
π LOVE OF FATE π
Β
π HAPPY READING π
.
.
...Hidup adalah tentang bertahan dan belajar menerima, atau pergi dan belajar melupakan....
πΈπΈπΈπΈπΈ
SATU BULAN TELAH BERLALU.
Setelah beberapa minggu melakukan pengobatan terapi. Alvin kembali menduduki jabatan sebagai direktur utama Smith. Issue kembalinya Alvin Smith menjadi buah bibir dikalangan perusahaan dan media luar. Semuanya menjadi topik hangat. Issuenya berkutat pada "Direktur utama Smith kembali, lawannya mulai ketar-ketir", perusahaan sempat diambil alih dan diambang kehancuran atas hilangnya direktur.
Mengingat Alvin adalah seorang pemimpin yang cerdas. Tampan, muda, berkharisma dan sangat disiplin. Alvin juga di kenal sebagai lelaki pekerja keras, setia dan professional. Sejauh ini Alvin dikenal sebagai pemimpin yang tak pernah mengkhianati kolega bisnisnya. Alvin menyandang sebagai CEO muda di salah satu perusahaan terbesar di negara A. Perusahaan Smith berkembang dengan baik di beberapa negara di Eropa.
Dan kini direktur utama kembali memimpin perusahaan Smith. Langsung menjadi pemberitaan hangat. Berbagai judul, baik pro dan kontra mengenai Alvin ikut menyeruak.
News:
"Setelah digegerkan dengan issue kecelakaan dan hilangnya ingatan, bahkan direktur muda dan tampan itu dikabarkan dibunuh dan mayatnya dibuang ke laut. Kini muncul lagi berita hangat bahwa Alvin telah kembali dan menduduki jabatan direktur utama. Benarkah kabar itu?"
"Issue merebak dan mengabarkan, perusahaan Smith menghadapi krisis karena hilangnya direktur dingin dan tegas itu. Tak ada bertanggung jawab untuk memulihkannya. Banyak investor menarik semua modalnya. Dan krisis ini sangat berdampak pada perusahaan lain."
"Mampukah direktur utama mengolah perusahaan Smith kembali? Sementara beliau sedang mengalami amnesia. Direktur tak lagi seperti dulu. Dan di sisi lain, banyak lawan yang tak menginginkan kembalinya direktur muda itu."
Pemberitaan itu sampai ke telinga Arlo. Berita itu diperkuat dengan pesan teks dari salah satu anak buahnya. Mengatakan bahwa Allura kini tinggal bersama Alvin sebagai menantu keluarga Smith. Tentu saja membuat Arlo marah.
"Dasar tolol, bodoh..." Ia menghempas handphonenya ke dinding kamarnya.
PRANGGGGG!
"Kau berani mengkhianatiku, Allura. Dasar wanita brengsek, perempuan murahan! Kau tidak pernah tahu sebesar apa cintaku ini. Kita lihat saja, aku akan pastikan kau kembali padaku dan bertekuk lutut di depanku." Desis pria itu dengan mata menyalang tajam. Ia mengepalkan tangannya begitu kuat lalu tersenyum jahat. Matanya berkilat. Senyum di bibirnya semakin keji.
"Alvin kembali? Hahaha ..." Tawanya terdengar begitu kejam dan mendominasi ruangan. Bahkan semakin besar, di sela-sela tawanya ia berucap.
"Kehancuran keluarga Smith tinggal menunggu waktu. Aku sudah tidak sabar menunggu detik-detik kehancuran itu. Termaksud kamu Alvin." Sorot matanya semakin gelap, sudut bibirnya langsung melengkung ke atas dan raut wajahnya berubah gahar.
πΈπΈπΈπΈπΈ
Keesokan harinya. Di pagi hari yang cerah. Untuk pertama kalinya Alvin memimpin rapat, mereka berdiskusi untuk memulihkan perusahaan dan mengalihkan beberapa issue yang sempat menyeruak dan produksi mikroprosesor di tolak beberapa pasar internasional. Mereka melakukan rapat dadakan untuk membahas hal itu.
Alvin membentuk beberapa tim bersama para wakil CEO. Menggerakkan tim-tim tersebut dengan set target yang berbeda. Membahas strategi yang harus mereka buat demi kelangsungan perusahaan.
