LOVE OF FATE

LOVE OF FATE
LUPAKAN MASA LALU.


__ADS_3

๐Ÿ’Œ LOVE OF FATE ๐Ÿ’Œ


ย 


๐Ÿ€ HAPPY READING ๐Ÿ€


.


.


...Biarkan masa lalu di tempatnya, belakang. Biarkan di sana, jangan dikenang lagi. Segala apa pun yang terjadi dulu, maafkanlah. Lupakan semuanya....


๐Ÿ”ธ๐Ÿ”ธ๐Ÿ”ธ๐Ÿ”ธ๐Ÿ”ธ


Mentari pagi menampakkan cahayanya. Cicit burung pipit mulai bernyanyi di pagi indah di ruangan yang sepanjang mata memandang hanya terlihat wanita-wanita duduk menyendiri menatap kosong. Di sana terlihat juga cleaning service datang. Dua orang wanita berbadan besar berwajah keibuan namun terlihat sangar, diperintahkan untuk merapikan tempat tidur. Ruangan yang memiliki delapan ranjang, dan ada beberapa ruangan lainnya yang memiliki jumlah ranjang yang sama, ranjang besi menjadi saksi bisu tingkah laku para pesakit jiwa di rumah sakit ini.


Sebagian penghuni ruangan pesakit jiwa itu kini telah kosong. Terlihat petugas cleaning sevice sedang menyapu dan mengepel ruangan. Allura hanya melihat dari taman. Taman yang memiliki pintu besi tralis, di rantai dan terkunci besi. Mereka tak boleh masuk sebelum lantai bersih dan kering. Allura akan masuk ketika visit dokter, untuk mengetahui perkembangan kejiwaan pasien.


Allura duduk disudut taman. Sebenarnya ini bukan taman. Bagi mereka taman adalah sebuah tempat hijau dipenuhi riak rumput, dan getar daun yang menyegarkan. Terdapat bunga bewarna-warni disudut taman, terdapat air yang memancar ditengah taman, sehingga memberi kesejukan ragawi bagi yang memandangnya. Namun, taman macam apa ini! Ini hanya sebuah tempat kosong tak beratap, yang mereka pijak adalah semen paping. Bukan rumput yang hijau. Disini tak ada warna hijau. Apalagi warna bunga. Hanya ada warna orange sepanjang mata memandang. Seragam yang sama untuk para pesakit jiwa di hari senin.


Allura duduk di sudut sana menatap kosong ke arah wanita setengah tua yang sedang duduk merenung. Diam, dan menyendiri. Disudut lain, ia melihat wanita remaja yang sedang mencabuti rumput liar kecil yang ada disekitar bongkah batu paping. Di tengah ada seorang wanita berambut keriting bernyanyi sambil mondar-mandir. Ada yang saling berkejaran di tengah taman, ada pula yang sedang membuka baju, memakai pakaian dalam mereka berlapis-lapis. Pemandangan yang biasa dan terkadang membuatnya tersenyum kecut melihat mereka. Mirisnya hati ini, ketika Allura, merasa dirinya waras.


"Aku tidak gila," Allura menggeleng terus sambil mengigit kukunya dengan kuat.


"Aku punya suami dan anak, aku harus mengurus mereka. Aku tidak bisa tinggal di sini. Bagaimana suami dan anakku tidak mencariku." Allura seperti ketakutan dan menoleh ke kiri dan ke kanan.


"Aku harus pulang, aku tidak gila!" Air matanya menetes membasahi pipi. Pandangan kosong menatap kesatu arah.


Tak lama kemudian, perawat berbaju putih itu mulai membuka pintu besi, dan mulai berteriak memanggil satu persatu nama mereka. Suster muda yang berparas ayu, berkelakuan lembut, namun terkadang ia akan marah jika menanggapi tingkah para pesakit jiwa disini. Nama mereka mulai dipanggil satu persatu. Karena memang sudah waktunya dokter melakukan visit. Dokter akan menanyakan berbagai hal mengenai perkembangan mereka. Menanyakan keseharian semua pasien yang ada di sini, menanyakan pikiran mereka yang kadang tak terkontrol ini.


Allura telah diperiksa. Sama. Tidak ada yang berbeda dengan pertanyaan dokter dari hari ke hari.


"Kapan aku bisa pulang dok?" ucap Allura meremas tangannya. Giginya saling bergesekan menatap tajam ke arah dokter itu


Dokter tersenyum ramah menatap ke arah Allura yang nampak gelisah di kursinya.


"Kamu mau pulang?"


"Tentu saja dok, aku mau pulang menemui suami dan anakku. Aku takut suamiku diambil wanita lain. Bagaimana nasibku dan anakku kelak, jika suamiku meninggalkan aku dan pergi dengan wanita itu. Dokter sebagai wanita harusnya mengerti dan kenapa menahanku di sini?" Napas Allura tersengal menahan amarah. Napasnya naik turun begitu cepat.


