
๐ LOVE OF FATE ๐
ย
๐ HAPPY READING ๐
.
.
...Keingintahuan akan mengalahkan rasa takut, bisa memecahkan rasa penasaran. Bahkan lebih dari keberanian untuk melangkah maju....
๐ธ๐ธ๐ธ๐ธ๐ธ
Ele melangkah gontai saat memasuki cafe miliknya. Pengunjung hari ini nampak sepi. Ele bersandar di daun pintu. Ia memegang dadanya, mendongak ke atas sambil menutup rapat matanya. Pikirannya berkecamuk dengan segala gejolak. Ele menarik napas dalam-dalam, lalu membuangnya dari mulut.
Dari arah dapur muncul Oliv. Ia terkejut saat melihat bosnya sudah kembali. Oliv berjalan dan menghampiri bosnya itu.
"Sudah pulang, bu?"
Ele perlahan-lahan membuka matanya dan melihat ke arah Oliv. "Hmm, sudah Oliv." Jawabnya tersenyum.
"Kenapa cepat sekali? Dimana pria tampan itu, bu?" Oliv mengedarkan pandangannya, melihat ke arah luar.
"Sudah pulang." jawabnya dengan singkat.
Oliv tersenyum mendekat ke arah Ele. "Ibu diam-diam ternyata memiliki kekasih. Tampan lagi. Apa ibu sudah lama menjalin hubungan dengan pria tampan itu?" bisik Oliv tersenyum. Rasa penasarannya mencuat kepermukaan.
Ele tersenyum, membayangkan wajah Alvin. "Bisa dikatakan cinta lama bersemi kembali."
"Wahhhh...."Oliv tepuk tangan dengan antusias. "Luar biasa. Ini namanya cinta sejati ibu. Aku juga berharap seperti itu, bisa bertemu dengan cinta sejatiku. Pasti sangat menyenangkan."
Ele tersenyum tipis melihat reaksi Oliv. "Teruslah berdoa. Niscaya, kau akan dipertemukan dengan cinta sejatimu."
"Benar bu. Aku jarang menemukan kisah seperti ini. Adanya di drama korea saja." Oliv tertawa lagi. Ia adalah salah satu pecinta drama korea. Tapi seketika senyumnya hilang saat melihat wajah bosnya itu. "Tapi kenapa wajah ibu tak bersemangat. Apa terjadi sesuatu?" tanya Oliv.
"Apa terlihat seperti itu?"
"Hmm. Ibu seperti wanita yang putus cinta."
Ele tersenyum sambil melangkah. Ia duduk di kursi sambil memijat punggungnya yang terasa pegal. Ia memutarnya berulang-ulang agar otot-ototnya tidak tegang lagi.
"Apa benar tebakanku, bu Ele?"
Ele menghentikan aktivitas memijitnya. Ia menunduk sedih. "Pikiranku benar-benar kacau hari ini Oliv,"
"Kenapa bu? apakah orangtuanya tidak merestui hubungan kalian?"
Ele menggeleng sambil menarik napas berat. "Aku pikir hubungan kami akan berjalan baik-baik saja. Tapi sepertinya wanita itu belum bisa melepaskan Alvin."
"Heuh? Maksudnya bu?"
"Ceritanya panjang Oliv, aku tidak bisa menceritakan sekarang."
__ADS_1
"Apa maksud ibu, ada orang ketiga di antara hubungan kalian?"
"Orang ketiga?" Ele tersenyum miris. "Aku rasa seperti itu."
Spontan Oliv menggebrak meja sampai membuat Ele terkejut. "Seharusnya ibu memberi pelajaran pada wanita itu. Orang seperti itu jangan didiamkan bu. Sekarang temui dia, jika perlu tarik rambutnya dan permalukan wanita j*lang itu."
"Hah? Apa harus seperti itu?"
"Iya dong bu. Pelakor harus dimusnahkan. Jangan biarkan wanita itu merusak hubungan kalian. Aku dukung. Atau aku harus ikut? Aku bisa pastikan dia tidak akan pernah berani muncul lagi."
Ele diam sesaat. Sepertinya ia mendapat pencerahan dari Oliv. Akhirnya Ele memutuskan menemui Allura. Benar kata Oliv. Menghadapi wanita itu, harus dengan cara bertemu langsung. Ele tidak mau hubungannya hancur begitu saja. Bagaimana mungkin Allura masih berani mengemis cinta kepada Alvin. Sementara Alvin sudah melepaskannya.
