
π LOVE OF FATE π
Β
π HAPPY READING π
.
.
...Hanya karena masa lalu itu kembali lagi, bukan berarti aku harus melihat ke belakang....
πΈπΈπΈπΈπΈ
Pagi ini, cuaca sangat cerah mentari bersinar terang dan lalu lalang kendaraan bermotor telah menghiasi jalanan kota. Ele dan Alvin pun bersiap-siap untuk memulai mengunjungi tempat-tempat yang indah di kota ini.
Kota ini dijuluki sebagai kota setia, karena mempunyai kisah yang melegenda dan bahkan semua orang tahu cerita itu. Di samping itu, kota ini juga mempunyai alunan terompet yang merayap-rayap di antara gedung-gedungnya.
Alvin dan Ele terus berjalan di antara banyaknya pengunjung di sepanjang tempat wisata.
βKau membawaku ke sini Alvin?" seru Ele meloncat kesenangan sambil memeluk tangan Alvin. "Aku suka tempat ini Alvin. Ini tempat wisata yang ingin aku kunjungi.β
"Berarti aku tidak salah memilih tempat ini."
Ele memicingkan matanya, menatap Alvin penuh selidik. "Hmm." Ia membengkokkan bibirnya sambil terus menatap Alvin. "Apa Amira mengatakan tempat ini juga?" tanya Ele. Iya, hanya Amira yang tahu. Ele ingin sekali mengunjungi tempat ini.
Alvin tersenyum memeluk pinggang Ele. "Hmm. Amira pernah mengatakannya. Apa kamu suka?"
Ele tersenyum haru. "Iya, aku suka sekali."
Alvin menciumnya lagi. "Itu yang aku harapkan. Sekarang kita jalan lagi."
"Oke, tuan tampan."
Ele merapatkan tubuhnya dan saling melempar senyum bahagia di sana. Serasa dunia milik mereka berdua, orang lain hempas aja. Ele terkekeh sendiri, saat orang-orang di sekitar, tersenyum sambil menggelengkan kepala menatap mereka. Wajah Ele bersemu merah menatap ke samping dan melihat Alvin begitu posesif kepadanya. Dadanya kembang kempis, seperti terkena serangan jantung. Tidak bisa dipungkiri Ele sangat bahagia saat ini.
Jejak pagi telah hilang, kini sore datang menyapa. Mereka kembali berjalan, seperti tak kenal lelah. Saat berjalan kaki di trotoar, Alvin memasukkan jari-jari tangannya ke jari-jari tangan Ele untuk memberi kehangatan. Tempat ini memang dikenal dingin. Ele tersenyum lagi sambil mendongakkan kepala ke atas dan mendapati langit biru yang bersih dengan gedung-gedung pencakar langit menghiasinya. Banyak trotoar di kota ini yang sangat teduh, bukan karena pepohonan namun karena bayangan gedung-gedung tinggi.
Kota ini juga menyimpan fantasi untuk begitu banyak orang. Banyak pemuda yang datang hanya dengan sebuah gitar dan cinta menyanyikan beberapa lagu di sana. Pengarang tanpa uang sepeser pun dan ide cerita yang hanya samar-samar, mereka yang datang dengan mimpi-mimpi besar dan ingin mengwujudkannya menjadi nyata.
Sepanjang jalan mereka menemukan goret-goretan tembok dengan puisi-puisi yang indah oleh seorang seniman. Sementara di sudut jalan tak jauh dari sana, mereka juga melihat Apple Store yang membawa mereka melompat beberapa generasi ke depan.
βKenapa kamu menyukai tempat ini Ele? apa yang membuatmu jatuh cinta, sampai ingin sekali berkunjung ke sini?β tanya Alvin dengan mata berkedip pelan.
Ele berpikir sejenak. "Kesetiaan." jawabnya.
Dahi Alvin mengerut. "Kesetiaan?"
Ele mengangguk sambil menatap wajah bingung Alvin. Ia tersenyum dan melanjutkan kalimatnya. "Karena tempat ini menjadi saksi seorang pria yang setia menunggu kekasihnya."
"Benarkah? Kamu bisa menceritakannya?"
Ele menarik napas singkat, lalu tersenyum menatap ke arah Alvin yang terus memegang tangannya dengan posesif. Sambil melangkah pelan Ele pun mulai bercerita. "Sekitar belasan tahun yang lalu, di kota ini, sepasang kekasih yang tengah dimadu cinta membuat sebuah perjanjian. Keduanya berjanji untuk bertemu kembali di lokasi yang sama pada waktu yang sudah ditentukan. Sang pria itu menepati janjinya. Tapi sayangnya..." Ele menangguhkan kalimatnya dan menunduk sedih sambil melihat ke arah kakinya yang melangkah bergantian.
