
π LOVE OF FATE π
Β
π HAPPY READING π
.
.
...Engkau akan tahu bahwa engkau jatuh cinta karena pada akhirnya, kenyataan tidak selalu sesuai dengan harapan. Apakah aku harus bersiap mengalami kenyataan pahit?...
πΈπΈπΈπΈπΈ
LIMA BELAS MENIT SEBELUMNYA.
Amira terusik saat penduduk desa heboh sambil berlari mengikuti mobil mewah yang berjejer rapi memasuki gang kecil. Mereka ribut dan bersorak di sana. Awalnya Amira tidak ambil pusing, ia berpikir jika orang-orang di sana ribut untuk antri beras gratis. Ia tetap fokus membersihkan halaman rumahnya. Suara keributan itu semakin terdengar di telinganya.
"Wah... mobilnya keren sekali."
"Apakah itu pak gubernur?"
"Jika benar. Mimpi apa kita, pak gubernur datang mengunjungi desa kita." ucap salah satu orang yang begitu antusias menyambut kedatangan mobil itu.
"Pak gubernur?" ucap salah satu pria berjalan menerobos kerumunan orang sampai ke depan, Karena mendengar jika di dalam mobil itu adalah gubernur.
"Jika itu benar pak gubernur, kita memintanya untuk memperbaiki semua jalanan di desa kita dan kehidupan kita harus disejahterakan." kata salah satu pria paruh baya menyerukan.
"Lihat-lihat, mobil-mobil itu berhenti."
Orang-orang di sana terlihat saling memandang saat mobil-mobil itu berhenti di depan rumah Ele.
"Ha? kenapa mereka berhenti di depan rumah Ele?" ucap salah seorang wanita itu dengan heran.
Kuping Amira terasa panas saat mendengar nama sahabatnya disebut. Ia berdiri dan ingin melihat ada apa gerangan. Jika dikatakan Penasaran, enggak juga sih. Hanya ingin sekedar tahu saja. Kenapa semua orang pada ribut menunggu antrian beras gratis dan menyebut nama Ele juga. Apa Ele panitia juga?
Sepersekian detik, mata Amira terbelalak saat melihat mobil-mobil mewah berjejer rapi di depan rumah Ele dan salah satu mobil itu memasuki pekarangan rumah.
"Siapa mereka?" Matanya menatap satu persatu mobil itu
"Astaga, aku harus menemui Ele."
Amira memutar tubuhnya dan berlari ke belakang menuju pintu belakang rumah Ele. Jantungnya berdegup kencang, napasnya keluar tidak beraturan. Dia yakin Ele dan Alvin pasti membuat masalah selama mereka di kota.
Amira menggerjap. "Apa jangan-jangan mereka polisi?" Ia menggeleng, menepis prasangka itu. "Ini tak bisa dibiarkan. Apapun aku lakukan untuk melindungi sahabatku." Amira berlari cepat dengan wajah panik.
__ADS_1
Namun apa yang terjadi. Saat pintu terbuka. Ele dan Amira begitu terkejut saat orang-orang bertubuh tegap lengkap menggunakan jas berbaris rapi di sana dan menunduk hormat kepada Alvin.
"Selamat pagi tuan!" Marvel memberikan senyum terbaiknya.
"Heuh?" Alvin mengerutkan keningnya. "Kau mengenalku?" tanya Alvin menatap bingung.
"Tentu saja tuan, saya adalah asisten pribadi anda. Bagaimana kabar anda tuan?" Tanya Marvel menunduk lagi. Ia menahan tubuhnya beberapa detik, memberi penghormatan karena sudah lama tidak bertemu. Setelah melakukan itu, Marvel menegakkan badannya kembali.
"Asisten pribadi, apa maksudmu? saya tidak pernah mempunyai asisten pribadi."
"Hah? Asisten pribadi?" Ucap Amira bergumam pelan. Namun Ele masih bisa mendengarnya. Ele masih bingung dengan situasi ini. Apakah ini jawaban dari mimpinya itu. Hatinya semakin tidak tenang.
"Benar tuan, saya adalah asisten pribadi anda. Saya bekerja dengan keluarga Smith sudah sepuluh tahun."
Tubuh Alvin terdiam kaku di sana, pengakuan yang sangat membingungkan sekaligus mengejutkan. Beberapa orang bertubuh tegap dan berpakaian rapi seperti pengawal khusus yang memang telah disiapkan datang kebsini. Alvin mencoba memahami dengan berbagai persepsi yang muncul dipikirannya. Tatapan Alvin silih berganti menatap pria yang mengaku sebagai asistennya dan dua pria yang berdiri tepat di belakang Marvel.
