LOVE OF FATE

LOVE OF FATE
BERTEMU LANGSUNG


__ADS_3

๐Ÿ’Œ LOVE OF FATE ๐Ÿ’Œ


ย 


๐Ÿ€ HAPPY READING ๐Ÿ€


.


.


...Kesetiaan bermula dari kebersamaan, berkembang karena pengertian, dan bertahan karena rasa saling percaya....


๐Ÿ”ธ๐Ÿ”ธ๐Ÿ”ธ๐Ÿ”ธ๐Ÿ”ธ


Ele mengabaikan panggilan itu. Senyap, suara panggilan itu tidak terdengar lagi. Ia kembali mengambil beberapa foto dari kamera handphonenya. Ia tersenyum sambil membuka foto yang tersimpan di galeri. Dengan menggeser layar pipih itu, untuk melihat hasil jepretannya dari kamera handphonenya.


"Wow, keren sekali." Ele tersenyum sumringah saat melihat hasil jepretannya ternyata lumayan juga. Ia kembali berselfi ria untuk membuang kebosanannya. Alvin tak jua datang.


Ele membuang napas lesu sambil melihat ke belakang. Belum juga ada tanda-tanda Alvin datang. Ia menarik napas dengan pipi mengembung, sampai ke dua bahunya terangkat ke atas.


Dddrrrttt..... Drrrttttt....


Panggilan dari handphone Alvin berbunyi lagi. Ele membalikkan badannya.


"Apakah aku harus mengangkatnya?" Ele sejenak berpikir, lalu akhirnya Ia memutuskan untuk menjawabnya. Ia kembali duduk dan meraih layar pipih itu dari atas meja.


"Heuh? Nomor tidak dikenal?" Ele menggeser layar pipih itu. Dengan perlahan Ia menempelkan ponsel itu ke telinganya.


"Alvin, sayang. Kenapa tidak datang? anak kita menangis terus ingin bertemu dengan kamu. Apa yang harus aku lakukan. Badannya panas tinggi. Aku tidak tahu harus berbuat apa lagi." Terdengar isak tangis dari ujung telepon.


DEG DEG DEG


Seketika jantung Ele berdetak kencang. Pasokan oksigen seakan enggan masuk ke dalam paru-parunya. Ia mengenal suara itu.


"Allura?" ucap Ele tanpa bersuara.


"Apa kau mendengarnya, anak kita terus mencarimu. Setidaknya kamu datang untuk melihat keadaannya. Badannya sampai kejang, Alvin. Aku benar-benar gila."


Glek! Ele menelan salivanya. Wajahnya terasa panas. Ia masih diam tidak menjawab. Napasnya terdengar tidak stabil. Ele terus menenangkan hatinya. Tangannya gemetar di sana.


"Kenapa kamu diam sayang, jangan katakan anak ini, bukan anakmu. Aku sudah melakukan tes DNA dan anak ini benar-benar anakmu. Jangan berpikir untuk lari dariku, Alvin."


Dalam hitungan detik, handphone itu terjatuh dari tangan Ele. Dahinya mengerut. Perasannya campuran aduk. Ia menahan segala gejolak yang ada di dadanya. Ele membiarkan Allura terus berbicara di ujung telepon. Suara itu sangat dikenalinya. Dia benar-benar Allura. Dia sangat yakin itu.


"Aku kirim alamatnya. Aku yakin, kamu pasti datang."


Panggilan pun terputus.


Ekspresi wajahnya tiba-tiba berubah. Ele menggeleng, mencoba mencerna dan memahami apa yang terjadi.


"Bukankah Alvin mengatakan bahwa anak itu bukan anaknya?"


Wajah Ele menegang. Napasnya mulai berhembus tidak stabil. Bibirnya gemetar sambil berucap.


"Apakah Alvin berbohong? Tidak..tidak..Aku harus percaya dengan Alvin. Aku yakin anak itu bukan anaknya." Ele menggelengkan kepalanya.


TING!


Satu pesan masuk. Ele yakin itu pesan dari Allura. Ele membaca pesan itu sekilas. Lalu mengirimkan alamat itu ke handphonenya.


Ele lalu mengusap wajahnya dengan kasar. Ia menggigit bibirnya dengan frustasi.


"Aku harus percaya, Alvin. Allura adalah manusia iblis, ia bisa melakukan apa saja agar Alvin kembali padanya." Ele menarik satu-satu napasnya yang terasa sesak. Berusaha menstabilkan napasnya yang semakin menyakitkan dadanya. Jantungnya berdebar kencang. Ia menarik napas dalam-dalam dan menghembuskan kembali. Tatapannya kosong. Ia memejamkan matanya untuk menenangkan hatinya kembali.


"Ele?" panggil Alvin.


Ele menahan napasnya dan melihat ke arah Alvin. Jantungnya masih berdebar kencang. Tatapan mereka bertemu. Alvin tersenyum dan Ele diam membeku.

