
π LOVE OF FATE π
Β
π HAPPY READING π
.
.
...Minta maaf saja takkan memperbaiki apa pun. Minta maaf takkan mengobati hati yang luka, takkan pernah....
πΈπΈπΈπΈπΈ
Badan Allura lemas seperti tak bertulang. Ia lunglai dan langsung terduduk di lantai. Bahunya bergetar dan terus menangis.
"Jangan lakukan itu Alvin. Aku sangat mencintaimu." Pinta Allura dengan air mata berurai. Tangisannya pilu dan menyedihkan. Sekarang ia sangat membutuhkan seorang ayah untuk anaknya.
Namun Alvin sama sekali, tak merasa iba melihat tangisan Allura. Ia memerintahkan Marvel agar meninggalkan tempat itu.
"Biarkan aku menjelaskan semuanya kepadamu. Hubunganku dengan Arlo tidak seperti yang kau pikirkan." tatapan Allura terus memohon minta belas kasihan. Wajahnya memelas sendu. Ia berharap Alvin memaafkannya dan mereka bisa memulai dari awal lagi. Namun sikap Alvin semakin dingin. Hati Allura semakin sakit. Ia benar-benar di benci.
Alvin menurunkan pandangannya ke bawah sejenak. Lalu kembali tersenyum tipis, wajahnya menawan batin Allura dengan siksa. "Bukankah tadi aku sudah memintamu untuk menjelaskannya, Allura? Aku tidak mau menghabiskan waktuku seperti ini. Aku akan tetap dengan pendirianku."
Allura mengangguk cepat, "Iya aku tahu sayang, tapi kasih aku kesempatan untuk menjelaskannya dulu. Biar kamu tahu seperti apa Arlo yang sebenarnya."
Alvin memijit pelipisnya. "Semuanya sudah jelas. Sekarang tugasmu, cukup pergi dari sini."
"Bagaimana dengan anak ini?" Tangisan Allura semakin pecah. "Jangan seperti ini Alvin. Beri aku waktu sampai anak ini lahir, setelah itu kau bisa pergi."
Alvin bangun dari duduknya, ia melangkah mendekat ke arah Allura. Posisinya santai, salah satu tangannya ia masukkan ke dalam kantong celananya. "Dimana Arlo, bukankah dia yang harus bertanggung jawab atas anak itu?"
"Aku tidak pernah mencintai Arlo, dia sengaja melakukan itu untuk menghancurkan hubungan kita."
"Tapi kenyataannya tidak seperti itu Allura. Kau menyerahkan dirimu begitu saja?" Tatap Alvin sambil mengangkat alisnya.
"Arlo menjebakku, Alvin. Sungguh, aku tidak pernah mengkhianatimu. Aku hanya mencintaimu."
"Apa aku harus percaya itu?" Alis Alvin menukik tajam. Ia menghela napas panjang dan kemudian melanjutkan kalimatnya. "Kau tidak pernah mencintaiku. Kau hanya memanfaatkanku. Semua bukti sudah jelas dan ibu Elia juga sudah mengatakan semuanya."
Allura mendesah frustasi. Bagaimana lagi ia harus menjelaskan kepada Alvin. Ia semakin tidak kuat menanggung beban ini. Allura terus menggeleng dengan pandangan nanar. Ia tidak percaya hari ini akan menjadi hari buruk untuknya. Allura masih ingat, bagaimana Alvin selalu menyiapkan makanan kesukaannya. Ia begitu antusias dan selalu tersenyum saat itu. Perhatian keluarga Smith membuatnya terharu. Seumur hidup ia tidak pernah mendapatkan kasih sayang setulus itu. Harry saja, saudaranya sendiri, selalu memanfaatkan dirinya.
Allura tertawa sambil menangis dalam hati. Aahhhhhh... Matanya berkaca-kaca. Hatinya semakin sakit. Air matanya tergelincir begitu saja tanpa di minta. Bisakah ia mengulang waktu ini kembali?
"Selagi aku masih berbaik hati, pergilah! jangan pernah menunjukkan dirimu lagi." ucap Alvin dingin dan datar.
"Tidak sayang, jangan lakukan itu." Allura terus menggeleng. "Kasih aku kesempatan untuk memperbaikinya. Kita bisa memulainya dari awal." Allura kembali menunduk sambil meremas tangannya. "Aku mohon, maafkan aku, Alvin." Kata Allura menatap Alvin dan terus menangis.
