
💌 LOVE OF FATE 💌
🍀 HAPPY READING 🍀
.
.
...Pernikahan adalah pelangi di antara dua hati yang berbagai perasaan, cinta, kesedihan, kebahagiaan, kejujuran, kepercayaan, rahasia, penghormatan, dan saling bekerja sama untuk mencapai surga....
🔸🔸🔸🔸🔸
TIGA TAHUN KEMUDIAN.
Pintu kamar mandi itu berdecit pelan, lalu tak lama kemudian Alvin keluar dari dalamnya dengan tubuh yang terbalut baju handuk. Meskipun rasa pegal masih terasa hampir di setiap persendiannya, pria itu terus tersenyum lebar.
Lalu senyumnya bertambah lebar saat ia melihat Ele yang masih tidur pulas di balik selimut. Sebagian punggung putihnya masih terekspos sempurna.
Semalam, Alvin diberi kebebasan oleh istrinya untuk melakukan apapun yang ia inginkan. Kata Ele, itu sebagai hadiah karena Alvin telah memenangkan proyek besar. Dan tanpa perlu melalui proses pemikiran yang panjang, Alvin langsung menarik Ele ke atas ranjang dan terjadilah percintaan dua ronde.
Alvin terkekeh sambil mengenakan pakaiannya dan terus mengawasi istrinya yang masih tertidur nyenyak itu. Alvin pun berjalan ke arah jendela, membuka gorden lebar-lebar dan dalam sekejap tubuh Ele menggeliat pelan. Alvin sukses mengganggu tidur istrinya.
Ele menutup matanya, merasakan matahari masuk ke dalam kamar. Perubahan suhu yang begitu nyata, dari dingin menjadi hangat. Rasa pegal juga masih terasa di setiap persendiannya. Persetan dengan jam berapa sekarang ini. Sedikit pun, Ia tak berniat untuk membuka matanya. Perlahan, seseorang meniupi wajahnya. Aroma mint yang begitu segar bekerja layaknya seutas tali yang mengait kedua tepian kelopak matanya dan memaksa Ele untuk membuka mata.
Hal pertama yang ia lihat adalah Alvin yang sedang duduk bersandar pada kepala ranjang sambil mengulas sebuah seringaian manis di wajahnya. Rambutnya terlihat masih basah. Sepertinya dia baru saja selesai mandi.
"Ayo, bangun sayang.." ujar Alvin di sana.
Alvin mengulurkan tangannya untuk mengacak rambut istrinya itu. Dengan setianya ia menunggu Ele mengumpulkan kesadaran yang masih tercecer.
"Aku tahu kau sudah bangun," gumam Alvin saat menyadari bibir istrinya sedang membentuk senyuman tipis. Alvin mendorong tubuh Ele hingga menjadi telentang.
"Kau sudah mau berangkat?" Ucap Ele dengan suara parau khas bangun tidur. Tidak ada suara apapun yang menjawab pertanyaannya.
Alvin beringsut pelan, lalu berbaring menghadap istrinya. Dia menopangkan kepalanya di tangan, kemudian merebut bantal guling. "Bukan aku, tapi kita." ucap Alvin menjawab. Tapi jawaban itu justru malah menimbulkan pertanyaan baru darinya.
"Maksudmu?"
Alvin tersenyum. Sebelum menjawab, ia mengecup kilat bibir Ele terlebih dahulu. Alvin baru saja mencuri morning kiss yang seharusnya belum tentu dia dapatkan pagi ini. Semalam suaminya sudah terlalu puas menikmati bibirnya, dan Ia masih saja menginginkannya?
"Hari ini kita ke rumah ibu menjemput Samantha. Aku sudah merindukan putri kecilku."
Ele yang masih telungkup hanya menyipitkan matanya. "Jemput Samantha?"
"Iya," jawabnya singkat.
"Bukannya Samantha baru kemarin di rumah ibu?"
"Iya, tapi aku sudah merindukannya." sahutnya.
"Hahaha." Ele tertawa sambil melemparkan pandangan yang meledek. Ia tahu Alvin tak bisa berpisah jauh dari putri mereka. "Ibu bisa marah jika kita langsung menjemput Samantha. Karena mereka belum puas bersama cucu kesayangannya."
"Aku tidak perduli, kita bawa Samantha pulang."
"Astaga," Ele menggeleng-gelengkan kepalanya.
__ADS_1
"Sayangku, coba lihat tubuhmu itu. Kau ingin berperang lagi, iya?" Alvin mengalihkan ucapannya.
Mata Ele membulat mendengar ucapannya. Ia pun melirik kedalam selimut. Dan astaga, tubuhnya benar-benar tidak terbalut kain jenis paling tipis sekalipun. Yang menutupi tubuhnya sampai sejauh ini hanyalah sehelai selimut tebal. Sepertinya Ele lupa memakai piyamanya.
