LOVE OF FATE

LOVE OF FATE
RASA SAKIT ITU KEMBALI


__ADS_3

πŸ’Œ LOVE OF FATE πŸ’Œ


Β 


πŸ€ HAPPY READING πŸ€


.


.


...Setelah semua pengorbanan, kenyamanan, pengertian, kasih sayang, dan cinta, semua terhapus begitu saja dalam hitungan detik. Yang bisa aku lakukan sekarang adalah menyembunyikan semua bekas luka itu dengan senyuman....


πŸ”ΈπŸ”ΈπŸ”ΈπŸ”ΈπŸ”Έ


Ele berjalan keluar dari rumahnya. Ia menunduk saat melihat pria bertubuh tegap berdiri stand bye tanpa ekspresi di sana. Ele menutup mulutnya dan seketika itu berlari cepat meninggalkan halaman rumahnya. Saat melihat Ele keluar, seseorang mencegatnya.


"Ele, siapa mereka?" Tanya seorang wanita kepada Ele yang terus menunduk.


Namun Ele tak menggubris, ia hanya terus berlari meninggalkan kerumunan orang yang ada disekitar rumahnya. Jantungnya memukul kencang, sangat kencang. Mata Ele langsung berkaca-kaca. Napasnya naik turun karena kecepatan berlarinya. Ele terus berlari ke arah perkebunannya. Saat ini, kebun strawberry lah yang tepat untuknya meluapkan kesedihan. Di sana sepi, Ele bisa menangis sepuasnya.


Heeekkkksss.....Heeeekkksss...


Ele terus berlari, bibirnya gemetar, tak tahan dengan segala gejolak yang timbul di dadanya. Ia mulai menangis, wajahnya mengerucut, mengerut. Ele berhenti tepat di tengah kebunnya. Napasnya tersengal karena kecepatan berlarinya. Ia membungkuk dan memegang lutut nya untuk mencoba menstabilkan napasnya yang naik turun begitu cepat. Mulut Ele masih sedikit terbuka. Jantungnya memacu begitu cepat. Kali ini Ele merasakan perasaan yang lain, terasa aneh. Bukan perasaan menggelitik yang penuh debaran yang selama ini dirasakannya. Ada rasa takut berbalut dalam setiap debarannya.


Ele mendongak menatap beberapa gulungan awan putih yang menggulung indah di atas langit. Tapi keindahan itu tak juga bisa mengobati hatinya yang terluka.


Ele menarik napasnya yang terbata-bata. Matanya kembali berkaca-kaca, hidungnya perih, dadanya sesak. Hingga ia tidak dapat bernapas dengan baik. Ele melangkah lagi ke dalam gubuk, mengambil alat untuk membersihkan kebunnya. Walau ia tahu kebun strawberry itu baru saja dibersihkan Alvin.


Ele melangkah lagi, ia seperti orang linglung di sana. Tanpa menunggu perintah dari otaknya. Ele membersihkan kebunnya. Mungkin cara ini bisa untuk melupakan kegundahan hatinya. Wajahnya mengerut khawatir, napasnya tidak beraturan karena cemas bercampur marah.


Ele mencabut rumput-rumput halus yang menghalangi pertumbuhan buah strawberrynya. Ia bahkan melakukannya dengan cepat, hingga beberapa buah strawberry di sana berjatuhan. Ele tak perduli. Kini ia menjatuhkan beberapa polybag lagi. Ele semakin bingung. Ia menarik napas dengan emosi hingga mulutnya terbuka. Matanya berkaca-kaca saat melihat buah strawberrynya jatuh berantakan.


"Arrrrggggghhhh." Ele menjerit di sana.


Sesak yang menghimpit dadanya tak bisa ia tutupi. Rangsangan untuk mengeluarkan air mata tak bisa ditolaknya. Air mata yang dari tadi di tahannya tumpah begitu saja, mengalir sampai ke dagunya. Ele dengan cepat mengusap dengan punggung tangannya. Ia tetap melakukan pekerjaannya.


Perasaannya kembali. Hal yang paling menyakitkan baginya. Alvin ternyata sudah menikah.

__ADS_1


"Aaaaahhh...." Ele melepaskan napasnya. Ia semakin tidak bisa mengendalikan perasaannya.


Ele tak tahan lagi. Ia langsung berjongkok, menutup wajahnya dengan tangan kotornya. Ele tidak bisa bernapas dengan baik. Dadanya sangat sesak.


