
💌 LOVE OF FATE 💌
🍀 HAPPY READING 🍀
.
.
...Diam adalah perlindungan alami dari rasa sakit. Ketika aku bilang Tidak, itu berarti Dia terlalu menyakitiku....
🔸🔸🔸🔸🔸
"Jangan tinggalkan aku." Alvin berucap dengan mata berkaca-kaca.
DEG!
Jantung Ele terpukul kencang, matanya terbelalak dengan mulut terbuka. Ia menatap Amira dan perawat itu secara bergantian. Niat awal, hanya ingin memberi pelajaran dan meminta ganti rugi. Tiba-tiba dipeluk seperti ini, tentu saja membuat Ele sangat terkejut.
"Lepaskan aku, apa yang kau lakukan?"
"Kau adalah keluargaku. Jangan tinggalkan aku." Ucap Alvin memeluk tangan Ele dan tidak mau melepaskannya.
Eleanor baru akan berucap dan merespons kalimat lelaki itu. Namun tiba-tiba pintu rumah sakit terbuka.
CEKLEK!
Mata mereka tertuju ke arah pintu. Seorang yang berpakaian jas putih lengkap menggunakan kaca mata masuk bersama perawatnya. Mereka tersenyum ramah.
"Selamat siang tuan," Sapa dokter mendekat ke arah Alvin.
Ele bernapas lega dan menarik paksa tangannya agar terlepas dari genggaman pria itu.
"Selamat siang dok," Amira yang menjawab dengan semangat karena mengenal dokter itu. Ia tersenyum ramah saat melihat dokter yang berjaga itu adalah lelaki yang pernah merawat ibunya di desa A sebelum meninggal.
"Dokter bertugas di sini?"
"Ya. Saya bertugas di sini."
"Apa Dokter masih kenal dengan saya?"
"Astaga, dimana tempat, selalu sok akrab." Ele memutar bola matanya. Ia tersenyum kecut sambil menggelengkan kepalanya.
"Tentu saja. Kamu Amira, kan? bagaimana kabarmu?"
"Baik dok. Senang bertemu dengan anda dok."
"Jadi kalian ini keluarga pasien?" Tanya dokter.
"Tid..." Ele menyela dengan cepat, namun Amira sudah bertidak lebih dulu, menarik baju Ele memberi isyarat sambil menggelengkan kepalanya dengan pelan.
"Ya. Kami adalah keluarganya dok," Amira menjawab cepat dengan seulas senyum yang manis.
"Kamu gila ya?" kata Ele menekan kalimatnya, setengah berbisik.
"Mungkin dengan cara ini, kita bisa menyelidiki latar belakang lelaki itu dan kau bisa minta ganti rugi atas kerusakan kebunmu. "Jawab Amira setengah berbisik. Kemudian tersenyum ramah kepada dokter.
"Bagaimana keadaannya dok?" Tanya Amira maju dua langkah membiarkan Ele mengeram di sana.
"Kita periksa dulu ya." Kata dokter melangkah menuju pasien, mengarahkan stetoskop ke dada untuk melihat kondisi jantung pasien, sementara perawat memeriksa tekanan darah Alvin.
"Lumayan lama anda pingsan Tuan. Bagaimana perasaan anda?"
"Kepala saya masih sakit dok." Jawab Alvin dengan lemah.
Dokter yang bernama Ronaldo itu hanya tersenyum sambil menganggukkan kepalanya. "Sudah ingat namanya?" tanyanya lagi.
Alvin mengangguk. "Kata keluarga saya, nama saya Alvin dok."
__ADS_1
Ele memutar bola matanya, "Keluarga? Keluarga dari mana? Apa dia pikir kita keluarganya? saya ke sini mau minta ganti rugi, bodoh!" Umpat Ele menatap sinis kepada pria itu.
"Sssstttttt...." Amira menyikut lengan Ele. Matanya melotot memberi gestur diam.
"Sudah siap periksa, mungkin dengan pemeriksaan ini kita bisa tahu bagaimana keadaanmu."
Alvin mengerutkan keningnya. "Periksa apa dok?"
"Saya akan membawa anda ke ruang pemeriksaan. Kita hanya memastikan saja ya. Salah satu keluarga bisa ikut."
Amira langsung cepat menunjuk ke arah Ele. "Kamu temani ya, aku mau ke toilet."
"Kamu gila ya, bukannya kamu yang ngaku jadi keluarganya."
"Aku uda gak tahan. Kebelet nih," Amira menepuk pundak Ele dan langsung berlari keluar dari ruangan.
"Silakan bu, ikut kami." Ucap perawat mendorong ranjang rumah sakit untuk melakukan pemeriksaan berikutnya.
Sementara Ele hanya menarik napas dengan mata terpejam sesaat, ia mengigit bibir bawahnya karena begitu kesal. Ele mengikuti langkah perawat itu.
