LOVE OF FATE

LOVE OF FATE
KENAPA KAMU ADA DI SINI?


__ADS_3

💌 LOVE OF FATE 💌


 


🍀 HAPPY READING 🍀


.


.


...Seandainya tidak ada badai, pelangi tidak akan muncul. Untuk itu, belajarlah dari badai yang menimpamu....


🔸🔸🔸🔸🔸


Bunyi tangisan anak kecil kembali terdengar, Ele semakin ketakutan. Ia berusaha mencari celah untuk bersembunyi, namun tidak ada satu pun ruang yang bisa Ia masuki. Tetapi ada sebuah jendela tanpa tirai yang terbuka lebar. Tanpa berpikir panjang, Ele segera menggerakan tubuhnya dan berlari menuju ke arah jendela tersebut dan Ele pun melompat.


"Nyut...nyut..nyut..." kepala Ele terasa sakit dan berat.


Ele mengusap keningnya, matanya tertutup rapat sehingga ia hanya bisa mengandalkan telinganya untuk mendengar.


"Jangan mendekat, aku mohon!" Ucap Ele menutup erat matanya, Ia sangat ketakutan sampai untuk bernapas saja ia sangat sulit.


Tap tap tap....


Langkah kaki tiba-tiba berhenti. Ele merasakan aura yang sangat luar biasa di sana, Ia meringkuk dengan kulit-kulit ari yang terasa kaku. Seluruh tubuhnya merinding. Ia merasakan sekujur tubuhnya penuh dengan keringat.


"Ele?"


Tiba-tiba terdengar suara bariton yang begitu dikenalnya. Ele segera membalikkan badannya. "Alvin?" Ia bangkit dan berlari memeluk tubuh Alvin. "Aku takut sekali, Alvin. Aku sangat takut." Ele mengeratkan pelukannya.


"Jangan takut, aku ada di sini." Ucap Alvin mengusap punggung Ele.


"Kenapa kamu bisa ada disini?"


"Aku memilih kembali ke cafe untuk mengembalikan tasmu yang tertinggal di mobil. Dan Oliv mengatakan kau ingin menemui seseorang. Saat aku ingin menghubungimu, aku lihat pesan masuk dan aku mengenal nomor itu. Aku langsung mengejarmu ke sini. Apa karena itu kamu tiba-tiba diam dan mengajakku langsung pulang?" Alvin menurunkan pandangannya, mencoba melihat wajah Ele.


Ele mengangguk cepat tanpa melihat wajah Alvin.


"Ele, kamu tahu lokasi ini jauh dan membutuhkan waktu dua jam ke sini. Kamu tidak takut? Bagaimana jika aku tidak kembali ke cafe?"


Ele hanya diam di sana. Ele akui, Ia salah dan terlalu berani datang ke sini.


"Apa kau tidak mempercayaiku?"


Ele semakin membenamkan wajahnya di dada Alvin. "Bisakah kita menikah saja, Alvin?"


"Heuh?" Alvin bingung dengan pertanyaan Ele.

__ADS_1


"Aku ingin menikah denganmu. Bisakah?" ulang Ele dengan pertanyaan yang sama. Ia menatap Alvin dengan wajah memelas sendu, matanya seketika berkaca-kaca.


"Ada apa denganmu, kenapa kau tiba-tiba seperti ini? Apa kau tidak mempercayaiku?"


Ele menggeleng cepat, "Aku bukan tidak mempercayaimu Alvin, tapi..." Kalimat Ele menggantung. Air matanya seketika terjatuh di pipi.


"Kenapa Ele, apa Allura mengatakan sesuatu?" Kata Alvin dengan lembut. Ia merasa Ele berbeda dari mereka makan tadi. Tadi Ia begitu semangat saat membuat adonan kue bersamanya. Namun, dalam hitungan jam. Ele seakan takut hubungan mereka tidak bisa bertahan.


"Aku takut, kau berpaling dariku Alvin. Allura mengatakan anak itu adalah anakmu. Ia sudah melakukan tes DNA dan kau tidak bisa mengelak bahwa anak itu adalah darah dagingmu. Bagaimana aku tidak takut, aku tahu siapa Allura, dia bisa melakukan... melakukan...." Ele tidak bisa melanjutkan kalimatnya. Hatinya terasa sesak saat ini. Ele semakin mengeratkan pelukannya. Tangisannya perlahan mulai terdengar.


Alvin terdiam, ia menarik napas panjang. Ia menarik bahu Ele dan melihat langsung wajah cantik itu.