"Kau tidak dengar? Aku tidak pernah memberikan kesempatan bagi orang yang telah mengkhianatiku." Alvin tetap bersikap tenang mengucapkan kalimatnya. Namun kalimat itu bisa mengoyak hati Allura. Menusuk begitu dalam. Mata Alvin begitu dingin, sedingin es. Membekukan namun tetap tajam.
__ADS_1
Allura mengangkat wajahnya. Dengan satu kedipan, air matanya terjatuh lagi. "Apa karena Ele? Apa karena wanita j*lang itu, kamu tega mencampakkan aku."
"Kau masih berani mengatai Ele, setelah apa yang kalian lakukan kepadanya. Ele tak pernah menyalahkan takdirnya, ia tidak pernah menyesal memiliki saudara seperti kalian."
Glek!
Allura menelan salivanya dengan wajah tegang. "Bagaimana bisa Alvin tahu, bahwa Ele adalah saudara tirinya. Apakah Ele pernah cerita?"
"Ele bahkan jauh lebih baik dari pada kamu."
Allura tersenyum sinis. "Kau sudah tertipu dengan mulut manisnya. Ele tak seperti yang kau pikirkan, dia manusia berwujud iblis, Alvin."
"Apa perlu aku katakan semuanya, bagaimana kalian membuang Ele dan membiarkannya hidup di desa terpencil. Apakah seperti itu saudara? Hati Ele jauh lebih mulia dibandingkan kamu. Ia tidak pernah permasalahan kehidupannya di sana."
"Kau percaya dengan Ele?"
"Iya. Aku lebih percaya Ele dari pada kamu. Semua di dirimu hanyalah kebohongan."
Allura tertawa hambar, matanya menyorot tajam ke arah Alvin. "Semua itu kami lakukan agar dia sadar. Dia dikucilkan keluarga karena telah membunuh ayahku."
"Ele melakukan itu karena melindungi diri. Tapi kamu tidak perlu menghakiminya seperti itu. Ele berhak hidup bahagia." Alvin menghantam Allura dengan tatapan intensnya. Sekujur tubuh Allura kaku, terasa terbakar dari dalam dan mengunci setiap gerakannya.
Allura mencoba tetap tenang agar Alvin memercayainya. Ia tidak mau berpisah dari lelaki itu. Wajahnya tertunduk sedih. "Iya. Kami salah, telah mengucilkan Ele dan membuatnya tinggal di desa. Tapi sekarang, yang jadi permasalahannya. Tolong beri aku kesempatan untuk menebus kesalahanku. Aku ingin membalas kebaikan ayah dan ibu sampai anak ini lahir. Aku mohon Alvin!"
"Aku tidak bisa."
Tangan Allura mengepal kuat. Bagaimana lagi ia harus mengatakan kepada Alvin, Ini adalah cara yang harus ditempuhnya. Ia yakin hati Alvin akan luluh jika melihatnya melakukan ini. Ia memperbaiki posisinya. Ia berlutut, matanya berubah sayu. Ia mengedip dan menatap ke bawah. Napasnya bertahan dalam tangisan. Bibirnya gemetar, begitu juga dengan tangannya. Ia mengangkat wajahnya dan menatap sendu dengan air mata yang terjatuh di pipi. Ia berlutut dengan bahu yang gemetar dan kembali menangis dihadapan Alvin.
Alvin diam tanpa ekspresi. Ia mengeraskan rahangnya sambil meremas tangannya dengan kuat. Dan lebih-lebih ia malah menguatkan hatinya agar keyakinannya tidak goyah. Ia hanya membuang napasnya, berdecak tidak suka atas tindakan Allura yang bersujud dan terus menangis di depannya. Hatinya seperti goyang. Alvin menarik napas dalam-dalam. Ia tetap pada pendiriannya. Ia tidak mungkin memaafkan orang penghianat seperti Allura. Alvin kembali mengeraskan hatinya, meski Allura sudah memohon kepadanya.
"Aku tak bisa mempercayaimu?"
"Alvin, aku mohon!"
Alvin melangkah mendekat ke arah Allura. "Aku harap kita tidak bertemu lagi."
