
Pada panggilan kedua panggilan itu kemudian tersambung...
π±"Vallen, tolong abang Vallen, abang dalam bahaya ada sebuah mobil yang berwarna hitam terus mengikuti abang, mungkin mereka berniat jahat pada abang.
π±"Ada apa Alfath?? ini ibu Vallen lagi bermain di teras."
π±"Cepat tolong panggilakan Vallen bu, katakan Alfath dalam bahaya.
TTUUUTTTTT
Suara telepon terputus.
"Alfath...Alfath..." teriak ibu Alfath.
Vallen yang sedang bermain di teras cepat mendatangi ibunya.
"Vallen, abangmu dalam bahaya!!" ucap ibunya.
Sebenarnya sejak tadi pun Vallen merasakan ada sesuatu yang akan terjadi tapi dia belum bisa memastikan itu apa!!
Tetapi saat ibunya berkata demikian maka Vallen segera tau bahaya itu akan datang pada abangnya.
Vallen menyentuh ponsel yang tadi dipergunakan ibunya untuk menelpon agar dia mengetahui di mana posisi Alfath sekarang berada.
Dengan cepat Vallen duduk bersila dilantai tak ada hitungan detik tubuhnya lenyap melesat kearah Alfath berada.
Tepat di saat bomper belakang mobil Alfath ditabrak keras oleh mobil yang ada di belakangnya tetapi untungnya Alfath tetap berjalan terus tidak berhenti.
"Vallen, syukurlah kamu datang tepat pada waktunya." Seru Alfath lega.
Jika tadi wajahnya sudah seputih kertas kini tampak berdarah kembali.
Hari telah menjelang maghrib, cuaca agak temaram karena berselimut mendung tebal.
Vallen menggerakan tangannya memberi isyarat pada Alfath agar mengambil semua benda berharga yang ada di dalam mobil sebelum mereka meninggalkan mobil itu.
Alfath ingin bertanya bagaimana caranya tetapi urung dia lakukan..
Alfath diberi instruksi oleh Vallen duduk memejamkan mata dan berkonsentrasi menuju rumah dan Alfath mengikutinya.
Bersamaan dengan itu kembali mobil di belakangnya menabtak bertepatan hilangnya Vallen da Alfath sehingga mobil yang tanpa pengemudi itu pun hilang kendali menabrak pembatas jalan dan terguling masuk ke sisi jalan menurun sebelah kiri.
Mereka tampak puas apalagi saat melihat dan menyaksikan mobil itu meledak dan habis terbakar.
"Mampus...susullah abangmu menghadap malaikat maut!!" seru beberapa orang itu sambil tertawa mengekeh.
__ADS_1
"Kerja bagus Rudi!!" kata salah satu dari orang bertopeng.
"Ini bagianmu, terima kasih atas informasimu yang mengatakan jika Alfath akan pulang telat hari ini!!" kata orang bertopeng.
Rupanya Rudi si asisten Alfath juga terlibat dalam rencana pembunuhan Alfath. Pantas sejak tadi ditelepon oleh Alfath dia tak kunjung mengangkatnya.
Alfath dan Vallen tiba di tempat tadi Vallen duduk bersila.
Syukurlah...jika kalian tidak selamat ibu tak akan bisa hidup lagi!!" kata ibu Alfath memeluk kedua putranya.
"Siapa yang ingin mencelakai Alfath ya bu, dan apa motifnya!!" guman.Alfath.
"Sebaiknya istrimu dan keluarganya jangan diberi tahu dulu tentang penyeranganmu ini agar mereka tidak ikutan panik dan khawatir." Kata ibu Alfath.
************
"Mas, pulang telat hari ini ya Lia!! kamu dan Ansar baik-baik di rumah, kalau kamu takut hanya berdua saja dengan Ansar, kamu kerumah ibu dan ayah aja, ya???" Kata Badai sebelum berangkat kerja.
"Nggak apa mas, Lia sama Ansar di rumah aja, ngga enak ngerepotin ayah dan ibu!!" kata Lia.
Lia dan Badai dibelikan sebuah rumah mungil sebagai hadiah pernikahan mereka yang letaknya agak jauh dari tempat tinggal mereka dulu tetapi lebih dekat dengan tempat kerja Badai.
Ansar sudah belajar berjalan sekarang. Netranya yang buta sama sekali tidak menghambat tumbuh kembang balita itu.
