LOVE OF FATE

LOVE OF FATE
RENCANA YANG SEMPURNA


__ADS_3

💌 LOVE OF FATE 💌


 


🍀 HAPPY READING 🍀


.


.


...Nasib baik terjadi ketika peluang bertemu dengan perencanaan. Semua akan berjalan dengan sesuai yang diharapkan....


🔸🔸🔸🔸🔸🔸


Ting nong….! tong nong…! ting nong…!


Bunyi bel pintu apartemen Allura berbunyi. Jarum jam yang ada di dinding kamar gadis itu sudah menunjukkan pukul 07.15 pagi. Allura masih tertidur dan belum terusik pada bunyi bel pertama.


Ting nong...! ting nong….! ting nong…! ting nong…!


Bel rumah berbunyi dan kali ini ditekan berkali-kali.


Allura bergumam pelan dengan mata yang masih terpejam. Ia bahkan mengganti posisi tidurnya agar lebih nyaman lagi. Ia memeluk bantal gulingnya dan kembali tertidur.


Ting nong….! tong nong…! ting nong…!


Allura mulai mengerutkan dahinya, "Mmmm." Gumaman protes mulai terdengar dari mulutnya.


“Ya, Tuhan baru juga aku tertidur..!” umpat Allura dengan mata terpejam. Tadi malam ia menghabiskan waktunya di klub malam bersama teman-temannya. Namun sialnya tidurnya terganggu karena bunyi bel yang terus berbunyi membangunkan paginya. Dari balik selimut, tangan satunya menutup telinganya dan tangan satunya mencari-cari jam weker yang ada di atas nakas untuk melihat jam. Begitu Ia mendapatkan apa yang diinginkan, Allura membuka matanya dan melihat jam.


"Astaga....jam tujuh? Aaarghhhhh...." Allura kesal, ia membanting jam weker ke sembarang arah di atas kasur. "Apakah dia supir brengsek itu?"


Allura menyibak selimut dari pangkuannya. Lalu berdiri sambil memijit pelipisnya. Ia berjalan sedikit oleng menuju pintu utama. Badannya lesu seperti tidak bertenaga karena kurang tidur.


CEKLEK!


Allura membuka pintu apartemennya. Rambutnya acak-acakan. Bajunya nampak kusut, matanya langsung terbuka saat melihat sosok lelaki tegap berdiri di depannya. Pria itu sedang tersenyum manis kepada Allura.


"Selamat pagi Allura sayang. Apa aku mengganggumu?"


"KAAUU?" Allura mengerutkan keningnya dan memilih tak menjawab pertanyaan pria itu.


"Aku bisa masuk?" tanya pria itu tersenyum ramah sambil mengangkat ke dua alisnya.


"Aku tak ingin diganggu, sekarang pergilah!" Allura hendak menutup pintu itu kembali.


Namun Harry menahannya. "Ayolah! Kau tidak merindukanku?"


"Tidak sama sekali, jadi pergilah!" jawab Allura dengan ketus.


Harry tersenyum penuh arti. "Aku ikut sedih melihat keadaanmu Allura, setidaknya aku datang untuk memberimu kekuatan."


"Omong kosong!"


"Aku serius," Kata Harry meyakinkan.


Allura memutar bola matanya. Ia merasa muak dengan sikap kakaknya itu. "Sudahlah jangan banyak sandiwara, aku tahu tujuanmu ke sini." Allura berjalan meninggalkan Harry.


Kaki Harry masih tetap menahan pintu agar tidak tertutup. Harry langsung tersenyum, itu tandanya ia diizinkan masuk.


"Sekarang katakan, apa yang kau inginkan?" Kata Allura berdiri ditengah ruangan dengan tangan bersedekap.


"Kau tidak menyuruhku duduk. Setidaknya kau memberiku secangkir kopi."


Rahang Allura mengeras menahan amarah. "Kau datang ke sini hanya untuk secangkir kopi? Kau tidak tahu tidurku terganggu karena kau!" Maki Allura dengan emosi meledak-ledak. Hatinya kembali panas membara jika melihat wajah Harry.

__ADS_1


"Allura, aku ini kakakmu. Kau harus menghormatinya."


"Kakak? Sejak kapan kau menjadi kakakku? Setiap aku membutuhkanmu, kau tidak pernah ada. Apakah itu seorang kakak?"


"Jangan seperti itu Allura. Aku tahu aku salah,"


"Pergilah ke wanita j*lang itu! Bukankah dia yang selalu berbaik hati kepadamu?"