__ADS_1


"Kau sudah memesan makanannya?" Tanya Alvin mengambil duduk di samping Ele. Dahinya mengerut saat melihat handphone ada di bawah. "Kenapa ada di sini?" Gumam Alvin berbicara pada dirinya sendiri.


"Ah..maaf, sayang. Tadi aku bertemu dengan klien saat aku mau kembali ke sini. Seperti biasa, dia sedikit bercerita mengenai kemajuan perusahaannya. Itu karena kerjasama yang baik dengan perusahaan Smith."


Ele tidak menjawabnya, ia diam tanpa ekspresi dengan pandangan menatap lurus.


"Sayang?" Alvin menyentuh tangan Ele.


"Heuh?" Reflek Ele menarik tangannya. Ia terkejut saat tangan Alvin menyentuhnya.


"Kau melamun." Alvin tersenyum lembut.


"Maaf, tadi bilang apa?" kata Ele berusaha mencoba menenangkan hatinya. Ia tidak ingin merusak momen ini. Walau hati dan pikirannya saat ini sangat kacau. Ia masih mencoba bersikap biasa saja. Menganggap tidak terjadi apa-apa.


Alvin tertawa lepas sampai menunjukkan deretan giginya. "Kau cantik saat gugup seperti ini. Tadi aku bertanya, apa kau sudah memesan makanan untuk kita?" tanya Alvin kembali. Kini posisinya menghadap ke arah Ele. Menatap mata indah itu.


"Ah..."Ele melepaskan senyumnya sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Aku sudah memesannya." Jawab Ele mencoba melarikan pandangannya. Saat ini hatinya menolak rasa itu.


Alvin menaikkan alisnya. "Sayangku, apa kau sakit?" Tanya Alvin menyentuh pipi Ele.


"Tidak, aku tidak apa-apa, sayang."


"Apa kau lapar?"


"Tidak juga."


"Kenapa diam, kau banyak melamun hari ini." ucap Alvin terus menatap Ele dengan lekat.


Ele memaksa bibirnya untuk tersenyum. "Makanannya sudah sampai." ucap Ele mengalihkan perhatian.


"Selamat malam tuan, saya akan menyajikan makanan ini." Ucap pelayan dengan sopan.


"Oh, silakan." Ucap Alvin mempersilakan.


Dua pelayan menyajikan makanan sesuai pesanan mereka dan menaruhnya di atas meja. "Apa ada tambahan lagi tuan?" Tanya pelayan itu sebelum pamit pergi.


"Saya rasa cukup." jawabnya datar.


"Baiklah, selamat menikmati." pelayan restoran itu pamit undur diri setelah mengucapkannya.


"Terima kasih." ucap Ele menatap kepergian dua pelayan itu.


Alvin tersenyum. "Selamat makan, sayang."


"Hmm. Habis makan kita langsung pulang."


Alvin mengernyit bingung. "Pulang?"


"Hmm, aku ada pekerjaan."


"Bukankah ini hari libur?"


"Cafe tidak pernah tutup di hari libur. Marvel saja masih melakukan tugasnya di hari libur."


"Soal Marvel, dia hanya mengunjungi warga sekaligus meminta tanda tangan mereka."


"Sebenarnya Oliv menghubungiku. Ada resep kue yang harus kami luncurkan." Ele berbohong.


"Baiklah, tapi kita selesaikan dulu makannya. Bagaimana?" tanya Alvin.


"Oke.." Ucapnya menimpali. Ele hanya tersenyum samar.


Alvin memberikan beberapa potongan daging steak yang ada di piringnya. "Makan yang banyak, sayang." Alvin memberikan senyum terbaiknya sambil mengusap singkat rambut di belakang kepala Ele.


Ele tersenyum tipis. Ia kembali melanjutkan makannya dalam diam. Walau ia hanya memutar-mutar ujung pisau yang ia tancapkan pada potongan steak. Ele hanya menatapnya tanpa napsu. Wajahnya gundah, pandangannya sayu, matanya mengedip-ngedip pelan. Tidak ada semangat. Rasanya ingin cepat-cepat pulang.


"Sayang? Kau sama sekali tidak menyentuh makananmu." Alvin melepas garpu dan pisau ke atas piring. Ia menatap Ele dengan penuh perhatian. "Apa kau tidak suka makanannya? kita bisa ganti yang lain."

__ADS_1


Ele menggeleng tanpa bersuara. Wajahnya kaku tanpa ekspresi.


"Sayang?" panggil Alvin lagi.


"Bisakah kita pulang saja?" ucapnya menunduk lesu.


"Apa peluncuran resepnya begitu penting?"


"Iya. Itu penting untuk kemajuan cafe strawberry." kata Ele tidak ingin melihat wajah Alvin.


