LOVE OF FATE

LOVE OF FATE
MENDATANGKAN KEBAIKAN


__ADS_3

๐Ÿ’Œ LOVE OF FATE ๐Ÿ’Œ


ย 


๐Ÿ€ HAPPY READING ๐Ÿ€


.


.


...Saat ingin berbuat baik, kita tidak boleh melihat siapa yang akan kita beri kebaikan. Hal tersebut dikarenakan semua orang pantas mendapatkan kebaikan dari siapapun....


๐Ÿ”ธ๐Ÿ”ธ๐Ÿ”ธ๐Ÿ”ธ๐Ÿ”ธ


Langkah demi langkah ia susuri dengan tarikan napas panjang. Ia mendapati di tengah-tengah area, terdapat beberapa potongan pohon yang di bentuk sebagai bangku panjang untuk tempat duduk. Ele duduk dan berdoa di sana. Doa yang sama ia panjatkan setiap hari. Mendoakan lelaki yang ia rindukan.


"Maafkan aku karena tetap diam-diam menyimpan rindu, yang satu persatunya aku kirimkan lewat doa yang terpanjatkan untukmu. Aku akan mencoba menghilangkan mantra rindu yang melekat pada setiap saat tentangmu sedikit demi sedikit. Walau dalam hati kecilku, aku masih berharap suatu saat akan dipertemukan kembali denganmu."


Ele membuang napas panjangnya dari mulut. Bahunya ikut turun. Ia masih berharap bisa bertemu dengan lelaki yang pernah mengisi hatinya itu.


"Kamu memang hal terindah yang pernah aku temui, Alvin. Tetaplah sehat di sana." Ele tersenyum lagi. Cinta memang seperti angin. Ia tidak bisa menyentuhnya, tetapi hanya bisa merasakan keberadaannya dalam hati saja.


Ele kembali menarik napas dalam-dalam, lalu mengembuskan sekaligus. Melakukan ritual yang biasa ia lakukan. Ia diam terpaku dan berdiri dengan pandangan nanar di sana. Ia membaca tulisan yang begitu menyejukkan hatinya.


Dan sekarang semua bisa ia lalui dengan baik. Ele tersenyum lalu meninggalkan tempat itu.


Ia kembali berjalan menyusuri taman untuk segera menemui suster yang telah menyelamatkannya.


Langkahnya begitu pelan. Setapak demi setapak. Ia kembali larut dalam pikirannya. Ele tersenyum saat berpapasan dengan suster lagi. Ia berjalan santai, terus dan terus berjalan menikmati semuanya dengan damai. Ia melangkah masuk ke belakang bangunan yang sedang tahap renovasi. Menengadah ke atas menatap gulungan awan putih yang begitu indah. Tempat ini memang asri,ย rapi dan bersih. Sirkulasi cahaya dan udara yang baik membuatย suasana nyaman. Ele tersenyum samar. Suhu udara benar-benar menenangkan hatinya.


Ele kembali melangkah pelan menyusuri jalanan kapel yang di kelilingi dengan bunga-bunga yang cantik. Ia berjongkok saat melihat bunga yang sedang bermekaran di depan kamar suster yang akan ditemuinya. Ele memetiknya dengan senyuman bahagia. Kemudian menghirup aroma bunga itu sambil memejamkan matanya. Ada rasa bahagia dan haru menyelimuti hatinya. Ele tidak tahu, Yang jelas ia menikmati momen ini.


"Ele, kamu sudah datang?" suster Agatha berjalan mendekat ke arah Ele.


Ele segera membalikkan badannya dan tersenyum menatap suster Agatha yang sudah dianggapnya seperti saudara sendiri. "Hmm. Tempat ini benar-benar indah suster, jadi aku menikmati keindahannya dulu, sebelum menemui suster."


"Seperti biasa yang kamu lakukan? Yang penting jangan menangis saja."


"Hahahaha. Suster bisa aja."


"Bagaimana, kita sudah bisa pergi?"


"Saya ingin menemui pastor dulu, suster."


Suster Agatha mengerti maksud Ele, "Baiklah, sekarang ikut saya."


๐Ÿ”ธ๐Ÿ”ธ๐Ÿ”ธ๐Ÿ”ธ๐Ÿ”ธ


"Terima kasih atas kunjungan anda, nona Ele. Anda sudah banyak membantu yayasan ini." Pastor Lionelius mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan dengan Ele.


"Sama-sama pastor, saya juga ikut senang bisa membantu yayasan ini." Mereka pun saling berjabat tangan dan saling melempar senyum.


Tangan mereka pun saling melepas. "Baiklah, kalau begitu saya permisi pastor." Ele sedikit menundukkan kepalanya.