__ADS_1
Alvin menoleh ke samping, melihat Ele yang sedang menunduk. "Apa yang terjadi sayang? apa wanita itu ingkar janji?"
Ele mengangguk lemah, menatap ke depan dan melanjutkan penjelasannya. "Wanita itu tidak pernah datang. Lama ditunggu, wanita pujaan sang pria itu tidak kunjung datang juga. Tapi pria yang berusia 47 tahun tetap setia menunggunya. Ia masih duduk dengan pakaian yang sama seperti awal kedatangannya ke taman ini, sampai pakaiannya sudah terlihat lusuh. Wajah dan fisiknya juga sudah tampak menua. Kesetiaannya tersebut membuat pria itu dijuluki sebagai pria 'Hachiko', nama seekor anjing di Jepang yang kisahnya melegenda karena setia menunggu tuannya di stasiun meski dia sudah meninggal."
"Apakah pria itu meninggal?"
"Iya, pria itu meninggal diusianya yang ke 60 tahun."
"Wah..luar biasa, itu artinya pria itu menunggu sampai 13 tahun dan wanita itu tak pernah datang?"
"Hmm, dia meninggal di kursi panjang yang ada di tengah taman itu. Nanti kita bisa duduk di sana." Kata Ele sambil terus berjalan beriringan dengan Alvin.
"Kisah perjalanan cinta yang luar biasa dan aku baru tahu cerita itu."
Ele menghela napas berat, menatap lurus ke depan dengan pandangan kosong. "Jika kau berada di posisi itu, apakah kau akan menungguku juga Alvin?"
"Tidak, aku tidak mau menunggu."
"Heuh? tidak mau menunggu?"
"Iya. Buat apa aku menunggu. Aku akan datang ke rumahmu dan meminta penjelasan."
Ele terkekeh saat mendengar itu. "Kamu bisa saja."
"Bukankah begitu, satu hari saja bagiku sangat sulit melaluinya tanpa kamu. Apalagi sampai 13 tahun. Aku bisa gila Ele."
Ele hanya mengulas senyum dan tak berkomentar, mereka hanya terus menyusuri jalan-jalan kota dengan perasaan bahagia. Semua orang datang dari segala tempat. Ada tingkat anonimitas yang membuat siapa pun bisa menyelip dengan mudah di antara hiruk pikuk keramaian. Mereka memanfaatkan waktu dengan penuh kebahagiaan dan kekaguman. Karena kota ini, mengisahkan banyak cerita. Di sana banyak orang-orang yang memberi pertunjukan di jalanan.
"Kau tidak lapar, Ele?" Alvin melihat jam yang ada dipergelangan tangannya.
"Kau tidak lelah, dari tadi kita berjalan dan tidak istirahat."
"Benar juga," Ele tersenyum. "Bagaimana kalau kita duduk di tengah taman."
"Maksudmu kursi panjang yang melegenda itu?"
"Iya."
"Oke kita ke sana, kita akan duduk di kursi itu sampai malam tiba." ucap Alvin mencium pelipis Ele dengan lembut.
Saat Alvin menciumnya di keramaian, mata Ele terbelalak dengan jantung terpicu. Mata abu-abu dari jarak dekat itu, mampu membuatnya kaku dan mengaktifkan mode cepat jantungnya. Ele terus menatapnya dengan gugup. Ia menunduk lagi dengan wajah bersemu merah sambil melangkah menuju kursi panjang di tengah taman kota.
Benar saja, di sana ada sebuah taman yang menyenangkan, dengan rumput yang halus, sinar matahari yang kadang hilang dan muncul. Dan tidak lupa dengan alunan musik jazz sebagai latar. Mereka bisa menikmati keindahan senja yang mengisahkan banyak cerita.
"Tunggu sebentar, aku belikan minuman dulu." Kata Alvin bangun dari duduknya.
Ele hanya mengangguk sambil tersenyum memandang punggung Alvin yang berlari kecil meninggalkannya. Ele memperhatikan lalu lalang orang dengan pakaian modis yang sungguh memanjakan matanya. Banyak yang mengenakan pakaian kerja rapi tapi tak kurang juga yang berpakaian dengan gaya preppy.
Lumayan jauh tempatnya dan Alvin harus mengantri juga. Alvin tersenyum membawa dua mug berisikan minuman di tangannya.
