LOVE OF FATE

LOVE OF FATE
AKU ADALAH WANITA KUAT


__ADS_3

πŸ’Œ LOVE OF FATE πŸ’Œ


Β 


πŸ€ HAPPY READING πŸ€


.


.


ALVIN SMITH



...Aku ikat kata dalam mata batinku, aku redam rasa dalam sanubariku, aku telan sakit yang merajai dan harus aku katakan dengan tegar, aku adalah wanita kuat....


πŸ”ΈπŸ”ΈπŸ”ΈπŸ”ΈπŸ”Έ


Eleanor mempercepat langkahnya saat menuruni anak tangga. Saat berada di koridor rumah sakit Ele bahkan setengah berlari.


"Ele tunggu," Amira memutuskan untuk mengejarnya.


Dengan langkah semakin di percepat tanpa memandang ke belakang. Ia tidak perduli dengan panggilan Amira. Ele menarik napas dalam-dalam dan berusaha menenangkan dirinya. Ia berlari keluar melalui pintu utama rumah sakit St.Maria menuju parkiran mobil. Ele dengan cepat masuk dan menghempas pintu mobilnya dengan kuat.


Ia memutar kunci di dalam kontak, lalu menghidupkan mesin mobilnya. Ele menginjak pedal gasnya dengan terburu-buru, hingga menghasilkan decitan ban yang menggesek jalan.


"Ele, jangan tinggalkan aku!" Teriak Amira.


Ele hanya bisa melihat Amira dari kaca spion yang ada di tengah mobilnya. Ia tidak perduli dengan teriakan Amira. Ele terus membawa mobilnya menjauh dari rumah sakit.


Amira mengembuskan napas sambil menunduk memegang kedua lututnya. Dia berusaha berlari mengejarnya. Namun mobil itu sudah melaju pergi. Ia benar-benar tak bisa menghentikannya.


Sepanjang jalan Ele hanya merenung. Entah mengapa kejadian ini membuat hatinya begitu sakit. Sesak sampai membuatnya sulit untuk bernapas. Mengingat perjalanan hidupnya yang begitu berat. Ele seperti wanita putus asa dan tidak ada harapan untuk bangkit lagi.


"Kuikat kata dalam mata batinku, aku redam rasa dalam sanubariku, aku telan sakit yang merajai dan harus aku katakan dengan tegar, aku adalah wanita kuat."


Kata-kata itu sengaja ia rangkai seperti mantra untuknya, agar ia selalu kuat. Tapi nyatanya ia tidak sekuat yang diharapkan. Setelah sekian lama semua tercipta hanyalah alunan kepedihan. Kepedihan yang telah mengeras yang kemudian menjadikan jiwa Ele membatu.


Tak tahan lagi, ia menepikan mobilnya di pinggir danau. Tempat itu sepi. Ele keluar dari mobilnya itu. Ia berjalan terus hingga sampai ke tepi danau. Kepalanya mendongak ke atas. Wajahnya mengerut karena menahan tangis. Napasnya berembus dan masuk lewat mulut yang terbuka. Ia membungkuk dan memegang lutut, mencoba menstabilkan napas yang naik turun begitu cepat.


Ele kembali berdiri dan menatap ke atas langit. Hatinya sesak, pikirannya kacau. Kenapa hidup yang dijalani harus seperti ini? Semua tak seindah yang dibayangkannya. Dikucilkan dan harus berada di desa ini.


"Salahkah aku berangan untuk mendapat kebahagiaan yang nyata?" Teriak Ele sambil menangis ketika rasa sesak itu memenuhi dadanya.

__ADS_1


"Aku muak dengan semua ini." Lagi-lagi Ele berteriak di sana. Kedua tangannya membentuk corong di depan mulutnya. Wajahnya mengerucut, menahan air matanya agar tidak keluar. Namun tetap saja air matanya selalu bebas terjatuh ke pipinya.


Ele menutup matanya dengan kedua tangannya. Sungguh ia tidak dapat mengendalikan perasaan emosinya saat ini. Ele hanya Ingin membagi duka-laranya. Tapi tidak tahu pada siapa Ia bisa menyandarkan asa. Angan adalah tunas dari sebuah asa, khayal adalah impian dan keinginan. Setelah sekian lama Ele hidup dalam lumpur kepedihan, dalam sebuah rumah kecil yang harusnya membuatnya selalu bahagia. Tapi semua tak seindah angannya.


