
π LOVE OF FATE π
Β
π HAPPY READING π
.
.
...Mencintai memang perihal mempertahankan. Tetapi, ada kesempatan lain bisa jadi keberanian untuk melepas....
πΈπΈπΈπΈπΈ
Mereka pun berdiri di depan ring. Mata mereka fokus menatap lurus ke arah ring. Sedikit memicing untuk beberapa saat. Ekspresi wajah tampak serius seperti petarung yang siap mengalahkan musuhnya.
"Satu....dua... tiga.......!!!!!"
Bola menggelinding keluar, Ele dengan cepat mengambilnya dan melempar bola ke dalam ring. Saat Alvin melemparnya, bola meleset keluar dari ring. Ele tersenyum penuh kemenangan. Ia sudah berhasil memasukkan bola empat bola. Ele bersorak lebih bersemangat lagi. Ia mengambil bola itu lagi dan... masuk.
"Yess...." Sorak Ele sembari mengayunkan ke bawah tangannya yang terkepal.
Alvin tersenyum sambil menggeleng. Ia tetap bersikap santai. Ele memang pemain basket yang handal. Amira pernah bercerita, Ele pernah ikut turnamen voli antar desa. Jadi wajar saja Ele bisa memasukkan bola dengan lincah ke dalam ring. Apalagi hanya sebatas permainan konyol ini. Alvin lagi-lagi hanya menurut saja, bagaimana membuat Ele bahagia.
Ele meloncat-loncat saat poin Alvin sudah jauh tertinggal darinya. Ia tak perduli dengan teriakannya yang menghebohkan orang-orang yang berada di sana. Ele kembali mengambil bolanya dengan cepat sebelum waktunya habis. Matanya memicing, memprediksi agar bola yang tangkapnya masuk ke dalam ring tepat sasaran.
"Ayo Alvin, semangat!" seru Ele di sela-sela ia melempar bola.
Alvin tersenyum dan melirik sekilas ke arah Ele. Ia kembali memasukkan bola dengan asal.
TEEETTTT
Suara bunyi mesin dari permainan terdengar begitu nyaring dan menyudahi permainan mereka. Ele melempar bola terakhirnya dan menyudahi permainannya.
"Yeeee....aku menang Alvin," Ele berhambur memeluk Alvin. Namun tiba-tiba senyum manisnya hilang saat tatapannya bertemu dengan sosok lelaki yang berdiri tidak jauh dari mereka.
Deg!
Jantung Ele berdegup kencang. Ia menarik napasnya dalam-dalam, mengumpulkan oksigen agar bisa memenuhi paru-parunya. Ele berusaha bersikap tenang, walau sesungguhnya jantungnya tak bisa diajak diam. Ada juga puluhan anak buah Smith berdiri tegap di setiap titik. Mereka berdiri kaku tanpa tersenyum. Alvin belum menyadari bahwa hari ini adalah hari terakhir untuk mereka.
"Tampaknya kau menikmati permainan ini, Ele." Alvin ikut tersenyum sambil menepuk pundak Ele dengan lembut.
Ele langsung melepaskan pelukannya. "Tentu saja, Alvin. Aku menikmatinya, apalagi saat bersamamu." Kata Ele tersenyum kecil sambil memeluk pinggang Alvin dari samping. Ele berusaha bersikap tenang. Dia hanya ingin hari terakhirnya berkesan baik dengan lelaki yang dicintainya. Ekspresinya bahkan seperti anak kecil yang begitu bahagia saat keinginannya dituruti.
"Mau main lagi atau mau langsung ke lantai satu?" tanya Alvin.
Ele menggeleng cepat. Rasanya ia belum mau mengakhiri ini semua. "Kita main lagi, Alvin. Aku belum puas memainkan semua permainan yang ada sini." Ele kembali membawa tangan Alvin. Ekor matanya bergerak cepat, langkah mereka diikuti beberapa anak buah yang stand bye di sana.
"Apa ini?" Alvin mengerutkan keningnya saat memandang sebuah layar monitor besar dengan varian lampu beraneka warna di setiap sisinya. Tanda panah nampak berkelap-kelip di atas lantai pijakan mesin game.
Ele terkekeh lagi, "Ini permainan dance-dance revolution dan ini harus dimainkan dua orang. Sekarang kamu naik."
"Untuk apa?" spontan Alvin menjauh. Saat melihat respon Alvin, tanpa sadar Marvel menahan senyum. Tangannya mengepal di depan mulut sambil melarikan pandangannya.