"ALVIN?" Panggil seseorang dengan suara baritonnya.
Alvin membalikkan badannya melihat ke arah lelaki yang tengah menyapanya.
__ADS_1
"Benar kamu Alvin. Hai dude, lama tak terlihat setelah berita kehilanganmu."
Alvin menatap bingung, matanya memicing menatap ke arah lelaki yang sedang tersenyum ke arahnya. "Apa dia mengenalku?" Batin Alvin berbicara.
"Apa kabar Alvin?" tanya pria itu tersenyum lagi.
Alvin diam dengan kerutan dahi yang dalam. Ia tidak langsung menjawab. Alvin hanya menatap pria itu dari atas sampai ke bawah tanpa ekspresi.
"Hei dude, sejak kapan kau jadi lelaki pendiam seperti ini?" pria itu terkekeh di ujung kalimatnya. "Dan penampilanmu? Astaga kau tidak seperti Alvin yang aku kenal."
Alvin masih tetap diam dan bergeming di tempatnya. Ia mencoba mengingat, namun tak berhasil.
"Kau benar-benar membuat gempar dunia bisnis, dude. Semua berita tentangmu, baik itu dari media massa, telivisi, mengatakan kau sudah meninggal. Aku bahkan menghubungi Arlo untuk mengetahui kebenaran itu. Tapi Arlo tak memberi komentar apapun saat itu."
"Arlo?" Dahi Alvin berkerut dalam. Nama itu seakan tidak asing baginya. Matanya memicing dan mencoba mengingat nama itu.
Melihat tidak ada reaksi dari Alvin, pria itu mengerutkan keningnya. "Dude? Apa kau tidak mengingatku? kita teman satu kuliah dulu. Kau bahkan pernah memperkenalkan kepadaku calon istrimu."
Deg!
Jantung Alvin terpukul begitu kencang di dalam rongga dadanya. Ia bertambah gugup. Rasa berkeringat, gemetar, panas dingin, dan sekarang dirinya seperti sengsara saat melihat ekspresi serius dari lelaki itu.
"Kalian bahkan ingin menikah." Ucap pria itu menimpali.
Wajah Alvin semakin menegang. "Apa? menikah? Apa maksudmu?" Suara bahkan napasnya tertahan di dada. Tercekat di sana. Alvin mencoba menarik napasnya yang semakin sesak. Bagaimana mungkin bisa lelaki ini mengatakan dirinya akan menikah. Tidak mungkin!
"Iya. Kau akan menikah dengan Allura. Dia adalah wanita yang sangat kau cintai. Kau bahkan terlalu posesif kepadanya." Ucap pria setengah berbisik.
Tangan Alvin tiba-tiba dingin. Pandangan kosong menatap ke satu arah. Kepalanya tiba-tiba sakit. Alvin lagi-lagi menarik napasnya yang semakin sesak. "Allura?"
Heeeeeee Alvin membuang napasnya sambil menutup matanya, berusaha menenangkan perasaannya. Ia menarik napas panjang dan menelan salivanya berulang kali. Alvin mencoba mengendalikan dirinya. Nama Alvin begitu banyak di dunia ini. Bukan hanya namanya. Dia yakin lelaki ini salah orang.
"Hei dude, apa kau mendengarkanku?"
"Maaf. Aku harus pergi." Kata Alvin begitu dingin. Ia pun berjalan meninggalkan pria itu.
"Alvin....!!!!" Pria itu mencoba mencegatnya. Namun tidak berhasil, Alvin sudah melangkah panjang meninggalkan tempat itu.
"Ada apa dengannya?" ucap pria itu menatap bingung.
"Jelas-jelas dia Alvin, kenapa dia terlihat bingung?" Ucapnya setengah bergumam.
"Dan penampilannya?" Ucap pria itu saat membayangkan Alvin menggunakan sendal jepit.
"Astaga...." Pria itu melepaskan napas frustasi, ia masih tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Ia begitu mengenal Alvin. Bahkan dari penampilannya yang selalu rapi dan nice looking mencerminkan kepribadiannya.
"Tapi sekarang?" Pria itu mengusap wajahnya dengan kasar. Tanpa pikir panjang, ia mengambil handphone untuk menghubungi seseorang.
BERSAMBUNG.....
^_^
Tolong dukung ya my readers tersayang. Ini Novel ketujuh aku π
__ADS_1
Salam sehat selalu, dari author yang cantik buat my readers yang paling cantik.
^_^