"Kenapa sekarang kau meragukan itu. Aku sudah katakan, aku sangat mencintaimu dan itu tidak akan berubah. Apalagi jika aku meninggalkanmu? Itu tidak akan terjadi. Tidak...tidak, untuk memikirkannya saja aku tidak ingin. Apapun yang terjadi, kita harus bisa melewatinya, Ele."


Mendengar perkataan Alvin, Ele semakin tersedu-sedu. Seketika hatinya menghangat dan tenang. Rasa khawatirnya sejenak menghilang. Ele hanya terdiam, semakin memeluk erat tubuh Alvin. Begitu juga dengan Alvin, membalasnya dengan pelukan erat sambil memejamkan mata.


Setelah Ele merasa tenang. Alvin melepaskan pelukannya. Menatap sendu ke arah Ele "Kamu jauh-jauh ke sini untuk menemui Allura?"


Ele lagi-lagi memilih diam tak menjawab. Ia hanya menundukkan kepalanya.


Alvin tersenyum lagi. "Kau tahu sekarang kita ada dimana?"


Ele menggeleng lemah. "Aku tidak tahu Alvin, aku hanya melihat gedung ini seperti bangunan tua."


"Benar ini bangunan tua yang sedang tahap renovasi, tapi kamu tidak tahu apa nama bangunan ini?"


"Setiap malam, kita memang mendengar suara itu."


"Heuh? maksudnya?"


"Allura tidak bisa tidur kalau tidak mendengar suara itu."


Ele spontan melepaskan tawanya. "Apa maksudmu sayang, aku tidak mengerti? Kenapa Allura harus mendengar suara tangisan anak kecil seperti itu, bahkan siapa saja yang mendengarnya pasti bergidik."


Alvin menarik napasnya lagi. Menatap wajah Ele dengan lekat. "Allura, pengidap kelainan jiwa. Kita berada di rumah sakit jiwa, Ele."


DEG!


Ele mengangkat wajahnya, menatap nanar ke arah Alvin. "Kita di rumah sakit jiwa?"


"Ya, kita sekarang berada di rumah sakit jiwa."


Waktu terasa berhenti. Sontak saja Ele segera mengalihkan pandangan ke arah jendela yang ada dihadapannya dan ia melihat tulisan besar 'Rumah Sakit Jiwa Kenangan Indah'


Jantung Ele terpukul kencang, saat membaca tulisan itu. Wajahnya menegang kaku. Ia merasakan keheningan yang mencekam di ruangan itu.


"Apa yang terjadi Alvin? Kenapa Allura berada di sini?" Ele masih tak percaya dengan apa yang di dengarnya. Kenapa sedari tadi ia tidak menyadari sedang berada di rumah sakit jiwa. Kenapa ia tidak membaca tulisan itu lebih dulu.

__ADS_1


"Allura stres."


"Stres??? Kenapa bisa? Apa karena kamu tidak mengakui anaknya?" Kejar Ele.


Alvin menggeleng. "Bukan karena itu sayang, anaknya meninggal dan tidak bisa diselamatkan. Allura mengalami pendarahan dan sempat masuk ICU. Saat mengetahui anaknya meninggal, Allura tidak bisa tenang dan selalu berteriak."


Ele tertawa. Tawanya begitu lepas namun terasa pahit. Raut wajahnya kini terlihat berubah. Ia menarik napas singkat dan berusaha bersikap tenang. Walau saat ini ia masih tak percaya. "Selera humormu bisa juga, sayang. Bagaimana kamu bisa mengatakan itu. Apalagi mengatakan Allura pengidap sakit jiwa. Allura bahkan wanita kuat, ia tidak mungkin semudah itu stres." ucap Ele tertawa awkward. Sekaligus berharap Alvin hanyalah bercanda.


"Aku tidak bercanda, sayang." Alvin menjawab tegas dengan tatapan serius. Ia sama sekali tidak sedang terlihat bercanda.


Deg!


Jantung Ele kembali terpukul kencang dan bertambah gugup. Rasa berkeringat, gemetar, panas dingin saat mengetahui kenyataan itu. Napasnya keluar terbata-bata. "Aa-apa Allura bisa sembuh?" Tanya Ele dengan suara terendahnya. Ia masih begitu shock.


"Dokter sudah menjelaskan kepadaku. Gangguan kejiwaan yang bernama Skizofrenia telah begitu parah mempengaruhi otaknya, mempengaruhi fungsi normal kognitif, emosional dan tingkah lakunya."


Ele tertawa sambil memalingkan wajahnya. "Gangguan kejiwaan? Seharusnya dia bisa melalui semua itu, kehidupannya tidak begitu menyedihkan dibandingkan aku." Ucap Ele tak terima saat mendengar penjelasan Alvin. Ia merasa frustasi. Bagaimana Allura tak bisa melawan itu semua? Sementara dirinya, kerap sekali mendapatkan perlakuan tidak adil dari mereka. Bahkan kehidupan yang dilaluinya begitu berat dibandingkan Allura.


