
π LOVE OF FATE π
Β
π HAPPY READING π
.
.
...Lebih baik disakiti oleh kebenaran dari pada dilindungi oleh kebohongan....
πΈπΈπΈπΈπΈ
TOK....TOK...TOK...!
Marvel mengetuk pintu, lalu masuk ke dalam ruangan Alvin. Seperti biasa hanya ada ulasan senyum tipis yang terukir di wajah pria muda berparas tampan itu. Ia melihat Alvin tengah berdiri memandang keluar dinding kaca untuk melihat pemandangan kota. Ia memasukkan tangannya ke dalam kantong celananya. Posisinya membelakangi Marvel.
"Selamat siang tuan," sapa Marvel sambil membungkuk badannya.
Marvel maju melangkah pelan mendekati Alvin. Langkah kaki, terdengar oleh Alvin. Marvel sudah berdiri dengan jarak dua meter di belakang Alvin. Namun Alvin tidak juga membalikkan badannya.
"Nona Allura sudah pergi meninggalkan kantor Smith." Ucap Marvel memberitahu.
Alvin masih terdiam dengan kepalan tangan yang kuat.
"Saya sudah menjalankan sesuai perintah anda. Saya..."
Belum juga Marvel menyelesaikan kalimatnya. Alvin sudah mengangkat tangannya, gestur yang di pahami Marvel. Mengisyaratkan Marvel tetap diam dan tidak melanjutkan kalimatnya.
Glek!
Marvel menelan salivanya begitu susah. Ia meremas tangannya dan diam di posisinya dengan satu tarikan napas. Marvel hanya berdiri tidak jauh dari bosnya sambil menunggu instruksi dari Alvin.
Alvin menarik napas panjang. Ingatan itu semakin jelas. Terkadang kebenaran itu menyakitkan. Apalagi jika kenyataannya itu begitu pahit. Sebisa mungkin pasti akan dihindari. Tetapi, bisa jadi itulah saat-saat yang paling membantunya. Alvin dapat bersembunyi dari kebenaran tertentu, untuk waktu yang lama, namun mereka pada akhirnya akan mengejarnya terus menerus. Seiring dengan kejelasan mereka akan datang sendiri. Alvin menarik napas dengan mata terpejam.
FLASH BACK ON.
Saat kepala Alvin membentur setir mobil. Bunyi klakson panjang terdengar memekakkan telinga bagi siapa saja yang mendengar. Alvin benar-benar shock dan terdiam beberapa saat. Ekspresi wajahnya tiba tiba berubah, napasnya mulai berhembus tidak stabil, wajahnya terlihat pucat dan tegang. Alvin mencengkram kepalanya saat selintas kejadian beberapa bulan mencuat di dalam otaknya. Mulai membongkar kotak-kotak memori yang kosong, mengais-ngais sisa-sisa ingatannya yang pernah hilang. Sampai pikirannya terasa kelu.
Kepalanya bertambah sakit. Alvin mencengkram rambutnya dengan kasar. Memori-memori yang lama hilang dalam ingatannya mulai bangkit ke permukaan. Pecahan-pecahan adegan dan gambar bergulir cepat dan kasar di dalam kepalanya yang kosong, yang kini mencicip nyeri seperti mau pecah.
Pikiran Alvin langsung kacau, Ia benar-benar blank. Seorang wanita nampak keluar dari mobil melangkah panjang menghampiri Alvin. Wanita itu mengetuk kaca mobilnya begitu kuat.
"Keluar gak? Ayo keluar!" Kata seorang wanita sudah tampak marah.
Alvin terkejut dan memalingkan wajahnya melihat ke arah wanita itu. Ia menarik napas untuk mengembalikan pikirannya.
"Keluar kamu!" Wanita itu kembali mengetuk kaca dan kali ini lebih kasar lagi.
Alvin tak bisa berbuat apa-apa, ia memilih keluar dari mobil.
"Sekarang aku gak mau tahu ganti semua kerusakan mobil yang kau tabrak itu!" Keluh wanita itu dengan wajah garang.
"Maaf bu, saya gak ada wak.."
"Kau mau kabur?"
"Bukan.." Alvin mengibaskan tangannya. "Saya bukan..."
"Saya tidak mau tahu, ganti rugi kerusakan mobilku." wanita itu semakin menekan kalimatnya.
Alvin sudah nampak kesal, ia tidak diberi kesempatan untuk bicara.