"Salahkah jika aku berkhayal bahwa aku ingin disayangi oleh saudaraku? ingin dihargai seutuhnya? Dan salahkah aku melakukan itu, akibat dari perlakuan mengerikan dari ayah tiriku? aku harus bertindak sejauh itu?" Suara Ele semakin pelan. Ia tidak sanggup melanjutkan kalimatnya. Bahunya semakin bergetar karena tak sanggup menahan tangisannya.


"Aku adalah seorang anak yang tak berdaya, aku juga manusia. Perasaanku adalah sebagai wanita seutuhnya yang ingin diperhatikan, diberi kasih sayang."


"Aku merasa kesepian, kalian selalu membiarkan aku kedinginan bermalam-malam. Aku merasa sakit hati tatkala kalian selalu datang untuk menertawakanku dan mengambil hakku. Kemudian setelah mendapatkannya kalian menghempaskan perasaanku sebagai seorang adik yang tak berguna."


"Aku bukanlah robot yang diciptakan untuk memenuhi kebutuhan kalian. Aku bukanlah sukarelawan yang harus selalu memperhatikannya dan tak boleh mengharapkan imbalan sedikit. Bahwasanya kehidupan yang selama ini Aku jalani tidaklah begitu menyenangkan sehingga aku berharap seseorang datang mengeluarkanku dari ketidakpastian yang menjemukan ini."


Ele terus mengerang dan menangis di sana. Menangis sejadi-jadinya. Karena perkebunannya yang rusak, semua kepedihan hidupnya mencuat lagi. Wajahnya mengerut, ia berusaha bernapas meski sesenggukan. Tubuh Ele semakin bergetar, air matanya terus mengalir ke dagunya. Ia berjongkok sambil terus menutup mulutnya. Kedua kakaknya sama sekali tidak perduli dengannya.


Ele pernah mengingat perkataan ibunya. Dan semua itu benar. Waktu memang terus berjalan, tapi waktu tidak pernah mengejarnya. Pelan-pelan, perlahan. Nikmati setiap detiknya. Ele ingin tenang dan menikmati setiap proses. Tidak ingin mengingat kejadian pahit itu.


Satu hal yang membuat Ele tetap berharap dengan harapan, karena ia percaya dengan keajaiban. Perasaan yang tak pernah lelah meski seringkali dihajar kalah. Berkali-kali didera luka dan hampa. Namun memilih untuk tetap kuat. Bahkan saat ia dibunuh dengan sangat kejam, perasaan ini masih saja bertahan. Sakit bukanlah hal yang harus dijelaskan. Hanya saja Ele dipaksa harus menjadi lebih kuat yang tak mampu dijabarkan. Sesuatu yang tak tampak, namun membuat bertahan meski berulang kali jatuh bangun. Meski sesak memenuhi ruang hati. Namun, ia percaya, itulah yang disebut kehidupan. Harus tetap bertahan, walau apa pun yang terjadi.


Setelah cukup tenang, Ele menarik napasnya dalam-dalam. Ia bangun dan menatap ke depan. Kemudian ia melangkah menuju mobilnya. Kini perasannya tenang dan jauh lebih baik. Ia membawa mobilnya meninggalkan danau dan kembali ke rumah sakit. Ia tidak bisa meninggalkan Amira di sana. Hanya Amira yang selalu ada di saat ia merasa sedih.


πŸ”ΈπŸ”ΈπŸ”ΈπŸ”ΈπŸ”Έ


SEMENTARA DI SISI LAIN.


"Semua sudah berakhir..." Batin Arlo berucap.


Satu jam sudah perjalanan mereka tempuh. Lelah tak jua surut. Arlo bahkan lebih bersemangat lagi. Senyum kemenangan jelas terpancar di wajahnya. Mereka berhenti lagi. Pemandangan keindahan alami dan hamparan hijau dari pegunungan langsung menyambut kedatangan Arlo.


"Kau tetap awasi sekitarnya." kata Arlo keluar dari mobil dan berjalan menuju sebuah gubuk yang ada di pinggiran jalan dengan membawa koper di tangannya. Edric sudah menunggu kedatangan Arlo dan tersenyum saat melihat Arlo sudah datang.


