
π LOVE OF FATE π
Β
π HAPPY READING π
.
.
...Jika kata-kata tidak berfungsi, maka peluru menjadi pilihan. Jari telunjukku akan melayang di atas pelatuk dan menghujanimu dengan peluru kematian....
πΈπΈπΈπΈπΈ
Setelah menghubungi polisi, Alvin melangkah masuk ke dalam rumah mewah itu. Nampak anak buahnya mencoba menghalangi Alvin. Namun dengan cepat Alvin menodongkan senjatanya.
"Jangan coba-coba menghalangiku." Gertak Alvin dengan sorot mata tajamnya.
Tak ada yang berani mendekat, Alvin kembali melangkah mendekat ke kamar Arlo.
Drug!
Pintu didobrak dengan keras. Tapi orang yang mendobraknya justru berjalan dengan tenang, ia malah sempat melipat kemeja lengan panjangnya dan menodongkan senjata tepat ke arah Arlo dan wanita yang sudah berada di bawah kungkungan Arlo tanpa sehelai benang pun.
Wanita itu begitu panik dan menjauhkan diri dari Arlo dan menutup tubuhnya dengan selimut. Namun, tidak bagi Arlo, ia tersenyum menatap ke arah Alvin yang mendengus dengan senyuman sinisnya. Tangannya sudah siaga menarik pelatuk.
"Hai saudaraku, apa kabar?" Ucap Arlo dengan suara jernih, tidak ada ketakutan sama sekali. Sementara wanita itu sudah bergetar ketakutan sejak tadi.
"Aku tidak pernah menjadi saudaramu. Jadi jangan basa-basi, Arlo. Aku mual mendengarnya."
"Sejak kapan kamu berubah jadi adik sombong. Ini bukan seperti Alvin yang aku kenal."
Alvin merasa jengah. Tatapannya tidak lepas dari Arlo. "Dimana Ele?"
"Apa maksudmu, siapa Ele?" Arlo bangkit dan mengenakan pakaiannya.
"Wanita yang kau pecat karena tidak mau menandatangani kontrak sialan itu."
"Maksudmu Eleanor?" Arlo mengernyit tak percaya, "Kau mengenal Ele?"
"Dia adalah kekasihku."
"Hah? Eleanor Gea adalah kekasihmu?"
"Ya. Dia adalah kekasihku. Dimana dia?"
"Hahahaha...." Arlo tertawa. "Tidak mungkin."
"Aku sedang tidak bercanda, dimana Ele?" Alvin meninggikan suaranya.
Arlo diam-diam mengambil pistol yang ia letakkan di atas nakas. "Aku tidak akan memberitahunya!"
__ADS_1
"Apa?" rahang Alvin mengeras menahan amarah.
Mengetahui pergerakan Arlo, dengan gerakan satu detik, Alvin segera memegang tangan Arlo dan memukulnya keras. Pistol yang di tangan Arlo terjatuh di lantai. Lalu dengan cepat juga Alvin menginjaknya. Ia lalu berbalik menodongkan pistol ke arah Arlo.
"Aku benci bermain darah. Tapi untuk kali ini, kau akan mati di tanganku."
"Oke, oke!" Arlo mengangkat kedua tangannya. "Soal Ele, aku tidak tahu dimana dia, semenjak ia tidak mau menandatangani kontrak itu, Ele menghilang begitu saja."
Alvin mengangkat senjatanya lagi, lalu menodongkan senjata itu ke pelipis Arlo. "Jangan bohong! Katakan dimana Ele?" Alvin mengibarkan bendera permusuhan di sana. Matanya menyorot begitu tajam.
Wanita itu ketakutan, menyadari dengan mudah ia akan ditembak di tempat, jika ia tidak segera keluar dari sana.
"Alvin, apa yang kau lakukan? Apa kau ingin membunuhku?"
"Tentu saja, aku bisa meledakkan kepalamu kapan saja. Kau tidak tahu berterima kasih, setelah apa yang dilakukan ayahku. Kau berani bermain kotor. Aku tidak akan membiarkan itu terjadi."
"Apa kau bisa pastikan itu? anak buahku sudah siap menghancurkan masa depan Smith."
"Tutup mulutmu. Dasar brengsek!" Teriak Alvin kembali. Ia menggeram sampai giginya saling bergesekan kuat.
