LOVE OF FATE

LOVE OF FATE
HIDUP IBARAT LEMBARAN BUKU.


__ADS_3

πŸ’Œ LOVE OF FATE πŸ’Œ


Β 


πŸ€ HAPPY READING πŸ€


.


.


...Hidup Ibarat Lembaran Buku. Ada Cerita Masa Kelam di Masa Lalu. Namun, Kini Adalah Kisah Baru yang Jauh Lebih Seru....


πŸ”ΈπŸ”ΈπŸ”ΈπŸ”ΈπŸ”Έ


Matahari mulai beranjak menjauh dari pandangan. Jarak dari desa menuju ke kota terlampau jauh. Langit semakin meredup. Jingga pun mulai berubah kehitaman. Tanda rembulan akan muncul tak lama lagi. Gedung-gedung mulai terlihat menjulang menuding angkasa. Alvin menatap keluar jendela, melihat ke arah jalanan yang dilewati. Jalanan terlihat sepi dan nyaris tidak ada manusia yang terlihat di pinggiran jalan. Menunjukkan mereka memasuki tengah kota. Lampu-lampu di jalan mulai menerangi setiap kota. Ia sesekali menoleh ke samping. Ele masih tertidur dalam dekapan tubuhnya.


Alvin kembali menarik napasnya dan menatap sejenak langit yang mulai meninggalkan senja. Percakapan Ele dan Amira begitu menyesakkan dadanya. Ketakutan Ele akan masa lalunya terlihat begitu jelas. Dan ternyata cerita yang didengarkannya belum sepenuhnya semua. Ayah tirinya menorehkah luka yang sempurna pada masa remajanya. Pasti berat baginya menjalani lembaran hidup yang menyedihkan itu.


Alvin menghela napas singkat. Masih adakah seorang ayah yang begitu jahat kepada putrinya. Walau Ele bukan darah dagingnya, setidaknya ia masih punya hati. Bahwa Ele adalah anak dari wanita yang dicintainya. Alvin mencoba menarik napas dengan mulut terbuka. Alvin berjanji membahagiakan dan melindunginya. Ele wanita yang hadir di hidupnya, dia benar-benar mampu memporak-porandakan hati Alvin. Pertemuan karena kecelakaan ini membuat hidupnya terasa berbeda. Alvin tidak tahu kenapa bisa berbeda. Kehidupannya yang sekarang benar-benar nyaman. Kini hatinya takut kehilangan Ele. Alvin bahkan tak ingin ingatannya kembali lagi. Alvin hanya ingin membuat Ele bahagia, mungkin dengan cara membawanya jalan-jalan sesuai rekomendasi dari Amira.


Beberapa saat telah berlalu. Mereka hampir sampai. Seperti sebuah alarm, suara nyaring kondektur membawa jiwa Ele kembali pada kesadaran penuh. Setelah ia tertidur selama perjalanan dari desa ke kota.


"Hmm..." Ele bergumam dengan mata yang masih terpejam.


"Sayang, kau sudah bangun?"


Alvin tersenyum lembut mengusap-usap lengan Ele. Ele semakin merapatkan kepalanya ke bawah dagu Alvin. Beruntung mereka duduk di bangku belakang. Jadi mereka tidak menjadi perhatian orang.


"Maaf, aku ketiduran." Ele membuka matanya secara perlahan. "Nyaman sekali tidur dengan posisi seperti ini, apalagi dipeluk sama kamu." Ele berbicara setengah bergumam.


Alvin berkedip pelan. "Hmm, kau tertidur lama. Bahkan sampai mendengkur." Bisik Alvin tepat ditelinga Ele.


"Hah? Benarkah?" Mata Ele membulat. "Aku jadi malu." Ele mengembuskan napasnya. Lalu tersenyum, mendongak melihat ke arah Alvin. "Terima kasih telah memberikan lengan kekarmu untukku."


Alvin terkekeh. "Itu tidak akan mengurangi rasa cintaku Ele. Jika kau membutuhkan lenganku, kapan saja kau bisa menggunakannya."


Ele lagi-lagi dibuat tersenyum dan melihat ke arah Alvin. Wajah senyumnya berubah menjadi senyuman tipis yang serius. "Kita turun dimana? terminal ya?"


"Tidak, kita berhenti di jalan depan. Kebetulan bus ini melalui jalan ke arah penginapan." Alvin mengecup puncak kepala Ele dengan lembut.


