
π LOVE OF FATE π
Β
π HAPPY READING π
.
.
...Ambil langkah pertama dalam keyakinan. Kamu tidak harus melihat semua tangganya. Cukup ambil langkah pertama saja untuk meyakinkan diri sendiri, bahwa kenyataan itu benar apa tidak....
πΈπΈπΈπΈπΈ
Napas Alvin semakin tidak beraturan, ia melangkah cepat menuju pintu utama restoran. Tanpa mempedulikan panggilan dari pelayan restoran.
"Tuan?" teriak pelayan itu mencoba menghentikan Alvin.
Alvin tak juga menggubrisnya. Ia mengambil kunci yang ada di kantong celananya. Bahkan tanpa sadar Alvin sudah menjatuhkan kunci itu karena begitu gugup.
"Tuan, tunggu! saya ingin bicara," panggil pelayan itu lagi. Kali ini suaranya cukup keras.
Dan benar saja, Alvin segera membalikkan badannya dan melihat pelayan restoran berlari ke arahnya.
"Tuan, anda tidak bisa meninggalkan...."
Belum lagi wanita itu menyelesaikan kalimatnya, Alvin langsung memotongnya. "Maaf, saya tidak ada waktu."
"Maksud saya begini tuan..."
"Ahhhh..."Alvin tersenyum sambil menganggukkan kepalanya. "Saya mengerti, maksud anda soal pembayaran reservasi restoran? tenang saja! Nanti, asisten saya yang akan menyelesaikan sisanya." Alvin membalikkan badannya dan mengarahkan kunci remote ke arah mobilnya.
Tinit!
Pintu mobil terbuka otomatis.
"Tapi tuan, Ini bukan masalah pembayaran reservasi restoran. Ini soal wanita yang datang bersama anda."
Alvin menarik napas, mengerti arah pembicaraan pelayan itu. Dengan cepat ia menjawabnya. "Saya tidak ada urusan dengan wanita itu lagi."
"Tapi anda tidak bisa membiarkannya seperti itu. Dia sedang kesakitan tuan,"
"Maaf, saya tidak ada waktu untuk mengurusnya. Bisa saja dia sedang berpura-pura untuk mencari perhatian."
"Dia tidak berpura-pura tuan. Tapi wanita itu benar-benar kesakitan."
Namun Alvin tidak perduli, Ia masuk ke dalam mobil dengan terburu-buru.
"Tuan..tuan.. setidaknya anda membawanya ke rumah sakit." pelayan itu mengetuk pintu kaca mobil, mencoba menghentikan Alvin.
Alvin tidak perduli, ia tidak akan terpengaruh dengan sandiwara Allura lagi. Alvin memundurkan mobilnya. Matanya fokus memandang spion dan membanting setir. Alvin langsung menancapkan mobilnya dan pergi meninggalkan restoran. Sementara pelayan itu hanya bisa mengusap wajahnya dengan kasar. Ia tidak berhasil menghentikan lelaki itu.
Whhhhuuzzz....
Mobil Alvin melaju cepat menuju kantor Smith.
Ia membelah keheningan malam. Bayangan Ele tiba-tiba terlintas dalam benaknya. Alvin menarik napasnya cepat. Berusaha menahan segala gejolak yang ada di dalam dadanya. Kenangan itu semakin jelas. Satu bulan lebih tidak bertemu, menjadikan rasa rindunya semakin terasa sakit dan menusuk-nusuk hingga ke lubuk sanubari. Selama ini, Alvin hanya bisa mencoba selipkan dan benamkan rasa rindunya dalam-dalam yang terkadang muncul ke permukaan. Hari-harinya ia habiskan melakukan kehampaan. Hatinya benar-benar remuk. Seremuk kaca yang terhempas dan hancur berkeping-keping. Alvin menyadari betapa ia merindukan wanita yang tak bisa dipeluknya itu. Kini ia tidak akan melepaskan Ele lagi. Alvin bersumpah dalam hati.
"Tunggu aku sayang, aku datang membawamu." Bibirnya melengkung senyum bahagia. "Aku sudah tidak sabar bertemu denganmu, Ele?"
Alvin menarik napasnya dalam-dalam, hatinya bergetar mengingat bagaimana pertemuannya nanti dengan Ele. Ia merasakan debaran-debaran yang tercipta dari jantungnya.
Tak ingin ia menunggu lama di perkantoran Smith. Alvin dengan cepat menggunakan earphone wireless dan langsung di pasang ke telinganya. Ia mencoba menghubungi Marvel lagi.
