LOVE OF FATE

LOVE OF FATE
SALAH ORANG


__ADS_3

💌 LOVE OF FATE 💌


 


🍀 HAPPY READING 🍀


.


.


Aku tak tahu apakah pesonanya yang memikat atau mungkin akal ku yang tak lagi di tempat.


🔸🔸🔸🔸🔸


"Taassku....tasssku...." Napas Ele tersengal. Ia membungkukkan badannya sambil memegang lutut. Ele mencoba menstabilkan napasnya yang naik turun begitu cepat.


Arlo tersenyum, sudut bibirnya naik ke atas sambil terus memperhatikan gadis itu. Jarak mereka tidak terlalu jauh.


"Kembalikan tasku?" Ele menegakkan badannya kembali. Sepersekian detik, wajah Ele berubah. Ia tidak bisa menutupi rasa terkejutnya saat melihat siapa lelaki yang berdiri di depannya.


"KAU?"


Arlo tersenyum sambil membenarkan jasnya. Ia melangkah dengan tegap, berjalan mendekat ke arah Ele. Arlo tak langsung mengembalikannya. Ia menyembunyikan tas itu di balik punggungnya. Arlo memang sengaja menahannya agar bisa lebih dekat dengan wanita itu.


Energi emosi beraura hitam memenuhi setiap jengkal pembuluh darah Ele. Tekanan darah seketika terpompa kuat menghantar pasokan nutrisi untuk bala tentara setan di pikiran.


"Dasar jambret, mana tasku ....!!!" Pekik Ele, berlari dan menyambar dada pria itu.


BUK! BUK! BUK! BUK!


Pukulan kepalan tangan yang cukup kuat menghujani dada pria itu dan bekas tapak tangan membekas memerah karena meninggalkan jejak penganiayaan.


Arlo meringis tak dapat menghindar. “Augh!...aku bukan jambret! Hentikan....!” Arlo mengaduh kesakitan. Sambil menahan sakit.


"Kau pikir aku percaya, jelas-jelas kau yang mengambil tasku. Kau tidak bisa mengelak lagi. Dasar jambret!" Ucap Ele dengan emosi.


Ele kembali memukul pria itu, namun Arlo menahannya. Ia berusaha menenangkan amarah wanita yang sedang membara itu.


"Aku bukan pejambret, percayalah!" Arlo memegang kedua tangan Ele. Wajah Arlo bahkan dibuatnya semanis mungkin agar Ele percaya bahwa ia bukan pelakunya. Namun bagi Ele tampang itu bagai bensin yang coba-coba mendekati bara amarah. Dan hasilnya bisa di duga.


Kerumunan menyibak dengan sendirinya, masing-masing orang seakan menyaksikan pertunjukan yang tak terduga-duga itu.


“Bahkan alam tahu kau adalah pelakunya. Lihat, kau sengaja menyembunyikan tas itu di belakang punggungmu.” ucap Ele murka.

__ADS_1


“Sabar nona, aku bisa menjelaskannya. Ini tidak seperti yang anda pikirankan.” kata Arlo benar-benar mati kutu dibuat gadis itu. Baru kali ini seorang wanita berani seperti ini. Biasanya jika para wanita tahu itu adalah Arlo, mereka tidak akan segan-segan bersujud bahkan menyerahkan dirinya tanpa diminta. Tapi kali ini berbeda. Arlo bahkan tak bisa menebak gadis itu.


“Sebaiknya kamu mengaku. Jika tidak, urusan ini akan saya laporkan kepada pihak yang berwajib.” Ancam Ele.


"Kau tidak tahu, jika berurusan dengan polisi. Ini akan memakan waktu. Apa kau memang sengaja menggunakan polisi untuk mengancamku?"


Bagai gelegar mengajak perang saja, ucapan pria itu malah menyulut emosi Ele meledak bak letusan gunung merapi. "Apa?"


"Kamu sengaja menggunakan polisi untuk minta ganti rugi, kan?" Mata Arlo mengunci setiap pergerakan Ele.


