LOVE OF FATE

LOVE OF FATE
TERIKAT MASA LALU.


__ADS_3

πŸ’Œ LOVE OF FATE πŸ’Œ


Β 


πŸ€ HAPPY READING πŸ€


.


.


...Aku pernah berharap untuk menghilang saja dari dunia ini. Dunia ini terlihat begitu gelap dan aku menangis sepanjang malam. Apakah aku akan merasa lebih baik jika aku menghilang?...


πŸ”ΈπŸ”ΈπŸ”ΈπŸ”ΈπŸ”Έ


Bunyi semarak dari kembang api meluncur di udara berganti-gantian. Menghaburkan beragam cahaya-cahaya indah, kembang api berpadu dengan gelapnya malam. Sangat indah bagi siapa saja yang menyaksikan. Ele masih tidak bisa menutupi rasa terkejutnya. Walau sesungguhnya, Ele benci ulang tahun. Ia benci diberi kejutan. Jika boleh memilih Ele tak ingin merayakan yang namanya ulang tahun.


Kenangan pahit selalu mengingatkannya pada kejadian yang membuatnya terikat pada kenangan itu. Ia bahkan di benci dan tidak di terima oleh kedua saudara tirinya. Ratapannya hanya dapat terkunci dalam hatinya. Angin membawa lantunan pengantar akhir. Air matanya mengalir perlahan menuju pipinya. Ele mengusap cepat air matanya yang terjatuh di pipinya . Ia tidak mau orang-orang di sana melihatnya menangis. Ele menatap sendu ke arah langit. Rasa bahagia tak tergambar di wajahnya.


Kepalanya tiba-tiba terasa sakit. Ia duduk di kursi memegang kepalanya dengan erat. Traumanya sudah sembuh. Namun karena kejadian ini, memancing memorinya kembali. Ele mencondongkan tubuhnya ke depan, mencengkram rambutnya semakin erat. Suara Alvin yang terus bernyanyi seperti suara kaset yang rusak di telinganya. Penonton yang berteriak-teriak dirasanya seperti suara serangga berterbangan di atas kepalanya. Mereka tampak begitu bahagia menyaksikan kembang api itu, namun tidak dengan Ele.


Alvin menghayati setiap bait lagu yang ia nyanyikan. Suaranya memukau para orang-orang yang berkumpul di sana terbawa suasana. Ia menebarkan senyumannya. Membuat semua orang mengagumi Alvin. Persembahan lagu terbaik sudah di nyanyikan. Terdengar tepuk tangan memenuhi lapangan dan meminta Alvin menyanyikan satu lagu lagi. Pembawa acara pun naik ke atas panggung dan ikut bertepuk tangan di sana. Alvin tersenyum menarik napas karena begitu gugup. Ia menatap Ele yang tak jauh darinya.


"Oke, kita sudah mendengarkan satu buah lagu dari pria tampan ini. Dia bukan artis, tapi dia memiliki suara emas. Berikan tepuk tangan yang meriah."


Alvin tersenyum seraya membungkukkan badannya di depan ratusan penonton saat mereka bertepuk tangan.


"Sebenarnya ini acara Astaga festival atau kejutan ulang tahun sih, kamu romantis sekali, apa Ele kekasihmu?" ucap wanita itu tersenyum menggoda.


Terdengar sorakan dari arah penonton di sana. Pembawa acara itu adalah Veronica yang dielu-elukan paling cantik di desa ini. Alvin tersenyum tipis, ia pun berdiri dan mendekat ke arah wanita itu.


"Masyarakat di sini pasti sangat penasaran, kembang api itu bertuliskan selamat ulang tahun kepada seseorang. Apa Ele orang special?" kata Veronica menunjukkan wajah tak suka saat menyebut nama Ele.


Alvin tersenyum lagi, sesungguhnya pertanyaan ini membuatnya gugup. Saat nama Ele disebut lagi, hatinya berdebar. Tapi ia tidak tahu apa arti dari debaran itu. Alvin mengarahkan mic ke mulutnya. "Ele sudah aku anggap seperti adikku." jawabnya singkat.


"Wah kakak yang luar biasa, berikan tepuk tangan lagi kepada pria tampan ini." Ucap Veronica begitu bersemangat.


"Apa aku bisa mendaftar sebagai kekasihmu?"


Alvin terkekeh saat mendengar itu. Kembali para penonton bersorak dan ikut tertawa di sana. Alvin mengulum senyumnya sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Kau memiliki suara bagus. Kenapa tidak ikut audisi bernyanyi saja. Siapa tahu saja anda jadi penyanyi terkenal dan mengharumkan nama desa kita." ucap Veronica kembali.


