LOVE OF FATE

LOVE OF FATE
PERJALANAN CINTA.


__ADS_3

๐Ÿ’Œ LOVE OF FATE ๐Ÿ’Œ


ย 


๐Ÿ€ HAPPY READING ๐Ÿ€


.


.


...Aku ingin mencintaimu dengan sederhana,dengan isyarat bahwa cintaku adalah sebuah perjalanan. Dimulai dari selamanya, dan tidak pernah berakhir....


๐Ÿ”ธ๐Ÿ”ธ๐Ÿ”ธ๐Ÿ”ธ๐Ÿ”ธ


Ele melangkah cepat sambil melihat kotak makanan yang sengaja dibelinya dari restoran. Ia menaiki lift agar sampai di ruangan yang bertuliskan CEO itu.


TING


Pintu lift terbuka. Ele menegakkan badannya, mengangkat wajahnya untuk tersenyum. Ia melangkah keluar dari lift. Ele berjalan elegan. Kecepatan berjalannya pas. Posisi tubuh yang seimbang dan mata yang memandang lurus ke depan. Ele berjalan mendekati meja Marvel dan tersenyum.


"Selamat siang, asisten Marvel." Ele mengetuk meja Marvel sebanyak dua kali dengan jari telunjuknya.


Marvel tersentak dan terjengkit dari duduknya. Rasa ngantuknya hilang seketika.


"Selamat siang ibu Devina." Ucap Marvel tidak sadar. Upss! reflek Marvel menutup mulutnya dengan tangannya dan tersadar saat melihat perubahan wajah Ele.


"Ibu Devina?" Dahi Ele mengerut, ia menaikkan alisnya menatap Marvel.


"Maaf, nona Eleanor. Kebetulan sekali ibu Devina berada di ruangan pak direktur, setelah pulang makan siang tadi, ibu Devina langsung menyusul ke kantor untuk membicarakan kelanjutan kerjasama dengan perusahaan diamond?" Marvel sedikit ragu mengatakannya. Karena di sana, jelas-jelas Ele sedang membawa kotak makanan.


"Bukannya kerjasama perusahaan Smith dengan perusahaan diamond sudah berakhir?"


"Sepertinya perusahaannya diamond masih ingin melanjutkan kerjasamanya dengan perusahaan Smith." Kata Marvel sedikit gugup.


"Begitu ya?"


"Apa nona Ele mau masuk?" tanya Marvel.


"Tidak, asisten Marvel, lebih baik aku pulang saja."


"Oh, begitu ya...anda tidak menunggu pak direktur pulang bersama anda?" tanya Marvel.


Tit!


Tiba-tiba nada interkom di meja Marvel berbunyi.


"Marvel, jangan biarkan Ele pergi. Suruh masuk! Jika Ele pergi, kau siap-siap membuat surat pengunduran diri." Kata Alvin lewat interkom.


Marvel tersenyum getir di sana. Ia menatap Ele dengan wajah memelas. "Jangan pergi, nona Ele. Aku masih membutuhkan pekerjaan ini."


Ele terkekeh melihat ekspresi wajah Marvel. " Pak direktur sangat membutuhkanmu asisten Marvel. Itu tidak akan terjadi." Bisik Ele.


Dan tiba-tiba....


CEKLEK!


Pintu terbuka dan benar saja Devina keluar dari ruangan pak direktur tanpa menoleh sedikit pun kepada Ele. Devina terus menatap lurus sambil berjalan menuju lift khusus.


"Silakan masuk, nona Ele. Pak direktur sudah menunggu anda." Kata Marvel mempersilakan Ele masuk.

__ADS_1


"Oke, terima kasih asisten Marvel. Ambil ini!" Ele memberikan kotak makanan yang dibawanya kepada Marvel.


"Heuh? ini untukku?"


Ele hanya menganggukkan kepalanya, tersenyum melihat Marvel menatap kotak makanan itu. Ele pun melangkah masuk ke dalam ruangan pak direktur itu.


DI DALAM RUANGAN DIREKTUR


Belum juga Ele menutup pintu. Alvin menarik tangan Ele dan menghimpit tubuhnya pada daun pintu. Tangan Alvin dengan cepat memutar kunci agar pintu tidak bisa dibuka oleh siapa pun. Alvin tersenyum menyeringai. Matanya tidak lepas menatap Ele. Mendapat perlakuan dari Alvin yang secara tiba-tiba membuat jantung Ele berdebar. Peredaran darah di tubuhnya mulai tidak stabil. Setiap lirikan dan kontak mata Alvin membuat Ele tak berdaya. Tatapan mereka bertemu. Alvin merasa menang. Ia sengaja melakukannya untuk menghukum Ele karena membuatnya gelisah seharian tak ada kabar. Acara makan siang saja Alvin tak tenang dan terus memikirkan Ele.