"Oke, silakan duduk, sementara saya periksa tuan Alvin dulu."
"Baik dok." Jawab Ele mengangguk. Matanya menatap sekeliling.
Saat Alvin masuk ke dalam ruangan itu, Jantungnya berdebar. Kepingan-kepingan kejadian kecelakaan itu belum juga terjawab. Alvin berusaha menenangkan hatinya. Dokter Ronaldo menutup gorden dan mulai melakukan pemeriksaan.
"Oke kalau begitu kita bisa mulai ya." Dokter memberikan kode kepada perawat yang berdiri di sampingnya.
Dokter Ronaldo masih berdiri di samping Alvin, Ia sedang memperhatikan asisten pribadinya memasangkan elektroda-elektroda pada kulit kepala Alvin untuk merekam aktivitas elektrik pada berbagai tempat di kepala. Alvin terlihat tenang dan mulai memejamkan matanya untuk mendapat hasil yang baik. Selama proses berlangsung, aktivitas otak akan terekam pada selembar kertas Ensefalogram.
"Tidak perlu takut tuan Alvin kita hanya melakukan pemeriksaan EEG enam puluh menit saja."
Alvin hanya mengangguk, ia mengepalkan tangannya dalam hati Alvin terus mengucap doa. Semoga hasilnya baik-baik saja.
"Tuan Alvin bisa tidur, karena beberapa gelombang otak abnormal hanya terlihat jika saat anda tidur. Tetap tenang dan jangan takut agar hasilnya bagus. Anda terlihat tegang sekali tuan." Kata dokter tersenyum melihat Alvin menutup matanya hingga garis mata dan hidungnya sampai terlihat.
"Baik dok." Ucap perawat itu mengangguk.
Ia pun keluar menemui Eleanor. Ele dengan cepat bangun dari duduknya saat pria berkaca mata lengkap dengan jas putih itu menghampirinya.
Dokter Ronaldo duduk bersandar, Ia tersenyum ramah kepada Ele.
"Sebenarnya saya ragu mengatakannya. Tapi biar anda puas, lebih baik kita menunggu hasil pemeriksaan ini saja."
"Kenapa dok, apa keadaannya parah. Tapi yang saya lihat dia seperti sehat-sehat saja. Bahkan dari luka ditubuhnya tidak seberapa dibandingkan kerusakan mobilnya."
"Betul sekali. Sistem seperti ini biasanya ada pada mobil-mobil mewah. Secara otomatis terhubung ke sistem rem darurat otomatis. Maka, mobil secara otomatis mengerem sebelum tabrakan terjadi. Dan mobil bekerja secara otomatis seperti mengencangkan sabuk pengaman, menyesuaikan posisi kursi, menutup semua kaca pada mobil, dan memastikan keamanan bagi penumpang jika terjadi tabrakan. Walau sekali pun mobil itu terjun, karena ada balon udara yang tiba-tiba keluar."
"Apakah karena itu, dia tidak mengalami luka serius dok?"
"Kemungkinan seperti itu."
Dokter Ronaldo menarik napasnya dalam-dalam. "Seperti yang kita lihat, pak Alvin sepertinya mengalami amnesia."
"Heuh? amnesia dok?"
"Ya amnesia. Amnesia merupakan gangguan yang menyebabkan seseorang tidak bisa mengingat kejadian yang pernah dialami tuan Alvin. Yang saya tahu dalam beberapa kasus penderita amnesia juga akan kesulitan dalam membentuk ingatan baru. Amnesia dapat terjadi tiba-tiba atau berkembang secara perlahan karena kecelakaan. Itu karena kerusakan bilateral pada sistem limbik otaknya yang menyimpan." dokter Ronaldo menjelaskan secara sederhana agar keluarga memahami.
Ele menahan napas. Jantungnya berdetak kencang di dalam dadanya. Matanya tak berkedip memandang Dokter itu. "Astaga, bagaimana saya mau minta ganti rugi?" Rasanya Ele ingin menangis dan berteriak di sini.
Dokter Ronaldo bisa melihat perubahan wajah wanita yang duduk di di depannya. "Saya bisa mengerti perasaan anda. Seseorang yang mengalami amnesia sementara dengan waktu yang berbeda-beda, jika pembuluh darah di sekitar otak mengalami kelainan, misalnya otak kecil cedera dan terhimpit akibat tekanan saat benturan keras terjadi. Sementara itu, jika cedera akibat benturan hanya mencederai dinding otak, amnesia yang mudah disembuhkan. Namun, pengidap amnesia membutuhkan waktu yang lama untuk sembuh, terutama jika cedera cukup parah dan mengenai bagian otak besar, kecil, dan tengah. Tapi mudah-mudahan yang dialaminya bersifat ringan dan sementara. Saat ini tuan Alvin merasakan bingung atau gelisah, ini biasanya akan hilang timbul dan berulang."