"Oh my God..," gumamnya sambil membenamkan wajah di bantal.
"Apa kau memang sengaja menggodaku?" Alvin tersenyum menyeringai.
Ele menggelengkan kepalanya. "Jangan berpikiran nakal." Ia dengan cepat membungkus tubuhnya rapat-rapat dengan selimut, lalu beringsut perlahan ke tepi ranjang.
Karena selimut tebal ini, ruang geraknya menjadi sangat terbatas. Ele kesulitan menurunkan kakinya ke lantai. Ia harus beringsut ke pinggir kasur dengan hati-hati, jangan sampai selimutnya melorot, bisa bahaya.
Setelah berhasil menurunkan kaki ke lantai, Ele bersiap untuk berdiri, namun dengan cepatnya Alvin mengangkat tubuh Ele dan kembali membaringkannya di atas kasur. Matanya mengedip nakal sembari kedua tangannya menyelip di punggungnya.
Tanpa melewatkan banyak waktu, Alvin mulai menciuminya sambil sesekali tertawa jahil.
"Hmm..Bibirmu ini sepuluh kali lebih efektif daripada kafein untuk membuatku merasa segar," ujar Alvin setelah menyudahi pagutan-pagutan nakalnya. Meskipun dia telah melepaskan Ele, tapi jarak diantara kami masih sangat tipis.
"Benarkah?" tanya Ele sambil menaikan kembali selimutnya yang sedikit melorot.
Alvin mengangguk semangat untuk menjawab pertanyaan istrinya itu. Seolah memberikan ijin padanya untuk mengganti jatah kopinya dengan morning kiss ekstra.
Masih dengan tangan yang menggantung di lehernya, Ele tersenyum. "Apakah itu berarti aku tidak perlu menyediakan kopi lagi di rumah dan uang shopping ku akan bertambah?" tanyanya dengan nada polosnya.
Alvin tertawa mendengarnya. Dan selang beberapa detik kemudian, tatapannya berubah lembut. Kedua sudut bibirnya tertarik ke atas, ikut tersenyum seiring dengan sentuhan ibu jarinya di pipi Ele. "Aku mencintaimu," bisiknya.
Bersamaan dengan mata Alvin yang memejam, Alvin mlumat bibirnya dengan lembut. Berbeda dari pagutan-pagutan nakal sebelumnya, kali ini tidak ada napsu berlebih. Dengan tangannya yang lumayan berotot, dia mengunci tubuh istrinya dengan sangat protektif, membuat Ele merasa aman.
Tiga puluh detik setelahnya, Alvin menarik diri.
"Apakah kita menambah adik Samantha saja?" ujarnya dengan seringai jahat.
"Samantha juga butuh teman." Dengan sebuah kecupan kilat di pipi, Alvin berhasil membuat istrinya tergelak dari posisinya.
"Ck. Bilang saja kalau kau menginginkanku."
Alvin menunduk, lalu memperadukan keningnya dengan kening Ele. Bahkan ujung hidung mereka juga bersentuhan. Alvin tidak ingin menyia-nyiakan momen seperti ini. Ia dengan cepat menggendong istrinya dan membawa istrinya kekamar mandi.
Ele terkekeh, Ia tidak tahu apa yang terjadi pada otak suaminya ini. Alvin hanya terus menggendongnya hingga ke bawah shower.
Ele segera melepaskan diri saat Alvin menarik selimut tebal yang menjadi satu-satunya pembungkus tubuh istrinya itu.
"Bukankah kita ingin menjemput Samantha, sayang." Ujar Ele berhasil menghentikan aktivitas Alvin. Kedua tangan suaminya beralih menjadi memeluk pinggang Ele.
"Besok saja, jika kita datang hari ini. Kita bakal diusir mereka." Ucap Alvin.
Ele mengerutkan keningnya dengan tatapan protes. "Bukannya kamu yang ingin bertemu Samantha."
"Kau sendiri yang menggodaku, membuatku menginginkanmu lebih dari ini."
"Kamu banyak alasan." Ele bergerak risih saat Alvin menyusupkan wajahnya di lengan atasnya, menyesap aroma tubuh Ele yang sepertinya tidak begitu layak untuk dinikmati seperti ini.
Alvin tidak menjawab. Tangannya bergerak aktif menyentuh bagian kenyal milik Ele.
"Demi Tuhan, Alvin. Apa yang semalam tidak cukup? Kau benar-benar...." Ele tidak dapat melanjutkan kalimatnya karena dengan seenaknya Alvin menghidupkan shower yang ada di atas. Dan sialnya lagi, hanya ada air dingin yang mengguyur tubuh mereka.
"Mau tidak mau, beberapa detik lagi kau juga akan menginginkanku, sayang."