Marvel tersenyum di sana. Ia menatap penampilan Alvin dari atas sampai ke ujung kaki. Sungguh bertolak belakang dari penampilan Alvin dikenalnya yang dulu. Penampilan saat ini sangat sederhana, model rambutnya saja berubah. Biasanya Alvin selalu menyatukan gaya garis menyisir dengan gaya horizontal serta menyatukannya dengan undercut pada bagian bawah. Alvin sering menatanya dengan menyisir rambut ke atas dengan berbagai gaya. Tapi kali ini tampilannya terlalu simpel dan praktis. Marvel bisa yakin bahwa Alvin tidak butuh lama untuk menatanya.
"Dan pakaiannya?" Marvel tersenyum miris saat melihat Alvin menggunakan kaos sedikit sobek dan bolong. Tentu saja itu melukai hatinya. Alvin biasanya tiap hari selalu mengganti style pakaiannya. Alvin selalu mencoba mengikuti perubahan dari trend fashion yang ada. Nongkrong di cafe saja sambil minum kopi, itu terlihat keren.
Marvel menghela napas singkat. Sebelum datang ke sini, Marvel bertemu dengan dokter yang menangani Alvin. Kecurigaannya semakin kuat saat dokter mengatakan ada yang membantu pengobatan Alvin. Tentu saja itu mengejutkannya. Namun Marvel tetap tenang dan mendengarkan penjelasan dari dokter itu. Alvin menderita amnesia dan Ia kesulitan dalam membentuk ingatan baru. Karena pengidap amnesia membutuhkan waktu yang lama untuk sembuh, terutama jika cedera cukup parah dan mengenai bagian otak besar, kecil, dan tengah. Alvin akan sembuh jika ada yang mengingatkan kembali beberapa kenangannya. Namun kenyataannya tidak seperti itu, Alvin terperangkap di desa ini dan tidak bisa menemukan ingatannya kembali.
Marvel melepaskan lamunannya saat salah satu anak buah Smith berbisik kepadanya. Marvel mengangguk dan kembali merubah posisinya menjadi tegap dan melanjutkan penjelasannya.
"Tuan, saya rasa sudah waktunya anda kembali. Tuan Smith dan nyonya sangat mencemaskan anda. Mereka menunggu kepulangan anda tuan."
"Saya mengerti apa yang ada rasakan tuan, mungkin dengan kembalinya kekediaman Smith. Ingatan anda kembali lagi."
"Saya tidak pernah menginginkan itu. Ini adalah kehidupanku dan aku nyaman hidup di desa ini."
Ele tersenyum getir, ada rasa sesak yang menghimpit dadanya dan tidak bisa ia sembunyikan. Perasannya semakin tidak enak. Ia menatap Alvin yang sedang memunggunginya. Ele masih tetap diam dan tidak ingin memberi komentar atau memotong pembicaraan. Di sini ia masih menyimak.
"Bagaimana dengan istri anda tuan? Apakah anda tidak memikirkan bagaimana perasaan istri anda saat ini?" Akhirnya kata-kata ia ucapkan dengan sempurna, ia terpaksa melakukannya agar Alvin mau pulang. Tangannya mengepal saat menyadari ia telah berani berbohong.
DEG
Mendengar itu, bagaikan tamparan yang melekat tanpa rasa sakit. Alvin diam membeku di tempatnya. Untuk menelan salivanya saja ia begitu susah. Lidahnya keluh bak dipatuk ular, ia terdiam seakan tidak percaya dengan apa di dengarnya. "Apa? Istri?" ucap Alvin bergumam. "Tidak aku tidak punya istri." Alvin terus bermonolog sambil menggelengkan kepalanya.
Begitu juga dengan Ele dan Amira, mereka tak kalah terkejutnya. Jantung Ele terpukul kencang di dalam rongga dadanya. Ia mencoba menenangkan perasaannya. Ia kembali menarik napas dalam sambil memegang dada.
"Apa? Alvin sudah menikah?" batin Ele berbicara. Hatinya terasa hancur seketika. Bagaimana lelaki yang dicintainya ternyata sudah menikah. Ele mencoba menarik napasnya yang naik turun begitu cepat. Namun rasa sesak itu masih menghimpit dadanya. Menguasai dentum-dentum sesak yang tak berperi di hati dan meninggalkan bekas-bekas luka yang begitu menyesakkan.
