Maaf Atas Dustaku

Maaf Atas Dustaku
Bab 76 Membawa Kabur


__ADS_3

"Kakak??" ganti wanita itu yang mengerenyitkan dahinya.


"Usia saya ini sudah lima puluh tahun lho..." katanya terkekeh geli mendengar panggilan dari Ganda Suri tadi.


Ganti Ganda Suri yang terperanjat kaget mendengar penuturan wanita tua berwajah gadis tersebut!!


Dia tampak menggelengkan kepalanya hampir tak percaya.


"Tidak mungkin...kamu begitu cantik seperti gadis berumur 20 tahunan." Kata Ganda Suri masih tak percaya.


"Duduklah...!!" kata wanita itu pada sebatang pohon tumbang dipinggir jalan yang roboh tertiup angin beberapa hari yang lalu.


Mereka berdua duduk saling berdekatan.


"Ada apa gadis cantik?? mengapa kulihat kamu begitu gundah gulana??" tanyanya lagi.


"Kamu tampaknya sedang jatuh cinta, ya!!" tanya wanita itu setelah memandang wajah Ganda Suri dengan seksama.


"Siapa yang mau denganku???" kata Ganda Suri.


"Nyai...namaku Nyai Sambang...panggil Nyai saja ngga apa-apa!!" kata wanita yang bernama Nyai Sambang itu.


"Kamu mencintai seseorang yang tak mencintaimu??" tanya Nyai Sambang pada Ganda Suri.


Ganda Suri mengangguk sedih.


"Aku bisa membantumu tetapi kamu harus keluar dari pondok pesantren itu karena ilmu yang akan kuajarkan sangat berlawanan dengan ajaran Kyaimu yang sekarang...kamu tak perlu tergesa-gesa untuk berpikir, santai saja!!" kata Nyai Sambang.


"Sekarang kamu kembalilah ke pesantren nanti kamu tak sempat melihat pujaanmu itu pergi." Kata Nyai Sambang.


Bertepatan dengan itu Ganda Suri baru ingat langsung berlari pulang ke pesantren bertepatan dengan ketiga orang yang akan pergi itu.


"Shinsei Cheng, tuan muda Lee dan nona muda??" seru Ganda Suri.


"Ganda?? kami pikir kamu tak akan kembali ke pondok??" ucap Lee.


"Jadi kami titipkan hadiah bagianmu pada Nyai Abdullah!!" kata Lee lagi sementara gadis belia yang menjadi istri Lee itu hanya tersenyum pada Ganda Suri.


"Iya mbakyu Ganda...kami juga dapat!!" kata Tio dan Ridwan.


"Apakah suatu hari nanti kalian akan mampir ke pesantren ini lagi??" tanya Ganda Suri.


"Insya Allah semoga ada umur panjang!!" jawab Shinsei Chang.


Lalu mereka bertiga pamit meninggalkan Ganda Suri sendiri yang terbelenggu dengan cintanya.


Hari demi hari Ganda Suri menunggu cintanya kembali hingga tepat 14 tahun usia Ridwan dan Tio.


Secara tak sengaja dia melewati Ridwan, Tio dan Kyai Abdullah saat itu dan secara tak sengaja dia mendengar pembicaraan Kyai Abdullah pada dua adik seperguruannya.


"Ridwan...Tio...bertahun-tahun lalu Shinsei Cheng menitipkan sebuah ilmu langka untuk Kyai turunkan pada kalian entah mengapa hanya untuk kalian berdua, tidak untuk mbakyu kalian tetapi pesan Shinsei Cheng saat itu akan ada masanya ilmu itu berguna nanti."


"Hanya ada tiga orang laki-laki yang diturunkan ilmunya itu oleh Shinsei Cheng."


"Pertama putranya sendiri lalu kalian berdua...bersiaplah kalian!!" perintah Kyai Abdullah.

__ADS_1


Mendengar hal itu tentu saja timbul rasa kecewa di hati Ganda Suri menganggap gurunya telah pilih kasih.


"Ilmu apa itu Kyai?? tanya keduanya.


"Ilmu pencabut raga!!" kata pak Kyai.


***Flashback off***


Entah saat itu rasa kecewa yang terlalu dalam atau apapun alasannya, Ganda Suri akhirnya terbujuk rayuan Nyai Sambang untuk mengikutinya hingga Kyai Abdullah juga mencabut seluruh ilmu yang Kyai Abdullah berikan pada Ganda Suri melalui tangan Ridwan dan Tio.


Sejak saat itu hubungan mereka semua terputus. Dengan ilmu baru pemberian Nyai Sambang malah membuat Ganda Suri semakin percaya diri karena Nyai Sambang mampu menyempurnakan fisiknya agar tidak cacat lagi juga dari Nyai Sambanglah dia mulai mengenal satu ilmu awet muda dengan mengkonsumsi darah bayi dan wanita hamil.


Sungguh Ganda Suri sudah terlalu jauh menyimpang dari semua yang diajarkan oleh Kyai Abdullah dulu.


Satu yang tak pernah hilang dari hatinya hingga kini adalah perasaan cintanya pada Ji An Lee walau kini Lee telah meninggal dunia.


"Tak mungkin Tio atau Ridwan yang mencabut ilmu Surtinah, karena Surtinah tadi bilang seorang pemuda...apakah pemuda itu putra Lee dan Susanti??" gumam Nyai Ganda Suri.


