
"Li....!!" panggilnya lirih sambil terisak.
Air mata terus membanjiri pipinya yang kemerahan, membuat Ali jadi berhenti berkoar-koar sendiri dan terpaku menatap wajah sedih kekasihnya.
"Adakah jalan untuk kita bisa bersama lagi??" tiba-tiba Sasha bertanya.
"Aku sakit Li, aku terluka dengan keadaan yang terus menerus seperti sekarang ini..."
"Hadirmu antara ada dan tiada...hanya aku yang bisa melihat dan merasakan kehadiranmu, Li!!"
Sasha menangis terisak. Jelas dia merasakan lelah dengan keadaan seperti ini.
"Cup...cup...cup...sayang...kamu jangan menangis!!" kata Ali.
"Jika keadaan kamu terus menerus seperti ini, bagaimana aku bisa pergi dengan tenang untuk meninggalkanmu kelak??" lirih Ali juga teramat sedih.
"Sepertinya aku harus mempercepat kebersamaan Yusuf dan Sasha...aku sebenarnya tidak rela gadisku bersama dengan laki-laki lain tapi aku harus melihat Sasha bahagia terlebih dahulu baru aku bisa benar-benar pergi!!" bisik Ali.
"Sudah, kamu jangan menangis gitu...jelek tau!!" kata Ali menggoda Sasha.
"Sebaiknya kamu harus bersiap, bukankah nanti malam keluargamu akan makan malam dengan Yusuf dan ayahnya?? ayo dong senyum sayang...jangan cemberut terus!!" kata Ali berusaha menghibur Sasha.
"Beib, aku mau keluar sebentar ya...aku mau cari udara segar dulu...sudah kamu jangan menangis lagi, tersenyum ya!!" kata Ali sambil mengusap rambut Sasha.
*******
Yusuf Darmawan baru selesai melaksanakan ibadah sholat Ashar saat tiba-tiba Ali terduduk di sampingnya.
"Ali...bikin kaget saja kamu!!" kata Yusuf yang tersentak melihat Ali tiba-tiba ada di dekatnya.
"Ada apa kamu tiba-tiba mengunjungiku seperti ini??" tanya Yusuf.
"Suf, aku boleh bertanya sesuatu padamu?? dan tolong kamu jawab dengan jujur!!" kata Ali.
"Apa yang ingin kamu tanyakan, Li??" tanya Yusuf sambil menatap pada Ali.
"Suf, terlepas dari permintaanku saat itu kepadamu untuk melindungi Sasha setelah kepergianku, apakah kamu mulai mempunyai perasaan khusus pada Sasha?? jawablah pertanyaanku dengan jujur, Suf!!" kata Ali balas menatap Yusuf.
"Maafkan aku, Li!! kata Yusuf pelan.
"Awalnya aku mendekati Sasha karena menjaga amanat yang telah kamu berikan kepadaku tetapi lama kelamaan entah mengapa hatiku mulai tertambat denga Sasha.
"Gadis manis itu begitu baik dan lembut tetapi juga sangat rapuh karena cinta...ya bisa dimaklumi, dia baru pertama kali jatuh cinta tetapi ternyata cinta pertamanya itulah yang telah memporak porandakan hati dan hidupnya." kata Yusuf.
Ali terdiam. Dia lah yang punya andil besar atas penderitaan Sasha.
"Aku!!"
__ADS_1
Yusuf tidak bisa melanjutkan ucapannya.
"Suf, maukah kamu menjaga Sasha di dalam suka dan juga duka untukku?? tetaplah bersamanya untuk menjadi orang terakhir yang dia cintai selain aku!!" pinta Ali dengan suara parau.
"Aku tau Suf, sewaktu-waktu aku bisa saja pergi meninggalkan dia dan aku tidak ingin dia menangis lagi setelah kepergianku!!"
"Aku ingin dia tetap bahagia walaupun aku tak lagi bersamanya, aku ingin dia bahagia walaupun bukan bersama denganku."
"Tolonglah Suf, katakan padanya kalau kamu suka sama dia...ayahmu dan ayah Sasha berteman tentu tak sulit bagi kalian untuk menyatukan dua hati kalian pastinya restu orang tua akan menyertai kalian." Kata Ali.
"Kan kamu tau Suf, di sini bukan duniaku lagi...aku harus mempercepat tugasku untuk membuat Sasha bahagia." Kata Ali sambil menghela napas berat.
Lama Yusuf termenung berusaha mencerna semua ucapan dari Ali.
"Baiklah Li....aku akan berusaha untuk menjaganya."
"Mungkin ada baiknya aku meminta kepada ayah untuk melamar Sasha kepada ibu Ratna dan suaminya...karena sesungguhnya aku tidak ingin berpacaran agar terhindar dari zinah." Kata Ali.
"Mungkin kami berdua akan menikah selepas kami tamat SMA ini, hanya saja aku tidak akan memaksa Sasha untuk tinggal satu rumah denganku sampai kami sudah benar-benar siap lahir dan batin." ucap Yusuf.
Ali tersenyum getir. Dulu dia dan Sasha merencanakan pertunangan mereka selepas SMA tetapi takdir berkata lain, Sasha akan menikah tetapi bukan lagi bersamanya!!
