LOVE OF FATE

LOVE OF FATE
KEKUATAN DOA


__ADS_3

πŸ’Œ LOVE OF FATE πŸ’Œ


Β 


πŸ€ HAPPY READING πŸ€


.


.


...Ketika rasa putus asa sudah melampaui batas harapan, hanya kekuatan doa yang mampu merubah segalanya....


πŸ”ΈπŸ”ΈπŸ”ΈπŸ”ΈπŸ”Έ


Lukas keluar dari kantor Smith, Ia sudah melihat Marvel berdiri di depan mobil.


"Selamat malam pak." Marvel sedikit membungkukkan badannya, lalu membuka pintu untuk bosnya itu.


"Selamat malam Marvel." Jawab Lukas duduk di kursi belakang dan kemudian menutup pintu itu kembali.


Dengan cepat Marvel masuk ke dalam mobil dan duduk di kursi bagian kemudi. "Tujuan kita kemana pak?" tanya Marvel.


"Kita langsung ke rumah." jawab Lukas fokus menatap tabletnya. Ada pekerjaan yang harus diperiksanya.


Marvel langsung paham, ia membawa mobil itu meninggalkan perkantoran Smith.


DALAM PERJALANAN.


Lukas menghela napas panjang, ia tidak konsentrasi memeriksa email yang masuk. Ia hanya membaca dan menandai beberapa hal di tabletnya. Ia sekilas melihat ke arah Marvel yang fokus menyetir mobil.


"Sampai kapan kau harus diam seperti ini Marvel?" tanya Lukas mengangkat wajahnya dan menaruh tablet itu ke sampingnya.


"Heuh?" Marvel mengerjap, memandang tuan Smith dari kaca spion yang ada di tengah mobil. Dengan cepat Marvel menjawabnya. "Maaf tuan. Saya tidak mengerti maksud anda."


"Cih .." Lukas tersenyum kecil. "Aku rasa kau mengerti maksudku? kau bisa menceritakan semuanya, tanpa ada yang ditutup-tutupi. Dimana Alvin?" tanya Lukas to the point.


GLEK!


Marvel menelan salivanya begitu susah. Ia meremas setir mobil untuk menutupi kegugupannya.


"Kau adalah salah satu orang kepercayaan Alvin. Aku rasa, kau tahu dimana dia. Dimana Alvin bersembunyi?"


Deg!


"A-apa maksud anda tuan?"


"Apakah aku harus mengulangi ucapanku?"


Marvel semakin gugup. "Maafkan saya tuan. Saya benar-benar tidak tahu dimana tuan Alvin. Beliau tidak pernah menghubungiku sama sekali. Soal ATM sudah jelas anda sudah memblokirnya."


Lukas memijit pelipisnya. Apa yang dikatakan Marvel memang benar. Handphonenya juga tidak aktif lagi. Semua anak buahnya sudah melakukan pencarian. Namun Alvin tidak dapat ditemukan. Lukas benar-benar frustasi. Kejadian itu sudah hampir tiga bulan.


Lukas menarik napasnya lagi mencoba menahan perih yang ada di dadanya. "Apakah Alvin benar-benar tidak mengatakan apa-apa?"


Marvel tetap berusaha tenang. Ia menarik napas singkat dan menatap bosnya lewat kaca spion. "Maafkan saya tuan! Beliau tidak mengatakan apa-apa."

__ADS_1


Lukas mengusap wajahnya dengan kasar, memandang ke arah jalanan yang sepi. "Aku mengenal Alvin. Dia tidak mungkin meninggalkan wanita yang dicintainya di hari pernikahannya. Aku yakin Alvin pasti ada masalah pribadi yang saya tak ketahui?"


"Beliau tidak pernah terbuka masalah pribadi, tuan. Maafkan saya!" Kata Marvel menjawab. Ia terpaksa berbohong. Karena ia sudah berjanji untuk tetap menyimpan rahasia ini. Marvel kembali fokus menatap jalanan.


"Bagaimana Allura. Apakah Maria tetap mengirimkan supir untuknya?"


"Benar tuan. Beliau mengirimkan Sebastian untuk menjadi supir nona Allura."


Lukas membuang napas berat, "Saya ingin Sebastian benar-benar memperhatikan keselamatan anak yang dikandung Allura. Bahkan dalam hal-hal kecil apa pun itu. Allura harus tetap nyaman."


"Baik tuan, nanti saya akan sampaikan kepada Sebastian."


"Bagaimana dengan Arlo?" tanya Lukas mengalihkan pembicaraan.