__ADS_1
TUT
Baru bunyi nada tunggu yang pertama, seorang pria dari seberang langsung mengangkatnya.
"Iya tuan?" ucap Marvel dari ujung telepon.
Suaranya tidak jelas, terputus-putus karena pengaruh sinyal. Alvin mencoba mengeraskan suaranya. "Hallo, Marvel...Kamu dimana?" Ia mengurangi kecepatan mobilnya saat mendekati perkantoran Smith.
"Maaf tuan...saya tidak bisa mendengarnya."
"Kamu dimana Marvel?" Tanya Alvin mengulang pertanyaan yang sama.
Dengan cepat Marvel menjawabnya. "Maaf tuan. Saya masih di jalan?"
"Apa? kamu masih di jalan? kamu sengaja membiarkan aku menunggumu?" Ucap Alvin dengan kesal. Ia menekan klakson saat dua orang security menunduk hormat saat melihat kedatangannya.
"Maaf tuan, tadi jalanan macet. Saya tidak bisa menyalipnya."
Alvin menarik napasnya dengan tenang, "Kamu tahu, saya paling tidak suka menunggu." Alvin menarik rem tangan, tanda ia sudah sampai di depan pintu utama perkantoran Smith.
"Maaf tuan."
Alvin menarik napasnya. "Baiklah. Saya tunggu lima menit, kau harus sudah sampai di sini."
"Baik tuan."
Tit!
Panggilan langsung diputuskan Alvin sepihak. Ia menarik napasnya lagi sambil melihat jam yang ada dipergelangan tangannya. Jam sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Alvin tak perduli, ia harus tetap berangkat malam ini juga. Ia sudah tidak ingin menunggu esok. Alvin mengembuskan napasnya berulang kali. Ia memejamkan matanya sesaat untuk menenangkan hatinya. Bersabar menunggu sampai Marvel datang.
πΈπΈπΈπΈπΈ
Mobil yang dikendarai Marvel terlihat sedang memasuki perkantoran Smith. Marvel keluar dengan terburu-buru saat melihat Alvin melangkah mendekat ke arah mobilnya.
"Mana kuncinya?" ucap Alvin to the point.
"Apa tetap pergi malam ini, tuan?"
Alvin mengernyitkan dahinya saat pertanyaan itu keluar dari mulut Marvel. "Apa maksudmu?"
Marvel dengan cepat menundukkan kepalanya. "Mengingat hari sudah malam, saya takut anda..." Ia menangguhkan kalimatnya.
"Takut saya kecelakaan lagi?" Alvin melanjutkan kalimat yang tak selesai diucapkan Marvel.
"Maaf tuan, saya bukan bermaksud seperti itu."
"Kamu meragukanku?" alis Alvin naik dari pangkalnya.
Marvel menunduk lagi, menghindari tatapan Alvin yang penuh penghakiman. "Saya hanya mencemaskan anda."
Alvin tertawa kecil. "Aku hanya ingin menemui Ele, saya rasa tidak ada yang salah. Jadi berikan kuncinya!" Tangan Alvin mengulur.
Marvel masih ragu memberikan kuncinya. Bagaimana ia harus mengatakan kepada bosnya jika Ele tidak lagi tinggal di desa.
"Marvel, apa yang kau tunggu? Berikan kuncinya!" ucap Alvin mengulang pertanyaan yang sama. Ia masih tetap sabar hingga Marvel memberikan kunci itu.
Marvel menarik napas sambil memejamkan matanya. "Bagaimana aku harus mengatakan ini?" Batinnya berbicara. Walau ekspresi bingung dan resah tak bisa disembunyikan dari wajahnya.
Alvin mengernyitkan dahi. "Kau tidak perlu mencemaskanku. Aku bisa menyetir sendiri jadi berikan kuncinya!" Alvin mulai tak sabaran.
Marvel semakin tak sanggup untuk mengatakannya. "Sebelumnya saya minta maaf, tuan. Sebenarnya...." Marvel mendesah lesu sambil membuang wajahnya.
Alvin semakin mengerutkan keningnya. Perasaannya semakin tidak enak. Ia mencengkram kerah baju Marvel. "Ada sesuatu yang tidak aku ketahui?"
__ADS_1
"Maafkan saya tuan."
Alvin mengeraskan rahangnya dan semakin mencengkram kuat baju Marvel. "Sekarang katakan? apa ini mengenai Ele?"
Marvel sangat gugup melihat kemarahan Alvin. "Sa-saya...."
