LOVE OF FATE

LOVE OF FATE
MENUNGGU KEHANCURAN


__ADS_3

πŸ’Œ LOVE OF FATE πŸ’Œ


Β 


πŸ€ HAPPY READING πŸ€


.


.


ALLURA CATHY.



...Obat sakit cinta ialah cinta. Temukan cinta baru. Berharaplah terus agar suatu hari bisa menemukan yang lebih terbaik....


πŸ”ΈπŸ”ΈπŸ”ΈπŸ”ΈπŸ”Έ


Allura tidak masuk ke kantor dan hanya mengurung dirinya di dalam kamar. Ia bahkan tidak mengaktifkan handphonenya. Allura masih butuh waktu sendiri setelah gagal menikah dengan kekasih hatinya. Semenjak kepergian Alvin, keluarga Smith sampai saat ini belum menemukan keberadaannya. Marvel bahkan datang ke apartemennya. Untuk sekedar menanyakan kabarnya. Namun Allura memilih tidak Ingin bertemu. Ia masih shock dengan semua ini. Kejadian itu membuatnya lemah. Allura tidak tahu harus berkata apalagi.


Ia banyak menangis. Bagaimana Alvin yang begitu mencintainya tega meninggalkannya. Ia masih bertahan dengan kesedihan itu. Mengutuk diri. Mengutuk sekitar. Mengutuk keadaan. Pikiranku kacau, semua perasaan campur aduk. Sedih, marah, kecewa. Benci adalah kata yang tepat, tapi ia tidak tahu harus meluapkan pada siapa. Allura bahkan mencari informasi dari teman terdekat, sampai menimbulkan kekacauan yang terus menjelma menjadi benang kusut yang tak kunjung terurai.


Allura sekarang putus asa, pencariannya tak lagi dilanjutkan. Ia menatap ke arah luar jendela. Menarik napasnya lalu mengembuskannya sekaligus. Cara terbaik untuk memenangkan hatinya.


Sementara pembantu yang bekerja di apartemennya, mondar-mandir di depan kamar Allura sambil memegang baki di tangannya. Ia diam, tak lama kemudian berjalan lagi. Ini adalah hari ketiga Allura mengurung diri di kamar dan tidak makan. Hatinya tidak tenang melihat kondisi Allura.


Tok! tok! tok!


"Nona Allura," Panggil Wanita paruh baya itu mengetuk pintu kamar Allura dengan pelan.


Belum ada sahutan dari dalam, wanita itu kembali mengetuk pintu. "Nona Allura, apa aku bisa masuk? Aku membawakan spring roll keju untuk anda."


Allura hanya tersenyum samar, lalu menarik napasnya dengan singkat. Ia lalu bangun dari duduknya untuk membuka pintu kamar. Raut wajahnya kusam, matanya sembab, rambutnya acak-acakan. Ia seperti bukan Allura yang dikenalnya.


"Nona, aku membawakan makanan ringan untukmu. Aku lihat beberapa hari ini anda tidak napsu makan non. Jadi aku membeli roti keju yang anda suka."


"Terima kasih bu." ucapnya datar dan mengambil baki itu dari tangan wanita itu, ia kembali melangkah masuk dan duduk di sisi ranjang kasurnya.


"Hmmm.." Hidung wanita itu mengendus, "Anda bisa rasakan aroma kejunya yang menyergap indera penciuman kita. Benar-benar membius pikiran untuk cepat-cepat menikmatinya. Anda harus menghabiskannya nona." ucap wanita itu tersenyum sambil lembut kepada Allura.


Allura tersenyum kecil sambil memandang ke arah wanita paruh baya itu, lalu menatap baki yang berisi spring roll keju yang enak. Tapi ia sedikit pun tidak menyentuhnya.


Wanita itu mengerutkan keningnya, "Anda tidak suka? saya rela antri agar bisa mendapat macaroni dan spring roll keju ini." Kata Wanita itu tersenyum sambil menunjukkan deretan giginya. Ia mengambil satu dan memberikan kepada Allura. "Makanlah nona, anda harus semangat lagi. Jangan bersedih seperti ini." lanjut wanita itu dengan suara terendahnya.


Allura mengangkat wajahnya dan kembali menatap wanita yang setia kepadanya. Ia segera mengambilnya dari tangan wanita itu. "Maafkan aku sudah membuatmu khawatir."


"Ehmm, jika anda tidak ingin saya khawatir. Anda harus makan dan menghabiskan semuanya."


