
π LOVE OF FATE π
Β
π HAPPY READING π
.
.
...Sembari bertahan dalam ujian hidup, kamu harus yakin bahwa pada akhirnya semua akan baik-baik saja....
πΈπΈπΈπΈπΈ
Tidak terasa waktu berlalu begitu cepat. Semenjak terakhir pertemuannya dengan Harry, sudah dua minggu waktu itu telah berlalu. Ele banyak merenung. Ia duduk di tepi ranjang sambil menatap lurus ke depan. Angin serasa diam, seperti tertahan oleh suatu kesedihan yang mendalam. Bulir-bulir embun yang jatuh dari langit pun beku di atas daun-daun yang berjatuhan menguning kering. Begitu sunyi, sangat sunyi sesuai dengan perasannya saat ini. Ia tersenyum getir sambil sesekali menarik napasnya yang terasa berat.
Setetes air mata jatuh kembali mengenai kepalan tangannya. Tangannya kirinya meraih sapu tangan kecil dan menyeka pelipis matanya perlahan. Tapi tampaknya semua itu percuma, air matanya bukan berhenti malah kembali menetes bahkan kini lebih deras hingga sapu tangan berwarna jingga itu menjadi basah.
Ele berusaha menguasai diri segigih mungkin, tapi semakin ia menguasai diri, maka hatinya semakin bergejolak. Menentang kenyataan yang terlalu pahit untuk dirasakannya. Marah dan kesal, semuanya berbaur menjadi satu. Ele hanya mampu mengekspresikannya melalui air mata. Ya! Hanya air mata yang mampu menjelaskan kegundahan hatinya. Hanya air mata yang mampu menjelaskan rasa kerinduannya kepada Alvin. Ditambah kenyataan pahit yang harus diterimanya. Harry dan Allura menjual rumah dan kebun hasil jerih payah dari ayahnya. Kenyataan ini begitu menyakitkan hingga membuatnya tak bisa bernapas lagi. Ele saat ini seperti dijatuhkan ke jurang yang paling dalam dan tak bisa diselamatkan.
Ele pun menarik napasnya dalam-dalam. Menahan sesak teramat sangat. Rasanya benar-benar kosong dan tidak berguna. Ia kembali mengingat kenangan saat bersama Alvin. Bibirnya tersungging dengan seulas senyum penuh kesedihan. Mencoba merasakan kehadiran Alvin di sini. Cinta yang memang tidak bisa dimilikinya. Hanya kalung inilah yang bisa meredam rasa rindunya. Setiap kali melihat kalung itu ia selalu berharap, Alvin datang untuk melihatnya walau hanya sekejap.
"Heeee ...apa yang aku harapkan? Jangan bodoh, Ele! Alvin bukan lagi milikmu." Gumam Ele pada dirinya sendiri.
Ia pun kembali menarik napasnya. Mengingat bagaimana ia mulai jatuh pada pesona Alvin. Semenjak kehadirannya di rumah ini, Ele sangat bergantung pada lelaki itu. Menjadikan Alvin tempat berkeluh kesah dan sandaran ketika Ia bersedih. Alvin benar-benar kriteria yang ia cari. Semua itu ia dapatkan dari Alvin. Kini cintanya menghadirkan perih dan menyesakkan dada.
Kini Ele berusaha menikmati kesendiriannya. Yang pada awalnya semua terlihat mudah, namun semakin lama kian menyiksa karena batin ini ingin sekali berontak. Cinta ini terlalu menyakitkan, menyesakkan dan membingungkan. Ele menunduk sedih. Ia mengangkat wajahnya lagi. Menatap gulungan awan putih yang indah di sana. Ia menarik napas dalam-dalam untuk menguatkan hatinya.
πΈπΈπΈπΈπΈ
Malam ini, hanya seperti malam biasa bagi kebanyakan orang. Tapi tidak bagi Eleanor, malam ini adalah malam terakhirnya tinggal di desa ini. Tak terbendung air matanya, saat Ele bangkit mengambil koper yang ada di atas lemari. Ia mengambil pakaian dan menyusunnya di dalam koper. Ia mengepak beberapa barang yang diperlukan saja. Sisanya Amira akan mengirimkannya ke tempat keluarga Ele yang ada di seberang desa.
