
💌 LOVE OF FATE 💌
🍀 HAPPY READING 🍀
.
.
...Jangan pernah memanfaatkan orang lain hanya untuk mendapatkan sesuatu yang kamu inginkan. Apakah kamu tahu, betapa sakitnya hati ini saat dijadikan taruhan....
🔸🔸🔸🔸🔸
Ele dan Alvin memutuskan berangkat ke kota setelah acara bazar selesai, ia tidak mau mengecewakan sahabatnya Amira. Mereka tiba di halte dan menunggu kedatangan bus pukul dua siang.
"Kita mau kemana Alvin?" Tanya Ele dengan tatapan berbinar. Ia begitu bahagia saat di ajak jalan seperti ini, apalagi ke kota dan menginap di sana. Ele sampai memilih pakaian terbaiknya. Ia berpenampilan anggun dan fashionable. Kaos fashion item dan celana jeans yang pas untuknya.
Ele benar-benar sudah tidak sabar menunggu kejutan itu. Kira-kira seperti apa iya? Ele tersenyum khayal. Apakah kejutan itu sesuai yang diharapkannya. Ele berharap Alvin melamarnya. Seperti yang dilakukan pasangan pada umumnya. Seketika kupu-kupu berterbangan dari dalam hatinya hanya memikirkan itu. Ia sangat bahagia, menunggu momen indah itu. Wajahnya memerah malu saat Ele membayangkan lamaran romantis dari Alvin. Senyumnya tak bisa diajak diam. Terus melengkung dengan perasaan hati menggelitik.
"Ada deh..." Kata Alvin membuat Ele semakin penasaran.
"Hhhmm," Ele bergumam sambil membengkokkan bibirnya, menatap sekilas ke arah Alvin yang terus memegang tangannya. "Kau tidak mau menjawabnya?" Kata Ele dengan bibir mengerucut.
"Itu rahasia, sayang."
"Heuh? sayang? Alvin mengatakan sayang?" Setelah sekian lama menunggu momen itu, akhirnya Alvin berani mengatakan sayang. Walau terkadang Ele sudah memancingnya dan selalu memanggil sayang, namun Alvin tidak pernah membalasnya. Tangan Ele terlepas, menatap Alvin lekat. "Kau memanggilku Sa-sayang? " Ele berkedip cepat, masih tak percaya.
Alvin terkekeh dan melihat ke arah Ele. "Ehmm, kenapa? Ada yang salah?" jawabnya lagi sambil mencondongkan tubuhnya mendekat ke arah Ele.
Ele tersenyum malu sambil memalingkan wajahnya. "Tidak kok. Tidak ada yang salah."Jawabnya cepat sambil menjepit bibirnya.
"Hari ini, besok, bahkan sampai seterusnya, aku akan memanggilmu dengan sebutan yang sama."
Alvin tersenyum tanpa memandang Ele. Ia menarik tangan Ele semakin dekat dengannya. Wajah Ele bersemu merah. Ia masih salah tingkah. Baru kali ini ia mendengar kalimat 'Sayang'. Apakah seindah ini memiliki kekasih? Sekali pun ia tidak pernah mendapatkan balasan cinta yang tulus seperti Alvin lakukan. Ele pernah merasakan cinta dari seseorang, saat ia duduk di bangku SMA. Namun semua itu hanyalah palsu.
Bahkan untuk mengingatnya saja, ia tidak ingin. Ele merasa malu pada dirinya sendiri. Heeeehhh... Ia membuang napas sambil menutup matanya. Kenangan pahit itu muncul kembali ke permukaan. Ele menarik napasnya dalam-dalam. Matanya menatap lurus ke depan.
FLASH BACK ON.
Seluruh siswa berhamburan keluar dari kelas setelah bel istirahat berbunyi. Ele saat itu menggunakan jaket bewarna kuning melangkahkan kakinya keluar, menyusuri barisan kelas untuk sampai di kantin. Ele gadis pendiam, namun di sukai banyak guru karena kepintarannya.
Terlihat dari arah kejauhan, kantin sudah ramai dengan barisan antrian mengambil makanan. Ia pun mengurungkan niatnya dan kembali lagi menyelusuri barisan kelas. Rencananya Ele akan beli minuman di luar kantin sekolah.