"Kenapa begitu sakit?" Mata Ele kembali mengkristal penuh dengar air bening yang berjatuhan membasahi pipinya.


"Apa yang harus aku lakukan?" Ele semakin tak kuasa menahan kesedihannya. Bahunya naik turun, menahan goncangan tubuhnya yang bergetar karena isak tangisnya yang semakin terdengar.


Ele masih tak percaya, ia terus mencoba untuk memahami yang terjadi. Ketika cintanya semakin tumbuh dan bersemi. Kenyataan pahit harus diterimanya hari ini.


Fakta bahwa Alvin ternyata sudah menikah, membuatnya benar-benar shock. Dan perpisahan akan terjadi. Sungguh ia tidak bisa membayangkan itu. Ele menarik napasnya dengan mulut terbuka, menahan sesak yang teramat sangat. Ia tak bisa meredam segala pedih di dalam dada. Hatinya seperti dicengkeram kuat. Benar-benar terasa hampa, sepi, dan kelam. Air bening berjatuhan menganak sungai membasahi pipinya.


"Alvin, apa yang harus aku lakukan tanpamu?Aku tidak siap harus berpisah seperti ini." Ele mengeluarkan suara lirih. Ia mendongak ke atas sambil memejamkan matanya.


Setelah puas menangis, Ele berjalan gontai menuju gubuk tempat ia sering menghabiskan waktu istirahatnya bersama Alvin. Ia terduduk diam dengan tatapan kosong. Tak mampu mengeluarkan sepatah kata pun. Terbata-bata untuk bicara dalam tangisnya. Pikirannya terlalu kacau hari ini.


Mengapa harus seperti ini? Ele kembali terluka dan trauma. Saat ia mulai tumbuh dan mulai mencintai, mengapa hatinya kembali sakit. Hatinya hancur dalam hitungan detik. Ele berusaha menguasai diri segigih mungkin, tapi semakin ia menguasai diri. Kenyataan yang begitu menyakitkan membuatnya tak bisa bernapas lagi. Ele seperti dijatuhkan ke jurang yang paling dalam dan tak bisa diselamatkan. Ia menghela napas lagi, seolah-olah dengan begitu, ia bisa mengalirkan sebagian rasa sesak di dadanya ke udara bebas, membaginya dengan dunia. Namun dengan setiap helaan napas, sesak yang ia rasakan justru makin menjadi.


Ele tertunduk pasrah. Ia pasrah terhadap kelanjutan liku hidupnya yang entah bagaimana. Apakah ia bisa melewati semua ini? Ele hanya bisa pasrah terhadap takdir Tuhan yang telah tertulis untuknya. Ele kembali mengusap air matanya yang berjatuhan.


πŸ”ΈπŸ”ΈπŸ”ΈπŸ”ΈπŸ”Έ


Ia menarik napas dengan mata terpejam. menatap kejauhan dengan mata murung. Anyaman resah dan sedih di hatinya terurai begitu saja. Ele kembali menghela napas panjang, lalu membuangnya perlahan. Tetap tidak mampu mengurangi rasa sakit di hatinya. Sosok yang selalu memberikan perhatian dan kehangatan lekat di pelupuk matanya. Dadanya kembali berdesir, seiring hati yang terasa getir. Begitu menyakitkan ketika akhirnya tahu apa yang ada di hatinya. Saat bayangan Alvin melintas di pelupuk mata, gelisahnya semakin menumpuk. Langkah-langkahnya begitu pelan.


"Selamat sore nona Eleanor!"


Tiba-tiba terdengar suara bariton dari seorang lelaki tak jauh darinya. Suara itu begitu tegas dan terdengar berat.


Ele terkejut dan segera membalikkan tubuhnya. Ia melihat seorang lelaki berdiri tegap di sana. Lelaki itu tidak lain adalah asisten Alvin. Ia melemparkan senyum ramah kepada Ele. Sementara Ele bergeming, menatap pria itu dengan datar.


Marvel berjalan dan mendekat ke arah Ele sambil memasukkan tangannya ke kantong celananya. "Bisakah kita bicara?"


"Bicara?" Tanya Ele menaikkan alisnya setengah.


Marvel tersenyum lagi, kali senyumnya begitu tipis. "Iya, saya ingin bicara."