Ele menarik napasnya dengan wajah tenang saat memasukkan lipatan-lipatan bajunya ke dalam koper. Ia kembali lagi ke lemari memasukkan bajunya. Ele tertegun saat melihat lipatan baju couple milik Alvin yang tertinggal di dalam lemarinya. Ele tersenyum tipis lalu menariknya. Mengusap baju itu hingga lipatannya tergerai ke bawah. Matanya tiba-tiba mengkristal. Namun, Ele segera memasukkan cairan bening itu kembali. Ia memeluk baju itu, melekat erat di dadanya. Menutup mata dan menikmati setiap kenangan indah yang dilewatinya bersama Alvin.
Ele kembali melipat baju itu. Ia menatap sejenak, lalu memasukkan kembali ke dalam lemari. Ele memasukkan kembali pakaiannya yang lain dan menaruhnya kembali ke dalam koper. Ia terdiam, menarik napas. Menutup mata dan mendesah lewat mulut hingga bahunya ikut turun. Ele berdecak, mengumpat kecil dalam hatinya. Ia kembali ke lemari, mengambil kaos itu kembali dan memasukkannya ke dalam koper.
"Aku tidak bisa meninggalkanmu di sini." Ucap Ele sambil mengembuskan napas panjang. Ia kemudian mengambil foto yang ia gantung di dinding kamarnya. Foto ini tidak bisa tinggal, karena hanya foto ini, yang ia miliki sekarang. Setelah semua beres ia menutup dan mengunci kopernya.
πΈπΈπΈπΈπΈ
Pagi ini, Ele sudah terbangun seperti biasa namun dalam suasana yang jauh berbeda. Pagi yang selalu mengajarkannya bahwa Ia harus selalu bersyukur. Walau embun terkadang tidak terlihat, namun masih bisa merasakan kehadirannya. Kebahagiaan itu memiliki arti dan ketulusan yang datang tanpa di rencanakan.
Ele tidak langsung bangun, ia menyandarkan punggungnya kesandaran kasur. Ele memeluk lututnya, menatap ke arah luar jendela. Hari ini tidak ada kesedihan lagi, tidak ada tangisan lagi. Ele membulatkan tekad dan menyusun kembali rasa semangatnya untuk menjalani kehidupan. Ia tersenyum samar. Hari ini adalah jadwal keberangkatannya menuju bandara. Semuanya sudah siap, penerbangannya di jadwalkan besok pagi. Surat-surat dan tiket pesawat sudah di tangannya. Tentu saja, perjalanan yang panjang dan melelahkan.
__ADS_1
"Tidak boleh sedih Ele, kamu harus semangat! Jangan salahkan dirimu. Kamu tetap yang terbaik. Jadikan mereka menjadi pelajaran berharga dalam hidupmu." kata Ele mengepalkan tangannya untuk menyemangati dirinya sendiri.
Ele sudah selesai membersihkan dirinya. Ia mengenakan pakaian terbaiknya. Ele memakai riasan agak tebal untuk menyamarkan matanya yang sembap. Walau masih terlihat bengkak, Ele masih terlihat cantik. Ia sengaja menggunakan pewarna bibir yang lumayan cerah. Salah satu cara untuk menampilkan wajahnya agar tampak segar. Ele memandangi pantulan dirinya di cermin, setelah dirasanya rapi.
"Sekarang waktunya berangkat!" ucapnya dengan satu kali tarikan napas singkat sambil menarik kopernya keluar dari kamar.
Amira menarik napas saat melihat Ele, terhuyung menarik koper besar menuju mobil pickup miliknya. Walau ia berusaha mencoba tersenyum kuat, namun wajahnya masih terlihat muram tergurat sisa pilu yang masih membekas di antara tatapan mata hampa. Garis tawa yang selalu terlihat melintang manis di pipi, kini seolah sirna tak tertinggal.
"Kamu sudah siap, Ele?" Tanya Amira ketika Ele merandek di ambang pintu depan rumah.
Ele melirik sesaat, lalu melepas pegangan gagang koper lanjut lalu menyandarkan diri di dinding. "Hmm."
"Kau benar-benar meninggalkanku?" Suara Amira bergetar menahan diri agar ia tidak menangis.
Ele tersenyum tipis, meraih pundak Amira agar duduk di kursi panjang yang ada di teras rumahnya. "Aku tidak bisa di sini Amira, aku harus pergi, setidaknya membuktikan pada mereka bahwa aku bisa sekolah lagi."
"Tapi bagaimana dengan aku, kau tidak memikirkan aku?" Air mata yang ditahannya akhirnya jatuh juga.
"Maafkan aku Amira. Seharusnya aku mengajakmu ikut bersamaku. Tapi tujuanku jauh. Suatu hari aku pasti akan membawamu, aku janji!"