“Kamu kira saya takut dengan gertakanmu! Dasar tidak tahu diri. Sudah jelas-jelas melakukan kesalahan malah mengancam dan mengatakan aku minta ganti rugi?” Ele malah lebih galak dari preman yang ada di pasar.


“Salah saya apa? Jelas-jelas saya menyelamatkan kamu. Dan tas ini saya ambil dari pejambret itu. Ingat!" Jari Arlo mengacung ke arah Ele dan balik menggertak. Walau ini terasa lucu menurutnya. Tapi Arlo berusaha menepis perasaan yang terus menggelitik di dalam hatinya. Ia menatap serius dan kembali melanjutkan ucapannya. "Saya juga bisa menuntut anda, pencemaran nama baik.”


Ele merasa jengah. Mata melotot di balas senyuman, amarah di terima dengan keakraban. Adegan satu wanita dan satu pria ini menjadi tontonan gratis bagi warga yang ada disekitar itu. Ada yang senyum-senyum melihat tingkah Ele yang sedang marah, ada yang kasihan melihat Arlo yang dituduh sebagai pelaku jambret.


Tiba-tiba polisi yang sedang patroli malam melintas dan melihat perang tanding dua orang yang merasa sedang mempertahankan kebenaran masing-masing. Pria berseragam itu adalah paruh baya dengan kepala plontos dan perut buncit, lengkap pakai kumis tebal di bawah hidungnya. Postur tubuhnya yang gemuk dan sedikit pendek seakan membebani langkah kaki untuk berlari gesit. Semakin dekat ke tempat dua orang yang sedang berdiri beradu muka, kaki pak polisi itu pun terasa semakin berat melangkah.


“Ada apa ini, kenapa ribut-ribut?”


Pandangan mereka teralihkan. Ele tersenyum penuh kemenangan. “Saya tidak mau tahu, sekarang polisi sudah ada, kita langsung ke kantor polisi saja!” keras dan tegas suara Ele memberi perintah.


"Jelaskan dulu permasalahannya, ada apa ini?"


Arlo menarik napas panjang, melangkah mendekat pria berseragam itu. "Begini pak, wanita ini menuduh saya menjambret tasnya. Padahal saya jelas-jelas menyelamatkan tas ini dari si pejambret. Tapi sekarang, wanita itu sepertinya membesarkan masalah ini."


Lelaki berparas tampan dan dingin itu menjawab tenang, bahkan jawaban barusan seperti ingin memancing amarah Ele hingga meledak dan membakar siapa saja yang menjadi lawan.


"Oke, jika kamu tidak percaya, kita bisa langsung periksa CCTV yang ada di sini. Kita bisa lihat siapa di sini yang memanfaatkan keadaan." Arlo terlihat mendengus. Seumur-umur hidupnya, baru sekali ini ada orang lain yang berani lancang meremehkan dirinya.


Muka Ele sudah menyerupai kepiting rebus, merah membara di penuhi hasrat melampiaskan amarah yang dalamnya melebihi panas api neraka. Matanya melotot, tangannya terkepal siap menghantam, napasnya bergemuruh seperti lokomotif uap zaman kompeni dulu.


"Sudah...Sudah... sekarang masalah ini kita selesaikan baik-baik. Kebetulan saya memang bertugas di kompleks ini. Kita bisa lihat dari CCTV saja. Bagaimana?"


"Saya setuju! Lebih cepat lebih bagus." Ucap Ele memalingkan wajahnya tak ingin melihat ke arah pria itu.


"Kita bisa mengeceknya dari handphone saya." Lelaki paruh baya itu mengeluarkan layar pipih dari kantong celananya. Ia membuka aplikasi yang bisa melihat langsung kejadian yang terjadi di sana.


"Kejadian itu sekitar pukul berapa?" Tanya pria itu menatap layar handphonenya dengan serius.


"Tiga puluh menit yang lalu, pak." Jawab Arlo cepat.


"Oke, sekarang kita periksa ya." Ucap lelaki berseragam itu sambil terus memperhatikan handphonenya.