Ele mengangguk samar sambil mencengkram erat tangannya. "Baiklah, sekarang ikut aku." kata Ele melangkah lebih dulu meninggalkan pria itu.

__ADS_1


Ele membawanya memasuki kantor Desa. Ia berjalan pelan menyusuri jalan dengan tarikan napas panjang. Setiap jalan setapak seakan memanggil kenangan di memorinya. Di sini ia pernah merasakan kenangan manis bersama Alvin. Ciuman pertama yang tak akan pernah terlupakan. Tempat ini bagaikan pupuk yang menyuburkan hatinya dan Ele sangat bersyukur atas itu. Ele sengaja memutari jalan yang dulu pernah dilaluinya bersama Alvin. Semua akan dikecapnya. Setapak demi setapak hingga mereka tiba di kursi panjang yang pernah mereka duduki.


β€œSilakan duduk!" Tangannya mengulur mempersilakan pria itu duduk.


Marvel hanya menurut. Ia duduk tidak jauh dari Ele.


"Sekarang apa yang ingin kamu bicarakan tuan?" Kata Ele to the point.


Marvel menarik napasnya. "Perkenalkan nama saya Marvel. Saya adalah asisten pribadi tuan Alvin. Saya berkerja selama sepuluh tahun dengan keluarga Smith. Saya berkomitmen untuk setia dan melindungi tuan Alvin."


"Saya sudah dengar soal itu, sekarang katakan apa yang ingin kau sampaikan." Ucap Ele ketus dan dingin. "Apa ini soal Alvin?" tanyanya menatap lurus dengan pandangan kosong.


Pria itu mengangguk membenarkan. "Hmm, ini soal tuan Alvin. Sepertinya ia sangat mencintai anda." Marvel mendesah sambil menatap lurus ke depan. "Beliau tidak mau pulang dan tetap tinggal di sini."


Ele melepaskan napas dengan mulut terbuka. Ia terdiam kaku, mematung di sana. Napasnya cepat berganti, menarik dan mengembuskan dengan pola yang tidak normal. Tapi sebisa mungkin Ele tetap bersikap tenang. Tangannya mengepal kuat dan berbicara. "Jika Alvin sudah meminta tidak mau pulang. Aku juga tidak bisa berbuat apa-apa."


"Apa anda tidak kasihan dengan keluarganya? Tuan Alvin sudah menikah dan itu adalah kenyatannya. Kalian tidak bisa bersama-sama Ele."


Ele diam membeku di tempatnya. Ia juga sadar itu, bahwa hubungan ini tidak bisa dilanjutkan lagi. Tapi apakah Ele bisa bersikap egois, ia juga sangat mencintai Alvin. Cintanya semakin besar dan bersemi di dalam hatinya.


"Aku tidak bisa membantumu." Kata Ele bangun dari duduknya dan ingin meninggalkan Marvel di sana.


"Istrinya sedang mengandung Ele, dimana nalurimu sebagai wanita?" Ucap Marvel mencoba menghentikan langkah Ele.


"Tuan Alvin harus kembali ke keluarganya. Beliau memiliki tanggung jawab besar membangun perusahaan Smith. Aku harap kamu mengerti maksud saya."


Jantung Ele terpukul kencang. Napasnya ikut tertahan di dada. Ia semakin sulit bernapas. Tangannya gemetar mengepal kuat. Kepedihan terlihat jelas di wajahnya. Ele diam seribu bahasa dan tidak berbalik sama sekali.


"Aku harap kamu bisa membujuknya. Saya akan memberimu waktu tujuh hari. Tuan Alvin harus kembali menjalani kehidupan yang selayaknya. Tapi tempatnya tidak di desa ini." Setelah mengucapkan itu, Marvel langsung meninggalkan Ele yang terdiam terpaku di sana.


Ele seperti orang bodoh saat ini. Ia menatap punggung Marvel yang pergi meninggalkannya. Ele terduduk lemas. Napasnya keluar terbata-bata, ia tak bisa menggambarkan perasaannya saat ini. Matanya berair manahan tangis. Bibirnya gemetar. Rasa sakit itu kembali lagi.


BERSAMBUNG.....


^_^


Tolong dukung ya my readers tersayang. Ini Novel ketujuh aku 😍

__ADS_1


Salam sehat selalu, dari author yang cantik buat my readers yang paling cantik.


^_^


__ADS_2