__ADS_1


Ele berjalan ingin meninggalkan ruangan itu. Pastor Lionelius mengikuti Ele dari belakang untuk mengantarkannya sampai di depan pintu. Tiba-tiba Ele berhenti dan membalikkan badannya. Ia ingin berbicara dengan pastor Lionelius lagi.


"Jika anda memerlukan bantuan saya, jangan segan-segan mengatakannya pastor. Apalagi untuk anak panti asuhan."


"Baik, nona Ele. Terima kasih atas perhatiannya. Anak-anak panti pasti begitu senang. Kehidupan mereka jauh lebih baik, setelah fasilitas yang anda berikan membuat mereka lebih semangat untuk tinggal di sana."


"Sama-sama pastor, kalau begitu saya permisi dulu." ucap Ele tersenyum.


Pastor itu hanya mengangguk dan membiarkan Ele meninggalkan ruangannya. Ele pun langsung menemui dua orang suster yang akan menemaninya ke panti asuhan.


๐Ÿ”ธ๐Ÿ”ธ๐Ÿ”ธ๐Ÿ”ธ๐Ÿ”ธ


Perjalanan melewati tepian sungai yang cukup indah membuat ia melupakan lelah yang mulai terasa. Ia terus menyusuri jalan bersama dengan dua suster cantik yang pernah menolongnya. Ele menarik napas panjang dan tersenyum ketika ia sudah tiba di panti Asuhan. Ia saat ini bahagia bisa sampai ke tempat ini lagi. Di gerbang panti asuhan. Seorang wanita yang menggunakan velum ini tersenyum melihat kedatangan mereka.


Ele tersenyum sambil mengarahkan jari telunjuknya ke mulutnya. Gestur agar suster itu tak bicara. Suster itu tersenyum mengetahui maksud dari Ele.


Ele kembali tersenyum sambil mengedarkan pandangannya. Melihat anak-anak berlarian saling berkejaran-kejaran. Cat gerbangnya berwarna biru yang mulai memudar, pintu gerbangnya juga sudah mulai berkarat, engselnya mengeluarkan bunyi nyaring kalau digerakkan. Namun yang membuat tempat ini indah, banyak bunga-bunga yang menghiasi halaman pekarangan panti asuhan. Anak-anak berlarian di halaman panti yang cukup luas, ada yang sedang bermain ayunan, main bola plastik, main karet. Melihat keramaian itu ia tersenyum dan melangkah pelan mendekati anak-anak sedang bermain. Seorang anak menyadari kedatangannya berteriak bahagia melihat sosok siapa yang datang. Sosok yang mereka tunggu-tunggu dan mereka rindukan.


"Kakak Ele...." Teriak salah seorang anak berlari, yang diikuti anak-anak yang lain. mereka berhambur memeluk wanita cantik yang menurut mereka seperti bidadari itu.


"Hei, baru seminggu juga kita tidak bertemu anak-anak manis." kata Ele ketika tubuhnya dipeluk beberapa anak.


"Kami merindukan cerita kakak. Ayo kami sudah tidak sabar menunggu cerita dongeng dari kakak cantik."


"Ehmmm.." Ele memiringkan bibirnya. Pupil matanya naik ke atas dan mengetuk keningnya berulang kali dengan jari telunjuknya.


"Sepertinya kalian hanya merindukan dongeng dari saya saja, tapi tidak merindukan kakak. Ehmmmm saya jadi sedih nih.." wajah Ele mengerucut dan ekspresi wajahnya pura-pura sedih.


"Tidak, tidak, kami merindukan kakak cantik juga." Kata anak-anak spontan.


"Tuhan...." Seru anak-anak serentak.


"Jadi anak-anak harus berkata...?"


"Jujur....."Jawab mereka lagi.


"Jadi kalian berkata jujur atau bohong?"


"Jujur..."


"Berarti di sayang?"


"Tuhan...."


"Anak pintar. Sekarang kalian mandi dulu. Saya akan tunggu kalian di aula dalam waktu 30 menit, oke..." Seru Ele antusias dan tersenyum ketika melihat anak-anak panti langsung berlari masuk untuk membersihkan tubuh mereka.


Di saat menunggu anak-anak mandi sore dan bersiap-siap terlebih dahulu. Waktu Ele dimanfaatkan berkeliling panti dan melihat-lihat bagaimana kehidupan di sana. Menempati kompleks yang cukup luas, sarana yang tersedia di sana sangat memadai. Anak-anak itu dibesarkan dalam lingkungan yang nyaman, bersih dan sehat. Ele datang bersama dua orang biarawati yang ditugaskan untuk membantu panti asuhan ini juga. Mereka menyiapkan boneka lipat origami Pinguin dan Kelinci sebanyak-banyaknya untuk dibagi-bagikan diakhir acara.


