Love You Kapten

Love You Kapten
Niat Hati lain


__ADS_3

Rahardian membuka pintu kamarnya dan ia sangat kaget dengan perubahan kamar yang ia tidur selama ini. ia melihat semua berubah lebih mirip kamar perempuan.


Dian kamu sudah menikah bukan lajang lagi ucapnya dalam hati. Padahal niat dalam pesawat ia ingin tidur pulas dikamar karena seminggu ini tidurnya tidak jelas. Iapun duduk dimeja kerjanya dengan sedikit rasa pusing.


Syifa kamu tidak usah bantu bibik cuci piring, kamu kekamar saja ucap bik inah dengan mengambil piring yang ada ditangan Syifa.


gak apa-apa bik biar saya bantu bik Inah saja? ucap Syifa dengan sedikit gugup.


Bik inah tersenyum melihat Syifa pipinya berubah jadi merah.dan ia sangat terlihat gugup.


Syifa,, suamimu adalah syurgamu, mungkin nak Dian lagi kelehan lebih baik kamu buatin minuman untuk nak Dian, atau jahe dengan susu hangat. Ucap Bik Inah dengan serius.


Asyifapun mengambil wedang jahe yang sudah bik Inah buat jauh-jauh hari untuk persiapan jika majikannya membutuhkan.Ia membuatnya dalam bentuk bubuk, jadi praktis hanya menuangkan air hanggat saja.


Tangan Asyifa sangat terlihat gemetaran ketika mengaduk wedang jahe tersebut.Walau diaceh pernah bersama tapi untuk dirumah yang sekarang mereka tempati benar-benar membuat Asyifa gugup untuk berjumpa dengan suaminya.


padahal mereka baru berpisah hanya beberapa hari saja.

__ADS_1


Asyifa yakin tidak yakin untuk masuk kekamar Dian, iapun berjalan memberanikan diri.


Bik Inah tersenyum bahagia melihat reaksi Asyifa begitu polos.


Tiba didepan kamar kakinya makin bergetar dan makin susah berjalan. Syifa dari dulu kamu serumah dengan suamimu, jadi kenapa merasa canngung gitu! ucapnya dalam hati.


Asyifa membuka pintu kamar dan melihat Rahardian sedang tertidur diatas meja sambil menupang kepalanya dengan tangan. Ia terlihat begitu pulas, ia melihat pesona suaminya dibawah lampu pijar dimeja belajar, Ia melihat Dian begitu menawan bahkan ketika tidurpun terlihat begitu tampan.


Iapun tersadar, karena Rahardian tersentak hampir jatuh, Asyifapun juga ikut latah dan menumpahkan wedang jahe yang ia pegang. Airnya sangat panas, iapun merintik kesakitan.


Rahardian berlari begitu sigap melihat tangan Asyifa yang kepanasan.


Tidak mas, ucap Asyifa sambil menarik tanganya.


Rahardian mengambil wedang jahe dan menaruk diatas meja. Terima kasih untuk minumannya. Ucap Rahardian pada Syifa.


Iyaa mas, maaf airnya jadi tumpah.Ucap Asyifa dengan salah tingkah.

__ADS_1


Rahardian dadanya mulai berdegup kencang, iapun melihat Asyifa pipinya begitu merah merona.


Rahardian melampiaskan rasa gugupnya dengan mengerjai Asyifa.


Kamu tidak kasihan melihat suamimu kecapean begitu? ucap Dian dengan serius.


aaapa Mas? ucap Syifa dengan polos.


Bahu saya sepertinya sakit, agak pegal-pegal gitu. Ucap Rahardian dengan tersenyum.


Asyifa langsung menawarkan diri untuk memijatnya. Iapun memijat bahunya Rahardian dengan tangan masih kaku.


Rahardianpun jantungnya makin berdebar, niatnya mau mecairkan suasana yang kaku malah makin runyam, jantungnya berdebar kencang tak terkendali. Iapun menghentikan Asyifa .


Sepertinya tidak terasa, lebih baik saya tidur saja untuk beristirahat, kamu kalau mau keluar tidak apa-apa pergi saja. Ucapnya sambil membelakangi Asyifa.


Asyifa juga terselamatkan dari hal-hal yang membuat dirinya gugup, apalagi ia selama ini tidak bersentuhan dengan suaminya.pasti terasa sanggat canggung bagi dirinya.

__ADS_1


Rahardian detak jantungnya makin tidak terkendali.


__ADS_2