“Berhenti, Ele!" Seorang lelaki berlari ke arahnya. "Ada sesuatu yang mau aku bicarakan,”
__ADS_1
Langkah kaki Ele mendadak berhenti. Seorang pria berkulit putih tiba-tiba berhenti di depannya. Ele menggaruk kepalanya yang tidak gatal, tidak tahu maksud dari pria itu. Pria yang berdiri di depannya adalah itu adalah bernama Angelo siswa paling populer di sekolah ini. Ia dulunya aktif di OSIS dan organisasi lainnya. Ia juga murid yang pintar dan menjadi incaran para siswi di sekolah ini.
“Kamu mau bicara apa? apa kamu butuh bantuan?” tanya Ele salah tingkah, saat semua siswa pada melihat ke arah mereka.
“Ele, aku menyukaimu, aku menyukai semua tentang kamu. Jadilah pacarku Ele, kamu mau kan?” ucap Angelo gugup.
Mata Ele terbelalak saat melihat Angelo duduk jongkok sambil memberikan sebuah bunga mawar kepada Ele. Ele semakin kebingungan karena menjadi pusat perhatian. Semua pasang mata menatap dirinya yang sedang ditembak di depan sekolah.
Pipi Ele mendadak merah merona seperti tomat segar yang baru dipetik. Ia sangat gugup dan malu, tidak percaya ada seseorang yang menembak dirinya seromantis ini. Di tempat ramai dan dikelilingi banyak orang.
“TERIMA…. TERIMA… TERIMA… TERIMA….” sorak sorai orang-orang menyuruh Ele menerima cinta dari Angelo.
Dengan malu-mau Ele mengambil setangkai bunga mawar. Tanpa ragu Angelo langsung memeluk Ele dan semua orang bersorak kegirangan di sana. Namun Ele tidak tahu jika ia menjadi taruhan Allura di sana. Sementara Allura tersenyum sinis, memandang mereka dari lantai dua gedung sekolah.
7 Hari kemudian.
Ele tidak nyaman, saat Angelo mulai berani menciumnya, namun Ele menolaknya. Karena penolakan Ele, Angelo begitu marah dan memaki Ele.
"Sok lugu kamu, disentuh gak boleh, dicium gak boleh. Maunya kamu apa, coba?"
"Heuh? apa maksudmu?" Ele mengerutkan keningnya saat mendengar perkataan Angelo.
"Aku tidak pernah mencintaimu, Ele. Kau hanya bahan taruhan aku dan Allura."
Mendengar nama Allura, Ele semakin dibuat bingung apalagi mendengar kata taruhan. Apa maksudnya? Ele terdiam di sana, masih mencerna dan mencoba mengerti.
Ele memejamkan matanya, ia menarik napasnya dalam-dalam, mencoba bersabar dengan sikap Angelo. "Terserah, kalian mau menilaiku seperti apa." Kata Ele bangun dari duduknya dan ingin meninggalkan Angelo.
"Aku dan Allura sengaja taruhan. Ia memberikanku uang jika aku berhasil merusakmu. Namun sepertinya kau sulit untuk ditaklukkan." Kata Angelo dengan lantang dan berhasil menghentikan langkah Ele. Ia diam membeku dan tidak berbalik, langkahnya seperti terpaku.
"Kau mengerti, aku tidak pernah mencintaimu, Allura. Kau hanya gadis bodoh yang mudah diperdaya. Itulah aku tertarik untuk menerima taruhan ini." Lanjut Angelo, ia sengaja mengucapkan kata-katanya dengan jelas.
Wajah Ele semakin menegang, kakinya gemetar, dia memegang dinding untuk tumpuannya agar dia tidak terjatuh. Ele berusaha bersikap tenang dan berbalik memandang ke arah Angelo yang sudah berdiri dihadapannya.
"Apa kamu pikir, aku akan percaya dengan semua itu?" mata Ele berkaca-kaca.
"Itu adalah kebenaran yang harus kau terima. Jika kau tidak percaya, kau bisa langsung tanyakan kepada Allura. Allura memberikanku uang untuk menikmati tubuhmu."
Ele menutup mulutnya. Ia memundurkan langkahnya ke belakang, kepalanya menunduk dan menggeleng pelan, ia tidak percaya dengan apa yang di dengarnya. Allura sengaja melakukan itu?
Melihat perubahan wajah Ele, Angelo tertawa. "Hahahahaha, aku tahu kamu terkejut. Tapi itu kenyataannya Ele. Aku tidak pernah mencintaimu. Jadi hubungan kita sampai di sini saja."
Ele masih benar-benar shock. Ia hanya terus melangkah mundur. Tangannya mengepal kuat. Emosinya hampir meledak. Lalu dengan cepat membalikkan tubuhnya dan berlari cepat tanpa sepatah kata pun. Ia menangis tiada henti saat itu.
