
๐ LOVE OF FATE ๐
ย
๐ HAPPY READING ๐
.
.
...Berdiri sendiri bukan berarti aku sendiri. Itu artinya aku cukup kuat untuk menangani semuanya sendiri....
๐ธ๐ธ๐ธ๐ธ๐ธ
Alvin keluar dari mobilnya. Seorang petugas hotel langsung berlari dan menerima kunci mobil yang berlogo kuda jingkrak itu untuk di parkir dibasement. Selama beberapa hari ini, Alvin memilih tinggal di hotel.
Alvin tersenyum datar saat melihat Marvel sudah berdiri menunggu kedatangannya di pintu masuk. Marvel segera membungkukkan badannya saat melihat Alvin berjalan ke arahnya.
"Selamat malam tuan," sapa Marvel dengan senyum ramah dan sopan.
"Selamat sore," jawabnya tanpa memandang ke arah Marvel. Ekspresinya benar-benar kaku dan tidak bisa ditebak oleh siapa pun.
Marvel mengangkat alisnya sekilas, saat melihat ekspresi Alvin yang begitu datar dan dingin tanpa ada senyum. Marvel terdiam sesaat dan sepersekian detik ia tersadar saat Alvin sudah melangkah jauh.
TAP TAP TAP TAP
TAP TAP TAP TAP
Bunyi langkah kaki Marvel yang berjalan cepat menyusul Alvin. Ia mengembuskan napasnya saat berhasil menyusulnya sampai di depan lift. Marvel pun memencetkan tombol lift. Lalu melangkah ke belakang tepat di belakang direktur utama perusahaan Smith itu. Ia berdiri tegap menjaga jarak satu meter di belakang Alvin.
Ting!
Pintu lift terbuka.
Alvin masuk lebih dulu, dan kemudian di susul Marvel. Ia tetap berdiri satu meter di belakang Alvin setelah memencetkan tombol lift itu kembali. Mereka hanya diam dan larut dalam pikiran masing-masing. Sementara Alvin sibuk memeriksa handphonenya.
TING!
Pintu lift terbuka kembali.
Alvin membenarkan jasnya sambil melihat jam yang ada di tangannya, lalu ia keluar dari sana. Dengan setia Marvel terus mengikuti langkah Alvin yang tak bicara. Ia dengan cepat membuka pintu kamar dengan kunci elektrik yang di pegangnya.
TINIT!
lampu hijau menyala bertanda pintu terbuka. Marvel langsung mendorong pintu dan menahannya di sana.
"Silakan masuk tuan," ucapnya sedikit membungkukkan badannya.
Alvin hanya mengangguk dan masuk, ia membuka jasnya dan meletakkannya di sofa. Ia lalu menghempas tubuhnya yang lelah di sofa yang empuk yang ada di hotel ekslusif itu. Ia bersandar dengan menengadah ke atas sambil memejamkan matanya. Posisinya santai, ia sengaja merilekskan dirinya. Membuang sejenak pikirannya dari Ele. Akhir-akhir ini, Alvin sering memimpikan Ele. Beberapa embusan napas panjang dilepaskannya ke udara.
Marvel sudah stand bye di depan Alvin, menunggu tuannya benar-benar melihat ke arahnya. Dan ya, tatapan itu sampai setelah Alvin mengusap rahangnya dan kembali duduk dengan tegap dan memandang Marvel.
"Bagaimana soal Reinhard, apa kau sudah bisa pastikan dia akan datang?" Tatapan Alvin mengunci ke arah Marvel.
"Sudah tuan." Dengan sigap, Marvel menyerahkan tanda bukti kepada Alvin berupa foto bahwa Reinhard sedang bertemu seseorang di hotel dan itu bisa dipastikan Reinhard sengaja menghasut beberapa orang untuk menarik modal mereka. Agar perusahaan Smith mengalami kerugian besar.
Sudut bibir Alvin melengkung ke atas. "Sepertinya tanganku sudah tidak sabar ingin memberi pelajaran kepada Reinhard. Selama aku tidak ada, dia berani bermain kotor di belakang ayah. Hari ini, aku pastikan dia habis di tanganku. di tambah suasana hatiku yang tidak baik."
Dahi Marvel mengerut dan memandang ke arah Alvin yang sedang memijit pelipisnya. "Apa sesuatu terjadi tuan?" tanya pria dengan hati-hati.
"Tidak usah dipikirkan. Kau fokus kepada Reinhard saja." kata Alvin mengingatkan. Ia kembali terdiam dan menyandarkan tubuhnya di kursi sofa dengan mata terpejam.
