LOVE OF FATE

LOVE OF FATE
MEMULAI DARI AWAL


__ADS_3

πŸ’Œ LOVE OF FATE πŸ’Œ


Β 


πŸ€ HAPPY READING πŸ€


.


.


...Hal yang paling sulit dalam mencintai, adalah memulainya. Terutama membuka hati, setelah membereskan yang lama....


πŸ”ΈπŸ”ΈπŸ”ΈπŸ”ΈπŸ”Έ


BEBERAPA HARI KEMUDIAN.


Malam mulai meranggas, kota A terasa hening. Seperti biasa Alvin tak langsung beranjak ke kamar. Ia akan menghabiskan malamnya di ruang kerjanya. Jadwalnya cukup padat semenjak ia menjabat sebagai direktur. Besok, Ia akan disambut hangat jadwal pekerjaan yang lebih padat lagi. Dan tentunya pasti membuatnya kelelahan. Mungkin dengan cara seperti itu, Alvin bisa melupakan Ele.


Bayangan Ele tiba-tiba terlintas dalam benaknya. Alvin menarik napasnya cepat. Berusaha menahan segala gejolak yang ada di dalam dadanya. Kenangan itu semakin jelas. Sudah hampir dua bulan ia tinggal di sini, menjadikan rasa rindunya semakin terasa sakit dan menusuk-nusuk hingga ke lubuk sanubari. Ia coba selipkan dan benamkan rasa rindunya dalam-dalam agar tak lagi muncul ke permukaan. Hari-harinya ia habiskan melakukan kehampaan. Hatinya benar-benar remuk. Seremuk kaca yang terhempas dan hancur berkeping-keping. Air matanya tak terasa tumpah mengalir membasahi kulit wajahnya. Sejak itu Alvin hanya bisa menangis diam. Merindukan wanita yang tak bisa dipeluknya. Tak ingin lama-lama larut dalam kesedihan, Ia menarik napasnya dalam-dalam. Menipis rasa yang membuatnya semakin terbelenggu.


Alvin melangkah masuk ke ruangan kerjanya sambil membawa botol wiski untuk menemaninya malam ini. Malam yang begitu tenang mengiringi keindahan suasana malam hari dari kediaman Smith. Alvin membuka pintu balkon yang ada di ruangan kerjanya. Udara terasa dingin dan menyegarkan. Langit cerah dihiasi bintang-bintang yang bertebaran menemani gagahnya raja malam dan bersinar terang menebar cahaya berkilauan.


Alvin mengambil minuman yang dibawanya tadi. Ia kembali menatap pohon-pohon di setiap pinggir jalan sambil memutar-mutar gelasnya. Mengeluarkan bunyi gemericik es batu yang saling bertabrakan dengan dinding gelas. Wajahnya begitu tenang, menatap lurus ke depan.


"Apa dia sudah tidur?" Ucap Alvin sambil mengeluarkan d*sahan. Alvin memutuskan beberapa hari ini tidur di kamar Allura. Itu pun Alvin masuk setelah memastikan Allura benar-benar sudah tidur.


Kemarahan Lukas membuatnya tak berkutik sama sekali. Alvin menghela napas berat. Ia dengan cepat menarik napasnya, menepis segala rasa yang membuatnya tidak tenang.


Dddrrrttt... Dddrrrttt...Dddrrttt


Handphone yang diletakkan Alvin di atas meja bergetar. Ia menoleh ke belakang dan segera mengambilnya. Alvin mengernyit saat panggilan itu ternyata nomor baru.


"Ehmm.. Halo?" Ucap Alvin menyapa saat menggeser tanda terima di handphonenya.


"Hai Alvin, apa kabar?" terdengar suara seorang lelaki di ujung telepon.


Alisnya langsung menukik tajam. "Siapa ini?" tanya Alvin dingin.


"Kau tidak mengenalku?"


"Aku tidak ingin bermain tebak-tebakan. Siapa ini?" Nada suara Alvin penuh penekanan.


Pria itu mengembuskan napas panjang. Alvin bisa mendengarnya. "Kau tidak mengenal saudaramu? Maaf! aku baru sadar, ternyata kamu amnesia." Tawa ejekan terdengar di ujung telepon.


Alvin mengernyitkan keningnya, menatap sejenak handphonenya, lalu menempelkan ke ke telinganya. "Apa kau sedang mengejekku?"


Tawa itu hilang seketika. "Sorry....sorry dude. Aku tidak mengejekmu. Itu keluar secara spontan. Aku Arlo, saudara angkatmu."


Alvin mencoba mengingat nama itu. Nama itu seperti tidak asing. Semakin ia mencari tahu, kepalanya bertambah sakit. "Maaf, aku tidak mengingatmu."


"Tidak masalah dude, aku bisa memakluminya."