"Penginapan?" Jantung Ele berdetak hanya mendengar kalimat itu. Ele menjepit bibirnya. "Astaga, apa yang aku pikirkan?" Bukankah selama ini kami sudah tinggal satu rumah? Ele mengumpat dirinya karena telah berpikiran aneh.


"Ini sudah pukul berapa Alvin?"


"Jam sebelas malam."


"Kau tahu tempat ini?" tanya Ele menautkan ke dua alisnya, menatap lekat ke arah Alvin.

__ADS_1


Alvin tersenyum sambil menggeleng. "Amira yang memberikan lokasi penginapan ini dan tadi aku sudah memastikan dan bertanya langsung ke supirnya. Kita akan turun di halte berikutnya dan tinggal menyebrang."


Ele tersenyum sumringah hanya karena mendengar kalimat itu. Ia menganggukkan kepalanya. "Pasti sangat menyenangkan."


"Hmm. Aku harap kau menyukainya Ele."


"Tentu saja aku menyukainya. Apapun asalkan itu bersamamu." kata Ele mengakhiri pembicaraan singkat itu.


"Kiri!" teriak Alvin sambil berpegangan pada punggung jok penumpang belakang. Alvin berdiri dengan susah payah dengan kondisi tubuh lelah dan mengantuk sambil memegang tangan Ele.


"Turun di sini?"


"Iya." Jawab Alvin memasukkan jari-jarinya ke sela jari-jari Ele. Seakan tidak mau terlepas dari tangan Ele.


Setelah bus benar-benar menepi dan berhenti. Tubuhnya menyelinap di antara jok-jok bus yang kumal, menuju pintu bagian depan. Begitu pintu terbuka, kerumunan supir taksi berebut menyambut. Bukan hanya menawarkan dengan perkataan, terkadang ada yang berinisiatif membawakan tas. Sehingga yang bersangkutan mau tidak mau, mengikuti dan menggunakan jasa supir taksi. Beruntung Alvin dan Ele hanya membawa tas punggung, sehingga tak menghadapi situasi yang tak mengenakan itu.Β 


"Maaf, tolong berikan jalan!" ucap Alvin tak ingin kekasihnya terjepit dari para penumpang yang ikut keluar. Kata-kata itu ampuh membuat para penjaja jasa taksi mundur teratur. Setelah bus kembali melaju, Alvin dan Ele menyeberangi jalan menuju penginapan.


Pukul sebelas malam, suasana teramat sepi. Lampu penerangan yang remang menambah kesan sunyi. Meski ada beberapa lapak pedagang yang beroperasi tak mampu menciptakan kesan ramai. Alvin dan Ele melangkah menyebrang menuju penginapan.


Sampailah mereka di depan penginapan. Penginapan dua lantai ini terlihat sederhana namun memiliki gaya arsitek khas, terutama bangunannya yang bergaya Tibet. Kayu-kayu pada jendela dan atapnya bermotif kaya warna.


Mereka melangkah masuk dan penjaga penginapan langsung menyambut mereka. Setelah memesan kamar, penjaga langsung memberikan kunci. Alvin dan Ele memilih langsung beristirahat.


πŸ”ΈπŸ”ΈπŸ”ΈπŸ”ΈπŸ”Έ


Saat merasakan ciuman itu, Ele perlahan-lahan membuka matanya. Hembusan napas Alvin menyentuh pipinya. Tangan Alvin masih berada di pinggangnya. Senyum manis langsung mengulas di bibirnya. Ia membalik tubuhnya ke arah Alvin. Pandangan mereka bertemu. Kini ia benar-benar dapat melihat jelas wajah Alvin. Tadi malam Alvin memilih mengalah tidur di sofa dan Ele tidur di atas kasur. Namun karena Alvin mimpi buruk, Ele berpindah ke sofa dan tertidur di sana.


"Selamat pagi sayang," sapa Ele sambil mempererat pelukannya. "Ehmm..rasanya sangat nyaman." Ia terhanyut menikmati aroma tubuh pria yang dicintainya. Di tambah suasana benar-benar menaburkan energi romantis yang menyenangkan dan di tambah dengan pengharum ruangan. Benar-benar menenangkan.


Alvin mengangkat dagu Ele, hingga Ele bisa memandang ke wajah Alvin. Dengan hitungan detik, Alvin menempelkan bibirnya ke bibir Ele. Mata Ele membulat kaget. Ia bahkan mengedip cepat saat merasakan ciuman tiga detik itu.