Sakit?? tentu saja...walaupun dia sudah menjadi arwah, tetapi karena dia masih berkeliaran di dunia manusia, maka dia juga masih bisa merasakan sedih dan senang.
Tetapi demi Sasha, apapun akan dia lakukan agar gadis itu bahagia.
"Aku pergi dulu ya?? aku kangen sama mama dan papaku, aku juga ingin sering-sering menjenguk mereka karena jika aku sudah tidak lagi di dunia, aku tidak punya kesempatan lagi untuk sering-sering menjenguk mereka." Lalu Ali melayang pergi meninggalkan Yusuf.
"Sakit ya Allah...." Ali memegang dadanya.
"Sesakit inikah saat kita melepaskan dan berusaha mengikhlaskan orang yang kita cintai untuk bahagia??"
Sepanjang perjalanan menuju kerumahnya, Ali termenung sampai di sebuah jalan yang sepi dia seperti melihat sebuah mobil yang pengendaranya sedang dipaksa keluar oleh empat orang pengendara motor.
Keempat orang itu menghajar laki-laki yang mengenakan dasi yang sepertinya baru pulang dari mengajar karena terlihat dari kertas-kertas ujian yang terhambur ke jalan saat dia diseret paksa keluar dari mobilnya oleh keempat orang yang memakai topeng itu.
Ali mendekat untuk lebih memastikan karena dia kenal plat mobil Agya merah yang berhenti di pinggir jalan itu.
"Kak Alan....??" teriak Ali saat melihat kakaknya berusaha melawan pengeroyoknya.
"Kurang ajar...kalian mau apakan kakakku?? kalian mau mengeroyoknya?? kalian hadapi dulu kemarahanku!!" kata Ali dengan geram.
Perlahan dia mengangkat potongan kayu yang dia temui di jalan dan mengangkatnya lalu mendekati keempat orang yang tengah berusaha untuk mengeroyok kakaknya itu.
"Li...li...hatlah...kata salah satu dari keempat pengeroyok yang melihat potongan kayu terbang mendekati mereka.
"Ha....ha...hantu....!!" katanya lalu lari meninggalkan ketiga temannya.
__ADS_1
Mata Alanpun melotot melihat potongan kayu itu melayang kearahnya.
Pengeroyok yang hanya tinggal bertiga itupun melotot dan tak bisa berbuat apapun saat potongan kayu itu berbalik dan menghajar mereka.
Karena kesakitan maka merekapun segera melarikan diri dan secara tak sengaja, Alan menarik kain penutup wajah mereka dan ternyata...
"Takbir??" seru Alan mengenali salah satu pengeroyoknya yang ternyata adalah salah seorang muridnya sendiri.
Pemuda yang dipanggil Takbir itu langsung pucat pasi wajahnya, apalagi saat Alan mengambil ponselnya dan memotret dirinya.
Tanpa banyak kata, ketiga pemuda yang ternyata salah satunya adalah murid Alan di salah satu SMA itu kabur dengan dikejar oleh kayu yang terus menghantam pantat ketiganya.
"Siapapun kamu, aku mengucapkan banyak terima kasih padamu!!" kata Alan sambil merapatkan kedua tangannya.
Lalu dia kembali masuk kedalam mobilnya dan melajukan mobilnya menuju ke rumah sambil terus berpikir apa motif Takbir dan ketiga temannya yang belum diketahui siapa identitas mereka itu untuk mengeroyoknya!!
Ali duduk di samping abangnya itu, tanpa Alan tau bahwa adiknya ada duduk di sampingnya.
Dipandangnya wajah abang satu-satunya itu.
"Maafkan Ali jika selama ini punya banyak salah padamu kak...Ali bahagia pernah punya abang sebaik mu kak Alan...semoga di kehidupan mendatang nanti kita bisa dipertemukan sebagai kakak dan adik lagi!!" gumam Ali.
Sementara Alan tampak melamun sambil menyetir mobil.
"Kok tiba-tiba keingetan sama kamu, Li!! apa kabarmu di sana?? bahagiakah kini kamu di sana, adikku??" kata Alan sambil tersenyum sedih.
Dulu sebelum adiknya meninggal, di saàt malam minggu gini mereka selalu nongkrong di kafe saling bercerita, walau sesibuk apapun mereka tetapi dua kakak beradik itu tetap menyempatkan diri untuk bersama.
Apalagi saat Ali masih berpacaran dengan Sasha, Sasha sama sekali tak pernah mengharuskanya untuk selalu ada bersamanya.
Dia gadis yang amat pengertian sangking pengertiannya sampai dia tak mengetahui jika dia telah dikhianati dengan cara yang paling menyakitkan.
Ali meringis mengingat masa-masa kelam itu. Itulah mengapa dia bertekad untuk membuat Sasha menemukan orang yang tepat untuk hidupnya sebelum dia benar-benar pergi dan tak bisa kembali lagi di dalam kehidupan Sasha.
"Alannnn!!"
Suara cempreng mama Lili melihat anak lelaki yang tinggal satu-satunya itu kacau dan berantakan.
*
*
***Bersambung....
Apakah Sasha akan menerima lamaran dari ayahnya Yusuf Darmawan, ya?? di saat dia masih sangat mencintai Ali??
Jangan lupa mampir di karya baruku ini ya reader tercinta...terima kasih🙏🙏
__ADS_1