Alvin menghela napas berat. "Apa kabar, Arlo?"


"Kabar baik, kira-kira menganggu gak?" Tanya Arlo seperti teman dekat. Walau sesungguhnya ia tidak berniat menghubungi Alvin. Apalagi berbicara basa-basi seperti ini.


"Hmm, menurutmu?"

__ADS_1


"Hahahaha.." Arlo tertawa awkward. "Maaf sudah menganggu waktu istirahatmu."


"Tidak apa-apa." Alvin tersenyum lagi. "Kenapa tiba-tiba menghubungiku Arlo? Setidaknya kau bisa berkunjung ke rumah."


"Uncle tidak pernah cerita?"


Alis Alvin menyatu. "Cerita apa?"


"Aku sedang menjalankan bisnis di London. Jadi aku tidak bisa pulang, banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan di sini."


Alvin diam sambil meneguk wiski yang ada di tangannya. Tak ingin terperangkap dalam suasana hening. Arlo kembali berbicara. "Alvin, bagaimana kabar Allura?"


Saat nama Allura disebut, wajah Alvin tiba-tiba berubah. "Untuk apa kau menanyakan Allura?" Tanya Alvin tanpa ekspresi.


"Astaga..." Arlo mengeluarkan tawa kecil. "Apa kau takut Allura terpikat dengan saudara angkatmu?" Arlo seakan memancing pembicaraan yang menurutnya sensitif itu.


"Kenapa kau tidak menghubunginya langsung?"


Arlo tersenyum menyeringai. "Apa kamu tidak cemburu. Alvin yang dulu aku kenal sangat posesif."


"Tidak masalah, Allura mungkin belum tidur. Kau bisa menghubunginya."


"Baiklah. Karena aku sudah mendapatkan izin darimu. Aku langsung menghubungi Allura saja. Selamat malam, dude." kata Arlo tersenyum penuh arti.


"Hmm. Selamat malam kembali, Arlo." Ucap Alvin mengakhiri panggilan.


Alvin menarik napasnya, ia kembali meneguk minuman yang ada di tangannya.


Matanya menatap ke bawah dari balkon rumah Smith. Beberapa orang masih saja terlihat melintas walau jam mulai menapaki di angka pukul 23.00 malam. Suara gorden jendela terkibas tertiup angin. Udara semakin dingin menusuk ke tubuh Alvin.


Ia menghela napas lagi, seolah-olah dengan begitu, ia bisa mengalirkan sebagian rasa sesak di dadanya ke udara bebas, membaginya dengan dunia. Namun dengan setiap helaan napas, sesak yang ia rasakan justru makin menjadi.


Alvin memegang kalung yang menggantung di lehernya. Rindunya semakin membuncah. Alvin memejamkan matanya. Tangannya mengepal kuat, berusaha menolak agar kenangan itu tak mencuat.


Benar! Jodoh itu rahasia Tuhan. Sekuat mana pun Ia setia, selama mana pun Alvin menolak, sehebat mana pun Ia merancang, seusaha mana pun Ia bersabar. Semua itu hanya rahasia Tuhan.


Alvin menarik napasnya lagi. Ia melakukan ritual menghembuskan napas lewat mulut mencoba menstabilkan perasaan di dalam hatinya yang kalut. Bukan tak bahagia atau pun bukan pula benci. Tapi Alvin tak tahu harus seperti apa, hingga perjalanan yang dihanyutkan dalam dinding-dinding waktu pun tak sanggup menahan gemuruh gemetar gelagat risau hati yang tak pernah berujung.


πŸ”ΈπŸ”ΈπŸ”ΈπŸ”Έ


Tiba-tiba gerimis turun membasahi bumi. Alvin menutup jendela dan memilih istirahat di ruang kerjanya. Malam ini ia hanya ingin bermimpi indah. Bermimpi tentang kehidupannya yang berubah menjadi sangat menyenangkan. Bisa melupakan kesedihannya. Bisa memulai hidup baru. Tidak membosankan lagi dan tidak hanya begini.


Alvin melepas napas panjang dan melangkah menuju kursi sofa yang ada di sana. Ia menyandarkan punggungnya kesandaran kursi, meletakkan tangannya ke dahinya dan memejamkan matanya. Hari yang begitu melelahkan. Ia menarik napasnya dan menghembuskannya sekaligus.


"BRAAAKKKK!"


Tiba-tiba pintu dibuka secara kasar. Alvin tersentak. Baru saja ia tertidur tiba-tiba Allura masuk dengan wajah gaharnya.


Allura melangkah mendekat ke arah Alvin. Jantung terus memicu dengan kencangnya. "Aku sudah tidak tahan lagi." matanya memerah menahan segala rasa yang ada di dada.