FLASH BACK OFF.
__ADS_1
Ele menarik napas dalam-dalam sambil melepaskan lamunannya. Kenangan buruk itu tak pernah ia lupakan. Dulu, ia sempat meragukan Alvin. Namun Alvin benar-benar tulus mencintainya. Selalu memberikan kejutan, yang menyentuh hatinya.
"Ele, kamu melamun?"
"Heuh?" Ele menggerjap beberapa kali. "Apa?"
"Kamu melamun sayang, lihat wajahmu terlihat bingung." Kata Alvin mengecup punggung tangan Ele dengan posesif. "Apa yang kamu pikirkan, hemm?"
"Aku memikirkan kemana kau akan membawaku."
"Itu lagi?"
"Iya. Sekarang katakan, mau kemana kita?"
Alvin tersenyum sambil menggelengkan kepalanya. "Tidak, aku tidak akan mengatakannya." Ucapnya menatap lurus.
Ele mendengkus. Melepas tangannya dari genggaman Alvin. Ia membuang muka, bersikap merajuk dengan tangan melipat di depan dada.
Alvin menatap ke arah Ele. Ia semakin gemas dengan tingkah Ele.
"Sayang, kalau aku memberitahumu berarti itu bukan kejutan.Tunggu saja, kau akan tahu tempatnya dan pasti menyukainya."
"Kau tahu, aku paling tidak suka menunggu. Aku orangnya tidak sabaran. Kasih gambaran kek. Apa susahnya sih?" desak Ele dengan wajah memelas. Ia memang dikenal dengan sikap memaksanya.
Alvin menggelengkan kepalanya. Ia masih tetap dengan pendiriannya. "Tidak bisa, nanti kau akan tahu sendiri. Kau sengaja menggodaku dengan bibir manyunmu itu? Kau mau aku dicium di sini?" Ucap Alvin tersenyum dengan seringai nakal.
"Heuh?" Mata Ele terbelalak. "Mencium?"
"Hmm, aku akan menciummu di sini."
Ele menoleh ke kiri dan ke kanan. Tidak mungkin mereka melakukan di tempat seperti ini. Cukup Alvin membuatnya kejang saat malam tadi. Jika itu terjadi lagi, yang ada Ele akan pingsan. Ele memilih mengalah dan tidak bertanya lagi soal tujuan mereka.
Bus berhenti tepat di depan mereka. Alvin naik lebih dulu dan kemudian mengulurkan tangannya memegang tangan Ele. Mereka segera masuk dan memilih duduk di belakang. Ele duduk di dekat kaca. Tenang rasanya jika sudah berada di dalam bus. Penumpang bus agak ramai. Walau ini pengalaman pertama untuk Alvin. Tapi ia tetap menikmati perjalanannya. Bus pun bergerak perlahan dengan empat puluh enam penumpang di dalamnya dan meninggalkan halte. Lalu lintas lancar, bus pelan menyusuri jalanan dan melaju meninggalkan pedesaan.
Tampak lelah, keduanya tidur, namun beberapa saat kemudian Alvin bangun, sementara Ele di sampingnya masih terlelap. Alvin tersenyum sambil mengusap-usap pipi Ele dengan lembut. Di tengah gerah keringetan dan liukan maut bus yang ugal-ugalan, Alvin mempertahankan posisi, mencoba menahan kepala Ele agar tidak terbangun dari tidurnya. Tiap kali bus meliuk, Alvin merelakan tangannya bertahan di posisi pipi Ele selama lebih dari sepuluh menit, agar Ele nyaman dengan tidurnya. Alvin tak perduli jika tangannya sudah pegal.
Gedung-gedung mulai terlihat menjulang menuding angkasa berpadu mesra dengan langit yang cerah. Alvin menatap keluar jendela, melihat ke arah jalanan yang dilewati. Jalanan terlihat sepi dan nyaris tidak ada manusia yang terlihat di pinggiran jalan. Yang terlihat hanyalah pohon-pohon besar dan tinggi yang berjajar pada sisi kanan dan kiri. Alvin masih membiarkan Ele tertidur dalam dekapannya, sambil tersenyum sesekali.
BERSAMBUNG.....
^_^
Tolong dukung ya my readers tersayang. Ini Novel ketujuh aku 😍
Salam sehat selalu, dari author yang cantik buat my readers yang paling cantik.
__ADS_1
^_^