Alvin bahkan tak menyadari hari telah berganti malam. Hari cukup panjang, ia masih bergelut dengan pekerjaan yang bisa dikejarnya. Pekerjaannya benar-benar menumpuk dan sedikit demi sedikit bisa diselesaikan. Alvin bahkan melupakan teh yang telah disediakan untuknya. Ia menarik napas dalam-dalam, kemudian mengusap wajahnya dengan tangan. Ia merenggangkan otot-ototnya, lalu menatap langit-langit ruangannya. Mencoba untuk melupakan Ele dari pikirannya. Ia bekerja dan terus bekerja, bahkan Alvin memilih lembur dan tidur di kantor. Namun ia tak bisa melupakan Ele dengan mudah. Hatinya menggoreskan luka yang dalam dan teramat sakit. Sampai membuatnya sulit untuk bernapas.
Huuuuffft! Alvin membuang napas panjang. Ia mencoba untuk tenang agar bisa melanjutkan sisa pekerjaannya. Walau ia tahu akan sulit melakukan itu. Bayangan Ele terus datang kepikirannya. Rasanya begitu menyesakkan. Ia kembali melanjutkan pekerjaannya. Mungkin dengan cara seperti ini, ia bisa melupakan Ele.
TOK TOK TOK!
Alvin yang tengah sibuk dengan pekerjaannya tiba-tiba konsentrasinya teralihkan. Ia hanya menjawab sambil mengetik sesuatu di laptopnya.
"Hmm, masuk."
__ADS_1
"Permisi, pak direktur. Saya membawa kopi untuk anda."
"Hmmm." Sahut Alvin bergumam. Ia terlihat sangat fokus dan sibuk dengan pekerjaannya. Wajahnya datar dan dingin.
Jessica mundur beberapa langkah namun tetap berdiri di depan Alvin.
"Ehmm, pak direktur?"
Alvin mengembuskan napasnya dan mendongak menatap ke arah Jessica. Ia mengangkat alisnya, menatap wajah Jessica dan menunggunya untuk lanjut berbicara.
Jessica menjadi sangat gugup dengan tatapan yang terlihat mendikte itu. Sepertinya Alvin merasa terganggu.
"Ehmm. Anda tidak minum teh yang saya buatkan tadi. Apakah ada yang kurang? Saya bisa memperbaikinya. Mungkin selera anda berubah semenjak....." Jessica menangguhkan kalimatnya. "Oh my God, apa yang aku lakukan? Dasar bodoh kamu Jessica." umpat Jessica dalam hati saat melihat perubahan wajah Alvin.
"Maaf pak, maksud saya bukan seperti itu." Jessica segera menundukkan kepalanya sambil meremas kedua tangannya.
Alvin masih terdiam dan terus mengunci tatapannya pada Jessica.
Deg..deg...deg... jantung Jessica terpicu resah dengan sikap Alvin yang hanya diam tak berucap.
"Ada lagi yang ingin kau tanyakan?"
Jessica menarik napasnya, lalu mengangkat wajahnya. Ia ragu mengatakannya, tapi pesan ini harus disampaikan kepada pak direktur. "Tadi ibu Allura menghubungi saya, beliau akan datang mengajak bapak makan malam diluar."
Alvin mengangkat alisnya ke arah Jessica dengan tatapan penghakiman. "Ada lagi?"
Jessica menelan salivanya berulang kali. Ia semakin gugup dengan situasi ini. "Tidak pak. Saya permisi!" ucapnya lalu membalikkan badan.
"Jessica," Panggil Alvin.
Jessica pun segera membalikkan badannya dan menjawab. "Iya, pak? ada yang bisa saya bantu?"
"Heuh?" Jessica menatap bingung.
"Dan sekarang, hubungi Allura, katakan aku sibuk dan tidak bisa memenuhi janjinya."
"Tapi, pak..."
"Aku tidak menerima alasan, silakan keluar."
"Baik pak. Saya permisi," Jessica menunduk hormat.
Alvin pun hanya menjawab dengan bergumam, lalu menarik lagi berkas yang dilepaskannya. Ia kembali fokus dengan pekerjaannya yang menumpuk itu.
πΈπΈπΈπΈπΈ
Alvin mengendarai mobilnya sendiri. Marvel sudah menyeting GPS alamat kediaman Smith. Ia meminta Marvel untuk beberapa hari ini tidak menyetir untuknya. Alvin menarik rem tangan dan memilih tidak langsung turun dari mobilnya. Ia tersenyum sendu begitu ia menyadari hari sudah cukup larut. Beberapa hari ini Alvin memang sengaja menghabiskan waktunya bekerja di kantor.
Alvin menarik napasnya dalam-dalam dan menatap sejenak rumah mewah itu. Ia masih belum bisa menyangka kembali ke rumah yang menurutnya masih asing untuknya. Beberapa minggu menjalani terapi tak juga membantu untuk mengembalikan ingatannya. Sejujurnya Alvin belum percaya bahwa ia sudah menikah. Namun, surat nikah dan beberapa foto pernikahan membuktikan kebenaran pernikahan itu memang ada. Tapi kenapa ia masih sulit menerima?
