentingnya dengan seseorang seperti yang kamu kira sebelumnya....


πŸ”ΈπŸ”ΈπŸ”ΈπŸ”ΈπŸ”Έ


SATU JAM SEBELUMNYA.


Allura tersenyum puas melihat penampilannya malam ini. Ia cantik seperti wanita berkelas. Memasuki trimester akhir kehamilan, Allura tetap tampil trendi di setiap berbagai acara.


Allura tampil classy dengan memilih lace dress nuansa krem milik brand belsbee. Ia makin anggun dengan clutch bag hitam dan mules shoes dengan warna senada. Tampilan Allura ini makin lengkap dengan riasan flawless dan hairdo simpel yang membuatnya makin bersinar.Β Gaun itu benar-benar sesuai dengan tema malam ini, acara ulang tahun bersama keluarga besar Smith dan pejabat tinggi lainnya yang sengaja diundang ayah mertuanya.


Tak lupa ia membawa tas kecil di tangannya. Langkah dari sepatu heelsnya menggema dan membuatnya menjadi pusat perhatian. Allura mengedarkan pandangannya, mencari Margaretha.


"Ibu Allura," Margaretha mengacungkan tangannya. Ia berlari kecil saat melihat wanita cantik itu berdiri di lobby hotel.


"Kamu Margaret, ya?" tanya Allura tersenyum dan melangkah mendekat ke arah gadis cantik itu.


Margaret menundukkan kepalanya. "Benar bu. Saya diperintahkan nyonya Smith untuk menjemput anda di lobby."


"Sudah lama menunggu?"


"Saya baru saja turun, bu."


"Apa suamiku sudah datang?" Tanya Allura sambil menyelipkan anak rambutnya ke belakang telinganya.


"Pak direktur belum datang. Silakan lewat sini bu." Margaret membawa Allura menuju ruangan VIP restoran di hotel.


"Sudah siapkan semua?"


"Sudah bu. Tadi saya sudah konfirmasi kembali ke pihak hotel untuk tamu dua belas orang. Dan saya pastikan anda akan menyukai pesta ulang tahun anda."


Allura tersenyum sumringah dan terus melangkah dengan punggung tegak dan langkah yang tegas. Ia tidak seperti orang hamil. Menggunakan sepatu heels yang tingginya kira-kira 7 cm.


"Apa tamu undangan Smith sudah datang?" Tanya Allura terus melangkah menatap ke depan dengan langkah anggunnya.


"Ada dari mereka sudah tiba dan sekarang sedang berbincang-bincang dengan tuan dan nyonya Smith. Mereka sedang menunggu kedatangan anda bu." Margareth kembali menimpali.


Lagi-lagi Allura tidak bisa menyembunyikan senyum bahagianya. Baru ini ia merasakan pesta ulang tahun semewah ini. Belum lagi, Allura mendapatkan hadiah cincin berlian yang selama ini ia inginkan.


Saat di pembelokan, Allura diam terpaku saat melihat Harry menyandarkan punggungnya ke dinding sambil mengisap rokoknya. Ia menarik napasnya dalam-dalam sambil meremas tas kecil yang ada di tangannya.


"Terima kasih Margareth, kau sudah repot-repot menjemputku. Sekarang kau boleh pergi." Kata Allura dengan lembut.


"Heuh? Maksudnya bu?"


"Kau boleh pergi."


Mata Allura menyalang tajam saat melihat Harry tersenyum sambil melambaikan tangannya.


"Kenapa Harry bisa ada di sini." Allura menggeram dalam hati.


"Maaf bu. Saya harus mengantarkan anda sampai ke ruangan."


Allura menghentikan langkahnya, memberikan senyum terbaik kepada Margareth. "Saya bisa sendiri, terima kasih atas perhatiannya."

__ADS_1


Margareth akhirnya mengiakan. "Baik bu. Kalau begitu saya permisi dulu."


Belum juga Margaret mendapatkan konfirmasi, Allura sudah melangkah cepat meninggalkan wanita itu.


TUK TUK TUK


Detak jantungnya terpukul kencang. Ia meremas tangannya yang terasa dingin. Pertemuannya dengan Harry sungguh mimpi buruk untuknya. Ia tidak mau keluarga Smith mengetahui seperti apa kehidupannya yang dulu.


"Sekarang ikut aku," Kata Allura menekan setiap perkataannya, terlihat jelas jika ia begitu marah.


Harry tersenyum mengikuti langkah Allura. Ia menghentikan langkahnya saat dirasanya aman dan tidak ada orang.


