LOVE OF FATE

LOVE OF FATE
CINTA AKAN KEMBALI


__ADS_3

๐Ÿ’Œ LOVE OF FATE ๐Ÿ’Œ


ย 


๐Ÿ€ HAPPY READING ๐Ÿ€


.


.


...Rindu ini kadang menyiksa, namun jika kita selalu sabar dan yakin bahwa proses tidak akan pernah mengkhianati hasil....


๐Ÿ”ธ๐Ÿ”ธ๐Ÿ”ธ๐Ÿ”ธ๐Ÿ”ธ


"Jangan seperti ini Alvin, aku mohon! Kita tidak bisa bersama." Suara Ele parau dan gemetar.


"Tidak bisa bersama? tapi aku tidak bisa. Aku tak sanggup jika harus berpisah darimu lagi....."


Alvin tak tahan lagi dengan segala gejolak di dalam dadanya. Alvin memajukan langkahnya. Mendekat ke arah Ele. Namun, apa yang terjadi?


Ele mundur dan menjauh dari Alvin hingga punggungnya menyandar di sisi mobil. Membuat Alvin menghentikan langkahnya saat melihat reaksi Ele.


"E-ele?"


Ele menggeleng, menatap nanar ke arah Alvin. Ia tahu seperti apa Allura. Sakit jika menjalin hubungan dengan cinta segitiga. Akan seperti apa jadinya? Pasti salah satu dari ketiganya memang harus menelan pil pahit dan Ele sendiri yang tersakiti di sini. Dengan berat memang dirinya harus menelan bom saat mengetahui fakta Alvin sudah menikah. Dengan rasa sakit yang menyesak pada dada. Bahkan waktu saja yang tahu bagaimana cara menyembuhkan hati yang terluka dengan irisan luka tanpa darah yang melukai.


"Aku sudah bilang jangan seperti ini. Aku tidak mau di sakiti Allura dan Harry lagi. Hidupku sudah cukup menderita berada di dekat mereka. Jadi hentikan Alvin, aku tidak mau keadaan ini menjadi lebih rumit."


"Aku sudah katakan, aku tidak pernah menikah dengan Allura. Apa kau meragukanku?"


"Bagaimana aku bisa percaya itu?" Ele terduduk dan menangis. Bahunya bergetar, ia terus menunduk dan memejamkan matanya.


Alvin membeku ditempatnya, saat menyadari Ele menangis. "Ele?"


"Aku mohon, jangan seperti ini." Ucapnya dengan bibir gemetar sambil terus menunduk.


Deg!


Alvin terdiam kaget, mematung pilu menatap ke arah Ele yang sedang menangis. Jantungnya berdegup kencang.


"Apa yang membuatmu seperti ini Ele. Apa kau tidak mencintaiku lagi?"


Ele tak menjawab, ia hanya menangis mengingat semua yang terjadi padanya, apa yang telah dilakukan Allura dan Harry kepadanya. Aaahhhhh... Ele mendongak ke atas, mulutnya terbuka. Air matanya kembali menguasai dirinya. Ia tidak bisa menolak betapa hancurnya hatinya saat mengetahui kenyataan bahwa Alvin memiliki hubungan dengan Allura.


Sesak yang menghimpit dadanya tidak bisa ia tutupi. Air bening yang sedari tadi berjatuhan membasahi pipinya. Ia kembali menyentuh dadanya. Sakit dan sangat sakit.


"Ele jawab aku!" Hati Alvin hancur saat melihat Ele menangis.


Ele sendiri bingung. Ia merindukan Alvin,Tapi ia tidak mau berada di dekat orang yang selalu menyakitinya. Wajahnya mengerut, ia berusaha bernapas meski sesenggukan. Tubuhnya semakin bergetar, air matanya terus mengalir ke dagunya.

__ADS_1


Alvin menarik napasnya, menguatkan batinnya. Apakah sesakit ini? Jantungnya berdegup kencang. Ia melangkah mendekat ke arah Ele, memegang ke dua lengan Ele dan menuntunnya untuk berdiri. Alvin mengunci pandangannya kepada wanita yang membuatnya lemah. Lemah terhadap cinta dan tangisan Ele. Alvin semakin mendekat ke arah Ele. Dengan segera ia menarik pinggang Ele agar melekat ke tubuhnya. Tanpa persiapan, Ele tidak dapat menghindar. Jantungnya kembali berdegup kencang, ia merindukan sentuhan itu. Tanpa sadar Ele memejamkan matanya. Air matanya kembali tergelincir membahasi pipinya.