"Kalau begitu saya permisi, tuan." Marvel membungkukkan badannya untuk memberi hormat. Namun, baru beberapa langkah, Alvin mencegatnya.
__ADS_1
"Kau tidak melupakan sesuatu kan, Marvel?"
Langkah Marvel mendadak berhenti, ia membalikkan badannya dan menatap ke arah Alvin yang masih terpejam.
Alvin membuka matanya, ia tersenyum smrik menatap Marvel penuh penghakiman.
"Bukankah aku memintamu untuk menyiapkan bantuan ke desa jati diri?"
"Benar tuan." Marvel dengan cepat menjawab.
"Apa kau sudah mempersiapkannya?"
"Saya baru menyiapkan 50 persen tuan." Ucap Marvel dengan gugup.
"Cih.." Alvin mengeluarkan suara decakan.
Saat melihat Alvin tak puas dengan kerjanya. Marvel sedikit membungkukkan badannya. "Saya akan mempersiapkannya, tuan."
"Baiklah. Saya ingin penduduk desa mendapatkan bantuan yang layak, tanpa terkecuali."
"Baik tuan."
"Soal perkebunan Ele," saat menyebut nama Ele, hatinya seketika menghangat. Ada getaran hebat dari dalam dadanya. Hatinya berdesir mengingat nama itu. Alvin menarik napas singkat dan kemudian melanjutkan ucapannya. "Tambahkan lahan baru agar Ele bisa memperluas perkebunan strawberrynya."
"Baik tuan. Tapi...." Marvel terdiam beberapa saat.
"Ada apa Marvel?"
"Soal nona Ele..."
Alvin dengan cepat memotongnya. "Soal Ele, itu urusan saya. Jika sudah waktunya, aku akan membawanya ke sini."
Marvel terdiam di posisinya. Walau dari wajahnya ia tidak bisa menutupi rasa takutnya. Tuan Alvin belum tahu bahwa Ele telah pergi meninggalkan desa itu.
Alvin bangun dari duduknya, "Aku ingin istirahat," Ucapnya singkat tanpa menunggu konfirmasi dari Marvel.
Alvin sampai di kamarnya, ia berjalan lesu dan melempar dirinya di kasur. Menarik napas lalu menghembusnya. Setelah meluruskan diri, di kasur. Tubuhnya masih beradaptasi. Pekerjaan menumpuk, membuat tak bisa beristirahat dengan baik. Ia benar-benar sangat lelah. Alvin langsung memejamkan matanya. Tak sampai satu menit, Alvin sudah tertidur.
๐ธ๐ธ๐ธ๐ธ๐ธ
Ele menikmati akhir pekan. Sore itu langit tiba-tiba cerah walau suhu udara masih berada di bawah titik beku. Beberapa orang berlalu-lalang, berjalan cepat menuju tujuannya. Tower bridge masih begitu ramai, mobil dan bus datang silih berganti. Menjadikan detak kota ini begitu cepat. Riuh tapi tak membosankan, gaduh namun masih berbalut keindahan.
Ele tersenyum ketika melihat cahaya merah dari hamparan penuh rerumputan, pohon-pohon, dan sebuah danau kecil di taman. Suasana menjelang malam yang sempurna. Cahaya senja itu muncul, membentang merah lebih pekat, tidak bercampur dengan warna kuning keemasan. Memenuhi garis langit. Orang-orang berdecak kagum.
"Hei, lihat, warnanya agak berbeda dari kemarin. Sepertinya lebih indah. Mungkin ini fenomena alam." kata pengunjung yang ada di sana. Ele terdiam sambil menatap ke atas. Kedua tangannya ia masukkan kedalam kantong coat miliknya.
โCepat dipotret! Diabadikan!โ Terdengar suara antusias dari salah satu pengunjung.
โDirekam saja sayangku. Mmmuach!โ sepasang muda-mudi berciuman di depan senja yang spesial. Sementara Ele masih terdiam dengan pemandangan senja itu, ada kerinduan yang tersirat di dalam dadanya.
"Aku sudah melihat senja. Senja yang benar-benar berbeda. Apakah kamu masih melihat keindahan senja itu, Alvin?โ Senyum Ele mengambang. "Bagaimana mungkin aku terus memikirkanmu." Ele membuang napas berat. Pandangannya kosong.
Orang-orang masih menatap dengan kagumnya, mereka mengambil kamera dan memotret setiap sudut senja itu. Ada pula yang benar-benar merekamnya, meminta pasangan bergaya di sepanjang taman yang berlatar warna merah.