"Oke maafkan aku. Kau tahu Ele bisa dimanfaatkan. Ia bisa memberikan hasil panen setiap bulan, setelah kita membuangnya ke desa. Kenapa kau begitu membencinya? Bukankah selama ini dia sudah memenuhi permintaan kita? Kau bisa sekolah karena Ele dan..."


"Tutup mulutmu...! Jangan sebut nama wanita j*lang itu di depanku." Allura menggeram dengan mata menyalang tajam. Emosinya semakin menguasai.


Harry mencoba menenangkan Allura. "Aku tahu kau sangat frustasi karena pembatalan pernikahanmu. Dan aku tahu itu murni karena kesalahanku. Seharusnya aku ada di sana sebagai pengganti ayah."


Allura menarik napas dalam-dalam. Dadanya masih terbakar. Api di hatinya masih tersulut. Ia sendiri bahkan tidak bisa memahami Harry. Lagi-lagi Allura membuang napas ke udara.


"Tetaplah seperti ini. Jangan pernah menunjukkan dirimu di hadapanku lagi. Apalagi menyebut nama wanita sampah itu di depanku. Aku tidak ingin kalian merusak kebahagiaanku hanya karena masa lalu itu. Ini tinggal selangkah lagi. Aku tidak ingin rencanaku hancur berantakan. Kau mengerti?"


Dahi Harry mengerut. "Apa maksudmu?"


Allura melemparkan tatapannya malas, ia mengigit bibir bawahnya sambil menarik napas singkat. "Aku tidak ada waktu untuk menjelaskannya." Kata Allura dengan dingin. Ia berjalan masuk ke kamarnya untuk mengambil sesuatu.


Harry mengikutinya, "Apa maksudmu Allura?Aku tidak mengerti!"


Namun langkahnya tiba-tiba melambat, matanya menatap ke arah bingkai foto yang ada di atas meja hias di dekat kamar Allura. Harry mengambil bingkai foto itu.


"Bukankah lelaki ini yang tega meninggalkan Allura? Kenapa juga Allura masih menyimpan foto ini?" Harry menatap foto itu begitu dalam.


Namun tiba-tiba dahinya mengernyit. "Sepertinya aku pernah melihatnya? tapi dimana ya?"


"Apa yang kau lakukan?" Bentak Allura melangkah panjang saat melihat Harry sedang memegang bingkai foto.


"Aku seperti pernah melihat pria ini." Harry mencoba mengingatnya.


"Tentu saja, kau pernah melihatnya. Alvin pernah bertemu denganmu."


Dengan cepat Allura memotongnya, "Jangan banyak alasan. Sekarang pulanglah! ambil uang ini dan jangan pernah menunjukkan dirimu lagi. Aku rasa uang itu cukup untuk melanjutkan hidupmu selama beberapa bulan ke depan."


Wajah Harry langsung berubah, bibirnya langsung melengkung dengan senyuman bahagia. Ia mencium amplop itu berulang kali. "Terima kasih Allura. Kau memang adik yang pengertian."


Allura membuang wajah tidak suka. Ia tidak ingin melihat Harry.


"Oke, aku pergi dulu. Jaga kesehatanmu adik manis." Harry melambaikan tangannya dan segera pergi meninggalkan apartemen Allura.


🔸🔸🔸🔸🔸


SEPULUH MENIT KEMUDIAN.


Baru saja Allura masuk ke kamarnya dan ingin melanjutkan tidurnya. Tiba-tiba terdengar suara bel berbunyi lagi.


TING NONG! TING NONG!


"Astaga Harry." Allura menggeram kesal. "Bukankah aku sudah berpesan agar tidak datang dulu. Aissssss!" Ia mendengkus sambil melangkah menuju pintu utama.


CEKLEK!


Allura membuka pintu apartemennya dan ingin memaki Harry.


"Apalagi yang kau inginkan?" Bentak Allura membuka pintu itu dengan kasar. Namun Allura sangat terkejut saat melihat dibalik pintu bukan Harry. Melainkan wanita paruh baya yang masih terlihat cantik di usianya yang tak lagi muda. Wanita itu sedang tersenyum manis kepada Allura.


"Selamat pagi sayang. Apa aunty mengganggumu?" ucap Maria begitu lembut di sana.


"Aunty?" Mata Allura membulat sempurna. "Maafkan aku aunty, tadi aku pikir yang datang itu adalah security apartemen." ucapnya berbohong.