__ADS_1
"Oke saya akan bayar! tapi saya mau cepat, ada acara keluarga yang harus saya hadiri. Besok pagi kita bertemu di bengkel, saya akan datang ke sana." ucap Alvin tak tahan saat merasakan kepalanya yang begitu sakit. Ia terus melihat jam yang ada di tangannya.
"Cih...apa kau pikir aku percaya. Kau mau lari kan?" Ucap wanita itu dengan emosi.
"Tidak bu, saya akan bertanggung jawab. Ini ambil kartu nama saya. Berikan nomor handphone ibu. Besok pagi, saya yang akan menghubungi ibu. Jika sampai siang saya tidak datang. Saya siap anda laporkan."
"Tidak, saya tidak mau menunggu anda sampai besok. Saya mau sekarang!" ketus wanita itu.
"Astaga, jadi ibu maunya apa? bukankah saya sudah berjanji akan bertanggung jawab." Emosi Alvin mulai tersulut.
"Saya maunya uang cash. Saya tidak bisa pegang ucapan anda." wanita itu tetap dengan pendiriannya.
"Bukankah ibu yang salah, tiba-tiba berhenti dan tidak buat lampu sein."
"Lihat, saya buat lampu sein!" Wanita itu menunjuk mobilnya. "Jadi jangan banyak alasan."
Alvin membuang napas dengan kasar. Jelas-jelas ia melihat wanita itu tidak membuat lampu sein. Demi apapun itu, ia sangat membenci kejadian ini. Ia mengeluarkan dompet dari kantong celananya dan mengeluarkan beberapa uang kertas kepada wanita itu.
"Ambil ini, saya rasa ini cukup untuk memperbaiki kerusakan mobil ibu." Alvin memberikan kepada wanita itu.
"Apa kau pikir, duit segini bisa memperbaiki mobilku yang rusak?" Wanita itu tidak terima hanya menerima uang satu juta.
"Saya hanya ada uang cash segitu. Ibu maunya berapa?" Wajah Alvin sudah nampak kesal. Alvin sudah mulai gelisah. Kepalanya begitu sakit, ingatannya saat ini seperti benang kusut di dalam otaknya. Mana wanita ini benar-benar mempersulitnya lagi.
"Saya gak mau tau saya maunya sepuluh juta."
"Apa??? " Alvin terbelalak. "Ibu kesempatan ya?"
"Saya maunya segitu. Kau mau bilang apa?" kata wanita itu cuek.
Alvin menahan napasnya sesaat. Wajahnya sudah tampak terbakar karena begitu marah melihat wanita itu. Namun Alvin tetap bersabar.
"Bukannya saya sudah kasih kebijakan ke ibu. Kita bertemu di bengkel besok. Aku akan memperbaiki kerusakan mobil ibu. Ini ambil kartu namaku. Jangan coba-coba memerasku."
"Astaga, ternyata ada manusia seperti ini?" Batin Alvin geram. Ia menghembuskan napasnya berulang kali.
"Oke, baiklah. Jika anda tidak menerima uang ini. Masalah ini kita serahkan kepada pihak berwajib. Di sana kita bisa periksa CCTV, kita akan tahu siapa yang salah. Bagaimana?" Alvin menekan setiap kalimatnya. Hari ini adalah hari terburuknya sejak ia dilahirkan ke dunia ini.
Wajah wanita itu berubah, dari pada tidak mendapatkan uang sama sekali. Ia langsung mengambil uang itu dari tangan Alvin.
"Baiklah. Saya terima uang ini. Masalah ini, saya anggap selesai." Wanita itu melangkah meninggalkan Alvin begitu saja.
Alvin mengusap wajahnya dengan kasar. Ia memilih kembali masuk ke mobilnya. Kepalanya saat ini hampir mau pecah. Ia mencoba menarik napas dengan mulut terbuka. Membenamkan wajahnya di setir mobil. Alvin tak juga tenang, ia kembali menyandarkan punggungnya ke kursi, lalu mengusap wajahnya dengan pelan. Menutup wajahnya sebentar untuk menenangkan perasaan getir di dalam hatinya. Alvin melepaskan napas panjang. Ia memilih menghubungi Marvel.
Marvel yang baru saja selesai mandi tersentak saat mendengar panggilan masuk berulang kali dari handphonenya. Ia terburu-buru menggunakan handuk dan segera mengangkat sebelum panggilan itu mati.
"Selamat malam tuan, ada yang bisa saya bantu?" Sahut Marvel dengan sopan di ujung telepon.
Alvin mencengkram kepalanya begitu kuat. "Kau dimana?"