__ADS_1


Tak butuh lama, pria itu menunjukkan video kejadian tiga puluh menit yang lalu. Jelas sekali Arlo berlari mengejar pejambret dan berhasil mengambil tas itu. Bahkan terjadi perkelahian di sana. Setelah melihat video itu, Ele semakin terpojok. Marah berubah menjadi malu, itu proses yang paling menyakitkan bagi seorang manusia yang masih memiliki nyawa. Setan-setan pasti tertawa melihat ketololannya. Apalagi pria itu, astaga ia pasti sedang berpesta pora dalam hati melihat harga dirinya hancur sehancur-hancurnya. Ele menunduk terpaku di tempatnya berdiri, gelap pandanganya terasa lebih pekat dari segala gelap yang pernah di rasanya.


Sampai akhirnya....


"Bagaimana? apa kita harus lanjut ke kantor polisi?" Tanya pria itu memecahkan keheningan malam yang seketika berubah horor.


“Sudahlah pak, masalah ini saya anggap selesai. Saya maklum kok dengan semua ini. Mungkin dia terlalu panik karena kejadian ini. Jadi tasnya saya serahkan kembali kepada pemiliknya."


Ucapan lembut dan halus dan senyuman yang menawan meluruhkan segala rasa angkuh dan rasa bersalah.


“Maafkan saya.” Hanya itu kata-kata yang mampu ia ucapkan. Ele pun mengambil tas itu dari tangan pria itu.


"Baiklah. Masalah ini kita anggap selesai. Kalau begitu kita bubar." ucap pria itu kepada orang-orang yang mulai pergi satu persatu. Tinggal hanya Ele dan Arlo di sana.


"Saya juga harus pergi. Sekali lagi saya minta maaf atas kesalahfahaman ini." Kata Ele membungkukkan badannya seraya membalikkan badannya meninggalkan pria itu.


"Apa kau akan pergi begitu saja nona?" kata Arlo dengan suara baritonnya.


Sepersekian detik Ele menghentikan langkahnya dan memutar tubuhnya. "Apa maksudmu?"


Arlo tersenyum dengan mata memicing. "Setelah kau mempermalukan aku, rasanya tidak adil jika kau pergi begitu saja." ucap Arlo santai. Dia ingin menahan gadis itu agar dekat dengannya, setidaknya ia ingin tahu siapakah gadis pemberani itu.


Wajah Ele datar bahkan tidak berpengaruh sedikit pun. Ekspresinya begitu dingin di sana. Sedingin salju yang turun di atas mereka. "Bukankah masalah ini sudah selesai?"


"Aku ingin kau mentraktirku minum."


Ele tersenyum kecil sambil memalingkan wajahnya. Ia geli sendiri mendengar perkataan pria itu. Ele menarik napas singkat dan kemudian berkata. "Maaf, saya tidak ada waktu. Kalau begitu saya permisi, tuan."


Ele membalikkan badannya dan melangkah meninggalkan pria itu.


"Setidaknya kau memberitahu siapa namamu." Teriak Arlo mencoba menghentikan langkah Ele.


Tapi Ele tak perduli. Ia terus melangkah meninggalkan pria aneh itu. Arlo menyapu rambutnya ke atas seraya mengembuskan napas frustasi. Ia ingin tertawa, mengejek dirinya sendiri. Bagaimana seorang wanita bisa bersikap dingin kepadanya. Sungguh membuat Arlo semakin penasaran.


Sementara itu, Ele mempercepat langkahnya. Sesekali ia menoleh ke belakang. Ia terang-terangan menunjukkan ketidak sukaannya kepada lelaki itu.


"Apa? dia bilang apa? dia ingin aku mentraktirnya minum?" Ele tak percaya. Bagaimana mungkin seorang lelaki baru pertama bertemu, sudah sok kenal dan sok dekat begini. Ele habis pikir, Ia berulang kali mengembuskan napas lewat mulut. Belum puas, Ele berjalan dengan cara menghentakkan kakinya. Ia ingin cepat-cepat sampai ke apartemennya. Semoga saja ia tidak pernah bertemu dengan pria itu.


BERSAMBUNG.....


^_^


Tolong dukung ya my readers tersayang. Ini Novel ketujuh aku 😍

__ADS_1


Salam sehat selalu, dari author yang cantik buat my readers yang paling cantik.


^_^


__ADS_2