"Saya tidak berminat, saya hanya ingin berkebun strawberry bersama adik saya, Ele." kata Alvin to the point.

__ADS_1


"Oh, iya? Wah benar-benar keren banget sih." Veronica kembali memberikan tepuk tangannya.


"Mungkin sebelum meninggalkan panggung ini, Kau bisa menyampaikan sesuatu kepada adikmu yang berulang tahun?"


Alvin tersenyum sambil mengangguk, ia kembali menatap ke depan. Alvin memegang mikrofon dan merapatkan pengeras suara itu ke mulutnya. Suasana seketika hening dan menatap fokus ke arah pria tampan itu. "Selamat ulang tahun buat Ele. Semoga kebahagiaan selalu menyertaimu. Jangan lupa, selalu tersenyum ya. Maafkan aku yang selalu menyusahkanmu. Di sini saya juga berterima kasih kepada pak kepala desa yang telah mempercayakan saya ikut berpartisipasi untuk memeriahkan acara ini." Alvin pun menundukkan kepalanya sembilan puluh derajat. Lalu menegakkan badannya. Riuh tepuk tangan kembali terdengar di sana. Alvin memberikan mikrofonnya kepada pembawa acara tersebut. Dan memberikan senyum terbaiknya sambil ikut bertepuk tangan di sana.


"Oke terima kasih tuan tampan. Anda memang luar biasa. Untuk penonton kita berikan tepuk tangan kepada Alvin." Suara Veronica begitu lantang hingga mengundang penonton ikut bertepuk tangan di sana.


Alvin kembali membungkukkan badannya di depan ratusan penonton yang ikut menyaksikan acara itu.


β€œSelamat ulang tahun, semoga panjang umur ya Ele.” Kata seorang wanita paruh baya seraya tersenyum.


"ELE, Selamat ulang tahun untuk kamu. Senang ya dikasih kejutan seperti ini" Ucap seorang pria yang mengenal Ele.


Tapi Ele tak tersenyum, menjawab pun tidak. Wajahnya tetap datar. Pandangan Ele menatap lurus ke atas panggung. Ia lalu meninggalkan acara itu, tanpa menunggu Alvin. Alvin menyadari, jika Ele pergi. Ia pun turun dari atas panggung dan mencoba mengejar Ele.


πŸ”ΈπŸ”ΈπŸ”ΈπŸ”ΈπŸ”Έ


Ele berjalan pelan dan menjauh dari keramaian. Setiap jalan setapak akan memanggil kenangan di memorinya. Ia berjalan pelan dan menarik napasnya yang terasa berat. Ele mencoba tenang, dia berusaha untuk tidak mengingat kejadian siang itu.


Ele memeluk dirinya dengan tangan melipat di depan dada. Angin sejuk berembus membawa bau pepohonan yang banyak tumbuh di sekitarnya.


Langkah demi langkah ia susuri dengan tarikan napas panjang. Ia mendapati di pinggir jalan terdapat beberapa potongan pohon yang di bentuk sebagai bangku panjang untuk tempat duduk. Lampu jalan menyorot ke arahnya. Ele duduk di sana. Ia menarik napasnya cepat. Berusaha menahan segala gejolak yang ada di dalam dadanya. Kini bayangan tentang kenangan bersama ibunya memenuhi otaknya. Ciuman hangat dari wanita lembut itu begitu terasa di pipinya. Ele menyentuh pipinya dan mengusap pipinya beberapa kali. Ia tersenyum seakan merasakan ciuman hangat itu. Sesibuk apapun ibunya dulu, ia pasti menyempatkan waktunya untuk mendongeng. Ele kembali menarik napasnya dengan terbata-bata. Semua kasih sayang itu hancur berkeping-keping saat ibunya menikah kembali. Kehangatan yang dirasakannya tak lagi pernah didapatkannya dari ibunya. Ibu lebih memperhatikan kedua saudara tirinya.


Aaahhhhh...Air bening yang sedari tadi terkumpul, mengalir begitu deras di pipinya. Wajahnya mengerut untuk bernapas. Ia menunduk dengan bahu bergetar. Akhirnya Ele menumpahkan kesedihannya di sana.


Napasnya naik turun dan kepala terasa berat. Semua kenangan itu kembali muncul diingatan seolah ada yang menekan tombol. Ele masih ingat teriakan Harry yang membuat banyak warga berdatangan ke rumah mereka saat itu. Ele telah membunuh ayah tirinya. Kenangan menyedihkan itu awal dari penderitaannya. Ia bahkan tidak bisa mengubur kenangan pahit itu.