Alvin menghembuskan napasnya sekaligus lewat mulut. Dari sini, Alvin bisa memastikan Ele tak lagi mencintainya. Ia merasakan ketakutan Ele. Apa yang harus dilakukannya sekarang? apakah dengan melepaskannya adalah pilihan terbaik?


"Ele, lihat aku!" Ucap Alvin dengan suara terendahnya. Mungkin hari ini adalah hari kehancuran hatinya.


Perlahan-lahan Ele membuka matanya, menatap nanar ke arah Alvin yang terus mengunci tatapannya.


"Tadinya aku berharap kau bahagia melihatku Ele, tapi ternyata semuanya hanya kurasakan sendiri." Alvin tersenyum sendu.


Jantung Ele berdetak kencang. Semua rasa seketika berkecamuk dalam batinnya. Ia tidak bisa bernapas dengan baik saat mendengarkan kata-kata itu.


"Melihatmu menangis, sepertinya kau takut melangkah bersamaku untuk memulai dari awal lagi." Alvin menarik napasnya yang begitu berat. Ia butuh perjuangan untuk mengatakan ini. "Apa yang kau takutkan?"


Ele menggeleng, tak mampu bicara.


"Apa kita harus mengakhirinya? Aku tidak bisa memaksamu untuk mencintaiku kembali. Aku tidak bisa menahanmu tetap berada di sampingku."


DEG..


DEG..


DEG..


"Apa maksudnya?" Ucap Ele dalam hati. Ele tiba-tiba seperti orang bodoh di sana. Hening. Ele tidak menjawab. Ele hanya merasa sesak dan tak berdaya. Rasa sakit, perih, pedih bagai disayat-sayat sembilu semakin membuat luka di hatinya menganga.


Alvin menarik napasnya yang terasa sesak. Matanya saja tak mengedip sama sekali.


"Arlo?" Wajah Ele berubah saat mendengar nama itu. Aliran darahnya serasa berhenti.


"Saat mengetahui Allura ternyata membohongiku. Aku langsung mencarimu ke London. Aku menemui pemilik apartemen tempat tinggalmu. Tapi kau tidak ada di sana lagi. Hatiku juga sakit saat mengetahui kau dikeluarkan dari kampus. Itu yang membuatku frustasi dan mencarimu kemana-mana. Selama enam bulan dalam pencarian, aku tak juga menemukanmu. Segala usaha yang aku lakukan sepertinya sia-sia, aku putus asa. Tapi melihatmu sekarang, aku bisa bernapas dengan baik. Ternyata kau baik-baik saja. Aku bahagia karena sekarang kau menjadi wanita mandiri." Alvin tertawa kecil di ujung kalimatnya. Matanya yang bercahaya kini nampak penuh luka. Apakah Ia memang harus mengorbankan cintanya? Keheningan pun terjadi selama beberapa saat.


Sementara Ele hanya diam dengan sejuta rasa yang ada. Alvin kembali menarik napas dalam-dalam. Berbicara untuk mengurangi rasa sesak di dada. Alvin tersenyum kecil, bahkan senyumnya hampir tak terlihat. "Kau tahu Ele. Kenapa aku terus mencarimu?" Ucapnya datar menatap Ele yang hanya diam di sana.


"Aku ingin kita kembali seperti dulu saat berada di desa dan tertawa bersama. Aku hanya ingin tetap menjaga cinta ini. Mencintaimu sepenuh hati. Kau mengajarkanku apa itu arti dari sebuah keikhlasan dan harapan hidup. Cinta yang kau berikan ibarat air yang menyejukkan penghilang lelahku. Mengalir begitu saja seperti air dan hanya mengikuti kemana arus akan membawa cinta ini. Dan aku berjanji dalam diriku, jika kita dipertemukan kembali. Aku akan menggenggam erat tanganmu dan selalu membawanya ke dalam kebahagiaan." Alvin menarik napasnya lagi, menguatkan hatinya untuk mengeluarkan segala sesak di dada.


Mata Ele kembali berkaca-kaca saat mendengar kalimat itu.


"Sekarang aku menemukanmu dan harus siap melepaskanmu juga. Walau aku terluka di sini. Aku tersakiti di sini. Tapi aku tidak bisa berbuat apa-apa. Terima kasih, Ele. Sudah mengajarkan arti cinta dan kehidupan untukku. Aku harap kau bisa menemukan kebahagiaanmu." Alvin memaksakan bibirnya untuk tersenyum. Ia segera membalikkan badannya dan beranjak meninggalkan Ele. Ia tidak bisa menggambarkan betapa remuk hatinya saat ini.