"Kamu harus coba, walau awalnya susah-susah gampang, tapi permainannya seru kok. Kita harus main. Agar wajahmu tidak tegang lagi." Ele mendorong tubuh Alvin agar naik ke atas mesin permainan.
__ADS_1
"No, aku tidak mau, sayang." Alvin menggeleng. Menolak permintaan Ele yang menurutnya memalukan itu. Ia sempat menoleh ke kiri dan ke kanan.
"Permainan ini gak susah Alvin, kita hanya gerakkan kaki dan menginjak setiap panah yang menyala di lantai." Ele masih berusaha membujuk Alvin. "Ayo dong sayang," wajah Ele berubah sendu.
"Kalau kau main, silakan! aku di sini saja." tolak Alvin masih dengan pendiriannya.
"Ih...gak seru!" Wajah Ele mengerucut. Ia naik ke atas mesin permainan lalu menggesek kartu ke mesin permainan.
Di saat mesin berbunyi Ele mensetting untuk memulai. Ia mulai atur posisi dan menari di atas mesin permainan. Alvin menahan senyumnya saat melihat aksi menari Ele yang begitu lincah di atas.
"Ayo Alvin," Ele tertawa bahagia, menari-nari sambil melambaikan tangannya.
Tanpa pikir panjang Ele membawa tangan Alvin untuk naik ke atas mesin. Alvin kaget saat tangannya digenggam Ele. Ia tidak bisa menghindar.
"Astaga apa yang kau lakukan, Ele?" Kata Alvin.
"Mau menari bersamamu, Alvin. Setidaknya kau bisa Ingat bahwa kita pernah bermain ini."
"Oh my God. Tolong selamatkan aku!" Wajah Alvin tampak bingung.
Ele tertawa lagi, ia memegang tangan Alvin dengan erat. Menuntut lelaki tampan ini menginjak setiap panah yang menyala. Mereka lompat-lompat girang. Mereka tertawa bebas sampai orang-orang yang ada di sana memperhatikan mereka.
Setelah selesai Ele membawa tangan Alvin dengan posesif. Mereka mencoba permainan lain. Semua permainan di coba dari time crisis, giant drop, hit a rat dan bahkan permainan hockey meja.
"Kamu puas," ucap Alvin memandang ke arah Ele yang tengah menyeruput minuman dinginnya.
"Ehmmm, hari ini aku bahagia sekali, Alvin. Sangat bahagia, hingga membuatku ingin menangis."
"Heuh, menangis? Kenapa seperti itu?"
Heeekkk.... Ele menarik cepat napasnya. Matanya berair menahan tangis. Hidungnya merah. Ele melarikan pandangannya agar Alvin tak melihatnya. "Aku hanya terlalu bahagia Alvin. Sampai aku ingin menangis."
Ele tersenyum samar sambil melepaskan tangan Alvin dari pipinya. Ia memandang ke arah lain. Rasanya ingin menangis, saat detik-detik ingin melepaskan Alvin. Ia semakin berat untuknya.
"Sekarang gendong aku." pinta Ele kemudian.
"Sekarang?" Tanya Alvin menatap bingung.
"Hmmm, sekarang. Kita langsung ke lantai satu dan makan di sana." Kata Ele. "Dan di sana kau akan dijemput keluargamu, Alvin." Ele menarik napasnya yang semakin berat.
"Oke, mana yang membuatmu senang." Kata Alvin langsung membungkukkan badannya, agar Ele bisa naik ke punggungnya. Dengan seulas senyum Ele naik dan memeluk leher Alvin. Ia tidak perduli jika semua mata memandang ke arah mereka. Ele hanya ingin merasakan kehangatan ini untuk terakhir kali. Ele tersenyum. Dengan lembut ia merebahkan kepalanya di punggung Alvin. Ele menutup matanya dan mengambil posisi yang nyaman untuknya. Mulutnya terbuka, ia mendesah. Eleanor pun menarik napasnya dalam-dalam. Menahan sesak yang teramat sangat.
Di lantai bawah Alvin masih terus berjalan sambil menggendong Ele ke lantai satu. Sementara Ele masih menikmati momen ini. Ia menjepit bibirnya dan terus mendongak ke atas. Memasukkan air mata yang hendak menetes. Ia tidak mau air matanya menetes membasahi baju Alvin. Ele semakin mengeratkan pelukannya.
Di lantai bawah. Alvin dan Ele mengambil kursi yang langsung menghadap ke arah jalanan. Alvin berjongkok dan membiarkan Ele turun dari gendongannya.
"Terima kasih, Alvin." Ele tetap memberikan senyum terbaiknya.