"Hahahaha....Kau yang brengsek, Alvin. Aku tahu semua rencanamu dan aku tahu bahwa ingatanmu sudah kembali." Kata Arlo tertawa sinis.
"Kau tidak akan bisa tertawa lagi setelah ini. Aku sudah menyerahkan semua kejahatanmu, Arlo. Kau akan menikmati bagaimana dinginnya berada di dalam penjara."
"Apa?"
"Itu balasan yang setimpal atas perbuatanmu." Desis Alvin dengan mata menyalang tajam.
Alvin tidak menjawab. Ia tak menujukkan rasa simpatik sedikit pun kepada Arlo. Tepat tiga detik kemudian sirene polisi memenuhi halaman rumah itu. Arlo terkejut dan mengamati sekitarnya.
"Polisi????"
Alvin tersenyum smrik. "Aku sudah katakan kau akan mendekam di penjara. Kau akan berhadapan dengan polisi."
"Sial." Ucap Arlo menggeram. "Brengsek kau." Ia meninju keras pipi Alvin.
Alvin tak dapat menghindar, ia mengerang kesakitan dan tersungkur. Dengan gerakan cepat, Arlo segera keluar dari kamar itu dan membawa pistolnya.
πΈπΈπΈπΈπΈ
Sementara dari arah luar, saat situasi tidak aman lagi, anak buah Arlo keluar dengan senjata lengkap.
Baku hantam dan tembakan terjadi. Pertempuran sore itu tidak dapat dielakkan. Dengan lihai Marvel menyelusup masuk yang diikuti oleh kartel Los. Marvel ingin menggeledah tempat dimana Arlo sering menghabiskan waktunya untuk melakukan perbuatan kotornya.
Sementara di luar. Sekelompok anggota polisi berlari dan bersembunyi ketika anak buah Arlo tidak henti memuntahkan pelurunya. Beruntungnya para penembak jitu tidak lengah. Tidak mau diam kepala kepolisian melempar granat ke arah kelompok mafia yang baru di bentuk Arlo.
Anak buah Arlo terhempas ke segala arah karena terkena ledakan granat. Para kelompok anggota polisi memanfaat kesempatan ini, mengacungkan pistol ke arah anak buah Arlo yang sedang menjalankan misinya untuk menghancurkan perusahaan Smith dan menembaknya secara bertubi-tubi hingga tidak ada satu nyawa para anjing liar tersisa di ruangan itu. Sore itu menjadi sore penuh darah dan lautan api.
Sementara dari dalam Marvel diam-diam menyelinap masuk. Ia menghabisi anak buah Arlo tanpa pikir panjang. Marvel tidak menggunakan pistol, namun menggunakan balok dengan memukulnya berkali-kali.
DI SISI LAIN.
__ADS_1
Alvin tak mau diam, hati Alvin terbakar di dalam dadanya. Ia berlari mengejar Arlo. Dengan lihai Arlo menyelusup masuk ke dalam ruang bawah tanah yang diikuti oleh Alvin. Arlo menuju ke ruang yang akan menghubungkannya ke pintu belakang. Lalu mengambil salah satu motornya dan menggas penuh. Alvin juga mengambil salah satu motor itu dan mengejarnya.
Sementara anggota polisi langsung masuk dengan persenjataan yang lengkap. Mereka menggeledah tempat itu untuk dijadikan barang bukti seperti komputer yang digunakan anak buah Arlo untuk menyerang serangan program ransomware. Anggota polisi membawa semua barang yang bisa dijadikan sebagai barang bukti tanpa sisa. Mereka memeriksa setiap sudut ruangan dan tidak menemukan ruang bawah tanah itu. Mereka hanya menjelajah apa yang tersisa di sana.
SEMENTARA DI JALAN RAYA.
Aksi kejar-kejaran terjadi. Kedua motor itu sedang saling berkejaran meliuk-liuk di antara mobil-mobil dan motor yang sedang berjalan, menyalip dan meluncur di sisi dalam dan luar di tengah kepadatan lalu lintas. Berlari terus tanpa memikirkan keselamatan diri, memacu motornya mengejar motor Arlo yang terus melaju lebih dahulu. Polisi dan lampu merah tidak dihiraukan lagi, omelan dan bunyi klakson kemarahan pengemudi lainnya tidak di dengarkan, hanya satu dipikiran Alvin adalah menghentikan Arlo.
"Berhenti, Arlo!" teriak Alvin.