"Hei dude, apa kabar?" ucap Arlo tersenyum sumringah.


"Dimana bayaranku?" Tanya Edric to the point.


Arlo langsung menyerahkan koper yang dibawanya tadi. Edrick memeriksanya dan semua sesuai dengan bayarannya.


"Bagaimana keadaannya?"


"Seperti kesepakatan kita, dia tidak mati. Tapi dia sepertinya hilang ingatan."


"Aku tidak perduli, yang penting kau bereskan dia." Dengan angkuh dan penuh kuasa Arlo tersenyum smrik. "Apa kau melakukan sesuai yang aku perintahkan?"


"Semuanya aman dan aku sudah membayar tagihan rumah sakit seperti yang anda perintahkan juga."

__ADS_1


Sudut bibirnya langsung melengkung ke atas. Edric memang selalu bisa diandalkan, baik dalam hal apapun, Ia bisa membantunya dengan cepat dan kapan saja saat dibutuhkan. "Bagus. Aku harap dia tidak bisa mengingat masa lalunya lagi. Tempat kumuh itu, cocok untuknya."


Edric hanya tersenyum tipis di sana.


"Terima kasih."


"Sama-sama dude, hubungi aku kapan saja. Aku siap membantumu. Tapi dengan satu syarat, bayarannya harus sesuai."


"Tentu saja. Kau tidak perlu mengkhawatirkannya." Arlo semakin menyempurnakan lengkung bibirnya. Kini semua rencananya akan berjalan lancar. Keluarga Smith tidak akan bisa melacak keberadaan Alvin. Lelaki angkuh seperti Alvin akan hancur dalam hitungan detik. Rencana yang selama ini sudah di susun begitu rapi. Arlo tersenyum lagi. Hingga Edric menyadarinya.


"Kau terlihat bahagia dude. Apa kau mempunyai rencana lain yang tidak aku ketahui?" tanya Edric menatap Arlo cukup lama. Ia melihat Arlo saat ini bukan seperti Arlo yang dikenalnya.


Arlo tersenyum dengan seringai tipis. "Aku akan mendapatkan apa yang aku inginkan." ucapnya datar dan dingin.


Edric menautkan kedua alisnya, "Mendapatkan bagaimana dude, jelaskan dengan baik, agar aku mengerti." Ucap Edric sedikit penasaran.


"Aku akan berkuasa dalam hitungan detik dikeluarga Smith." Jawabnya singkat namun berhasil membuat Edric tertawa lepas.


"Hei dude, apa maksudmu?" Edric kembali tertawa dan menyadari selera humor Arlo sudah semakin baik. Ia tertawa sampai ke dua bahunya terangkat. "Kau benar-benar mimpi dude, bagaimana kau bisa mendapatkan kekayaan keluarga Smith. Kau hanyalah anak yang diambil panti asuhan." Edric semakin tertawa.


"Kau tidak percaya, aku bisa mendapatkan kekayaan keluarga Smith." kata Arlo dengan mata menyalang tajam.


Mata Edric membulat sempurna, " jadi kau serius, dude?"


"Apa kau pikir aku pernah bermain-main dengan ucapanku?"


"Astaga," Edric begitu terkejut, "Apa jangan-jangan lelaki itu adalah...?"


"Aku tidak ada waktu lagi. Lain kali aku akan menjawab semua pertanyaanmu itu." Kata Arlo keluar dari gubuk itu.


"Arlo, jawab aku!" Panggil Edric terus berteriak memanggil Arlo yang terus menjauh darinya. Ia tidak menyangka bahwa lelaki yang dicelakainya itu adalah anak dari keluarga Smith. Dia tahu Keluarga Smith orang yang sangat berkuasa.


"Arlo?" panggilnya lagi.


Namun Arlo tidak menjawabnya, ia hanya meresponnya dengan lambaian tangan. Tidak menoleh ke belakang hanya tetap memandang lurus ke depan. Ia kembali mengenakan kaca matanya dan terus melangkah mobilnya.


BERSAMBUNG.....


^_^


Tolong dukung ya my readers tersayang. Ini Novel ketujuh aku 😍


Salam sehat selalu, dari author yang cantik buat my readers yang paling cantik.

__ADS_1


^_^


__ADS_2