"Hei...kenapa kamu berterima kasih? Sudah sepatutnya aku melakukan itu. Jika kau menginginkannya lagi. Aku bisa mengendongmu lagi." Ucap Alvin tersenyum sambil mengacak rambut Ele dengan kasar. Mereka duduk berhadapan.
"Kau mau pesan apa?" Tanya Alvin sambil membolak-balikkan daftar menu makanan.
"Aku sudah memesannya."
"Heuh? kapan?" Alvin menatap Ele dengan kerutan dahi. "Kamu serius...?" Kalimatnya menggantung saat dua orang pelayan datang untuk menyajikan makanan di meja mereka.
__ADS_1
Pelayan menunduk hormat. "Makanan pembuka akan segera di sajikan tuan dan nona."
"Silahkan!" Kata Ele melempar senyum ramah.
Sementara Alvin masih bingung dengan situasi ini. Ia tidak terus menatap Ele meminta jawaban. Tatapannya lurus seakan tidak mau lepas. Namun Ele, tak merespon tatapan itu. Ia hanya memperhatikan pelayanan menyajikan makanan untuk mereka.
Setelah semua makanan tersaji. Pelayan itu menjelaskan menu yang ingin disajikan. "Makanan ini disebut Braised Short Ribs, yaitu rusuk kecil yang diasinkan dengan rempah-rempahan. Menu ini biasanya disajikan menggunakan campuran jamur dan truffle. Sedangkan untuk makanan penutupnya disebut Bahibe Caramelized Bar yang terdiri dari tujuh puluh persen cokelat organik, passion fruti, dark cokelat soret, hazelnut karamel yang disiram saus cokelat hangat."
Ele tersenyum mengangguk. "Terima kasih sudah menjelaskan dengan baik."
"Sama-sama nona. Selamat menikmati." Ucap pelayan itu pamit undur diri.
Saat pelayan itu pergi, Alvin mencondongkan badannya dan berbisik. "Kamu serius memesan ini semua? Makanan ini mahal Ele. Biaya ini semua bisa menyambung hidup kita enam bulan ke depan."
Ele tersenyum saat mendengar kalimat itu. "Aku sudah bilang tidak usah memikirkan apapun. Kita cukup menikmatinya. Ini semua sudah dibayar."
"Siapa yang bayar?" kejar Alvin.
"Ada deh..." Ele mengambil lipatan serbet yang ada dihadapannya dan membentangkannya dalam pangkuan. "Sekarang kita bersulang." Ele mengangkat gelasnya.
Alvin menatap bingung, dalam keadaan terpaksa ia pun mengangkat gelasnya.
TING !
Permukaan gelas mereka bertemu, berdenting menghasilkan suara yang merdu.
Mereka menikmati makanan sesuai dengan urutan makanan yang di sajikan para pelayan. Ele sendiri menikmati makanannya dalam diam, rapi dan tenang. Sesekali memberikan beberapa potong daging ke piring Alvin.
TIGA PULUH MENIT TELAH BERLALU.
Tiba-tiba suasana diam dan tenang. Alvin menyadarinya. Ia mengedarkan pandangannya. Pengunjung sudah tidak ada. Tempat itu seperti sengaja disterilkan dari aktivitas pengunjung.
"Kenapa tiba-tiba sepi Ele?" ucapnya spontan kepada Ele.
Ele diam tidak menjawab. Ia hanya meremas tangan di atas pangkuannya. Walau ia berat menerima kenyataan ini. Tapi ia siap melepaskan Alvin.
Menyadari seseorang ada dibelakangnya. Alvin dengan cepat memutar badannya. Ia terjengkit dari duduknya karena terkejut menyadari ada Marvel dan beberapa orang berdiri tegap di sana.
"Selamat malam tuan!"
"Ada apa ini?" Ucap Alvin panik. Suaranya menggema di sana. Ia tidak bisa menutupi rasa terkejutnya. Rahangnya mengencang kuat.
Ele menutup mata dan menahan napasnya sejenak. Ia menguatkan hatinya untuk mengatakan ini. "Kau harus kembali Alvin." Ucap Ele dengan bibir gemetar. Suaranya hampir tak terdengar.
Wajah Alvin menegang. "A-apa maksudmu sayang?"
"Kau harus kembali kepada keluargamu."
DEG!
BERSAMBUNG.....
^_^
Tolong dukung ya my readers tersayang. Ini Novel ketujuh aku π
__ADS_1
Salam sehat selalu, dari author yang cantik buat my readers yang paling cantik.
^_^