"Katakan MARVEL!" bentak Alvin, menarik kembali kerah baju Marvel. Kali ini lebih tegas lagi.
"Nona Ele sudah tidak tinggal di desa lagi."
"Apa?" Jantung Alvin langsung terpukul kencang. Ujung-ujung tangannya berubah dingin. Walau sesungguhnya Alvin paham maksud perkataan Marvel. Tapi ia ingin memastikannya lagi. "Apa maksudmu?"
"Maafkan saya tuan, nona Ele sudah tidak tinggal di desa lagi." Ucap Marvel pertegas ucapannya. Biar bagaimana pun Alvin memang harus tahu kebenaran ini.
Reflek tangan Alvin terlepas dari baju Marvel saat mendengar itu, Alvin semakin sulit bernapas. Ia menarik satu-satu napasnya. Memejamkan matanya begitu erat. Tangannya mengepal kuat hingga buku-buku tangannya memutih. Kupingnya panas saat mendengar kata maaf dan maaf lagi. Tapi yang membuatnya tidak terima.
"Ele sudah tidak tinggal di desa lagi? lelucon apa ini?" Alvin belum bisa terima. Tatapannya mengunci ke arah Marvel, begitu dingin hingga bisa membekukan hati Marvel.
"Apa aku harus percaya dengan ucapanmu saat kau mengatakan Ele sudah tidak tidak tinggal di desa lagi, begitu?"
Marvel tidak berani menjawabnya, ia hanya diam bergeming di sana.
"Apa Allura mengancammu?"
"Saya tidak diancam siapa-siapa, tuan. Ini adalah kebenarannya, bahwa nona Ele sudah satu bulan ini meninggalkan desa. Perkebunan dan rumahnya sudah dijual juga. Saya minta maaf karena baru mengatakannya."
"Maaf lagi dan maaf lagi, apa hanya kalimat itu yang harus aku dengar dari mulutmu?" Alvin menggeram dan sudah tidak tahan lagi. Matanya terbakar dengan kemarahan, Ia melangkah ke arah Marvel,
Dan....
BRUKKK!
Satu pukulan kuat mendarat di pipi Marvel. Pukulan bosnya itu membuat Marvel terjatuh. Alvin menarik kerah baju Marvel dengan ke dua tangannya.
"Bagaimana bisa kau mengatakan lelucon konyol itu. Apa kau ingin mati?"
Marvel merasa pusing dengan pukulan telak dari Alvin.
"Maafkan saya tuan, saya tidak bermaksud membuat anda marah."
"Aku tidak percaya! Bagaimana Ele bisa meninggalkan desa. Desa itu adalah kehidupannya, Ele tidak punya tempat tinggal lain kecuali desa itu." Rahang Alvin mengencang menahan amarah.
Tak cukup hanya sekali. Alvin kembali mengangkat kerah baju Marvel dan memukul wajahnya lagi. Marvel tidak membalasnya. Ia hanya tersenyum pasrah. Bibirnya berdarah dan pelipis di bawah matanya terasa keram.
"Jangan pernah menghalangiku. Sekarang serahkan kuncinya." Alvin sudah dikuasai amarah yang siap membakar Marvel hidup-hidup. Napasnya memburu cepat. Tatapannya begitu mengintimidasi.
Marvel mengembuskan napas panjang, ia memegang bibirnya yang terluka. "Maafkan saya tuan, saya tidak mengizinkan anda pergi. Saya tidak akan mengulangi kesalahan yang sama. Jika anda ingin ke sana, lebih baik menunggu sampai besok."
Alvin menarik napas sambil memejamkan matanya. "Aku tidak bisa menunggu besok. Sekarang berikan kuncinya!" Bentak Alvin.
Marvel mencoba tetap tenang menghadapi kemarahan bosnya itu. Ia menghela napas berat, lalu berkata. "Jika tetap ingin pergi hari ini. Izinkan saya mengantar anda ke sana."
Tangan Alvin mengepal kuat. Ia memilih tak menjawabnya dan melangkah meninggalkan Marvel lebih dulu. Alvin masuk ke dalam mobil dan duduk dibelakang supir. Marvel tersenyum sambil mengusap darah yang keluar dari bibirnya. Ia pun memilih masuk ke dalam mobil.
BERSAMBUNG.....
^_^
Tolong dukung ya my readers tersayang. Ini Novel ketujuh aku π
Salam sehat selalu, dari author yang cantik buat my readers yang paling cantik.
^_^
__ADS_1