"Kau sudah puas membuatku gelisah dan sedari tadi aku terus memikirkanmu, setiap menit bahkan setiap detik, sayang."


"Heuh...?" Ele menahan napasnya dan berkedip cepat.


Alvin menaikkan alisnya, senyumnya menyeringai. Ia semakin mendekatkan wajahnya, membuat Ele merasa tersiksa oleh tatapannya dan membuat Ele tidak bisa melawan. Pesona mata Alvin begitu jahat mengunci Ele..


"Tidak mau menjawab?" tanya Alvin. Napasnya berhembus menerpa wajah Ele. Mendekat dan semakin mendekat. Namun, Alvin tidak melakukan apa-apa untuk menyentuh bibir Ele.


Ele mengepalkan tangannya semakin kuat, ia menutup matanya dengan erat dan tidak lupa mengatupkan bibirnya dengan rapat. Ia semakin merasakan jantungnya terpicu dan bahkan ia sulit bernapas. Debaran itu semakin membuatnya tersiksa.


Ele merasakan jika Alvin menarik tubuhnya menjauh darinya. Ia pun membuka matanya secara perlahan, agar ia tidak terkejut. Dan dilihatnya Alvin tidak ada. Ele berkedip cepat dan melangkah untuk mencari Alvin.


"Ss-sayang...?" panggilnya.


"Kau mencariku?" Alvin memeluk Ele dari belakang. Dagunya ia taruh di pundak Ele dan sedikit menunduk karena tubuh Alvin begitu tinggi.


Ele kembali terkejut dan sepersekian detik ia tersenyum. Ia menyandarkan pelipisnya pada pipi Alvin dan mulai merasakan dekapan hangat dari tubuh pria kesayangannya itu.


"Kenapa tidak bisa dihubungi? Aku sudah katakan serahkan semuanya kepada ibu untuk mengurus acara pernikahan kita. Kau berhasil membuatku tidak tenang seharian sayang." Kata Alvin menggoyang tubuhnya sehingga tubuh Ele ikut bergoyang.


"Maafkan aku. Tadi Amira memang meminta untuk tidak mengaktifkan handphone agar kami fokus untuk membicarakan persiapan pernikahan kita." Ele membalikkan tubuhnya dan menghadap Alvin.


Ele mengangguk sambil tersenyum. Ia memeluk pinggang Alvin dan mengunci tangannya ke pinggang lelaki itu. Sesaat ia membenamkan wajahnya di dada Alvin dan kembali menatap pria kesayangannya itu. Ia sedikit melonggarkan pelukannya dan memandang bibir Alvin yang sungguh menggoda itu. Hembusan napas Alvin tercium aroma mint benar-benar menyegarkan. Ia mulai memberanikan dirinya memajukan wajahnya dan..


CUP


Ciuman mendarat sempurna di bibir Alvin. Sebelum Ele menarik bibirnya, Alvin dengan cepat memindahkan tangannya ke tengkuk Ele, mendorong kepalanya agar mencium Ele kembali. Alvin tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan ini. Ia langsung melahap bibir ranum itu. Bibir mereka bertautan dengan Lmatan yang lembut. Ele memejamkan matanya dan mulai membalas, jari-jarinya menelusuri bagian dalam rambut Alvin. Membuat tubuh Alvin merinding. Ia pun semakin terbakar. Ele mencoba berjinjit agar tidak membuat Alvin kesulitan. Ciuman itu semakin dalam, semakin menuntut lebih dalam lagi.


Alvin semakin mencengkram pundak Ele agar tubuh mereka semakin rapat. Ciuman mereka saling terbalaskan. Alvin terus mengecup dan terus mengejarnya sampai harus membuatnya membungkuk.


Sensasi yang begitu menggetarkan, mereka sesekali memberi sela untuk menghirup udara dan kemudian Alvin melanjutkan aksinya. Terus menjelajahi bibir Ele, saling membelit memberikan sensasi kenikmatan. Tangan Alvin terus meraba punggung Ele dari atas sampai ke bawah dan tiba-tiba....


TOK TOK TOK


Ciuman mereka terlepas, napas Alvin dan Ele masih memburu dan saling berkejaran.


TOK TOK TOK


Kembali ketukan itu terdengar, tentu saja Ele mengerjap kaget. Ia segera melangkah membuka pintu, sementara Alvin duduk dan terlihat sibuk memeriksa berkas yang ada di mejanya. Agar Marvel tidak curiga. Sementara napas Ele masih terlihat naik turun dan tidak beraturan. Ia masih sangat gugup.