"Apakah aku memang tidak ingin kembali ke masa laluku?" Batinnya.
Alvin mencoba menarik napas dengan mulut terbuka. Ia membenamkan wajahnya di setir mobil, mencoba menepis bayangan Ele yang terus hadir memenuhi kepalanya. Alvin menyandarkan punggungnya ke kursi, lalu mengusap wajahnya dengan pelan. Ia menutup wajahnya sebentar untuk menenangkan perasaan getir dalam hatinya. Kemudian Alvin melepaskan napas panjang. Akhirnya ia memilih turun dari mobil. Ia melangkah masuk ketika Ibu Elia membukakan pintu untuknya.
"Selamat malam tuan," sapa Elia menunduk sopan.
"Selamat malam bu, anda bisa istirahat sekarang." kata Alvin tersenyum dan melangkah lagi.
__ADS_1
"Tuan Smith menunggu anda di ruang santai."
Alvin terdiam dan mematung di tempatnya. Setelah kepulangannya, ia memang tak pernah bicara dengan lelaki paruh baya itu.
Alvin menarik napas singkat dan tersenyum ke arah Elia. "Baiklah, aku langsung ke sana. Terima kasih bu." ucap Alvin. Ia sama sekali tidak menayangkan Allura.
Alvin langsung melangkah meninggalkan Elia. Ia menarik napasnya lagi saat berada di depan pintu.
Tok...tok...tok...
Alvin mengetuk pintu itu.
"Hmm, masuk!" Terdengar sahutan dari dalam.
Alvin membuka pintu tersebut secara berlahan.
CEKLEK!
Alvin melihat ayahnya sedang duduk santai sambil meneguk wine yang ada ditangannya.
"Aku menunggumu sejak tadi Alvin. Lihat, aku sudah menghabiskan setengah wine ini." Lukas mengangkat botol wine yang ada di atas meja. "Duduklah, sudah lama ayah merindukan suasana seperti ini. Biasanya weekend kita selalu menghabiskan waktu sambil berbicara masalah pekerjaan."
Alvin hanya diam, ia melangkah mendekati sofa dan duduk dihadapan Lukas.
"Apa pekerjaanmu memberatkanmu? Kau lelah dan tak bersemangat. Jika pekerjaanmu berat, aku bisa meminta Marvel melanjutkan pekerjaanmu. Kau bisa liburan bersama istrimu untuk beberapa hari ke depan." kata Lukas mengambil gelas kosong dan ingin menuangkan wine itu untuk Alvin.
Sontak Alvin terkejut dan menahan gelasnya agar ayahnya tidak perlu menuangkan wine ke gelasnya. "Aku tidak minum ayah."
Lukas tersenyum. "Minumlah sedikit." ucap Lukas menuangkan wine ke dalam gelas cantik bening berkaki itu. Lukas mengisinya seperempat dan menyerahkannya kepada Alvin.
Alvin menerimanya dari tangan Lukas. Ia pun menyesap wine itu secara perlahan.
"Bagaimana, apa kau menerima tawaran ayah. Kau bisa liburan bersama Allura. Setidaknya untuk mengembalikan hubunganmu dengan Allura."
"Banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan, ayah. Untuk masalah liburan, aku belum memikirkan itu."
Lukas menarik napasnya singkat dan menatap Alvin. "Tadi Allura menangis, kau memintanya agar jangan datang ke kantor lagi."
Alvin tersenyum samar. "Aku tidak mau kehadirannya, mengganggu pekerjaanku, ayah."
"Kalian bahkan tidak tidur bersama. Apa yang kau pikirkan? Allura adalah istrimu. Sejauh ini, dia sudah berusaha sebaik mungkin."
"Bukankah dia setuju untuk melakukan itu? Aku juga tidak mau menerima kondisiku seperti ini. Aku sudah juga sudah berusaha untuk mengembalikan ingatan ini."
Lukas menarik napasnya, ia meletakkan gelas wine yang ada di tangannya. Ia menatap Alvin begitu dalam. Sarat akan makna. "Apa kau tidak kasihan dengan istrimu?"
"Aku butuh waktu ayah."
"Baiklah. Ayah mengerti. Bersikap baiklah kepada Allura. Ayah tidak ingin melihatnya menangis lagi."
Alvin tak menjawab, ia hanya diam sambil meneguk wine yang ada di tangannya.
BERSAMBUNG.....
^_^
Tolong dukung ya my readers tersayang. Ini Novel ketujuh aku π
__ADS_1
Salam sehat selalu, dari author yang cantik buat my readers yang paling cantik.
^_^