Allura terkekeh, lalu mengangguk. "Aku akan memakannya bu." ucapnya memasukkan spring roll ke dalam mulutnya.


Wanita itu menatap lurus dan membiarkan Allura menikmati makanannya. Ia menarik napasnya dalam-dalam dan berucap lembut. "Nona Allura? percayalah akan anda lelaki baik yang datang mengobati lukamu."


Allura menarik napas singkat, lalu tersenyum lembut, "Aku pasti kuat bu." jawab Allura.


"Tadi tuan Arlo datang lagi non. Dia mengirimkan bunga untuk anda."

__ADS_1


Allura menghentikan aktifitas makannya. Ia diam membeku dengan pandangan kosong. Ia memilih diam dan tidak menjawab.


Wanita itu mengambil tangan Allura. Ia memberikan usapan pelan ke tangannya. Seperti seorang ibu yang memberikan perhatian kepada anaknya.


"Sepertinya tuan Arlo mencintai anda."


Allura hanya menunduk dengan mata berkaca-kaca.


"Nona, lihat aku!"


Allura mengangkat wajahnya dan menatap langsung wanita itu.


"Coba buka hatimu untuk tuan Arlo. Mungkin ia bisa mengobati hatimu yang terluka."


"Tapi aku mencintai Alvin."


"Tapi non,,,"


Allura dengan cepat memotongnya. "Jangan ikut campur dengan kehidupanku. Kau bisa keluar!" Ucapnya dingin tanpa memandang wanita itu.


Wanita menarik napas dalam-dalam, lalu menganggukkan kepalanya. Ia bangun dari duduknya dan melangkah keluar tanpa sepatah kata. Saat pintu tertutup, Allura langsung menarik napasnya yang begitu berat. Matanya seketika berkaca-kaca. Hidungnya perih dan dadanya begitu sesak. Sekarang yang menjadi pertanyaannya, apakah Alvin mengetahui semuanya?


"Maafkan aku sayang. Maafkan aku! Tapi percayalah Aku tulus mencintaimu. Aku hanya buta dengan duniawi." Ucap Allura menangis. Air bening itu tumpah lagi. Menggambarkan betapa sakit hatinya. Ia menyesal telah menghancurkan hubungannya dengan Alvin.


πŸ”ΈπŸ”ΈπŸ”ΈπŸ”ΈπŸ”Έ


Siang hari, Allura sudah siap dengan penampilan terbaiknya. Ia menyisir rambutnya dengan rapi. Menjepit setengah rambutnya ke belakang dengan jepitan yang mengkilap yang biasa ia gunakan. Ia menggunakan blouse berwarna peach lengkap dengan ikatan pita dikerah baju. Bawahannya menggunakan rok model pencil.


Allura berdiri di depan cermin untuk melihat pantulan dirinya. Ia menarik napas dalam-dalam, mencoba untuk menenangkan dirinya. Allura sudah mencoba untuk menghilangkan sembab di matanya. Namun hal itu sangat sulit ia lakukan. Allura menunduk sejenak. Jantungnya kembali terpukul kencang. Jari-jari tangannya terasa dingin. Ia kembali menguatkan hatinya. Tujuannya hanyalah satu yaitu ingin bertemu Tuan Smith.


"Aku pasti bisa melalui semua ini. Jangan takut Allura. Kau pasti bisa." Ia menatap dirinya dengan yakin. Dengan meremas tas yang ada di tangannya. Allura pun siap untuk berangkat menemui keluarga Smith.


"Nona Allura, anda mau keluar?" Wanita paruh bayah itu langsung bergegas menghampiri Allura. Ia sedang menyiapkan makan siang untuk Allura.


"Hmm. Aku ingin bertemu seseorang."


Wanita itu tersenyum. "Kau begitu anda makan dulu nona."


Allura mengangguk membalas senyuman itu. "Terima kasih bu."


"Tidak perlu berterima kasih, ini sudah tugas saya. Apalagi tuan Alvin berpesan untuk merawat anda dengan baik." Wanita itu menggeser kursi agar Allura duduk.


Saat itu juga dada Allura kembali sesak. Ya, Alvin mencarikan wanita yang bisa merawatnya seperti anaknya sendiri. Dan wanita ini bisa membuktikannya. Ia memberikan kasih sayangnya lewat perhatiannya.


"Silakan duduk non," ucapnya segera membuka celemek kain yang dikenakannya. Ia berjalan melipat celemek tersebut. Menyimpannya ke laci yang ada di dapur. Ia kembali ke depan dan menemani Allura menyantap makan siangnya.