Setelah hampir 30 menit mereka menunggu, tibalah saat yang dinantikan. Terlihat anak-anak itu berbaris rapi memasuki sebuah aula yang juga sudah dihias. Hampir 70 anak terlihat begitu ceria dan penuh semangat menyambut kedatangan Ele dan dua suster cantik. Mereka mengikuti setiap acara dengan antusias, termasuk ketika Ele tampil menghibur dengan dongengnya.


Ele membuka acara dongeng sambil mengenalkan boneka tangan berbentuk tikus. Ini adalah trik yang digunakan untuk membangkitkan minat dan memusatkan perhatian anak-anak pada cerita yang akan dibawakannya.


"Sudah siap mendengarkan cerita saya?"

__ADS_1


"Sudah kakak cantik..."


"Saya mau tanya, sudah berapa kali ya saya ke sini?" Tanya Ele menunjukkan gestur berpikirnya.


"Sudah tidak terhitung lagi kakak cantik."


"Heeemmm. Yang saya tanya sudah berapa kali, ayooo siapa yang bisa jawab?"


Salah satu anak mengangkat tangannya. "Sepertinya 30 kali dalam satu tahun ini, kak."


"Ingatan yang bagus..." Kata Ele tersenyum. Ada yang masih ingat dongeng apa yang saya bawakan?" tanya Ele kepada anak-anak kembali.


"Pangeran kodok dan Asal muasal kantung tupai kakak cantik." teriak mereka.


"Wah...anak yang pintar." Puji Ele dengan tepukan tangan. "Oke, sekarang saya akan memberikan cerita dongeng yang berjudul....?" Ele sengaja menangguhkan kalimatnya. Ia tersenyum saat melihat ekspresi anak-anak yang duduk di depannya.


"Penasaran gak dengan judulnya?" kata Ele membangkitkan rasa penasaran anak-anak.


"Penasaran....." Jawab mereka serentak.


Ele tersenyum dan berkata. "Si tikus Kecil yang Pandai." Kata Ele dengan antusias.


Awalnya cerita berjalan lancar dan menarik. Namun ketika tiba saat mengumpulkan barisan tikus-tikus, kejadian yang tak terduga terjadilah. Diawali ketika Angel merayu anak-anak untuk menjadi tikus-tikus kecil, mereka serentak berteriak,


". . .bohong, pembohong! pembohong!"


Ele tersenyum dan Ia menganggap anak-anak ini sangat cerdas dan dengan cepat menangkap maksud cerita bahwa si kucing yang merayu itu sebenarnya berbohong.


Kejadian tak terbayangkan pun berlanjut ketika saatnya bagi Angel untuk memangsa tikus-tikus itu. Mereka berlarian tidak mau ditangkap. Serunya, yang tertangkap dan dikembalikan ke tempat duduknya, tiba-tiba mereka berlarian kembali ke barisan untuk bergabung kembali dengan teman-teman yang belum tertangkap.


Cerita dongeng pun selesai, di lanjutkan dengan acara berikutnya.


Anak-anak melakukan makan bersama dengan tenang. Ele berjalan membagikan buah kepada anak-anak. Mereka dengan lahap menikmati makanan mereka. Anak-anak panti asuhan kembali duduk dan mengikuti kegiatan selanjutnya. Setelah menyanyikan dua buah lagu dan di akhiri doa bersama. Anak-anak panti mendapatkan boneka lipat origami Pinguin dan Kelinci yang dibagikan buat mereka.


Semua anak mendapatkan masing-masing dan mereka kemudian beranjak menuju asrama, melewati koridor yang ramai oleh anak-anak kecil yang sedang berlarian ke sana ke mari untuk mendapatkan kamar mereka masing-masing. Mereka tiba di sebuah kamar yang cukup besar, di sana berjejer tempat tidur bertingkat. Anak-anak mengistirahatkan tubuh mereka.


Ele tersenyum melihat anak-anak sudah masuk ke dalam kamar masing-masing. Ia menarik napasnya dalam-dalam lalu menghembuskan napasnya sekaligus. Ele begitu bahagia dan sangat bahagia melihat anak-anak tanpa dosa ini. Mereka sangat polos. Ele pun meninggalkan kamar setelah anak-anak dipastikan sudah masuk ke dalam kamar masing-masing.


Tiba-tiba handphone Ele yang ada di tas selempangnya berbunyi. Ele segera mengangkatnya saat panggilan itu ternyata dari Tere.


"Ada apa Tere?"


"Ada membuat keributan di sini. Dia mengancam dan ingin bertemu ibu."


"Apa??????"


BERSAMBUNG.....


^_^


Tolong dukung ya my readers tersayang. Ini Novel ketujuh aku ๐Ÿ˜


Salam sehat selalu, dari author yang cantik buat my readers yang paling cantik.

__ADS_1


^_^


__ADS_2