"Sekarang, kita harus bersiap-siap, aku ingin membawamu ke suatu tempat."


"Apa kau ingin melamarku?" Ucap Ele to the point. Matanya memicing dengan penuh selidik. Alisnya bahkan naik dari pangkalnya.


"Heuh?" Alvin mengerutkan keningnya. Ele terang-terangan mengatakannya. Alvin diam untuk menutupi rasa terkejutnya. Ia sama sekali belum terpikir ke tahap itu. Dia tidak ingin terburu-buru.


"Kau mau lamaran seperti apa, sayang?" Alvin tersenyum lembut, saat melepas lamunannya.


"Sederhana saja, aku hanya ingin berkesan dan romantis." Ele tersenyum sambil memejamkan matanya.


"Sederhana?"


"Hmm, Semua wanita pasti menginginkan seperti itu. Sederhana dan berkesan. Itu kebahagiaan dari semua perempuan." kata Ele dengan perasan bahagia. Ia menjepit bibirnya. Mengulum senyum bahagia.


Alvin mengangguk, Ia mengerti dengan apa yang ada di dalam pikiran Ele. "Aku mengerti sayang. Kau hanya menginginkan ketulusan cinta, bukan?"

__ADS_1


"Ehmm, betul sekali. Jadi Apa kau sudah mempersiapkan lamaran sederhana dan indah, seperti yang aku inginkan?"


"Maaf Ele. Di sini tidak ada lamaran. Aku hanya ingin membawamu jalan-jalan." Jawab Alvin pelan.


"Hahahaha." Ele tertawa lepas. "Aku hanya bercanda alvin. Benar seperti yang kau katakan, kita masih butuh waktu dan biarkan kita menikmati masa-masa berpacaran seperti ini." Ele tersenyum samar, ia berusaha menutupi rasa kecewanya.


"Betul. Aku setuju." ucap Alvin menimpali ucapan Ele. Ia menatap Ele begitu dalam, Ia tahu Ele pasti kecewa.


Ele menarik napas dalam. Ia menyandarkan pelipisnya pada pipi Alvin. Ele tidak boleh kecewa, ia mengerti. Alvin bukannya tidak menginginkan pernikahan, tapi ia hanya tidak ingin terburu-buru.


"Tetaplah bahagia seperti ini Ele. Jangan pernah menangis lagi."


Ele memilih duduk yang diikuti Alvin juga.


Tatapan mereka bertemu. "Kau juga harus berjanji kepadaku."


"Berjanji apa?" Alvin menaikkan alisnya setengah.


"Jangan pernah meninggalkanku, apapun yang terjadi sayang."


Alvin tertegun, lalu ia tersenyum lembut. Ia mengambil telapak tangan Ele dan menaruh ke pipinya. "Siapa yang akan meninggalkanmu?Jadi jangan pernah memikirkan itu. Jika aku meninggalkanmu, berarti itu sama artinya, aku melukai hatiku sendiri."


Ele tersenyum, "Kenapa aku bodoh sekali. Memberikan pertanyaan yang sama dan jawabannya pasti sama. Seharusnya aku mempercayai Alvin. Apa yang aku takuti?"


"Bagaimana kalau kita mandi, lalu makan. Hari ini kita jalan sepuasnya."


Ele mengangguk pelan. "Kamu dulu atau aku?"


Alvin menyeringai tipis, Ia membisikkan begitu sensual ditelinga Ele. Bagaimana kalau mandi berdua?"


DEG!


Ele tersentak dan mencubit lengan Alvin dengan lembut. Kata-kata itu berhasil membuat pipinya merona dan debaran jantungnya berdetak hebat.


"Hahahaha." Alvin tertawa awkward, ia berhasil membuat Ele salah tingkah. "Aku tidak akan melakukan itu, sebelum kita mengikat janji pernikahan. Aku bukan tipe lelaki brengsek sayang."


"Aku percaya itu. Sekarang kamu mandilah dulu!" Ele mendorong tubuh Alvin sambil tertawa.


BERSAMBUNG.....


^_^


Tolong dukung ya my readers tersayang. Ini Novel ketujuh aku 😍


Salam sehat selalu, dari author yang cantik buat my readers yang paling cantik.


^_^

__ADS_1


__ADS_2