Maaf Atas Dustaku

Maaf Atas Dustaku
Bab 55 Penyesalan Yang Terlambat


__ADS_3

"Pertama, ceraikan saya!!" kata Tyas yang sontak membuat Anjar kaget.


"Tidak bisakah kamu tetap menjadi istriku, dek??" tanya Anjar menatap menyorot tak setuju.


"Bisakah perkataan permintaan syarat dari saya tidak dipotong dengan kalimat kalian terlebih dulu??" tanya Tyas geram.


Akhirnya Anjar terdiam membisu. Lalu membiarkan Tyas melanjutkan pembicaraannya yang terputus tadi.


"Kedua, saya tidak meminta hak yang harus saya terima sebagai seorang istri yang telah ditelantarkan oleh suaminya yang tidak bertanggung jawab selama berbulan-bulan ini karena saya juga bekerja dan punya penghasilan dan saya tidak butuh uang darimu tetapi..." tampak Tyas menggantungkan ucapannya terlebih dahulu.


"Mba Sasha, mas Alfath...apa kalian sudah memesan minum?? karena tenggorokanku sudah kering!!" pi ta Tyas.


Segera Alfath melambaikan tangannya pada waiter yang berdiri di pojok kafe dan meminta daftar menunya.


Setelah mereka semua memesan minuman, ternyata minuman yang dipesan Tyas sama dengan minuman yang juga dipesan oleh Anjar, yaitu susu soda gembira kesukaan mereka dulu saat masih berpacaran.


"Bagaimana??? bisa kita lanjutkan??" tanya Tyas.


Tanpa menunggu persetujuan dari keempatnya, Tyas melanjutkan ucapannya yang sempat tertunda tadi.


Dia tampak puas, melihat wajah Sari yang kesal karena minuman yang dipesan oleh Tyas juga dipesan oleh Anjar.


Dia memang sengaja mengulur-ulur waktu supaya Sari bertambah kesal padanya.


"Kedua syarat dari saya adalah, rumah yang sekarang ditempati oleh kalian berdua harus menjadi milik saya...karena dulu kami saya dan Anjar membeli berdua, ingat uang saya dan Anjar, bukan uang Sari dan Anjar."


Jadi saat kalian sudah menikah nanti, kalian harus angkat kaki dari rumah itu, karena rumah itu setelah kalian menikah otomatis akan resmi menjadi milik saya." Tyas selalu berbicara dengan memberikan penekanan di setiap kata-katanya.


"Oh...tidak bisa, jika rumah itu kamu ambil, saya dan mas Anjar harus tinggal di mana??" tanya Sari bertambah kesal pada Tyas.


"Oh...itu sama sekali bukan urusan saya, saya tidak peduli setelah menikah kalian mau membuat gubuk di bawah pohon pisang kek, di samping kolong jembatan kek, atau di tengah rel kereta api sekalipun, saya tidak peduli, itulah persyaratan dari saya."


"Dan saya akan meminta pengadilan untuk membuat surat hitam di atas putih yang ditanda tangani oleh pihak pengadilan agama dan juga harus ditanda tangani oleh kalian...jika kalian berani melanggarnya maka saya tidak akan segan-segan untuk menjebloskan kalian kedalam hotel prodeo...kamu tau arti hotel prodeo, Sari??? hotel prodeo adalah P.E.N.J.A.R.A..." ujar Tyas tertawa sinis melihat wajah pucat pasi dari Anjar dan Sari.


"Bagaimana?? dan oh iya hampir terlupa, satu lagi...jangan pernah datang lagi bagi mas Anjar untuk menemui saya karena selepas perceraian kita, saya sudah menganggap mas Anjar telah MATI!!" kata Tyas.


Bukan main sakitnya hati Anjar mendengar itu semua keluar dan terlontar dari bibir Tyas wanita yang pernah dia cintai.


"Oke??? sudah direkam pembicaraanku mas Alfath, kalau begitu silakan kalian melayangkan gugatan cerai kepengadilan, saya tidak akan mempersulit selama kalianpun tidak berbuat ulah melanggar perjanjian yang telah kuta sepakati bersama."


Lalu pihak Tyas berdiri tanpa mengucapkan sepatah katapun meninggalkan Sari dan Anjar.


Anjar yang termangu ketika akhirnya dia dan Tyas akan resmi bercerai, dan Sari yang sangat geram melihat Tyas juga melihat kemesraan Sasha dan Alfath.


