
Setelah ia pastikan bersih, iapun berjalan kearah keluar dan langsung pulang kerumahnya.
Azan Insya mulai berkumandang, Asyifa sudah dipakaikan Inai oleh para tamu undangan. ia ingin menjumpai uminya, ia melihat uminya begitu sibuk mengurus para tamu undangan, sedangkan abinya juga sibuk dengan para tamu dan kerabatnya.
Syifa kalau perlu sesuatu bilang saja sama bibik, jangan dikit-dikit panggil umi, kasian umi kamu harus kesana kemari untuk mengurus semuanya.
Bik tolong tanyakan sama umi, apa keluarga calon Syifa sudah tau Alamatnya.
Okee sekarang bibi kesana yaa!
Setelah mendapatkan info yang akurat, bibiknya menghampiri Syifa, katanya semua oke, mereka juga datang dengan membawa beberapa perangkat desa sebagai mewakili orang tua sana.Satu lagi mereka naik pesawat hari jumat pagi karena cuaca lagi tidak bagus, harusnya hari ini mereka berangkat.
Oh gitu yaa bik, terimakasih yaaa.karena udah syifa repotin bibik.
Iyaa Syifaa, lagian bibik juga mau direpotin sama keponakan Bibik yang cantik ini.
__ADS_1
Dikediaman Rahardian
Rahardian memarkirkan motor gedenya dan menuju kekamar,iapun tidak bisa tidur karena terlalu banyak kafein yang ia minum dikopi.
Dian? kamu tidak bisa tidur yaa? Ucap papanya yang langsung masuk dikamarnya.
Iyaa paa!
Dulu papa juga begitu dihari pernikahan, antara gelisah dan bimbang, bahkan papa mikir apakan papa bisa membahagiakan mama kamu atau tidak.
Sekarang papa mau kamu juga bisa tidur dipangkuan papa untuk terakhir kali, papa memang bukan ayah yang baik untuk kamu,apalagi papa setiap hari sibuk dengan kerja. Nak papa kerja begitu untuk kebahagian anak cucu papa.
Dulu nenek kamu mengatakan pada papa, walaupun harta kami banyak, setelah kami menikah nenek kamu tidak mengizinkan sepeserpun hartanya untuk papa.karena memang begitu didikan beliau.
Papa berusaha sekuat tenaga karena papa merintis karil dari Nol,bahkan papa pernah tidur dibawah kolong jembatan. papa bertekad jika sukses nanti anak cucu papa tidak perlu banting tulang untuk hidupnya. Cukup mereka belajar dan belajar tanpa memikirkan susahnya mencari uang.Dan mereka memperkejakan orang lain bukan mencari kerja.
__ADS_1
Jelas papanya sambil menitikan Air mata, Rahardian memeluk papanya, paa maafin Dian yang selalu marah sama papa, bahkan sesekali papa pulang Dian lebih memilih pergi dengan teman-teman Dian.
Iyaa nak, papa paham, lagian mama dan papa juga salah karena meninggalkan kamu dengan bik Inah.
Rahardianpun ketiduran dipangkuan papanya.
Mama Rahardian dari tadi mendengar percakapan keduanya, iapun menitikan air mata, selama ini ia tidak tau perjuangan suaminya karena setelah menikah mereka tinggal terpisah, tiap bulan hanya mengirim uang lima juta sebulan. Padahal suaminya tidak makan demi memcukupi kebutuhan istrinya.
Mamanya masuk kekamar dan menyeka air maya suaminya. iapun membelai rambut Rahardian layaknya anak kecil yang masih berumur lima tahun.
Papanya tersenyum, maa, padahal cerita itu untuk anak kita, kenapa mama ikut dengar.
Papa jahat, kenapa papa tidak kasih tau mama kalau pertama kita nikah papa tidak punya apa-apa! tapi papa berbohong dan selalu papa penuhi kebutuhan mama, bahkan papa paksakan mama untuk kesalon setia hari, sedangkan papa tidur dikolong jembatan.
Namanya juga cinta maa, apapun rela diperjuangkan.ucap papanya sambil tersenyum
__ADS_1