Saat melihat reaksi Ele, Amira dengan cepat memeluknya dari samping. Ia juga begitu terkejut mendengar semua ini. Amira menarik napas panjang. "Alvin ternyata sudah menikah?"
Marvel menarik napasnya lalu melanjutkan kalimatnya. "Benar tuan. Anda sudah menikah dan sekarang istri anda tengah mengandung."
__ADS_1
Waktu terasa berhenti. Alvin merasakan keheningan yang mencekam. Bukan karena cerita yang baru di dengarnya. Tapi kata-kata terakhir yang begitu menyakitkan hatinya. Bahkan Alvin tak pernah memikirkan hal itu. Kalimat itu begitu cepat menyelusup masuk ke dalam sanubarinya, membuat getaran-geraran samar yang mengelayut di hati. Alvin mencengkram kepalanya yang tiba-tiba sakit.
Alvin tertawa kecil, menatap tajam ke arah pria yang mengaku asisten pribadinya. "Kau pikir aku akan percaya itu. Kau mengarang cerita yang tak masuk akal." Rahangnya mengencang kuat menahan amarah.
"Tidak tuan. Saya mengatakan yang sesungguhnya. Istri anda saat ini sedang mengandung. Anda dinyatakan hilang setelah dua minggu pernikahan anda." Kata Marvel dengan tegas dan serius. Ia sama sekali tidak sedang terlihat bercanda.
Jantung Ele semakin terpukul kencang dan bertambah gugup. Rasa berkeringat, gemetar, panas dingin di sana. Ia tidak bisa bernapas dengan baik saat ini. Ini terlalu menyesakkan dadanya.
"Jadi kembalilah tuan. Keluarga sudah menunggu anda."
Alvin memejamkan matanya, ia menarik napasnya dalam-dalam yang terasa begitu menyesakkan. "Aku tidak akan pernah meninggalkan desa ini. Aku mencintai wanita ini." Tangannya menunjuk ke arah Ele yang terdiam mematung di sana. Wajah Ele sudah sangat pucat. "Jadi jangan pernah mencoba untuk memisahkan kami." Desis Alvin dengan mata menyalang tajam.
"Tapi itu tidak mungkin tuan. Anda harus tetap kembali. Karena istri dan keluarga sudah menunggu anda."
Wajah Ele semakin menegang, kakinya gemetar, dia memegang dinding untuk tumpuannya agar dia tidak terjatuh. Namun Amira mengeratkan pelukannya. "Kau tidak apa-apa?" Bisiknya begitu lembut. Ele hanya meresponnya dengan menggeleng, tangannya begitu dingin.
Dada Alvin semakin sesak. Bagaimana dalam hitungan detik, ia sudah menikah dan mempunyai istri. Saat rasa sakit tak bisa dilampiaskan dengan amarah. Alvin hanya bisa mengepalkan tangannya begitu kuat. Rasanya ingin menangis. Tapi Alvin menahannya. Ia hanya mampu menarik napasnya sambil memejamkan matanya. Sakit begitu sakit sampai bernapas saja ia tidak mampu. Kepalanya hampir pecah. Ia tidak sanggup untuk membendung rasa perih di dada. Ia tidak mau menangis di hadapan mereka. Dengan segera ia membalikkan badannya dan langsung menuju kamarnya.
CEKLEK! Alvin membuka pintu dan sedikit membantingnya.
BRUKKK!
Alvin berusaha menguasai perasaannya. Ia menghembuskan napasnya terbata-bata. Bibirnya bahkan gemetar, air mata yang sedari tadi di tahannya menetes di pipinya. Rasa sesak di dalam dadanya tidak bisa ia gambarkan.
"Bagaimana ini? aku tidak sanggup meninggalkan Ele, aku begitu mencintainya."
Sementara Ele, ikut meninggalkan ruang tamu, Amira tidak bisa menghentikannya karena Marvel menghalanginya.
"Mereka butuh waktu."
"Heuh?"
"Kamu pasti mengerti maksudku." Kata Marvel datar tanpa memandang Amira.
Amira melepaskan napas panjang, ia gugup dengan situasi ini. Bagaimana tidak gugup, Amira berada di dekat lelaki dingin tanpa ekspresi itu.
"Oh my God, tolong aku!!!!!"
BERSAMBUNG.....
^_^
Tolong dukung ya my readers tersayang. Ini Novel ketujuh aku π
Salam sehat selalu, dari author yang cantik buat my readers yang paling cantik.
__ADS_1
^_^