FLASH BACK ON.


Setelah makan siang, seperti biasa Ele masuk ke kamarnya dan menghabiskan waktunya untuk melukis. Di saat Ele tengah asyik melukis, tiba-tiba pintu di buka secara paksa.


BRAKK!


Ele terkejut dan membalikkan tubuhnya, ini kebiasaan Harry jika pulang selalu membanting pintu kamarnya. Namun Ele terkejut saat melihat jika bukan Harry yang membanting pintu itu, melainkan ayahnya.


"Ayah?" Ucapnya pelan hampir tak terdengar.


Ele begitu ketakutan saat melihat ayahnya masuk dalam keadaan mabuk dan terlihat di tangannya masih ada sisa minuman keras. Marko meneguknya lagi, tatapannya menginginkan Ele.


"Ele, sudah lama aku menunggu momen ini." Pria setengah mabuk itu melangkah dan hampir jatuh sempoyongan karena tak bisa menopang dirinya yang mulai mabuk.


"Aa-apa maksud ayah?" Tanya Ele dengan suara terbata.

__ADS_1


"Kau tidak tahu apa yang diinginkan ayahmu?"


Ele mundur dan mencoba menjauh saat Marko mendekat ke arahnya.


"Aku ingin tubuhmu." Ucapnya pelan, namun berhasil menghantam jantung Ele.


Beberapa detik kemudian, Ele menggeleng ketakutan. "Ayah sedang mabuk, lebih baik ayah tidur di kamar." ucap Ele begitu polos karena usianya saat itu masih dua belas tahun.


"Hahahaha...." terdengar suara tertawa kecil dari bibir Marko.


Ele semakin ketakutan. Bagaimana seorang ayah bisa tanpa beban mengatakan itu. Suara Ele tercekat di leher ia ingin berteriak tapi tidak bisa. Apalagi ingin berlari, kakinya seperti terpaku di lantai.


Marko mendekat dan membelai rambut panjang Ele. "Aku tidak mabuk." ucapnya sambil menghirup aroma buah dari telinga Ele.


"A-apa yang ayah lakukan?" Tubuh Ele gemetar saat ayahnya mulai menjelajahi setiap lekuk tubuhnya.


"Aku menginginkanmu,"


"Ayah gila," Ucap Ele menjauh dari ayahnya.


Tak tahan lagi, Marko mendorong tubuh Ele hingga terjatuh ke atas kasur dan mengunci tubuh Ele agar tidak bisa bergerak. Ele mulai menangis, bulir demi bulir air mata mulai mengalir di sudut matanya.


"Jangan Ayah, aku mohon!" Ele meronta-ronta, menggunakan kakinya untuk menendang. Tapi semua percuma, Ele tak berdaya. Ia begitu panik. Ele berteriak di sana dan kepalanya menggeleng cepat.


Sementara Marko masih terus menciumi Ele. Tanpa pikir panjang, Ele mengambil paksa botol minum yang Marko letakkan di atas meja dekat kasurnya. Lalu menghantamnya ke kepala Marko sampai botolnya pecah.


"Ahhhhhh...." Marko mengerang kesakitan dan menjauh dari Ele.


Marko tampak murka, ia begitu marah dan ingin memukul Ele. Namun semua diluar dugaan. Dengan cepat Ele menancapkan pecahan kaca itu ke dada Marko berulang kali. Saat melihat tubuh Marko yang tak berdaya lagi. Ele berlari dan bersembunyi di dalam lemari. Hanya air mata yang berjatuhan membahasi pipinya saat itu. Tubuhnya menggigil ketakutan saat seseorang masuk ke dalam kamarnya. Ternyata yang masuk itu adalah ibunya.


FLASH BACK OFF


Bau alkohol bercampur dengan anyirnya darah bahkan tercium dari tempat persembunyian Ele saat itu. Ele tak pernah menyesal telah membunuh pria itu. Dan yang membuat Ele sedih, Ibunya mengakui bahwa ia yang telah membunuh suaminya itu. Walau Ele menyangkalnya dan tetap mengakui bahwa ia adalah pelaku yang sebenarnya. Tak ada yang percaya kepada Ele, karena saat itu usianya yang masih anak-anak. Ele tidak mungkin berani membunuh ayahnya.


BERSAMBUNG.....


^_^


Tolong dukung ya my readers tersayang. Ini Novel ketujuh aku 😍


Salam sehat selalu, dari author yang cantik buat my readers yang paling cantik.


^_^

__ADS_1


__ADS_2