Alvin mengerti. Ia menarik napasnya lalu menatap Allura yang nampak kesal. Alvin merubah posisi duduknya dan mengunci tatapannya ke arah Allura.


"Sampai kapan kamu seperti itu?"


"Aku ingin istirahat Allura. Sekarang keluarlah!" usir Alvin terang-terangan.


"Apa?" Allura mengepalkan tangannya. ia mencoba bersabar dengan sikap Alvin.

__ADS_1


"Apa kau tidak mendengarnya? Aku ingin istirahat." Alvin menekan kalimatnya.


Napas Allura naik turun begitu cepat menahan emosi. "Bunuh saja aku Alvin." Teriak Allura di sana. Matanya menyorot tajam menatap ke arah Alvin. "Aku sudah tidak tahan menghadapi sikapmu seperti ini. Kau mengabaikanku dan tak perduli dengan anak yang aku kandung ini. Kau tahu sesakit apa hatiku?" Allura menepuk dadanya begitu kuat.


Alvin menghela napas singkat. "Jangan memaksaku Allura. Aku tidak bisa."


"Apa aku harus menunggu sampai ingatanmu kembali, begitu? Tapi aku sudah tidak tahan lagi, Alvin. Aku muak dengan semua ini."


"Sekarang apa maumu?"


"Bunuh aku."


Alvin mengerutkan keningnya, "Apa maksudmu?"


"Aku gila melihat sikap diam seperti ini. Aku muak diabaikan seperti ini. Anak ini!" Allura mengeluarkan gunting yang sengaja dibawanya dari kamar, ia mengarahkan kebagian perutnya. Dan saat itu juga Alvin terkejut. Tubuhnya membeku di sana.


"Apa yang kau lakukan, Allura!" Suara Alvin terdengar tegas di sana. Ia bangun dari duduknya.


Allura tersenyum sinis, tatapannya mengunci ke arah Alvin. "Aku ingin mengakhiri semuanya." Hal itu semakin membuat Allura berani. Sorot matanya semakin menantang.


"Apa kau sudah gila?" rahang Alvin mengeras saat Allura mengarahkan gunting itu lagi ke arah perutnya.


"Iya, aku sudah gila. Gila melihat sikapmu seperti ini. Jadi biarkan aku mengakhiri semua ini. Aku sudah tak sanggup lagi...." Allura menjerit dan ingin menancapkan gunting itu ke bagian perutnya.


Saat itu juga Alvin berlari dan menampik tangan Allura hingga gunting yang dipegangnya terjatuh.


Allura langsung terduduk dan menutup wajahnya dan menangis. "Biarkan aku mati Alvin, aku sudah tak sanggup lagi."


Reflek Alvin merengkuh pundak Allura dan memeluknya dengan erat. Sangat erat. Ia hanya diam saat Allura terus menangis.


Allura meronta. Namun Alvin menahan rontahan Allura dengan sekuat tenaga. Allura semakin berteriak. "Lepaskan aku, biarkan aku mati!" teriaknya mencoba mendorong tubuh Alvin.


"Maafkan aku, Allura." Hanya itu yang keluar dari mulutnya.


"Kau tak mencintaiku lagi, Alvin. Aku tak bisa seperti ini terus-menerus. Hatiku sakit." ucap Allura dengan tatapan kosong. Ia tidak mampu melawan tubuh Alvin yang jauh lebih besar dari tubuhnya. Allura hanya menangis tersedu di sana.


Alvin tak bisa berbuat apa-apa. Ia mencoba menenangkan Allura. "Aku tahu. Maafkan aku!"


"Tolong jangan seperti ini, Alvin. Aku mohon jangan mengabaikanku seperti ini."


"Maafkan aku." hanya itu yang bisa keluar dari mulutnya. Alvin menarik napasnya dan kemudian melanjutkan kalimatnya. "Aku mencobanya. Tapi kau bisa menunggu, kan?"


Allura menganggukkan kepalanya. Tangisannya semakin pecah di sana.


"Mungkin kamu bisa mengingatkanku pada kenangan kita yang dulu."


Allura melepaskan pelukannya, menatap Alvin dengan sendu. "Iya, aku akan membantumu mengembalikan kenangan itu, mengingatkanmu bahwa kita pernah saling mencintai."


Alvin tersenyum sambil menarik napas dalam-dalam. Ia kembali menarik Allura ke dalam pelukannya. Dia tidak tahu perasaan apa ini. Sementara Allura tersenyum penuh arti. Ia begitu bahagia, akhirnya berhasil dengan rencana ini.


BERSAMBUNG.....


^_^


Tolong dukung ya my readers tersayang. Ini Novel ketujuh aku 😍


Salam sehat selalu, dari author yang cantik buat my readers yang paling cantik.

__ADS_1


^_^


__ADS_2