Ele menarik napasnya. Tangannya diremas kuat. "Apa ada obat yang bisa menyembuhkannya dokter?" Tanyanya.
"Tidak ada obat yang bisa memulihkan ingatan penderita amnesia. Kita hanya bisa memberikan suplemen vitamin untuk untuk mencegah kerusakan sistem saraf saja atau bisa saja kita melakukan terapi okupasi." ucap dokter Ronaldo.
Ele mencengkeram tangannya begitu erat. Saat ini Ia nampak gugup dan terlihat cemas. "Apakah terapi itu bisa dijalankan dokter?" Dalam otak Ele agar pria itu cepat sembuh dan meminta pertanggungjawaban atas perbuatannya.
"Bisa, lebih cepat lebih baik. Tapi kita tunggu sampai keadaannya benar-benar pulih. Kita akan mulai terapi, agar penderita bisa memanfaatkan ingatan yang masih ada. Mungkin anda bisa mengingatkan kembali beberapa kenangan. itu akan memudahkan tuan Alvin lebih cepat sembuh." ujar dokter Ronaldo.
__ADS_1
"Saya mengingatkan kenangannya? kenal aja enggak? Ini benar-benar gila."
"Saya yakin amnesia ini hanya bersikap sementara saja, itu karena trauma akibat kecelakaan itu. Semoga anda bisa memulihkan ingatannya kembali."
"Terima kasih dokter. Saya keluar sebentar." ucap Ele bangun dari duduknya dan keluar dari ruangan itu.
Ia melangkah cepat meninggalkan ruangan itu. "Bagaimana saya bisa berurusan dengan lelaki amnesia." Ucap Ele menggeram.
Tiba-tiba ia teringat kebunnya. "Strawberry ku?" Ele berhenti dan terduduk lemas dengan posisi berjongkok. Matanya langsung berkaca-kaca.
Sementara Amira yang sejak tadi mencari Ele. Melihat temannya terduduk di koridor rumah sakit. Ia melangkah cepat menemui Ele.
TAP TAP TAP
Langkahnya semakin melambat dan berhenti tepat di depan Ele.
"Ele, kenapa kamu di sini, dimana lelaki itu?" Tanya Amira.
Ele langsung mengangkat wajahnya, Ia menatap Amira di depannya.
"Sepertinya harapanku pupus Amira. Kebunku lenyap begitu saja." ucapnya dengan suara terbata. Ele benar-benar putus asa.
"Kenapa?"
"Pria itu amnesia."
"Apa?" Mata Amira terbelalak. "Kamu serius?"
"Apa kamu pikir aku berbohong di saat seperti ini. Aku bisa gila Amira." Wajah Ele mengerucut dan ingin menangis. Hatinya benar-benar sakit.
Tiba-tiba seorang perawat menghampiri mereka. "Nona, anda di minta menemui Dokter, hasilnya sudah keluar. Dokter ingin menjelaskan kembali kepada keluarga." Kata perawat tersenyum ramah. Setelah menyampaikan itu, perawat langsung meninggalkan mereka.
Saat mendengar kalimat keluarga, Ele menggigit bibir bawahnya menahan kesal. Tangannya mengepal kuat. "Sekarang saya tidak mau tahu, urus keluargamu itu Amira."
"Heuh? Apa maksudmu?"
"Bukankah kau mengaku sebagai keluarganya?"
"Saat kita bertanya di meja resepsionis, kau juga mengaku sebagai keluarganya." Amira tak mau kalah.
"Itu karena aku ingin mendapatkan informasi." Ele menekan kalimatnya.
"Tapi kita harus sama bertanggung jawab dong."
"Apa bertanggung jawab? Kamu mau membayar semua biaya pengobatannya? Dia tidak ingat keluarganya dan siapa dirinya? Pokoknya saya tidak mau berurusan dengan lelaki itu lagi." Ele langsung meninggalkan Amira di sana.
Sepersekian detik Amira langsung mengejarnya. "Ele, jangan seperti ini?" Amira memegang tangan Ele agar tidak pergi.
"Lepaskan tanganku, aku ingin pulang!"
"Ele, kasihan dia. Dia tidak punya keluarga. Dia seorang diri di desa ini."
"Mau dia mati, aku tidak perduli."
"Ele, aku tahu kau tidak sekejam itu."
"Terserah!" Kata Ele menarik tangannya. Ia segera berlalu meninggalkan Amira.
Amira tak mengejar Ele lagi. Ia hanya berdiri membeku menatap punggung Ele yang hilang dibalik dinding rumah sakit.
BERSAMBUNG.....
^_^
Tolong dukung ya my readers tersayang. Ini Novel ketujuh aku 😍
Salam sehat selalu, dari author yang cantik buat my readers yang paling cantik.
^_^
__ADS_1