"Tidak apa-apa. Aunty mengerti kok, emosi wanita hamil itu sering berubah-ubah. Tidak usah dipikirkan." Kata Maria tersenyum di sana. "Apa aunty bisa masuk?" tanya Maria kemudian sambil mengangkat ke dua alisnya.

__ADS_1


"Tentu saja aunty. Silakan masuk!" Allura membuka pintu lebih lebar lagi. Maria tersenyum sambil melangkah masuk.


"Aunty membawakan makanan untukmu. Semuanya makanan kesukaanmu, sayang" Maria mengangkat wadah makanan yang dibelinya dari restoran mewah saat hendak ke apartemen Allura. Tadi malam Ia sudah menghubungi pihak restoran terlebih dahulu.


"Terima kasih aunty. Aunty datang sendiri?" tanya Allura menutup pintu dan membalikkan badannya mengikuti aunty Maria.


"Hmmm, tadi Marvel menghubungi Uncle Lukas. Ada investor dari luar negeri ingin berkunjung ke perusahaan Smith."


Allura hanya mengangguk dan mengikuti langkah aunty Maria.


"Semua makanan ini baik untuk ibu hamil."


"Aunty harusnya tidak usah repot-repot."


"Aunty tidak merasa repot kok. Jangan terlalu dipikirkan." Kata Maria meletakkan wadah makanan yang dibawanya tadi di atas meja dapur dan kembali ke ruang tamu.


"Terima kasih aunty."


"Duduklah bersama aunty sayang." Maria menepuk sofa yang di sampingnya agar Allura duduk bersamanya.


Allura mendekat dan duduk berhadapan dengan Maria. Maria menyentuh perut Allura dengan lembut. Memberikan usapan di sana.


"Tadi malam, aunty dan uncle sudah membicarakannya." Kata Maria memulai pembicaraan.


Deg!


Tiba-tiba perasannya tidak enak, membicarakan apa maksud wanita ini. Apakah jangan-jangan aunty tahu semuanya?


"Mem-membicarakan apa aunty?" ucap Allura dengan gugup.


Maria mengambil tangan Allura dengan lembut dan memberikan usapan di punggung tangannya. "Kau tetap kami anggap sebagai menantu keluarga Smith."


Allura begitu terkejut, ia mencoba memastikannya lagi. "Aku tidak mengerti maksud aunty. Alvin meninggalkan aku aunty. Bagaimana aunty bisa menganggap saya sebagai menantu, sementara kami belum menikah?"


"Hmm. Aunty mengerti. Tapi walau bagaimana pun, kami akan tetap menganggap pernikahan itu ada. Kami ingin memasukkan anak ini ke daftar keluarga kami."


DEG DEG DEG DEG


Jantung Allura memukul kencang, sangat kencang saat mendengar penjelasan aunty Maria. Napasnya tertahan di dada.


"Aunty?" ucap Allura tidak bisa menutupi rasa terkejutnya.


"Mulai hari ini, kamu sekarang bagian keluarga Smith."


Mata Allura berkaca-kaca, Ia tidak sanggup untuk bicara. Allura menunduk, memilih untuk tidak menatap wanita paruh bayah itu. Deru jantungnya berdetak kuat dan rasanya ingin melompat dari rongga dadanya.


"Aku tidak pantas mendapatkan semua ini aunty. Aunty sudah begitu baik kepadaku." Allura mengangkat wajahnya. Menatap wanita itu dengan pandangan nanar. "Sungguh aku tidak pantas aunty?" Ucapnya parau dan gemetar.


"Tidak sayang. Kau pantas mendapatkan semua ini. Anak ini adalah darah daging Alvin dan kami begitu bahagia."


Bibir Allura semakin gemetar. Napasnya keluar tidak stabil. Ia tidak tahan lagi dengan segala gejolak yang muncul di dada. Ia mulai menangis, wajahnya mengerucut, mengerut. Ia mulai mendekat dan memeluk Maria.


"Terima kasih aunty, aku bersyukur telah dipertemukan dengan orang baik seperti kalian." Kata Allura menangis di sana.


Maria membalas pelukan Allura. Ia tersenyum di sana sambil mengelus rambut Allura. "Sekarang jangan pikirkan apa-apa lagi. Kau hanya fokus memikirkan kesehatanmu."


Allura mengangguk cepat. Ia tersenyum dibalik pelukan aunty Maria. Semua rencananya berjalan sempurna.


BERSAMBUNG.....


^_^


Tolong dukung ya my readers tersayang. Ini Novel ketujuh aku 😍


Salam sehat selalu, dari author yang cantik buat my readers yang paling cantik.

__ADS_1


^_^


__ADS_2