__ADS_1
Sejak air dingin itu mengucur bebas, Alvin hanya memandangi istrinya dengan seringai nakal. Alvin tersenyum saat istrinya mulai kedinginan. Daerah ini memang dikenal dingin. Karena setelah menikah, Alvin memilih tinggal di desa Mulia. Kulit telapak tangan Ele juga sudah mulai mengerut karena kedinginan. Ele kesal melihat senyum suaminya penuh kemenangan.
Alvin menariknya untuk mendekat. "Kau sudah membeku, sayangku." ujarnya sambil memeluk tubuh istrinya dari samping, menarik wajah Ele dan memagut bibir istrinya dengan lembut.
Perlahan, tangan Ele menelusup kedalam rambut Alvin, menarik kepala suaminya agar ciuman mereka semakin dalam. Ele memang butuh kehangatan saat ini. Bahkan sekarang Ele bisa merasakan tangan hangat Alvin yang sedang memeluk pinggangnya. Ciuman mereka pun terlepas.
"Happy anniversary, sayang." bisik Alvin di sana.
Ele hanya tersenyum, tak menjawab. Alvin mengerutkan keningnya. "Kau tidak ingin mengucapkan apa-apa?" Tanya Alvin kembali memagut bibir istrinya. Ia begitu menginginkan istrinya itu dan belum berniat untuk menyudahi ciumannya. Ciuman lembutnya pun berubah liar.
Ele memegang pundak Alvin dan sedikit meremasnya. Persediaan oksigennya mulai menipis. "Ha-happy ann-niversary sa-sayang." Butuh perjuangan yang berat bagi Ele untuk menuntaskan kalimat itu karena suaminya tidak memberinya kesempatan untuk berbicara. Lingual mereka saling membelit di sana. Sepertinya matahari menjadi saksi percintaan mereka pagi ini.
🔸🔸🔸🔸🔸🔸
Salah satu waktu teromantis bagi Alvin adalah saat berkumpul bersama keluarga. Ia kembali mengajak istri dan anaknya ke pantai. Pantai ini terkenal romantis dan pemandangan yang luar biasa cantik.
Terdengar suara deburan ombak yang berkejar-kejaran ditepi pantai, membuat jiwa bahagia dan pikiran pun tenang. Ele menikmati susana pantai yang membuatnya bersemangat. Terlihat jelas Samantha berlarian dibibir pantai. Ele tersenyum melihat Alvin sibuk membuat istana pasir.
"Mommy....." Teriak Samantha sambil melambaikan tangannya. Ele hanya tersenyum sambil membalasnya dengan melambaikan tangannya.
Setelah asyik membuat istana pasir dan mencari kerang ditepi pantai. Samantha berlari mendekati Ele yang tengah duduk santai.
"Mommy..! aku lapar."
"Sebentar sayang, mommy siapkan dulu ya." ucap Ele membuka kotak makanan yang mereka bawa dari rumah. Benar saja, putri kecilnya itu langsung makan dengan lahap. Ele tersenyum, ia membelai rambut putrinya dengan lembut.
Ele dan Alvin berjalan menyusuri pantai sambil memegang tangan putrinya. Senyum mereka tidak pernah lepas dari bibir.
Mereka berjalan-jalan di pantai, menikmati pemandangan. Warna biru laut dan langit menginpirasi ketentraman dan ketenangan, dan suara deburan ombak sangat menenangkan hati.
Perjalanan cinta yang luar biasa. Perasaan cinta mereka yang begitu besar membuat Ele dan Alvin selalu diselimuti rasa bahagia. Cinta Mereka bukan seperti tumpukan helai kertas yang dapat dihitung, bukan seperti air yang dapat ditakar. Perasaan cinta yang mendiami hati Alvin dan Ele, memiliki satuan untuk dapat diukur mereka sendiri, sehingga hanya Alvin dan Ele yang dapat mengukur ke dalaman cinta mereka.
Mereka sama-sama memiliki rasa cinta yang sangat besar. Hubungan yang mesra dengan kobaran api cinta yang hangat. Membuat pasangan ini selalu bahagia dan selalu ingin bersama. Alvin sendiri tidak mudah mengubah perasaanya, ia lelaki yang setia terhadap pasangannya.
LOVE OF FATE TAMAT.
Terima kasih kepada my Readers yang masih setia membaca Love of fate.
Tanpa kalian aku gak ada apa-apanya. Yang baik hati kasih hadiah Love-Love buat kalian ya. Dan yang paling rajin kasih komentar dan memberikan jempol, sumpah saya jadi lebih bersemangat lagi menulis 🤗
Jangan lupa mampir ke novelku sebelumnya.
. The fate of marriage.
. RETALIATION
. Whisper of love.
. Whisper of love season ke 2.
. Mafia Berhati Malaikat
. Setidaknya lihat aku suamiku.
TERIMA KASIH.
Karya baru ☺️😊
__ADS_1