Terlihat Marvel masuk dan tersenyum. "Permisi tuan, maaf menganggu." katanya dengan sopan.


"Ehmm, ada apa?" Tanya Alvin, ia tidak mengangkat wajahnya. Perasaannya sama dengan Ele, ia juga masih gugup dengan napas yang memburu.


Marvel dapat merasakan kegugupan pak direktur dengan nona Ele. Ia mengerutkan keningnya dan merasa heran.


"Ini dokumen yang anda minta, tuan." Kata Marvel meletakkan dokumen itu di atas meja.


"Oke, terima kasih, Marvel." Alvin mengangkat wajahnya dan tersenyum.

__ADS_1


"Kalau begitu saya permisi, tuan." ucapnya.


"Silakan, Marvel!" Kata Alvin mempersilakan.


Dengan cepat, Marvel membungkukkan badannya lalu memberi hormat. Ia langsung berjalan menuju pintu keluar.


๐Ÿ”ธ๐Ÿ”ธ๐Ÿ”ธ๐Ÿ”ธ๐Ÿ”ธ


Malam hari hujan turun dengan derasnya. Hawa dingin menggelayuti tubuh walau mereka berada di dalam apartemen milik Alvin. Ele menyiapkan mie ramen yang sudah selesai dimasaknya. Ia menyiapkan dua mangkuk mie ramen untuk mereka nikmati.


Dua mangkuk mie ramen tersaji dengan asap masih mengepul di atasnya. Ia menyajikannya di atas meja yang ada di ruang tamu.


"Sayang, kita makan dulu. Nanti tugasnya bisa di lanjutkan lagi." Ele mengambil tablet digital dari tangan Alvin dan menaruhnya di atas meja.


Seketika wajah Alvin berbinar melihat mie ramen yang tersaji di hadapannya. Sajian ramen begitu menarik hingga menggugah selera untuk segera memakannya.


"Ini pasti enak."


"Tentu dong, siapa dulu chef-nya." Ele menepuk dadanya dengan lembut memuji dirinya. Alvin tertawa renyah dan mencium pipi Ele.


"Calon istri pintarku." Kata Alvin.


Ele mengajak Alvin berselfie ria sebelum mengiringi detik demi detik waktu menyantap ramen. Setelah mengambil beberapa foto, Ele mempersilahkan Alvin untuk mencicipi masakannya.


"Bagaimana?" Ele sedikit mencondongkan tubuhnya dan tersenyum. Wajahnya terlihat serius menunggu penilaian dari juri.


"Enak sekali, sayang."


"Benarkah? Aku menambahkan bumbu cinta di dalamnya."


"Pantas saja jantung ini berdebar saat menikmati ramen ini."


"Hahahaha." Ele tertawa awkward.


Tangan kanan mereka memainkan sumpit sementara sebuah sendok setia bersama tangan kirinya. Disela-sela menikmati mie dengan sumpitnya, Ele menyeruput kuah ramen. Ia meniru gaya ala korea yang sering ditontonnya.


"Kuahnya juga harus di nikmati seperti itu?" Alvin menautkan ke dua alisnya, mengernyit bingung memperhatikan setiap gerakan Ele.


"Ya sayang. Coba aja, pasti nikmat."


Alvin mengangguk dan melakukan seperti yang dilakukan Ele, menyeruput kuah ramen.


Setelah puas menyantap semangkuk ramen, Ele dan Alvin kompak menyebut satu kata.


"Kenyang." Dan sepersekian detik tawa mereka pun lepas di sana. "Hahahaha."


Mereka saling menatap dan tertawa. Masing-masing memperlihatkan susunan gigi yang putih dan yang rapi disertai wajah bahagia yang tidak dapat dilukiskan. keduanya tertawa bersama, benar-benar kebahagian yang jarang dilakukan oleh pasangan yang akan mengikat janji suci pernikahan itu. Makan ramen bersama, tentu momen ini akan selalu di ingat.


Setelah itu, Ele membereskan mangkuk mie dan membersihkan meja. Alvin dan Ele akhirnya memilih tidur di kamar masing-masing. Alvin tidur di kamarnya dan Ele tidur di kamar tamu. Hari sudah semakin larut, jam menunjukkan pukul sebelas malam.


BERSAMBUNG


^_^


๐Ÿ”ธTolong dukung ya my readers tersayang. Ini Novel ketujuh aku ๐Ÿ˜


๐Ÿ”ธSalam sehat selalu, dari author yang cantik buat my readers yang paling cantik.


^_^

__ADS_1


__ADS_2