Allura menatap lurus dan tidak menoleh kepada Harry. Ia memberikan waktu untuk dirinya agar bisa setenang mungkin. Setelah menghembuskan napas panjang, Allura pun mulai berbicara. "Kenapa kau ada di sini?"


Harry tersenyum saat melihat Allura berkacak pinggang. Matanya menyorot tajam dan jelas di bola matanya menunjukkan kilatan marah. "Aku datang ingin mengucapkan selamat ulang tahun untukmu." jawab Harry apa adanya.


Allura mendengus kasar, Ia menarik oksigen sebanyak-banyaknya dari mulut dan hidungnya dan mengumpulkannya di paru-paru, lalu menghembuskan sekaligus.


"Apa kau sengaja mempermalukan aku? Kau bisa menghubungiku lewat telepon dan tidak harus datang ke sini." ucap Allura dengan nada geram. Ia tidak bisa lagi mengatur kata-katanya untuk berbicara lembut kepada Harry, Ia sudah terlalu kesal dengan sikap kakaknya itu.


"Kenapa kau yang marah, harusnya aku yang marah, Allura. Kau tidak mengangkat panggilanku." protes Harry dengan tatapan tidak sukanya.


"Aku tidak ada waktu menjawab teleponmu. Ujung-ujungnya kamu hanya minta uang... uang...dan uang lagi. Kau tidak pernah puas dengan uang yang aku berikan. Sekarang kamu pulang, sebelum kesabaranku habis."


"Aku datang dengan niat baik Allura. Tak bisakah kau melihat ketulusanku?"


"Tidak perlu, aku bahkan tidak ingin melihat wajahmu. Kamu tahu, Alvin sudah menerimaku. Jangan karena kehadiranmu semua jadi kacau." geram Allura. Ia mulai jengah dengan watak Harry.


"Tujuanku ke sini, Karena Alvin sedang mencari tahu siapa yang membeli rumah dan perkebunan yang kita jual tempo hari." Harry akhirnya berterus terang.


Allura terdiam mematung di posisinya, ia seperti terkunci dan tidak bisa bergerak. Wajahnya berubah menjadi cemas. Allura menelan salivanya begitu susah seperti ada sesuatu yang mengganjal di tenggorokannya.


"Apa maksudmu?" Suaranya tercekat di leher. Lidahnya keluh seperti di patuk ular. Ia mencengkram gaunnya sendiri.


Sumpah, saat ini wajah Allura bertambah pucat ketika Harry mengatakan itu. Pikirannya langsung kacau. Jika Alvin tahu bahwa ia yang menjualnya. Bisa-bisa Alvin akan membencinya. Keringat dingin mulai membasahi dahinya.


Melihat reaksi tubuh Allura, Harry menarik napasnya. "Tenang saja. Jika aku tertangkap, aku tidak akan membawa namamu."


Wajah Allura yang tegang, tiba-tiba melembut. Ia mengembuskan napas lega, "Bagus, jangan sampai Alvin tahu masalah ini. Untuk sementara, pergilah jauh. Aku akan transfer biaya hidupmu untuk beberapa bulan ke depan."


Harry tersenyum penuh arti. "Baiklah. Aku tunggu transferannya."


"Sekarang pergilah!" Allura mendorong tubuh Harry. "Jangan pernah kembali lagi."


"Selamat ulang tahun Allura."


Bukannya menjawab, Allura bahkan membuat gestur mengusir. Saat Harry benar-benar masuk ke dalam lift. Allura hanya bisa mengembuskan napas lega. Ia kembali mengatur penampilannya dan kembali menuju ruang VIP untuk menemui keluarganya.


πŸ”ΈπŸ”ΈπŸ”ΈπŸ”ΈπŸ”Έ


Tap...tap...


Tap...!


Allura memelankan langkah kakinya tepat di depan di pintu restoran VIP. Ia menjepit bibirnya, mengatur singkat rambutnya. Ia tersenyum sambil membukakan pintu itu.


CEKLEK!


Pintu terbuka.


Melihat kedatangan Allura, para tamu di sana langsung bangun dari duduknya. Termaksud itu Lukas dan Maria ikut berdiri dari kursinya dan langsung mendekat ke arah Allura.


"Selamat ulang tahun, sayang," Maria mendekat dan memeluk Allura dengan singkat.

__ADS_1


"Terima kasih ibu. Harusnya gak usah repot-repot menyiapkan ini semua." Allura tersenyum malu.


"Tidak masalah sayang, yang penting kamu bahagia." Kata Maria mengusap lengan Allura dengan lembut.


Lukas ikut tersenyum mengulurkan tangannya untuk menjabat tangan menantunya itu. Ia juga mengucapkan hal yang sama.