Bocah itu semakin besar semakin bertambah tampan dan yang Lia herankan, wajahnya sama sekali tidak mirip dengan Anjar dan Sari.
Tubuhnya juga bukan seperti bayi usia 9 bulan, lebih tepatnya seperti anak usia 2 tahun.
"Ansar sayang...jangan merambat jauh-jauh, bunda lagi sibuk masak ya!!" sekarang Lia memanggilkan ayah dan bunda pada bocah itu karena Lia sudah menganggapnya seperti bayinya sendiri.
"Ma...ma...ma!!" oceh Ansar.
Terkadang Lia melihat berkali-kali bayi itu tertabrak pintu karena dia tidak melihat arah jalannya, tetapi hebatnya walaupun kepalanya terkadang benjol sana sini Ansar tak pernah menangis.
"Kasihan kamu nak, seusiamu ini sudah jadi yatim piatu!!" lirih Lia pada ponakannya itu.
Hingga saat malam menjelang Badai belum juga pulang dari kantor. Ansar pun yang baru bangun tidur senja tadi otomatis tak mau tidur kembali.
Lia sibuk melipat pakaian yang baru diangkat dari penjemuran saat Dia melihat sosok bayangan putih melintas.
Lia pikir itu paling hanya angin yang berhembus karena jendela ruang tengah yang telah dipasang terali itu masih terbuka pengaitnya belum Lia lepaskan.
"Anginnya kencang banget ya?? sebaiknya jendela kututup saja!!" gumam Lia.
Baru saja dia hendak menutup jendela kaca itu tatapan matanya tertuju pada sesosok bayangan berdiri di bawah pohon nangka di depan rumah mereka yang agak gelap.
__ADS_1
"Apa itu??" pikir Lia.
"Seperti bayangan seseorang tapi mau apa malam begini berdiri di bawah pohon gitu!!" batin Lia.
Mendadak bulu kuduknya merinding. Dengan cepat ditutupnya jendela dan kordennya.
"Apa itu sosok manusia atau bukan, ya??" gumamnya.
Di lantai Ansar masih asyik bermain seolah tak terganggu oleh apapun.
"Ya Allah...perasaanku semakin tidak enak, mana mas Badai belum pulang lagi!!" lirih Lia.
Bayangan itu tak bergerak menatap tajam kedalam rumah tapi tak bisa masuk.
Lia beringsut duduk mendekati Ansar dan memeluknya.
Seolah mengerti akan ketakutan tante yang sudah menjadi ibunya itu, Ansar balas memeluk seolah memberi kekuatan.
Tanpa Lia sadari selarik cahaya hijau keabuan melesat dari kedua bola mata Ansar keluar jendela menghantam sesosok tubuh yang berdiri tak jauh dari halaman rumah.
Sosok itu menggeliat kepanasan saat tubuhnya seperti di panggang saat terkena hantaman cahaya itu.
Mahluk itu melenyapkan diri lalu tak lama lagi datang sosok baru yang mengawasi rumah Lia dan Badai, tetapi Ansar tak menyerang mahluk itu apalagi saat mahluk itu melambaikan tangannya dari luar, Ansar pun tersenyum.
"Bagus Ansar, singkirkan mahluk jahat yang ingin mengganggu keluargamu walaupun itu ibu kamu sendiri!!" kata roh Anjar.
Tak lama Badai datang terdengar dari suara motornya berhenti di halaman. Setelah menaikan motor di teras dia masuk kedalam rumah dengan kunci cadangan yang selalu dia bawa jika pergi bekerja."
"Ada apa Lia?? mengapa kamu tampak sangat ketakutan??" tanya Badai.
"Tadi sewaktu aku akan menutup jendela, ada bayangan berdiri di bawah pohon nangka sana!!" kata Lia sambil menunjuk pohon nangka di depan rumah mereka.
Matanya menyorot merah melihat kearah rumah kita, mas!! aku segera menutup jendela dan merapatkan kordennya lalu memeluk Ansar!!" terang Lia.
"Dan alhamdulillah bayangan itu segera hilang!!" terang Lia.
Badai melihat kearah anak angkatnya, bocah buta itu masih asyik bermain di ruang tengah.
Badai tahu, anak angkatnya itu juga yang telah mengusir mahluk yamg telah dilihat Lia dengan kekuatannya.
*
*
***Bersambung...
__ADS_1
Ikuti terus kisah mereka di next chapter dan jangan lupa dukungannya ya readerππ