
Rahardian membawa motor gedenya , iapun menunggu Rio untuk mencurahkan isi hatinya. Rahardian tidak sadar kalau dirinya sudah beberapa botol minum air putih.
Rio menghampiriny dan melihat diatas meja Rahardian ada beberapa gelas air yang sudah kosong.
whatssup Bro, kamu mau nikah bukan melakukan misi, ucap Rio dengan mengejutkan Rahardian.
Ini masalahnya benar -benar ribet Yooo,kamu taukan Prisilia dia orangnya mudah marah, apalagi baru-baru ini saya minta putus dengannya dengan alasan fokus pada misi, tiba-tiba mama saya ngejodohin saya dengan Syifa. Apa tidak pusing saya mikirnya? Saya aja tidak tau bagaimana itu cinta, eh tiba-tiba jadi suami aja! jelas Dian dengan nada ngegas pada sahabarnya.
Mata kamu juga buta, Prisilia cantik Syifa juga gadis baik, diantara mereka sambil merempun saya ikhlas kalau disuruh milih. lagian selama ini kamu juga tidak punya pacar apasalahnya memilih dan menerima pilihan orang tua. Riopun mulai berkata dengan bijak.
Kamu ceramahnya kepanjangan, kan saya tidak bilang kalau saya tidak setuju, saya kesini mencari solusi agar Prisilia tidak tau hal itu.Saya tidak mau acara kami nanti digagalkan sama dia.
Iyaa sih Prisilia mainya bodyguar, ya sudah itu gampang biar saya yang atur. Ucap Rio menenangkan sahabatnya.Kamu sendiri bagaimana apa kamu suka sama Syifa?
__ADS_1
Belum tau Yoo,,yang penting mama senang , teryata mama punya riwayat jantung dan komplikasi penyakit lainya. Gak sengaja waktu saya kekamar mama mencari baju untuk Syifa saya melihat sebuah amplot yang berisi surat dokter.
Saya juga tidak pernah dekat dengan mama,karena mereka sibuk dengan dunianya. Mungkin sekaranglah waktunya untuk nyenangi mereka. Ucap Rio dengan berat hati.
Wah teryata cowok maco , hatinya hello kity yaa! canda Rio. Saya doain yang terbaik saja untuk kalian.
Ya sudah saya pamit dulu yaaa.
Ia hanya bisa pasrah dan menunggu hpnya bagus kembali.
Rahardian , bik inah sedang dan mamanya lagi sarapan pagi dimeja makan. Tiba-tiba Priya paruh baya berdiri didepan pintu dengan senyum yang sumringan.
Papa? ucap Dian dengan berlari dan memeluk papanya.
__ADS_1
Papanya memeluk Dian begitu erat, sedih bercampur aduk karena terakhir kali mereka berjumpa tujuh tahun yang lalu.
Selamat nak papa senang mendengar kamu akan menikah. Oh yaa kamu sudah menghadap kantor belum? sudah urus semua berkas-berkas?
Belum pa, setelah balik dari san baru kami urus pernikahan kantor. Papa berapa hari disini?
Hmmm,,,,Papa baru saja pulang kok tanya berapa hari disini? ucap papanya sambil tersenyum
Rahardian pergi masuk kamar, ia tau kalau papanya pulang hanya sebagai saksi dan setelah itu langsung fokus pada kerjanya. Dari kecil dia tidak pernah mendapatkan kebahagiaan bersama keluarga begitu juga dengan mamanya.
Bahkan rasanya ingin berontak untuk pergi dari rumah ketika usia Rahardian masih remaja. Hanya bik inah yang selalu menemainya sedari kecil.
Mama dan Papa Dian saling menatap, ya sudah pa,tidak apa-apa ! kalau proyek disana sudah rampung, kita bangus bisnis dalam kota saja biar dekat dengan anak dan mantu. Ucap mama dengan tenangin hati suaminya.
__ADS_1