"Seperti biasa ia tetap bekerja di kantornya."


Lukas tersenyum smrik. "Tetap awasi dia. Jangan sampai Arlo tahu bahwa pergerakannya sudah kuketahui."


"Baik tuan." Jawab Marvel cepat.


Lukas menarik napasnya dalam-dalam, menatap ke arah jalanan yang dilaluinya. Ingatan itu begitu jelas saat pertama kali bertemu dengan Arlo.


Hatinya tergerak ketika melihat seorang anak berusia 10 tahun. Arlo tergeletak di lantai di toko roti di kota A. Hari sudah tengah malam, cuaca semakin dingin menusuk ke tulang. Perlahan-lahan, Arlo mencoba untuk mendekati anak itu dan mengajaknya bicara. Tapi Arlo tidak merespon, hanya melihat dengan tatapan mata. Anak ini terbaring lemas. Lukas tidak tahu bagaimana kondisi anak ini, tapi ketika Arlo mengangkat anak itu, ia benar-benar seperti tidak memiliki tenaga. Lukas sempat bertanya kepada seorang bapak yang duduk di kursi memakai baju warna hijau. Umur berapa? Ada apa dengan anak ini sampe tergeletak nggak ada tenaga? Dan ia bahkan menanyakan orang tuanya?


Bapak itu mencoba menjawab semua pertanyaan Lukas. Bahwa anak itu tidak memiliki keluarga. Arlo dibuang oleh keluarnya. Lukas sangat terkejut saat itu. Ia takut jika anak ini memiliki rutinitas yang tidak baik, akan berpengaruh buruk untuk pertumbuhan si anak. Hingga akhirnya Lukas memutuskan membawanya ke rumah dan melakukan pertolongan kepadanya. Arlo diperlakukan seperti anak sendiri. Ia di sekolahkan di tempat yang sama dengan Alvin. Semua Lukas lakukan untuk kebahagiaan anak itu.


"Huffft....!" Lukas mengembuskan napas melepaskan lamunannya. Wajahnya datar dan dingin. Sekarang anak yang di besarkannya tumbuh menjadi anak yang tidak tahu berterima kasih. Ketamakan semakin terlihat jelas di wajahnya. Lukas masih terus menikmati setiap permainan yang dimainkan Arlo. Dia yakin ketamakannya adalah suatu kekuatan yang bisa menghancurkan dan mematikan hidupnya kelak.


Lukas kembali menarik napas singkat dengan pandangan sayu. Ia diam sambil melemparkan tatapannya ke luar jendela. Punggungnya menempel ke kursi. Melihat ke arah jalanan yang dilewati. Mereka membelok dan memasuki kediaman Smith. Pagar kokoh itu langsung terbuka otomatis.


Marvel langsung keluar terlebih dulu dari mobil untuk membuka pintu untuk bosnya itu.


"Terima kasih Marvel. Kau bisa langsung pulang." ucapnya dengan seulas senyuman tipis.


"Baik Tuan, selamat malam." Kata Marvel tersenyum kecil sambil membungkukkan badannya.


"Selamat malam." Balas Lukas di ucapan yang sama.


"Kalau begitu saya permisi tuan."


Lukas hanya mengangguk. Ia mundur beberapa langkah ke belakang agar mobil itu bisa memutar.


Marvel kembali masuk ke dalam mobil dan duduk di kursi kemudi. Lalu perlahan menginjak pedal gas untuk membawa mobilnya ke luar dari kediaman Smith. Dengan tarikan napas panjang, Lukas melangkah masuk.


πŸ”ΈπŸ”ΈπŸ”ΈπŸ”ΈπŸ”Έ


Elia berdiri menyambut kedatangannya.


"Selamat malam tuan," sapa Elia menunduk sopan.


"Selamat malam Elia, terima kasih karena selalu menunggu." ucapnya memberikan tas kepada Elia. Kemudian ia mencari wanita pendamping hidupnya itu. "Dimana istriku?"


"Nyonya Smith sudah tidur satu jam yang lalu, tuan."


"Apakah dia masih menangis?" tanya Lukas memberikan pertanyaan yang sama setiap hari. Ia begitu mengkhawatirkan kondisi istrinya itu.

__ADS_1


"Hari ini nyonya Smith tidak menangis tuan. Perasaan hatinya baik hari ini."


"Oh, iya?" Ekspresi wajah Lukas terlihat terkejut. "Apakah itu karena kehamilan Allura?" Ucapnya dalam hati. Ia kemudian tersenyum menatap ke arah Elia.