Senja itu semakin lengkap ketika burung-burung menuju ke arahnya, pemandangan yang nyaris sempurna, puluhan kamera mencipratkan cahaya, seperti suatu pertunjukan di atas panggung, orang-orang tak henti-hentinya melontarkan kalimat kekaguman, semakin ramai saja.
Ele kembali berjalan meninggalkan taman itu. Ia menyembunyikan tangan dalam saku coat yang dikenakannya sembari menanti dengan pejalan kaki lainnya. Hingga momen yang paling Ia suka pun muncul.
" Tukโฆtukโฆtukโฆ" Terdengar bunyi begitu lampu hijau menyala. Suara yang terdengar menuntun ini berakhir ketika pejalan kaki sudah berhasil menyeberang, kira-kira tiga puluh detik.
Ele terus melangkah sambil menikmati sore hari di kota London. Nada nada dering Thank u, next dari Ariana Grande berbunyi dari ponsel Ele. Ele melihat panggilan masuk itu ternyata dari Jane. Ia menggeser tanda terima dari benda pipih itu.
"Sekarang kamu harus ke cafe Ele. Bos menunggumu."
__ADS_1
"Apa? Ini jadwal liburku Jane."
"Saya tidak mau tahu. Kamu harus cepat ke cafe. Bos sudah menunggumu." Jane mengulangi kalimatnya.
Glek....Ele menelan salivanya.
"Ada apa Jane, kenapa bos memintaku ke cafe?"
"Saya tunggu lima belas menit, Ele."
"Astaga , coba jelaskan kenapa bos memintaku ke cafe? Dan aku tidak bisa langsung ke sana. Karena aku sekarang berada tower bridge." Ele memelas.
"Aku juga tidak tahu Ele, kamu cepat kesini! Kau sudah kenal pemilik cafe ini kan? dia tidak mau menunggu. Ingat bos kita tidak mau menunggu." Jane menegaskan setiap kalimatnya.
"Tunggu...!"
"Apa lagi Ele? Waktu berjalan cepat, bos kita bisa marah." Jane mengingatkan.
"Apa mungkin bos ingin memecatku?" Ele mulai menebak-nebak. "Kau tahu kan, aku butuh pekerjaan."
"Siapa tahu aja kamu mau dilamar?" Kata Jane terkekeh.
"Astaga, kamu jahat sekali, Jane."
"Kenyataan kan? bos sepertinya suka sama kamu?" Jane menahan tawanya.
"Jangan ngarang cerita kamu, itu tidak mungkin."
"Sekarang kamu datang ke cafe saja, dari pada kita memikirkan yang tidak-tidak. Waktumu habis hanya untuk menebak-nebak. Kita bertemu di cafe."
"Baiklah, kita bertemu di sana."
Ele mematikan ponselnya, ia langsung berlari secepat kilat menuju cafe tempatnya bekerja.
"Astaga, baru saja aku menikmati liburanku dan bisa tidur nyenyak dan sekarang bos memintaku tiba-tiba menemuinya. Oh..my god, ada apa ini?" Ele mengumpat dalam hati. Sepanjang jalan hanya caci makian yang keluar mulutnya. Ia begitu kesal.
Panggilan itu berbunyi lagi. Kepalanya dimiringkan untuk menahan ponsel di telinganya saat memberikan uang taksi. Ele terburu-buru keluar dari taksi yang ditumpanginya.
"Ya, Jane? aku sudah menuju cafe." Ele langsung melambaikan tangannya, ketika Jane sudah menunggunya di depan pintu cafe. Ia langsung memasukkan ponsel kembali ke dalam tasnya.
"Perasaanku tidak tenang, Jane." ucap Ele saat sudah berada di depan Jane.
"Kita dengarkan saja, apa yang akan dikatakan bos."
"Aku tidak pernah melakukan kesalahan selama bekerja. Kau lihat sendirikan? jika terjadi sesuatu, kau harus melindungiku."
"Pasti itu. Kamu teman terbaikku. Hidup mati kita tanggung bersama. Tapi ..." Jane terdiam sambil meremas tangannya.
Dahi Ele mengerut saat melihat ekspresi itu. "Tapi apa, Jane?"
"Tadi aku sempat mendengar pembicaraan mereka."
"Pembicaraan apa?"
"Cafe ini telah dibeli seseorang."
"APA???????"
BERSAMBUNG.....
^_^
Tolong dukung ya my readers tersayang. Ini Novel ketujuh aku ๐
__ADS_1
Salam sehat selalu, dari author yang cantik buat my readers yang paling cantik.
^_^