"Selamat ulang tahun. Senang bertemu dengan anda." Kata salah seorang tamu yang hadir di sana.


Allura kembali berjalan menyalami tamu undangan yang lain. Selesai menjabat tangan, sembari menunggu kedatangan Alvin. Mereka membicarakan seputar bisnis, yang marak diperbincangkan atau pun pendapat-pendapat lain terkait investasi, modal, pasar yang bersinabungan dengan hal itu. Mereka tampak serius.


"Kenapa Alvin belum datang?" Tanya Lukas di sela-sela pembicaraan mereka.


"Mungkin masih di jalan ayah."


"Iya benar, coba hubungi lagi Allura." Kata Maria nampak khawatir.


"Baik bu." Allura melangkah menjauh dari tamu undangan. Ia mencoba menghubungi Alvin, namun tidak di angkat.


DUA PULUH MENIT TELAH BERLALU.


Alvin tak juga datang. Allura berulang kali menarik napas panjang seraya melihat jam yang ada ditangannya. Para undangan juga tampak mulai gelisah. Jam makan sudah lewat dari dua puluh menit.


Maria dan Lukas mencoba menghubungi Alvin. Namun tetap tidak diangkat. Tiba-tiba pintu terbuka yang muncul bukan Alvin, melainkan Marvel.


Lukas mengernyitkan keningnya. "Dimana Alvin?"


Marvel membungkukkan badannya. "Maaf sebelumnya tuan. Hari ini tuan Alvin tidak bisa datang karena ada urusan mendadak yang tidak bisa ditinggalkan."


Wajah Allura langsung berubah, "Tidak mungkin. Tadi Alvin mengatakan bisa datang. Kenapa tiba-tiba tidak bisa datang? Jangan mengarang cerita kamu."


"Maaf nona, ini benar-benar mendadak sekali."


"Setidaknya ia menghubungiku." Allura masih tak percaya. "Bagaimana Alvin tak bisa datang di acara penting seperti ini."


"Tuan Alvin hanya menitipkan ini." Marvel memberikan sebuah kotak kecil berwarna merah kepada Allura.


Maria ikut khawatir. Karena kejadian ini pernah terulang saat acara pernikahan Alvin dan Allura. Tiba-tiba Alvin menghilang dan kejadian ini seperti memancing memorinya kembali. "Sekarang dimana Alvin?"


"Maaf nyonya. Tuan Alvin saat ini perjalanan ke keluar kota."


"Apa? Dia bisa pergi setelah acara ini selesai. Apa dia sudah gila?" Lukas tak bisa menutupi rasa kecewanya. Ia mengunci tatapannya kepada Marvel. "Kamu tidak berbohong, kan?"


Marvel menunduk kepalanya dengan cepat. "Saya tidak berani melakukan itu tuan."


Lukas mengembalikan pikirannya. Ia tidak bisa marah-marah di depan tamu yang sudah hadir di sana. "Baiklah. Soal Alvin, nanti kita bicarakan. Sekarang bagaimana kalau kita makan. Kasihan tamu sudah pada kelaparan." Kata Lukas menghampiri tamu undangannya kembali dan menyampaikan permohonan maaf.


"Alvin tidak bisa datang karena ada urusan mendadak. Silakan menikmati jamuan makannya." ucap Lukas tersenyum ramah. Tangannya mempersilakan kepada orang yang ada di sana untuk menikmati hidangan malam ini.


Allura hanya diam membatu di sana tanpa mengucapkan apa-apa. Ia tidak bersemangat lagi. Ada rasa sakit yang mencengkram dadanya. Layaknya tangan besar yang meremas hancur hatinya dengan sengaja. Hatinya terasa tercabik-cabik mendengarnya kata tak bisa datang.


Allura meremas tangannya erat-erat, rasanya ingin menangis tapi ia tak bisa melakukan itu. Kekecewaan hatinya tak bisa digambarkan lagi. Ia menarik satu-satu napasnya yang keluar tidak stabil dari mulutnya.


"Ada apa dengan Alvin, apa dia sudah tahu bahwa aku yang menjual perkebunan itu?" Ia menutup mata dan menahan napas sejenak. Allura langsung menarik napas panjang dan menelan salivanya. Berusaha bersikap tenang, namun rahangnya mengencang. Ia langsung keluar mengambil handphonenya untuk melakukan panggilan, namun handphone Alvin tidak aktif.


BERSAMBUNG.....


^_^


Tolong dukung ya my readers tersayang. Ini Novel ketujuh aku 😍


Salam sehat selalu, dari author yang cantik buat my readers yang paling cantik.


^_^

__ADS_1


__ADS_2