"Terima kasih Elia. Sekarang kamu bisa istirahat." ucapnya kemudian. Ia pun melangkah lagi menuju kamarnya.


Lukas membuka pintu tersebut secara perlahan.


CEKLEK!


Benar saja, ia melihat istrinya sedang tertidur di sana. Lukas lalu berjalan mendekati istrinya yang masih tertidur itu.


"Selamat malam," CUP! Lukas mencium kening istrinya. Ia lalu menarik tubuhnya menjauh dari Maria.


"Hmmm, mmm." Maria menyadarinya. Sapaan selamat malam dan sesuatu yang lembut menempel di keningnya membangunkan Maria dari tidurnya. "Sayang?" Gumam Maria mencoba membuka matanya, walau masih ngantuk. "Kau sudah pulang?"


"Hmm."


"Peluk aku." Ucap Maria kembali memejamkan matanya.


Lukas terkekeh sambil membelai rambut istrinya. "Aku belum mandi. Nanti kau bisa pingsan mencium bau tubuhku." Lukas membungkuk ke arah Maria. Memandang istrinya dengan senyuman.


Maria tidak menjawab, ia hanya tersenyum tipis. "Ayolah sebentar saja. Lagian aku sudah terbiasa dengan bau tubuhmu."


"Benarkah?"


"Hmm. Sebentar saja, tadi Alvin datang lagi ke mimpiku." Suara Maria tercekat di sana.


Lukas menarik napasnya yang terasa berat. Ia tahu Maria masih sangat sulit menerima kenyataan ini. Apalagi beredar di Internet, jika Alvin sudah meninggal dan mayatnya sudah dibuang ke laut. Saat mengetahui berita itu, Lukas bergerak cepat mencarinya. Namun hasilnya masih tetap sama. Tujuh hari melakukan pencarian, mayat Alvin tidak juga ditemukan.


"Lukas.. tunggu apa lagi, jangan melihatku seperti itu. Aku hanya ingin dipeluk, aku takut." ucap Maria dengan mata sendu.


Lukas tersenyum lagi. Akhirnya ia memutuskan naik ke atas kasur. Lukas merebahkan tubuhnya menyamping dan berhadapan dengan Istrinya. Ia menekuk siku. Merangkul punggung Maria agar mendapat sandaran yang nyaman di lengannya.


Maria langsung menyambutnya dengan satu ulasan senyum. Ia kembali memejamkan matanya sambil menarik napas panjang. Wangi woody dari parfum yang digunakan suaminya masih tercium olehnya.


"Siapa bilang tubuhmu bau, sama sekali tidak kok. Aku bahkan nyaman dengan posisi seperti ini."


Lukas tersenyum tipis, terus merangkulnya dengan erat dan mengusap kepala istrinya dengan lembut. "Jangan menangis sayang? Aku tidak ingin melihatmu bersedih."


Saat mendengar itu, raut wajah Maria tiba-tiba berubah. Ia menunduk tidak ingin melihat suaminya.


"Kita sudah berusaha untuk mencarinya. Bahkan kita sudah melakukan berbagai cara untuk melakukan pencarian. Tapi Alvin tidak bisa di temukan. Ponselnya juga tidak bisa dihubungi. Aku terkadang kehabisan ide dan ini benar-benar membuatku gila."


Mata Maria seketika berkaca-kaca saat mendengar itu. Semua yang dikatakan suaminya benar. Tapi sebagai seorang ibu, ia masih berharap bisa menemukan anaknya dan anaknya bisa kembali ke rumah ini.


"Allura sekarang mengandung anak Alvin. Sebisa mungkin, kita jangan menambah beban untuknya. Jika kau bersedih seperti ini, Allura bisa merasakannya. Dia bisa stres sayang dan itu bisa berdampak buruk untuk kandungannya."


Maria semakin menangis dan menganggukkan kepalanya dengan cepat. Bahunya naik turun gemetar. Sesungguhnya ia sedih membayangkan wajah anaknya. Maria terus memohon kepada Tuhan agar Alvin kembali. Semua bayangan itu sangat menakutinya. Segala doa ia panjatkan setiap hari, suatu saat semua doanya akan terjawab. Ia tahu kerja keras dan perjuangannya akan membuahkan hasil. Alvin akan kembali dengan sendiri ke rumah ini. Maria sangat yakin itu.


BERSAMBUNG.....


^_^


Tolong dukung ya my readers tersayang. Ini Novel ketujuh aku 😍

__ADS_1


Salam sehat selalu, dari author yang cantik buat my readers yang paling cantik.


^_^


__ADS_2