
Tante Yunda mendapat telfon dari aceh , pernikahannya sederhana saja, karena Syifa masih kuliah. Uminya memberi syarat dalam pernikahan tersebut.
Oh kalau masalah itu nanti saya sendiri akan bicarakan sama Rahardian ucapnya dengan tersenyum.
Mama Rahardian begitu semangat mengurus perlenkapan anaknya, padahal acaranya hanya keluarga besar saja yang datang.
Pa, bentar lagi kita shopping yaa! sekalian cari jas untuk nikahan anak kita, bik inah juga ikut bareng yaa!
Iyaa nyonyaa ucapnya dengan tersenyum bahagia.Tante Yunda pergi kekamar Dian dan dia melihat Rahardian sedang membaca buku komix, iapun menghampirinya. Dian besok kita kebandara yaa! karena pernikahan kalian hari jumat.
Iyaa ma, jawabnya.
Di kediaman Asyifa
__ADS_1
Syifa termenung karena dia belum siap menjadi seorang istri,setelah enam tahun dipondok baru beberapa bulan melanjutkan kuliah bahkan ia belum puas bermanjaan dengan keluarganya, apalagi adiknya yang begitu imut dan ngangenin,dia juga masih kecil.Dari mana abi dan umi dapat info begitu cepat, Humaira saja tidak tau kalau pak Azmi suka sama saya.
Asyifa menghubunginya ustd Azmi tapi tidak aktif,dia sendiri juga lupa menyimpa nomor hp ibu kos. Ini terlalu rancu baginya bahkan sangat mendadak. mungkin bagi abi dan umi jauh-jauh hari sudah memikirkan semua.
Umi Asyifa masuk kekamarnya, sayang kamu tidak perlu khawatir umi dan abi tidak mengundang banyak tamu. Cukup keluarga terdekat kita saja, karena kamu juga masih tahap awal kuliah. Yang penting abi dan umi tidak khawatir lagi kamu tinggal dengan siapa disana.
Iyaa umi, kalau itu menurut umi yang terbaik Syifa mencoba menerima lamaran tersebut. Masalah kehamilan Syifa memang belum siap dulu sebelum selesai kuliah, kalau dikuliahan selesainya cepat insya Allah Syifa melanjutkan kuliah Spesialis.
Insya Allah umi, semoga niat baik kita Allah ijabahkan. Aamiin
Ya sudah sayang mulai sekarang umi mau lihat wajahmu yang ceria, bentar lagi juga jadi pengantin.
Asyifa hanya bisa berpasrah dan menyerahkan semua pada Allah, kini siap tidak siap ia harus berlapang dada kalau dirinya akan dipinang oleh orang yang mencintainya.
__ADS_1
Tidak ada riasan atau dekorasi apapun didalam rumahnya hanya saja umi Syifa mengecat upang kembali disetiap dinding agar terlihat fresh.Rumah Asyifa memang tidak sebesar rumahnya Rahardian yang kamarnya banyak. Rumahnya berbentuk minimalis hanya tiga kamar, sangat sederhana jika dihunin satu keluarga.
Kamar Syifa dicat ulang berwarna putih dan abu-abu, tidak banyak menghabiskan waktu dalam pengecatan hanya butuh satu hari saja.
Asyifa mencoba hubungi sahabatnya Humaira, tapi dia tidak tau mau mulai cerita dari mana, iapun mengurungkan niatnya, dan memilih tidak menghubungi Humaira.
Asyifa berjalan keluar kamar, umi Syifa sedang sibuk mengelap piring dan mempersiapkan gelas untuk menyambut tamu. Satu persatu saudara Syifa bedatangan.
Syifa, belum jadi dokter sudah ada yang lamar, canda adik uminya sambil bersalaman dengannya. Syifa tertunduk malu.
Syifa sejak kuliah dibandung makin cantik dan putih yaa? pasti disana selalu perawatan salon. Canda saudara Syifa yang lain.
Tetangga Syifa juga diundang, ia membaca inai untuk mengukir inai di tangan Syifa karena ada orang Aceh tiap pengantin baru itu harus ada inai
__ADS_1