"Aku tidak akan berhenti, satu diantara kita harus mati." Ucap Arlo tidak ada rasa takut sama sekali. Arlo semakin mempercepat sepeda motornya melaju dan melesat cepat di antara deru mesin dan debu lalu lintas sore itu.
Motor Alvin juga melaju dengan cepatnya, kemudian mereka masuk ke jalan tol. Mereka tidak pikir panjang lagi, menerobos masuk tol, meskipun peluit petugas dan sirine mobil petugas polisi yang berada disitu berbunyi.
Kejar mengejar di dalam tol pun terjadi antara Alvin dengan Arlo dan Polisi. Sepeda motor MV Agusta F4CC itu berlari cepat ke kiri dan ke kanan menyalip mobil-mobil yang berada di depannya, begitu pun motor yang sama digunakan Alvin dan mobil patroli yang mengejar mereka. Para pengguna tol saat itu kelihatan tidak menyadari apa yang sedang terjadi, ketika melihat sepeda motor masuk dan ikut bertarung dengan laju jalan mereka.
Arlo tak gentar, ia tidak takut sama sekali. Ini bahkan balapan seru yang menguji adrenalin. Ia semakin memacu kecepatan motornya.
Arlo tiba-tiba panik melihat mobil patroli yang telah berada tepat di belakangnya, lalu tanpa berpikir panjang motor dipacu dan dikebut melebihi batas normal kecepatan. Berjalan di bahu jalan dengan kecepatan tinggi disaat kondisi jalan tol yang dilaluinya padat, kemudian kembali menyalip ke kiri dan ke kanan menghindari kejaran Alvin dan polisi di belakangnya.
Motor Arlo mengarah ke jalan tol yang ada di kota A, begitu pun Alvin dan Polisi yang mengejarnya. Mereka seperti di film-film aksi, kejar mengejar, salip menyalip dan kadang satu dua mobil saling mencicitkan remnya serta saling berbenturan akibat kejar-kejaran tersebut.
Polisi yang mengejar mereka bertambah ketika di dekat pintu tol di kota A, tapi mereka tidak bisa memblokir jalan tol yang keadaanya agak ramai sore itu. Tambahan petugas patroli itu pun ikut dalam konfoi kejar-mengejar di jalan tol ke arah jalan B. Kecepatan mereka sangat tinggi, begitu pun Alvin dengan sepeda motornya yang menguntit dan membututi motor Arlo.
Disaat Alvin mendekat ke arah motor Arlo dan berteriak. "Berhentilah Arlo, kau tidak bisa mengelak lagi. Polisi sudah mengejarmu."
Arlo tersenyum smrik, ia mengarahkan senjatanya ke arah Alvin. Melihat gelagat buruk yang akan terjadi, Alvin lalu memperlambat sepeda motornya dan benar saja terdengar letusan beberapa kali ke arahnya,
"Dor..dorβ¦dor, dan prang!" salah satu peluru mengenai lampu depan motor Alvin hingga pecah.
Motor Alvin agak sedikit oleng akibat menghindari peluru yang berdesingan ke arahnya. Melihat terjadi beberapa kali penembakan, polisi yang mengejar mereka baru menyadari, bahwa telah terjadi tindak kriminal di sana.
Polisi memperingatkan Alvin untuk membiarkan mereka yang melakukan pengejaran terhadap pria itu. Namun, Alvin tidak menghiraukan peringatan polisi tersebut, ia tetap memacu dan melesat mengejar Arlo.
Tembakan terjadi lagi.
βdor..dor..dor..!"
Alvin tiba-tiba merasakan sesuatu pada sepeda motornya, karena tiba-tiba steeringnya menjadi berat dan motornya terpelanting dan tubuhnya melayang ke atas. Kondisi Alvin antara sadar dan tidak sadar terus melayang, karena saat itu melintasi di atas sebuah jembatan yang melewati sebuah sungai lebar di daerah jalan A. Alvin dan motornya melewati pagar jembatan dan melaju deras meluncur ke udara, melayang dan terjun ke dalam sungai.
"Byurrrr..byurrrrrrrr....,"
Suara air yang terpercik saat Alvin tercebur. Mata Alvin menutup rapat. Jiwanya berselimut kepasrahan.
BERSAMBUNG.....
^_^
Tolong dukung ya my readers tersayang. Ini Novel ketujuh aku π
Salam sehat selalu, dari author yang cantik buat my readers yang paling cantik.
__ADS_1
^_^