Allura mencoba bangun dari duduknya, namun ia tak bisa melakukannya. "Bagaimana kalau aku tidak bisa melakukan itu, Alvin? Aku akan terus menjadi bayang-bayangmu."
"Terserah!"
Wajah Allura berubah dingin di sana. "Kau begitu mencintai wanita yang tidak tahu diri itu. Apa kau yakin bisa memilikinya?"
"Jangan pernah menyakiti hati Ele." Kata Alvin dengan ancaman.
"Aku bisa melakukan apa saja, Alvin. Ingat, aku adalah Allura."
"Aku tidak akan memaafkanmu. Kau akan menyesal jika berani menyentuh, Eleku." Tegas Alvin dengan rahang mengencang. Ia segera melangkah meninggalkan Allura yang masih terduduk.
"Kita lihat saja, apa kau masih bisa mengancamku jika Ele mati sama seperti ibunya." teriak Allura. Suaranya bahkan memenuhi rooftop itu.
__ADS_1
Tapi Alvin tak perduli. Ia melangkah pergi meninggalkan Allura yang terus berteriak. Tanpa menunggu ia segera melakukan panggilan kepada Marvel.
"Ya tuan." Marvel dengan cepat mengangkatnya saat panggilan itu ternyata dari bosnya.
"Persiapkan mobil, aku ingin menemui Ele."
"Heuh?" Marvel nampak bingung. "Maksudnya tuan? Bukankah anda bawa mobil?"
Heeee.... Alvin membuang napas sambil menutup matanya. Berusaha menerima kebodohan Marvel. "Aku tidak bisa menggunakan mobil ini, Marvel. Jalan ke desa tak begitu bagus."
Marvel mengembalikan pikirannya. Bagaimana ia harus mengatakannya, bahwa Ele tidak tinggal di sana lagi. "Tapi tuan...?"
"Persiapkan saja Marvel. Aku tidak menerima alasan."
Tit! panggilan itu langsung dimatikan Alvin.
Sementara Itu, Allura menjerit histeris saat Alvin meninggalnya begitu saja. Ia mencoba bangun untuk mengejar Alvin. Namun tiba-tiba terjadi kontraksi.
"Aaarghhhhh..... sakit..?" Allura meringis kesakitan. "Tolong....tolong!" Teriak Allura kesakitan.
Namun tak seorang pun yang mendengarnya.
"Sakit, aaarghhhhh...!" Allura tak bisa menahan sakit, saat kontraksi terjadi lagi. Terlihat raut wajahnya sangat kesakitan.
"Tolong....tolong!" Teriak Allura lagi. Ia mengatur napasnya agar sakitnya berkurang.
"Kenapa sakit sekali?" Allura berusaha bangun dan melangkah menuruni anak tangga, Ia mencoba meminta pertolongan.
"Tolong .....tolong....." Teriak Allura minta tolong. Ia tak sanggup untuk melangkah lagi.
Karena mendengar teriakkan dari seorang wanita. Dua orang pelayan langsung berlari ke sumber suara. Allura semakin tidak kuat, ia sedang bersandar di dinding ruangan itu, sambil memegang perut.
"Nyonya anda tidak apa-apa?" Tanya seorang pelayan kaget saat melihat keadaan Allura.
"Tolong bawa aku ke rumah sakit, anakku..." Allura merintih kesakitan. Ia merasakan perutnya mulas luar biasa. Punggungnya sakit dan keram. Bagian bawah panggulnya terasa penuh. Padahal usia kandungannya baru 34 minggu.
"Ba-baik nyonya." Ucap pelayan gugup. Ia shock saat melihat darah mengalir sampai tungkai. "Nona, anda mengeluarkan darah." Ucap pelayan itu ketakutan.
Matanya Allura terbelalak dan segera melihat ke bawah. Ia melihat darah segar mengalir ke kakinya. "Aaargggggg.... perutku sakit!"
"Dimana pria yang bersama anda tadi, nona?"
Allura menggeleng tak sanggup bicara. Saat melihat wajah Allura yang pucat. Pelayan itu berteriak agar segera menghubungi mobil ambulance. Allura sudah pingsan dan tak sadarkan diri.
BERSAMBUNG.....
^_^
Tolong dukung ya my readers tersayang. Ini Novel ketujuh aku π
__ADS_1
Salam sehat selalu, dari author yang cantik buat my readers yang paling cantik.
^_^