Suasana seketika hening, Allura makan dengan posisi santai dan fokus ke makanan yang ada di depannya. Hanya bunyi sendok yang saling bersentuhan di atas piring.


Dddrrrttt Dddrrrttt


Handphone Allura tiba-tiba berbunyi. Ia melirik sekilas dan membiarkan benda pipih itu bergetar. Allura memang sengaja tidak mengangkat panggilan itu. Ia memilih mengabaikannya. Namun kembali handphonenya berdering. Allura berdecak malas. Dari wajahnya terlihat jelas, ia tidak suka. Wajahnya mengerucut saat melihat nama yang tertera di layar dengan tulisan 'memanggil' itu.


Akhirnya Allura mengangkatnya sebelum panggilan itu berakhir.


"Hallo?" jawabnya dengan ketus.

__ADS_1


"Kenapa lama sekali mengangkat teleponnya?"


"Aku tidak suka saat kau menghubungiku." jawabnya dingin.


"Kau tidak bisa seperti ini terus, kau terikat denganku, Lura."


"Cih...Aku tidak pernah menganggap seperti itu. Kau terlalu percaya diri."


"Aku pastikan kau yang datang sendiri kepadaku."


"Tidak. Aku tidak ingin bertemu denganmu. Aku sudah memutuskan untuk bertemu dengan uncle Lukas."


"Apa?????? Jangan bodoh Lura. Apa kau sudah gila!"


"Tidak, aku waras dan aku melakukan itu dalam keadaan sadar."


"Jangan lakukan itu, jangan buat kesabaranku habis Lura. Kau akan menyesal!"


"Apa kau pikir aku menginginkannya. Aku ingin melepaskan beban ini dan aku memilih menyerah." protes Allura tidak suka.


"Jika kau berani melakukan itu, aku tidak akan membiarkanmu hidup. Keluargamu dan kakakmu yang brengsek itu, akan kubuat kalian hidup dipinggir jalan. Kau paham?" ucapnya berubah tegas di ujung kalimat.


"Bagaimana jika aku tetap melakukannya?" Allura menjeda sebentar kalimatnya untuk menarik napas. Pria itu mengerutkan dahi, menanti dengan tidak sabaran.


"Bagaimana jika aku tetap menjalankan rencanaku?" ucap Allura melanjutkan kalimatnya.


Lagi pria itu duduk dengan angkuh dan tersenyum smirk. "Jangan bermain-main denganku sayang. Kau akan terima konsekuensinya. Dalam hitungan detik, keluargamu akan hancur." ucapnya dengan pancaran garang dan penuh amarah. "Sekarang jawab apa alasanmu?" kilatan marah masih memancar di bola matanya.


"Karena aku tidak ada pilihan, keluarga Smith harus tahu ini."


"Kau tidak tahu bagaimana brengseknya keluarga itu, saat kau mengakui semuanya. Apa kau pikir akan selamat dari mereka?"


TIT


Allura mematikan teleponnya. Ia tersenyum penuh kemenangan.


"Hallo...hallo....? Oh shiiittt..!" pria itu berteriak, tapi sambungan itu sudah mati. Ia mencoba menghubunginya lagi.


NOMOR YANG ANDA TUJU SEDANG TIDAK AKTIF ATAU BERADA DI LUAR JANGKAUAN. COBALAH BEBERAPA SAAT LAGI.


"Dasar tolol, bodoh..." Ia menghempas handphonenya ke dinding kamarnya.


PRANGGGGG!


"Kau tidak akan berani melakukan itu Allura. Aku tahu siapa dirimu. Kau hanya ingin mengambil keuntungan dari masalah ini." Desis pria itu dengan mata menyalang tajam. Ia mengepalkan tangannya begitu kuat lalu tersenyum jahat. Matanya berkilat. Senyum di bibirnya semakin keji.


"Hahahaha...Aku tidak bodoh Allura." Tawanya terdengar begitu kejam dan mendominasi ruangan. Bahkan semakin besar, di sela-sela tawanya ia berucap.


"Kehancuran keluarga Smith tinggal menunggu waktu. Aku sudah tidak sabar menunggu detik-detik kehancuran itu." Sorot matanya semakin gelap, sudut bibirnya langsung melengkung ke atas dan raut wajahnya berubah gahar.


BERSAMBUNG.....


^_^


Tolong dukung ya my readers tersayang. Ini Novel ketujuh aku 😍

__ADS_1


Salam sehat selalu, dari author yang cantik buat my readers yang paling cantik.


^_^


__ADS_2