Alvin mengusap ke dua bahu Ele, menatap dengan sayang kekasihnya itu. "Tapi Allura tidak melawannya. Suara-suara tangisan bayi dari luar mendesak masuk kedalam kepalanya. Ia tak bisa mengontrol lagi mana yang positif dan negatif. Begitu ia meyakini suara-suara negatif sebagai sebuah keyakinan yang benar, maka Allura menganggap keyakinan atau kepercayaannya itulah yang paling benar. Dia menganggap anaknya itu diculik dan harus diselamatkan. Allura pernah berlari mengejar supir truk karena merasa anaknya dibawa pergi. Allura bahkan menganggap semua orang adalah musuhnya, yang kapan saja bisa menganiaya dan menguasainya. Gangguan paranoid yang berlebihan. Allura tidak lagi mampu bersikap hangat dan ramah pada orang lain."


Ele memejamkan matanya, ia menarik napasnya dalam-dalam yang terasa begitu menyesakkan. Ia tak berkata apa-apa, ia hanya mengusap wajahnya dengan kasar.


"Allura kadang terlihat normal dan bisa melakukan aktivitasnya. Ia kadang menghubungi ibu dan mengatakan ia tidak akan makan jika aku tidak datang membawakan makanan untuknya. Kadang Allura diam dan terbengong dengan tatapannya yang kosong dan sangat jauh tanpa memedulikan makanannya, sementara beberapa perawat sudah memintanya untuk makan." Alvin menarik napasnya menjeda kalimatnya. Ia tersenyum tipis melihat Ele hanya diam menatap lurus ke arah lantai.


"Di rumah sakit ini, ada juga gedung rehabilitasi yang menyediakan pelatihan berbagai keterampilan. Ada ruang salon dengan berbagai perlengkapannya untuk praktik memotong, mencuci, dan perawatan rambut. Ada pula ruang yang memberikan pelatihan memasak atau membuat roti. Mereka juga dibiarkan melukis. Lukisan itu diwarnai dengan cat air, krayon, atau pensil warna dengan gambar yang bisa dibilang mirip dengan gambar anak-anak TK dan SD. Tapi apa yang digambarkan mengimajinasikan hal-hal yang tidak biasa."


Mata Ele berkaca-kaca dan mengedip pelan. Ia hanya membuka mulutnya tanpa mengeluarkan suara. Ele mendongak, ia tertawa tapi tidak bersuara. Kepedihan terlihat jelas di wajahnya. Napas Ele sesak, dadanya ikut sesak dan sakit mendengar semua itu.


Lagi Alvin mend*sah. "Allura pernah melukis seorang laki-laki yang menunggang kuda bersayap atau pegasus dengan latar belakang sebuah kastil. Ada juga lukisan yang menggambarkan burung cendrawasih yang dihiasi bunga-bunga dan lukisan sebatang pohon mati yang ditebang setengah, di tengah tanah kering retak-retak, ada telaga kecil di sampingnya, gunung di kejauhan, dan di langit muncul sepasang mata yang melihat dan memancarkan sinar. Dokter menjelaskan cara ini adalah upaya agar pasien pengidap sakit jiwa bisa produktif dengan berbagai keterampilannya dan bisa menyembuhkan mereka perlahan-lahan." Jelas Alvin diakhiri dengan helaan napas panjang.


Tatapan Ele sayu, ia memandang Alvin dengan alis melengkung. Rasa sedih dan bingung kini menguasai seluruh perasannya. Ele tidak tahu harus berbuat apa sekarang. Ia memang membenci Allura, tapi Ele tidak pernah menginginkan Allura seperti ini.


"Kita bisa melihatnya, tapi tidak sekarang. Allura saat ini sedang istirahat. Jika tidurnya terganggu, Allura bisa ngamuk dan minta anaknya dikembalikan."


Ele hanya mengangguk pelan. Alvin tersenyum sambil menarik Ele dengan rangkulannya dan berhasil membawanya keluar dari gedung itu.


Diperjalanan, Ele hanya memandang jalanan dengan tatapan lurus. Alvin menatap dan perhatian Ele dengan seksama. Ia sesekali mengeratkan genggaman tangannya untuk memberi semangat kepada Ele.


BERSAMBUNG


^_^


🔸Tolong dukung ya my readers tersayang. Ini Novel ketujuh aku 😍


🔸Salam sehat selalu, dari author yang cantik buat my readers yang paling cantik.


^_^

__ADS_1


__ADS_2