Sebenarnya tadi Anjar ingin sekali bertanya, tentang bayi mereka...tetapi melihat Tyas begitu dingin terhadapnya, Anjar jadi takut untuk bertanya lebih jauh terlebih tatapan mata Alfath dan Sasha yang mengintimidasinya.


Di mobil Tyas tampak lebih banyak berdiam diri. Tadi sebelum masuk ke mobil Sasha sudah meminta ijin kepada suaminya untuk duduk di bangku belakang menemani Tyas.

__ADS_1


"Suami berasa jadi supir!!" gurau Alfath pada istri tercintanya.


"Kamu menyesal dengan semua keputusanmu, dek??" tanya Sasha sambil menggenggam tangan Tyas sepupunya itu.


Tyas berpaling menatap wajah Sasha kemudian menggelengkan kepalanya.


"Mungkin aku adalah perempuan bodoh yang mengalah dan membiarkan seorang pelakor menang, tapi apa yang mau kuperjuangkan sementara orang yang kuperjuangkan tak pernah mengerti arti perjuangan cinta itu sendiri!!"


"Baik secara sadar ataupun tidak dia sudah melangkah semakin jauh, aku tau Sari telah mengguna-gunai mas Anjar untuk mendapatkan hatinya dan memisahkan kami berdua, jika cintanya kuat seperti cinta mas Alfath kepada mba Sasha, aku yakin sebesar apapun dan sekuat apapun guna-guna yang diberikan pasti suatu hari akan bisa dimentalkan oleh mas Anjar apalagi aku juga tau banyak pihak yang membantu untuk berusaha menyadarkannya, tetapi susah karena sebenarnya hati mas Anjar juga sudah terpikat pada Sari secara sadar ataupun tidak, jadi sebanyak apapun dukungan pasti tidak akan bisa membantu jika hati itu sendiri yang sudah mendua." Kata Tyas sambil mengalihkan pandangan matanya keluar jendela.


Sasha tau Tyas terluka, sekuat apapun dia, setangguh apapun dan sejagoan apapun seorang Tyas, dia juga manusia, dia juga seorang wanita.


Alfath dan Sasha saling berpandangan lewat kaca spion. Alfath menggelengkan kepalanya memberi isyarat kepada istrinya untuk tidak bertanya lebih lanjut lagi.


****************


Persidangan pertama akan dilaksanakan pukul 10 pagi ini. Semua pihak yang berwenang datang termasuk kedua orang tua Anjar yang datang dari Batam, tante Santi dan Juan tentunya, Bu Ratna dan pak Tio suaminya juga ayah dari Tyas pak Ridwan.


"Ini ayah kamu kemana Fathir, kok belum datang juga?? katanya sudah on the way mau kemari!!" gerutu Sasha sambil menggendong Fathir.


Tak lama tampak Alfath jalan setengah berlari menuju kearah istrinya.


"Maaf sayang, apa persidangannya sudah dimulai??" tanya Alfath sambil mengambil alih untuk menggendong Fathir putranya dari tangan Sasha.


"Belum...ayo cepat kita masuk!" ajak Tyas.


Ternyata persidangan pertama berjalan lancar tanpa adanya pihak yang saling menyulitkan karena semalam Anjar sudah mewanti-wanti Sari untuk tidak banyak tingkah kalau ingin semuanya berjalan dengan lancar. Sebenarnya semua itu Anjar lakukan agar Sari tak lagi mengganggu Tyas, Anjar berharap jika dia dan Sari menikah maka Sari akan berhenti mengganggu kehidupan Tyas.


Dia akan membawa Sari pergi dari rumah itu karena sejujurnya dia tak mampu untuk melupakan dan menghapus semua kenangan yang pernah terjadi antara dia dan Tyas.


Surat perjanjian pun sudah dibuat, Sari dan Anjar akan angkat kaki dari rumah itu secepatnya.


Pihak Tyas pun merasa sangat lega, mereka tinggal menunggu sidang kedua maka ketokan palu hakim pun akan memisahkan Tyas dan Anjar selamanya.


Orang tua Anjar mendatangi anak dan calon istri baru Anjar, dan


PLAK...PLAK...PLAK...PLAK


Empat tamparan diberikan oleh ibu Anjar untuk Anjar dan Sari secara bersamaan.