Ele setengah berlari masuk ke dalam ruangan kerjanya. Oliv sampai di buat kaget melihat ekspresi tiba-tiba bosnya itu.
"Ibu mau kemana?"
Ele tak menjawab, ia hanya mengambil kunci mobil dari atas meja dan melangkah panjang melewati Oliv.
"Ibu mau menemui wanita itu?"
"Iya Oliv. Aku harus bertemu dengannya."
"Aku dukung bu. Jika ibu memerlukan bantuan. Aku siap kapan saja."
Langkah Ele langsung berhenti. Ia segera membalikkan badannya dan mendekat ke Oliv. "Terima kasih Oliv. Tugasmu sekarang, jaga cafe ini. Oke?"
"Siap bu. Dilaksanakan!" Jawab Oliv cepat dan tegas. "Hati-hati di jalan bu! kabari aku jika ibu sudah memberi pelajaran kepada wanita sialan itu."
Tidak ada sahutan dari Ele, ia hanya terus berjalan menuju mobil mewahnya. Ele langsung membanting pintu dan duduk di bagian kemudi. Ia memutar mobilnya dengan cepat sampai pedal gasnya diinjak terburu-buru dan menghasilkan decitan ban yang menggesek aspal.
Jantungnya terpukul kencang, ikut tertahan di dada dengan segala gejolak yang muncul.
Ia terus membawa mobilnya melaju dengan kecepatan tinggi. Bahkan ia menyalip beberapa mobil yang menghalangi jalannya
SEMENTARA DI SISI LAIN.
Alvin menarik rem tangan dan memilih tidak langsung turun dari mobilnya. Ia menatap ke arah parkiran dimana Alvin bertemu dengan Ele. Alvin tersenyum kecil sambil mengusap dagunya. Alvin benar-benar tidak menyangka dipertemukan kembali dengan Ele. Ini berkat doa yang selalu dipanjatkannya. Alvin harus selalu melakukan itu untuk kebahagiaan hubungan mereka nanti. Bukan apa-apa, Ia hanya ingin berterima kasih pada Tuhan bahwa betapa bersyukurnya Alvin memiliki Ele. Dengan cara berdoa inilah salah satu cara bagaimana ia begitu mencintai Ele. Bagaimana rasa bahagianya ia saat ini. Ele berbeda dari wanita yang ditemukannya.
Hingga sampai saat ini sebelum bertemu dengan Ele. Alvin memutuskan untuk setia dan tetap menunggu Ele. Dan kini cinta mereka dipertemukan kembali. Yang Alvin inginkan hanyalah menjalani hari-hari yang lebih bermakna untuk selalu bersamanya. Melawan rintangan yang menghadang dimasa mendatang untuk menguji seberapa kuatnya mereka. Alvin ingin membawa Ele segera bertemu dengan ayah dan ibunya. Ia yakin, suatu saat kesetiaan ini akan berbuah hasil yang membahagiakan, yang dapat mengantarkan mereka kepada tujuan terakhir yaitu menuju pelaminan.
"Percayalah sayang! Jangan pernah meragukan ketulusanku." ucap Alvin di sana.
Alvin menarik napasnya dalam-dalam dan menatap sejenak hotel mewah itu.
TOK TOK TOK
Alvin tersadar ketika seorang lelaki berpakaian putih mengetuk kaca mobilnya. Alvin memalingkan wajahnya melihat ke samping. Ia menurunkan kaca mobilnya.
"Permisi tuan, dilarang parkir di sini. Anda bisa parkir di sebelah sana." tunjuk pria itu sebelah kirinya.
"Saya minta maaf pak."
"Kami yang seharusnya minta maaf tuan, karena tidak membuat petunjuk dilarang parkir di sini."
__ADS_1
Alvin mengangguk tersenyum, ia kembali menghidupkan mesin mobilnya. Saat melihat kaca spion yang ada di tengah mobilnya, Alvin langsung melihat ke belakang. Ada tas tertinggal di dalam mobilnya. Ia pun mengambilnya.
"Bukankah itu tas Ele?" Alvin memperhatikan tas itu.
"Astaga, benar. Ini adalah tas Ele. Bagaimana ia bisa melupakan tasnya." Alvin tersenyum sambil menggelengkan kepalanya. Tidak ingin menunggu, Alvin memutar mobilnya dan memilih kembali ke cafe.