"Kamu bisa pulang, asalkan rajin minum obat."


"Minum obat? sampai kapan kalian memberikanku obat. Kalian ingin membunuhku. Kalian sengaja menjauhkan aku dari suamiku?" Teriak Allura. Matanya memicing tajam, penuh amarah.


"Kamu belum bisa pulang dan harus melakukan pengobatan di sini."


"Aku sudah sembuh, aku tidak gila dok!! Pulangkan aku!!!" teriak Allura kembali histeris, amarahnya kembali menguasai ketika dokter selalu mengatakan yang sama. Sudah berpuluh kali, Allura tidak terima.


"Aaaarrrrrgggghh..!" Teriak Allura meluapkan kemarahannya.


PRANG!


Buku dan laptop yang ada di atas meja ia hempas begitu saja. Kertas-kertas berterbangan dan berserakan di atas lantai putih. Emosinya tak juga membaik. Napasnya masih tersengal karena begitu marah.

__ADS_1


"Aku tidak gila, aku ingin bertemu suami dan anakku!"


"Hentikan, nona Allura!" Dua orang perawat langsung mendekat ke arah Allura.


Namun, Allura menolaknya. Ia hanya mencengkram rambutnya dengan frustasi. "Dimana anakku? kembalikan anakku." Allura menarik napas marah. Rahangnya mengencang kuat. Sorot matanya bersinar tajam.


"Kami akan mencari anakmu." dua orang perawat mencoba menenangkan Allura.


"Kalian mencuri anakku?"


"Tidak, anakmu ada di sini." perawat dengan cepat memberikan boneka bayi kepada Allura. Biasanya cara seperti ini bisa mengurangi kemarahannya.


"Aaaahhhhh, anakku! jangan menangis mommy ada di sini sayang. Daddy akan datang menjemput kita dan kita akan keluar dari sini."


"Nona Allura, tenanglah!" Dokter itu mencoba mendekat.


Allura kembali menangis histeris, dia beringsut penuh ketakutan ketika ia melihat dokter mendekatinya. Ia mulai kebingungan dan merasa cemas ketika melihat ruangan itu.


"Tidakkkkkk.....tidakkkkkk....ini bukan anakku, kembalikan anakku!" teriak Allura histeris dan melempar boneka itu ke arah dokter yang menanganinya.


Dokter tidak mau diam, ia memerintahkan perawatnya untuk mengambil obat untuk diberikan kepada Allura. Dengan cepat salah satu perawat itu menganggukkan kepalanya dan berlari meninggalkan ruangan itu.


Allura masih berteriak. Melihat dokter itu semakin mendekat, ia beringsut ketakutan, menghindari kontak mata dari dokter itu.


"Jangan ambil anakku, aku mohon!" Allura mendekap dirinya sendiri seolah ada bayi dalam dekapannya. Rambutnya terlihat berantakan. Ia terus menggeleng dengan berurai air mata agar anaknya tidak diambil.


"Tidak! aku tidak akan mengambil anakmu, percayalah kepadaku!"


"Tolong Jangan sakiti anakku, aku mohon!" ucap Allura ketakutan.


"Jangan ambil anakku," Teriak Allura berteriak ketakutan.


Hingga Dokter dengan cepat mengarahkan suntikan ke tubuh Allura yang masih histeris, memberikan obat penenang, obat Diazepam untuk mengatasi gangguan kecemasan pada Allura. Perlahan-lahan tubuh Allura melemah, dia sudah tak sadarkan diri saat mendapat suntikan itu.


"Ah.. mungkin halusinasi sedang menguasainya." Ucap dokter menatap Allura yang sudah dipindahkan ke kamarnya.


"Apakah kita menghubungi ibu Maria, dok?"


Dokter memasukkan tangannya ke dalam kantong jasnya yang berwana putih itu. "Tidak usah, tuan Alvin sudah berpesan jangan menghubungi ibu Maria lagi."


"Baik dokter."


Dokter Elma langsung meninggalkan kamar Allura dan memerintahkan asistennya untuk membersihkan ruangannya.


๐Ÿ”ธ๐Ÿ”ธ๐Ÿ”ธ๐Ÿ”ธ๐Ÿ”ธ


CEKLEK!


Pintu dibuka Ele dan melangkah masuk ke dalam ruangan itu bersama Alvin. Pemandangan yang sangat membingungkan sekaligus mengejutkan. Ada dua orang perawat dan seorang dokter yang berusaha menenangkan Allura.


Ia menatap nanar ke arah Allura saat melihat posisi Allura memeluk lututnya sambil menelungkup. Ia membenamkan wajahnya di antara kedua kakinya. Tubuh Allura terlihat gemetar. Ia tidak mau mengangkat wajahnya, meski saat dokter memanggilnya berkali-kali.