Amira tersenyum sendu, mendekat dan memeluk tubuh Eleanor, sahabat baiknya itu. "Jangan lupa menghubungi aku. Ingat jangan pernah menangis lagi. Apalagi menangisi hal yang tidak penting." Amira memberikan nasehat. Seakan mengerti jika sampai di sana pasti ada kesedihan. Ia mengusap pundak Ele dengan lembut.
Ele mengangguk dan membalas pelukan dari Amira. "Pasti. Kamu juga jaga kesehatan ya." jawab Ele tersenyum simpul.
"Ini hadiah untukmu." Amira memberikan paper bag ke tangan Ele.
"Hadiah untukku?" Tanya Ele dengan mata berbinar. Ia menggigit bibir bawahnya dengan bersemangat.
"Tentu saja, ini hadiah untukmu. Aku ingin kau selalu mengingat persahabatan kita saat kau menggunakannya."
"Waaahhhhh terima kasih Amira, ini keren sekali!" Ucap Ele sambil mencocokkan ke tubuhnya. Ia memiringkan tubuhnya ke kiri dan ke kanan. Menatap coat coklat dengan panjang dibawah lutut yang tengah dikenakannya.
"Cocok sekali untuk untukmu. Kamu ramping sekali, Ele."
Ele menaruh tangannya di pinggang sambil tersenyum. "Benarkah?"
"Hmm. Aku rasa lelaki bule akan tergila-gila kepadamu."
"Ah....kamu bisa aja." Ele tersenyum lebar. "Terima kasih, Amira sayang. Kamu yang terbaik." Ele membuka tangannya untuk memberi pelukan perpisahan.
Amira pun segera maju dan memeluk Ele. "Jaga dirimu baik-baik di sana, Ele."
"Hmm...tentu saja Amira." Sahut Ele dengan suara menggeram karena memeluk erat tubuh Amira. Mereka pun saling melepaskan pelukan.
__ADS_1
Amira menatap Ele dengan tatapan sendu. "Heeee ...aku masih belum rela melepaskanmu."
"Sama. Aku juga belum rela meninggalkanmu. Tapi aku harus pergi."
Mata Amira seketika berkaca-kaca. "Jangan lupa mengunjungiku jika sekolahmu selesai."
"Tentu saja! Aku akan mengunjungimu."
"Maafkan aku tidak bisa mengantarkanmu sampai ke bandara."
"Tidak apa-apa Amira,"
Mereka berjalan mendekat ke arah mobil dan melihat Jordan sudah menghidupkan mesin mobil. Lelaki itu lah yang membeli mobil Ele. "Sudah mau berangkat, Ele?" Jordan menurunkan kaca mobilnya.
"Hmm " Ele menganggukkan kepalanya.
"Hati-hati bawa mobilnya, Jordan. Jangan lupa antar sampai ke bandara, ya!" Kata Amira mengingatkan.
"Tentu saja, tidak mungkin aku mengantarnya sampai ke terminal." Goda Jordan.
Ele tertawa mendengarnya. Amira hanya menggeleng sambil mendengkus. "Kebiasaan, jika dia ajak bicara serius, selalu jawabnya seperti itu."
"Aku berangkat dulu ya,"
Amira mengangguk sambil tersenyum teduh. pandangannya berubah sayu. "Hati-hati ya, jaga kesehatanmu."
"Hmmm." Ele melambaikan tangannya dan langsung masuk ke dalam mobil. "Kita berangkat, Jordan." ucap Ele pelan. Ia menarik napas panjang.
Mobil pickup berjalan perlahan dan meninggalkan Amira. Ele menarik napas dengan mulut terbuka saat melihat Ele melompat-lompat sambil melambaikan tangannya. Ada rasa sesak yang tidak bisa ditutupinya.
"Fuuuuuhhhhh.... Aku akan baik-baik saja." Ucap Ele dalam hati sambil tersenyum dan menenangkan dirinya. Ia kembali larut dalam pikirannya. Mengingat semua yang pernah ia lalui. Rasanya terasa sangat berarti dan penuh makna. Ele akan merindukan semuanya.
"Selamat tinggal Alvin, aku harap kamu akan selalu baik-baik saja."
BERSAMBUNG.....
^_^
Tolong dukung ya my readers tersayang. Ini Novel ketujuh aku π
Salam sehat selalu, dari author yang cantik buat my readers yang paling cantik.
^_^
__ADS_1