"Ini baru selesai mandi, ada apa tuan?" tanya Marvel membiarkan tetesan air di ujung-ujung rambutnya terjatuh membahasi tubuhnya. Otot-ototnya yang bidang terlihat menonjol dan sedikit basah. Sepertinya air nakal dari rambutnya belum ingin lepas dan mengalir dari pelipis hingga ke dada.
"Aku ingin kau datang ke jalan A. Saya tunggu di depan minimarket flower."
"Apa terjadi sesuatu tuan?"
"Nanti saya jelaskan."
Marvel mengernyitkan dahi bingung. "Tapi tuan?" Belum lagi Marvel menyelesaikan kalimatnya. Panggilan sudah lebih dulu mati.
Marvel menarik napas singkat sambil menurunkan handphonenya. Ia pun segera bergegas memakai pakaiannya dan berlari keluar dari apartemen. Dengan terburu-buru, ia masuk ke dalam mobilnya. Ia memundurkan mobilnya. Matanya fokus memandang spion dan membanting setir. Marvel langsung menancapkan mobilnya menuju minimarket flower seperti dikatakan Alvin.
Whhhhuuzzz....
__ADS_1
Mobil Marvel melaju cepat membelah keheningan malam.
Tidak butuh lama Marvel tiba di depan minimarket. Ia mengernyitkan keningnya saat melihat Alvin menyandarkan punggungnya di badan mobil.
"Kenapa tuan Alvin masih di sini? bukankah beliau harus menghadiri acara ulang tahun nona Allura?"
Tak ingin bertanya-tanya. Marvel menarik rem tangan dan keluar dari mobil. Ia segera melangkah mendekat ke arah Alvin. Dan saat itu juga mata Marvel melotot dengan wajah mengerut saat melihat mobil Alvin mengalami kerusakan.
"Tuan?" Marvel membungkukkan badannya untuk memberi hormat.
"Maaf. Aku terpaksa memintamu datang ke sini."
"Apa terjadi sesuatu tuan? kenapa mobil anda..." Marvel tak bisa melanjutkan kalimatnya saat mendengar tarikan napas panjang dari Alvin.
"Saya tidak bisa menghadiri acara ulang tahun Allura." ucap Alvin akhirnya.
"Heuh?" Lagi-lagi Marvel mengerutkan keningnya. Apalagi saat Alvin memegang kotak hadiah yang akan diberikan kepada nona Allura. "Kenapa tuan?"
"Saya tidak bisa menjelaskan sekarang. Saya butuh waktu untuk menenangkan diri."
"Apa anda...."Lagi-lagi Marvel hanya bisa menangguhkan kalimatnya.
"Katakan saja aku ada urusan mendadak yang tak bisa ditinggalkan dan ini..." Alvin mengulurkan tangannya dan memberikan kotak berwarna merah kepada Marvel. "Berikan ini kepada Allura."
Marvel dengan cepat menerimanya. Ia masih bingung dengan situasi ini. Tapi ia tidak bisa berbuat apa-apa.
"Pergilah!"
"Sekarang pak?"
Alvin berdecak. "Jadi maksudmu besok, lusa?"
Marvel dengan cepat menundukkan kepalanya. "Baik pak."
Alvin langsung meninggalkan tempat itu. Sementara Marvel tak bisa mencegat kepergian Alvin. Ia menarik napas panjang. Mau tidak mau, ia memang harus pergi ke acara ulang tahun Allura.
FLASH BACK OFF.
πΈπΈπΈπΈ
Alvin melepaskan lamunannya. Tangan mengepal kuat. Ruangan itu kembali hening, bahkan suara jantungnya sampai terdengar oleh Marvel sendiri. Alvin masih tetap diam dan tidak mau bicara. Marvel tidak bisa berbuat apa-apa selain menunggu.
SEPULUH MENIT BERLALU.
Alvin menarik napasnya dalam-dalam dan langsung membalikkan badannya. Ia duduk di kursi beroda empat itu tanpa memandang Marvel.
Marvel tersenyum samar melihat Alvin sudah duduk kembali. Ia langsung merubah posisinya menghadap ke arah Alvin.
"Persiapkan mobil. Saya ingin bertemu Ele."
Deg!
Tiba-tiba wajah Marvel berubah saat mendengar kalimat itu.
BERSAMBUNG.....
^_^
Tolong dukung ya my readers tersayang. Ini Novel ketujuh aku π
Salam sehat selalu, dari author yang cantik buat my readers yang paling cantik.
^_^
__ADS_1