Alvin menarik napas dalam, meraih tangan Ele. "Baiklah, kita pulang."


Ele hanya menganggukkan kepalanya. Setelah selesai melakukan pembayaran. Alvin kembali menggandeng tangan Ele. Ele hanya tersenyum samar.


Alvin menatap ke samping. "Apakah ini hanya perasaanku saja. Sejak aku kembali dari toilet, Ele nampak berubah. Apa yang sebenarnya terjadi?" Bisik Alvin dalam hati.


"Apa kau suka tempatnya ?" tanya Alvin mencairkan suasana.


"Hmm. Kau sudah berulang kali mengatakan itu. Aku suka, Alvin. Aku sangat suka."


Alvin terkekeh. "Aku juga sangat menyukai tempat ini. Jika ada pertemuan klien dari luar negeri, kami melakukan pertemuannya ditempat ini. Kita bisa bernegosiasi dengan baik sambil menikmati pemandangan di sini. Dan sekarang, aku sangat bahagia, aku bisa datang ke tempat ini bersama wanita yang aku cintai." Alvin kembali mengecup punggung tangan Ele.


๐Ÿ”ธ๐Ÿ”ธ๐Ÿ”ธ๐Ÿ”ธ๐Ÿ”ธ


PERJALANAN PULANG.


Pemandangan sang matahari semakin lama semakin tenggelam dan telah digantikan oleh gelapnya malam. Di dalam mobil, hening menyeruak di antara mereka. Ele sengaja mengubah posisi duduknya agar bisa tidur dengan nyaman.


Alvin memandang wajah Ele sekilas. "Tidurlah sayang, tidak apa-apa." kata Alvin memegang tangan Ele dengan lembut.


Ele langsung memejamkan matanya saat mendengar kalimat itu. Alvin menarik napas singkat. Ia menatap lurus, memilih fokus menyetir. Alvin membawa mobilnya membelah jalan. Sesekali ia tersenyum sejenak, lalu memegang lembut tangan Ele. Ia tertidur dengan polos seperti bayi. Napas kecil terdengar dari hidungnya.


Alvin kembali larut dalam pemikirannya sendiri. Sesekali menarik napasnya dengan singkat.


Mereka akhirnya tiba di depan cafe milik Ele dan wanita pujaannya itu masih tertidur. Alvin tersenyum sambil melepaskan sabuk pengamannya. Ia mencondongkan ke samping mendekat ke arah Ele.


"Sayang, kita sudah sampai." Bisik Alvin tepat di telinga Ele.


Ele bergumam dalam tidurnya. Lalu membuka matanya perlahan.


"Kita sudah sampai." ucap Alvin kembali sambil melepas senyumnya.


Alvin lalu turun dari mobil dan membuka pintu untuk Ele.


"Terima kasih, sayang." ucapnya datar dengan senyuman singkat.


"Aku bisa masuk dan melihatnya?"


"Tidak Alvin, ini butuh waktu lama. Lebih baik kamu pulang ke hotel saja."


"Sayang, biarkan aku menemanimu hari ini. Hmm.." Pinta Alvin. "Aku tidak ada pekerjaan juga."


"Besok bukannya kau ada rapat untuk menyelesaikan pekerjaanmu yang di sini? Jadi, lebih baik persiapkan dirimu untuk rapat besok. Aku tidak apa-apa."


"Baiklah, jangan lupa makan lagi. Tadi kau tidak menikmati makananmu dengan baik. Hubungi aku jika pekerjaanmu sudah selesai." Alvin mendekat ke arah Ele dan mengecup keningnya dengan singkat. Ia membelai lembut pipi Ele dengan jarinya. "Aku kembali ke hotel."


"Hati-hati. Kalau begitu aku masuk dulu." Kata Ele. Ia membalikkan badannya. Disaat itu pula, Ele memejamkan matanya. Satu tetesan air mata terjatuh bebas di pipinya. Ele menangis dalam diam. Ia mengepalkan tangannya, agar ia tidak melihat ke belakang. Ia hanya terus melangkah.


Alvin hanya menatap punggung Ele. Ia kembali masuk ke dalam mobilnya. Saat Alvin memutar mobilnya. Ele langsung membalikkan badannya dan berlari menuju mobilnya. Dia harus menemui Allura. Menghadapi wanita itu, harus dengan cara bertemu langsung. Ele tidak mau hubungannya hancur begitu saja. Bagaimana mungkin Allura masih berani mengemis cinta kepada Alvin. Sementara Alvin sudah melepaskannya.


BERSAMBUNG


^_^


๐Ÿ”ธTolong dukung ya my readers tersayang. Ini Novel ketujuh aku ๐Ÿ˜


๐Ÿ”ธSalam sehat selalu, dari author yang cantik buat my readers yang paling cantik.

__ADS_1


^_^


__ADS_2