"Dasar anak tak tau diuntung kamu Anjar?? buat malu ayah sama ibu saja kelakuanmu Anjar...dan kamu!!" tunjuk ibu Anjar hingga dahi Sari terjengkit kebelakang...


"Saya ibunya Anjar dan ayahnya, tak pernah mau mengakui kamu sebagai menantu kami walau kamu telah mengandung anak Anjar sekalipun!!"


"Menantu kami hanya satu yaitu, Sulistyaningsih dan bukan Sari Inayah begitu pula dengan cucu kami...cucu kami hanya satu yaitu Putri Mutiara yang terlahir dari rahim Tyas bukan terlahir dari wanita kotor sepertimu, cam kan itu..."


Lalu orang tua Anjar pergi menemui keluarga Tyas.

__ADS_1


"Maafkan kami nak, jika selama ini Anjar telah banyak menyakiti perasaanmu, kami sadar menahanmu untuk tidak bercerai hanya akan menambah luka di hatimu, jadi kami melepaskanmu...pergilah semoga kamu kelak akan mendapatkan jodoh yang lebih baik dari pada anak kami yang tidak tau diuntung itu.


"Terima kasih bu...pak..." Tyas memeluk mantan mertuanya begitu pula kedua mantan mertuanya memeluk Tyas dan menciumi wajah Tiara cucu mereka dengan berbagai macam perasaan.


"Kami sekalian pamit pulang ya, nak...jaga diri kamu dan putrimu baik-baik!!"


Sekali lagi kedua orang tua Anjar memeluk Tyas kemudian dengan diantar oleh Santi sang adik juga Juan keponakannya.


Sebelum pergi, Juan menemui Tyas dan mengatakan...


"Maaf aku tidak tau jika mba Tyas adalah istri bang Anjar, tetapi kita masih berteman kan walaupun kita bukan keluarga lagi?? Tiara tetap sepupu kecilku kan??" tanya Juan pada Tyas.


"Juan...aku masih menganggapmu teman, kita masih keluarga kok walaupun aku dan Anjar sudah berpisah, lagi pula aku banyak berhutang budi kepadamu, kamu sudah banyak membantuku jika tidak ada kamu, pasti aku dan Tiara sudah mati saat itu." Kata Tyas sambil tersenyum.


Mereka semua berpisah. Mata Anjar menyipit saat melihat bu Ratna menggendong bayi yang berusia sekitar dua bulan dan langsung diciumi oleh kedua orang tuanya tadi.


"Itukah putri kecilku yang sudah kusia-siakan semenjak dia di dalam kandungan hingga dia lahir kedunia??" batin Anjar bergejolak hebat.


Ingin sekali rasanya dia menghampiri Tyas bersama keluarganya juga untuk ikut menggendong putrinya tetapi dia tidak mempunyai keberanian sama sekali selain hanya bisa menatap Tyas dan anaknya dari jauh.


"Ayo mas kita pulang, Sari capek mau tiduran...persidangan ini membuat Sari capek dan mengantuk."


Lalu Sari menarik tangan Anjar untuk menjauhi area pengadilan agama.


***************


Anjar sangat kesal karena dilihatnya Sari tidur dari mereka pulang siang tadi sampai menjelang sore.


Sari tidak masak apapun untuk makan mereka. Akhirnya Anjar memasak sendiri makanan untuk mereka.


Besok pagi sepulang bekerja Anjar berniat untuk mencari rumah kontrakan baru untuk dia, Sari dan Lia adik Sari.


Sambil makan ala kadarnya sambil Anjar mengingat semua kenangan tentang Tyas.


Dulu secapek-capeknya Tyas sepulang bekerja, selalu dia sempatkan memasak untuk mereka, membersihkan dan merapikan rumah menyiapkan teh hangat untuk menyambut kepulangannya.


Begitupun kalau pagi, sarapan selalu tersedia sebelum dia bangun tidur bahkan saat Tyas harus dinas pagi sekalipun dia tak pernah absen untuk membuatkan sarapan dan membawakan bekal untuk Anjar bekerja, tetapi sekarang??


*


*


Bersambung....


Memang kok ya...penyesalan itu selalu saja datang belakangan ngga pernah namanya penyesalan datang di awal.😁😁


Lanjut di next episode ya reader...jangan lupa dukungannya ya!🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2