๐ธ๐ธ๐ธ๐ธ๐ธ
DUA JAM KEMUDIAN.
Ele berhasil memarkirkan mobil dengan baik setelah tiba di tempat tujuannya. Ia membuka pintu mobil dan mengarahkan kunci remote ke arah mobil.
"Benarkah ini alamatnya?" Ele membuka handphonenya dan melihat alamat itu kembali.
"Alamatnya benar dan tidak salah. Tapi yang menjadi pertanyaan sekarang. Kenapa Allura memilih tinggal di sini?" Ele masih tak percaya saat melihat bangunan yang sudah terlihat tua itu. Tiba-tiba perasaan Ele tidak enak. Ia melihat jam yang ada pergelangan tangannya menunjukkan pukul sembilan malam.
"Tapi aku tidak bisa menunggu untuk besok, aku harus bertemu dengannya."
Rasa penasarannya yang amat mendalam mengalahkan rasa takutnya. Hatinya kembali tergerak untuk melangkahkan kakinya menuju gedung tua itu. Ele perlahan melangkah sembari melihat ke arah kiri dan kanan. Ele berdiri dihadapan pintu besar yang menjulang tinggi ke atas, pintu yang terbuat dari besi yang tampak sudah berkarat dan agak sedikit terbuka.
"Mungkin ini pintu masuknya." Pikirnya.
Akhirnya Ele memberanikan diri untuk masuk ke dalam, Ia langkahkan kakinya melewati pintu besar itu. Ele sempat menoleh ke atas gedung sebelum masuk, terlihat jendela dilantai tiga masih tetap terbuka lebar.
Sesampainya di dalam gedung Ele merasakan aura yang sangat luar biasa, Ia berdiri tegak dengan kulit-kulit ari yang terasa kaku. Seluruh tubuhnya merinding. Kepalanya tidak bisa diam, sulit sekali rasanya mengontrol kepalanya yang selalu menoleh ke setiap sudut gedung. Tembok-tembok di setiap sisi gedung berwarna hitam remang karena hanya diterangi oleh satu lampu besar di tengah-tengah atap gedung. Tidak ada satu pun benda yang Ele dapati, namun di depan, di sudut depan ada sebuah tangga yang menghubungkan lantai satu dengan lantai di atasnya.
Harusnya dia berhenti, namun rasa penasaran yang bertambah besar mengalahkan rasa takutnya. Dia mulai menapaki anak-anak tangga itu satu persatu. Tiba-tiba ada suara di belakangnya.
"Braaaaaaaak"
"Suara apa itu?" Mata Ele melotot sempurna.
Bunyi itu bersumber dari pintu besar yang akan dimasukinya. Pintu berat itu menutup seketika. Bunyinya yang mencekam membuat Ele panik, dengan penuh ketakutan Ia berlari terburu-buru menuju ke atas. Karena sangat panik, Ele sampai tidak melihat sekelilingnya.ย
Ele berlari sekencang-kencangnya melewati lantai dua, Ia merasakan sekujur tubuhnya penuh dengan keringat. Ele sempat mendengar bunyi seorang anak yang sedang menangis dari lantai dua.
"Apakah jangan-jangan anak itu?"
Saat melangkah mendekat ke kamar itu, tiba-tiba suara tangisan itu tidak terdengar lagi.
"Apakah Allura sengaja mengerjainku?"
Bunyi itu terdengar lagi dan membuat Ele ketakutan. Dengan penuh rasa takut akhirnya sampailah Ele dilantai paling atas. Tidak ada satu pun celah yang bisa Ia susuri, tidak ada satu pun ruangan dilantai tiga.
Bunyi tangisan anak kecil kembali terdengar, Ele semakin ketakutan. Ia berusaha mencari celah untuk bersembunyi, namun tidak ada satu pun ruang yang bisa Ia masuki. Tetapi ada sebuah jendela tanpa tirai yang terbuka lebar. Tanpa berpikir panjang, Ele segera menggerakan tubuhnya dan berlari menuju ke arah jendela tersebut dan Ele pun melompat.
BERSAMBUNG
^_^
๐ธApa yang terjadi selanjutnya ๐คฃ Penasaran kan? kasih hadiah banyak dong, biar author semangat menulisnya. ๐คญ
๐ธTolong dukung ya my readers tersayang. Ini Novel ketujuh aku ๐
__ADS_1
๐ธSalam sehat selalu, dari author yang cantik buat my readers yang paling cantik.
^_^