"Nona Allura? Sekarang makan ya,"

__ADS_1


"Sssshhhhh.... sssshhhhh...." Allura tidak menjawab dan hanya meringis dibalik kungkungan tubuhnya. Napasnya begitu cepat berganti, menarik dan mengembus dengan pola yang tidak normal.


Ele terdiam menatap Allura di sana. Alvin mendekat dan merangkul pundak Ele dari belakang. "Perilakunya kadang berubah-ubah. Sekarang ia takut berada di dekat orang disekitarnya." Ucap Alvin dengan tarikan napas panjang.


Dokter mendekati Allura lagi, "Nona Allura, apa kau bisa mendengar saya. Sekarang waktunya makan,"


"Pergi, aku tidak butuh kalian! Pergi" Lagi ucap Allura dengan nada tegas.


Ele mencoba mendekat dengan ragu. Tatapan Ele silih berganti menatap Alvin dan orang-orang yang ada di sana. Ia berjalan mendekat meski dengan langkah yang ragu. "Allura, sekarang makan ya?!" ucap Ele lembut sambil terus melihat ke arah Allura.


D*sahan napas Allura tiba-tiba berhenti. Ia mengangkat wajahnya dengan perlahan menatap Ele yang berada di depannya. Ele terkejut melihatnya. Tatapan mata itu. Sorotan matanya saat memandang Ele begitu kosong tanpa arti. Tatapan itu membuat Ele takut. Terlihat begitu sayu dan hampa.


"Allura, kamu harus makan." Ucap Ele dengan ragu.


Allura masih menatap dengan sayu.


"Bagaimana jika aku yang suap, kamu mau?" Kata Ele lagi.


Allura mengangguk lemah dan tak mengalihkan pandangannya ke arah Ele yang mengambil baki dari atas nakas. Alvin hanya diam saat melihat tindakan Ele.


"Sekarang makan iya,"


Ele duduk di pinggir kasur. Ia memangku baki lalu mengangkat mangkuk bubur. Ele menyeduk bubur di tangannya lalu menyuapi Allura. "Di buka mulutnya, "


Dokter dan Alvin saling berpandangan. Mereka membiarkan Ele melakukan itu. Allura menatap sendok, lalu membuka mulutnya dan menerima suapan pertama dan menelannya dengan baik. Allura tidak marah, biasanya ia menampik baki itu. Ele tersenyum lagi. Sendok berisi bubur terulur ke depan mulut Allura lagi. Allura menelannya dengan baik.


"Sudah habis setengah." ucap Ele seperti bicara kepada anak kecil.


Allura membuka mulutnya lagi.


"Bagaimana? kamu suka?" tanya Ele. Ada senyum kecil dari bibirnya. Indah sekali, membuat Alvin ikut tersenyum melihat itu.


Allura mengangguk antusias seperti anak kecil. "Enak." Ucapnya sambil menggoyangkan tubuhnya ke kiri dan ke kanan.


Ele terkekeh saat melihat ekspresi wajah itu. "Kamu harus banyak makan, biar cepat sehat dan bisa kembali ke rumah." Kata Ele selesai memberikan suapan terakhir ke mulut Allura.


"Ini, minum dulu." Ele memberikan gelas.


Allura menyambutnya. Sementara Ele menyimpan kembali baki ke atas nakas. Allura menyerahkan gelas itu kembali. Ele mengambil tissue lalu membersihkan sisa makanan di mulut Allura.


"Kau menghabiskannya dengan baik, sekarang tidur ya! Kamu gak boleh mendengar suara-suara aneh. Nanti kamu susah sembuh."


Allura mengangguk cepat. Tentu saja membuat dokter dan dua orang perawat terkejut melihat reaksi Allura. Jika ia tidak mendengar suara itu, Allura akan marah dan menyakiti dirinya sendiri.


"Anak pintar, " Ele tersenyum dan tanpa sadar membelai rambut Allura dengan lembut. "Sekarang tidurlah,"


Allura hanya mengangguk. Tak beberapa lama, Allura sudah tertidur setelah dokter memberikannya obat. Ele menatap Allura dengan tarikan napas panjang. Ada rasa lega di sana. Kini Ele memutuskan untuk melupakan masa lalunya. Tak baik untuk terus melihat apa yang sudah terjadi. Biarkan itu menjadi kenangan dan pengalaman untuk melangkah maju.


BERSAMBUNG


^_^


๐Ÿ”ธTolong dukung ya my readers tersayang. Ini Novel ketujuh aku ๐Ÿ˜

__ADS_1


๐Ÿ”ธSalam sehat selalu, dari author yang cantik buat my readers yang paling cantik.


^_^


__ADS_2