*************


Sudah tiga hari Anjar dan Lia membawa bayi merah anak Anjar dan Sari pulang kerumah.


Bayi yang diberi nama Ansar itu walaupun terlahir buta tapi sangat menggemaskan.


Sari belum bisa dibawa pulang karena kondisi kejiwaannya yang masih terganggu.


"Ansar???" sapa Lia pada bayi merah itu.


"Ansar sudah dimandikan kah, Lia??" tanya Ansar.


"Sudah mas, tapi jika Lia sudah masuk kerja nanti siapa yang akan menjaga Ansar??" tanya Lia membuat Anjar juga dilema.


"Nanti sambil mas cari, mas berangkat kerja dulu, titip Ansar ya Lia!!" kata Anjar lalu mencium pipi putranya dengan penuh kasih sayang.


Sepeninggal Anjar, Lia berberes rumah sambil menjaga Ansar. Rencananya siang ini dia akan menjenguk keadaan kakaknya di rumah sakit.


"Kasihan kamu leh...karena perbuatan ibumu, maka kamu yang tak berdosa juga jadi menanggung akibatnya!!" kata Lia sedih sambil mencium pipi keponakannya itu.


**************


Alfath dengan cepat menggendong Alma sambil membawa tas yang berisi beberapa potong pakaian dan bu Titin mengikutinya dari belakang.


"Ayo cepat bu, nanti keburu Chintia datang!!" kata Alfath.


Mereka bergegas berjalan menuju Alfath meninggalkan mobilnya. Dan bergegas juga Alfath membawa putrinya dan ibu Titin pergi.


Tak selang beberapa menit dari keberangkatan mereka, Chintia pulang ke rumah karena ponselnya tertinggal.


"Alma...bi...bibi...!!" teriak Chintia dari depan pintu.


"kemana sih perginya bu Titin menyuapi Alma?? kok rumah dibiarkan terbuka begini??" kata Chintia.


Memang bu Titin biasa membawa Alma berkeliling sambil menyuapinya jika balita itu mulai susah untuk makan.


"Bukan main Alma, mentang-mentang banyak camilan dibelikan oleh ayahnya yang pelit irit sama duit itu, jajannya ditinggal begitu saja.

__ADS_1


Chintia belum menyadari jika Alfath sudah membawa Alma dan bu Titin pergi jauh dari rumah itu, dia hanya pulang sebentar untuk mengambil ponsel yang tertinggal di kamarnya kemudian pergi lagi.


Sasha sedang menggendong Fathir yang baru saja selesai mandi sore, saat Alfath turun dari mobil bersama seorang wanita setengah tua dan balita yang digendong oleh Alfath.


Sasha menyambut mereka di depan pintu rumah mereka.


"Mereka siapa mas??" tanya Sasha.


"Dek, ini Alma putriku yang aku ceritakan itu dan ini ibu yang selama ini merawatnya jika Chintia bekerja!!" sahut Alfath.


"Chintia??" kata Sasha sambil mengerutkan dahinya.


"Iya Chintia...jadi yang selama ini menyamar jadi Sinta itu ya Chintia, karena Shinta telah meninggal dunia setelah melahirkan Alma!!" terang Alfath.


Sasha menatap iba pada bocah perempuan yang di gendong oleh Alfath dan bersembunyi di dalam pelukan Alfath.


Baju lusuh dan sandal jepit yang juga lusuh yang dikenakan bocah itu membuat Sasha merasa iba.


Alfath menurunkan Alma dan bu Titin juga menjabat tangan Sasha.


Alfath mengambil alih menggendong Fathir dan Sasha mendekati Alma dan berjongkok di depan bocah malang itu.


"Siapa namamu nak??" tanya Sasha.


"Alma...unda!!" kata balita itu menyahuti ucapan Sasha.


"pinternya...!!" kata Sasha sambil mengusap kepala Alma.


"Alma mau ikut bunda di sini main sama adik Fathir dan adik Afifah??" tanya Sasha lagi.


"Mau, unda!!" kata gadis kecil itu.


"Silakan masuk bu, kalian bisa menempati kamar depan karena kamar tengah kami yang menempati!!' kata Sasha.


"Terima kasih, bu...maaf jika kami merepotkan!!" kata ibu Titin.


""Kalian sudah makan??" tanya Sasha lagi.


"Elum unda!!" yang menjawab Alma.


"Kata nenek makannya mayam aja tunggu beyas dayi mamah!!" kata Alma polos membuat Alfath dan Sasha merasa sangat sedih.


"Mas, terus jika si Chintia itu ngga pulang sampai tengah malam, terus mereka berdua makan apa??" tanya Sasha terlihat prihatin.


"Ya barangkali mereka tidak makan!!" kata Alfath sambil susah payah menelan salivanya mengetahui putrinya selama ini amat sangat kekurangan.


"Bi, kalian berdua makanlah dulu!! yah, tapi kami juga masak ala kadarnya, bi!!" kata Sasha pada bu Titin dan Alma.


"Jangan bu, bapak sama ibu saja belum makan, masa kami yang numpang makan duluan??" tanya bu Titin.


*


*


***Bersambung...

__ADS_1


Bagaimana reaksi Chintia jika mengetahui bahwa Alma dan bu Titin sudah tak ada di rumah??


Nantikan di next episode ya reader!! 🙏🙏


__ADS_2