Ele semakin menangis, ketika mendengar semua pengakuan Alvin. Ia menangis dan terus menggeleng.


"Siapa yang mengizinkanmu pergi Alvin?" Suaranya bergetar, air matanya kembali terjatuh. Ia menatap ke arah kaki Alvin yang tak menggunakan alas kaki. Hatinya semakin sakit.


Alvin menghentikan langkahnya, posisinya masih memunggungi Ele.


"Selangkah kau pergi meninggalkanku, aku tidak akan memaafkanmu." Ucap Ele dengan suara tangis yang sesenggukan.


Alvin perlahan membalikkan tubuhnya, ia menatap Ele yang terus menangis.

__ADS_1


"Aku mencintaimu Alvin, aku juga merindukanmu." erang Ele tersedu-sedu.


Napas Alvin mengepul keluar dengan mulut terbuka. Ia sulit bernapas saat mendengar perkataan Ele.


"Jadi jangan pergi, tetaplah seperti ini dan tetaplah mencintaiku, Alvin."


Alvin tidak tahan lagi, dengan langkah cepat ia menyambar tubuh Ele dengan erat, hingga tubuh Ele sampai terangkat. Perasaannya saat ini sangat lega. Alvin mengeratkan pelukannya.


"Terima kasih Ele. Terima kasih...Aku mencintaimu."


Aaahhhhh... ringis suara tangis Ele semakin terdengar keras. Ia terus menangis di dada Alvin. Mulutnya terbuka dengan wajah mengerut. Alvin pun ikut menangis.


"Aku merindukanmu, Ele. Aku hampir gila karena menahan rindu ini." Kata Alvin mencium puncak kepala Ele dengan erat dan beberapa tetesan air matanya terjatuh.


Ele hanya mengangguk tidak mampu untuk berbicara. Beberapa kali ia membuka mulut dan untuk mengeluarkan napasnya yang tertahan. Bersama mereka melepaskan rindu. Kekuatan cinta membuktikan bahwa hati mereka tetap menunggu.


Alvin melepaskan pelukannya, menatap Ele dengan sayang. Ia mengusap air matanya yang terus terjatuh di pipi Ele.


"Selamat ulang tahun, Ele."


Ele tersenyum haru. "Kau masih mengingatnya?"


"Tentu saja aku mengingatnya. Semua tentang Ele, aku tak pernah melupakannya."


Ele kembali menangis, ia terharu di hari ulang tahunnya. Ele kembali dipertemukan dengan cinta sejatinya.


"Jangan menangis lagi. Aku akan membuatmu bahagia. Aku berjanji." Kata Alvin dengan lembut.


Ele mengangguk sambil tersenyum. Namun air matanya terus terjatuh begitu saja.


Alvin memajukan wajahnya dengan pelan dan meraih bibir Ele, mencium bibir itu dengan sentuhan yang sangat lembut. Mencoba menghentikan tangisan Ele dengan Lmatan-Lmatan yang dalam. Menjelajah setiap bagian lembut, mengecap tanpa sisa.


Gemuruh di dada Ele semakin menjadi. Ia benar-benar merindukan ciuman itu. Alvin berhasil menghentikan tangisannya. Tubuh Ele gemetar hebat dan merasakan sensasi yang luar biasa dari dalam dirinya. Seluruh ototnya terasa menegang. Seperti ada aliran listrik yang menyetrum dengan kedutan-kedutan yang menjalar ke seluruh tubuhnya.


Alvin melepas tautan bibirnya. Suara terengah-engah terdengar begitu jelas dari keduanya. Alvin menangkup kedua pipi Ele menatap pujaan hatinya dengan sendu.


"Aku sudah tidak tahan lagi."


"Heuh?" Ele menatap bingung. "Ti-tidak tahan?"


Alvin terkekeh. "Hmm, aku tidak tahan, kakiku sakit saat memijak batu-batu kecil. Sekarang kita masuk." Ucap Alvin berbisik, napasnya berhembus hangat membuat wajah Ele bersemu merah.


Alvin tersenyum sambil meraih tangan Ele, memasukkan jari-jarinya ke sela-sela jari Ele. Keduanya tersenyum bahagia. Alvin membawa Ele meninggalkan tempat itu.


BERSAMBUNG


^_^


๐Ÿ”ธTolong dukung ya my readers tersayang. Ini Novel ketujuh aku ๐Ÿ˜

__ADS_1


๐Ÿ”ธSalam sehat selalu, dari author yang cantik buat my readers yang paling cantik.


^_^


__ADS_2