Maaf Atas Dustaku

Maaf Atas Dustaku
Bab 45 Akhir Malam Mencekam


__ADS_3

Puskesmas ini adalah puskesmas yang baru dibangun jadi kondisi di belakang ruangan tempat dia dan keluarganya menginap ini masih hutan.


"Valen...!!" suara Alfath tampak tercekat sambil matanya tak berkedip menatap keluar.


"Apa itu Valen??" tanya Alfath.


"Kok seperti lampu ada di pohon ya?? tapi tidak ada kabel atau tiang lampu lain di belakang terus itu nyalanya dari mana?? masa ada yang pasang lampu minyak di atas pohon?? kurang kerjaan banget!!" ucap Alfath masih terus mengintip keluar.


"Nak Alfath lagi liat apa??" tanya pak Tio tiba-tiba mengagetkan Alfath.


"Astagfirullah!!! bapak bikin jantung Alfath mau copot saja!!" lirih Alfath.


"Kamu lihat apa??" kata pak Tio lagi.


"Pak, di atas pohon itu apa?? bisik Alfath.


"Masya Allah...itu kan kuyang nak!! yang bercahaya seperti lampu itu adalah organ dalam perutnya!!" bisik pak Tio tak kalah kaget dan pucat wajahnya.


"Bangunkan yang lain supaya kita tetap waspada terutama Sasha, bayinya juga Tyas yang sedang hamil!!" bisik pak Tio sambil masih tetap mengawasi mahluk itu.


Semua sudah bangun dan tentu saja ketakutan apalagi orang tua Alfath yang memang tinggal lama di luar negeri mereka baru hari ini menyaksikan hal mengerikan itu.


Tyas duduk dekat Sasha yang juga sedang memeluk bayinya erat.


"Mas, adek takut...besok kita pulang ya...ngga mau tinggal lebih lama lagi!!" bisik Sasha pada Alfath.


Tiba-tiba Valen mengerak-gerakan jarinya lagi, dan ibunya Alfath mengerti apa maksud putra angkatnya itu.


"Kata Valen, kalian semua jangan panik...kenapa kuyang itu hanya bisa berputar-putar di luar saja tak bisa masuk ke dalam ruangan, karena sebelum pergi tadi sore, om Yusva telah memagari kamar ini dengan air doa!!" kata ibu Alfath menerjemahkan arti isyarat tangan dari Valen.


"Tapi aku tetap aja takut bude..." ucap Tyas.


"Seandainya di sini ada ayah, tentu aku tak akan setakut ini karena ayah mengerti melawan hal-hal yang seperti ini!!" ucap Tyas.


"Kita berdoa saja nak, mudahan pagi cepat datang supaya kita bisa segera tinggalkan puskesmas ini!!" kata bu Ratna lagi.


Saat mereka semua yang ada di ruangan itu dilanda ketegangan...


Tok...tok...tok


"Permisi...mau mengecek bayi!!" kata suara dari luar.


Alfath melirik jam di arloji tangan kirinya.


"Adakah suster mengecek keruangan sudah hampir jam 1 malam begini??" tanya Alfath minta pendapat pada yang lainnya.


"Setauku mana ada sudah jam segini apalagi pasiennya sudah tergolong sehat kecuali kita menekan bel yang ada diujung ranjang itu!!" tunjuk Tyas.

__ADS_1


"Tidak usah suster, besok pagi aja!!" suara bariton Alfredo dari dalam mewakili semuanya.


HENING....


Tak lama....


DOGH...DOGH...DOGH


Suara ketukan sudah berubah yang tadi awalnya pelan dan sopan kini terdengar lebih kepada suara gedoran tetapi bukan berasal dari gedoran tangan, melainkan...???" Valen mengintip dari lubang kunci.


Tampak Valen menggerak-gerakan tangannya lagi.


"Coba sini ibu yang ngintip kata ibu Alfath penasaran ada takut pun ada.


Begitu mengintip ibu Alfath langsung terduduk lemas di lantai dengan lutut gemetar karena ketakutan.


Rupanya tadi Valen bilang yang mengetuk pintu tadi bukan tangan melainkan kepala, dan karena tidak mendapatkan informasi yang jelas dari Valen, akhirnya dengan diliputi rasa penasaran, ibu Alfath nekad mengintip sendiri.


"Masya Allah...!! kepala yang mengetuk pintu!!" kata ibu Alfath dengan lidahnya yang terasa kelu.


"Untung tadi pintu ngga kita buka, untung mas Alfath berkeyakinan jam 1 malam sudah ngga ada lagi pengecekan pasien dan bayi kecuali kita yang memencet bel memanggil mereka.


"Ada berapa ibu yang melahirkan di puskesmas sore ini??" tanya Alfredo.


"Mungkin ada sekitar lima orang tapi yang dua sudah pulang tadi sore tinggal bertiga sama Sasha!!" kata Alfath.


Benar saja, terdengar suara jeritan seorang ibu dari deretan kamar Sasha.


"Kita harus tolong mereka, yah!! teriak ibu Alfath.


Mereka membuka pintu dan menyaksikan kuyang itu mau menghampiri ibu yang berteriak sambil menggendong bayinya tadi sementara beberapa bidan yang sedang bertugas malam itu gemetar berdiri ketakutan di meja perawat.


Mereka belum tau apa yang harus dilakukan saat Valen tiba-tiba berlari kencang tapi bukan kearah kuyang itu melainkan ke ruangan laboratorium yang biasanya hanya diungsikan pagi sampai siang hari.


Dia membuka paksa pintu tersebut dengan tangan kecilnya dan benar saja di balik pintu dia menemukan sosok tubuh duduk tanpa kepala.


Valen mengumpulkan botol ampul dari kaca yang sudah kosong untuk tempat darah dan botol infusan kaca, dengan mengerahkan tenaganya untuk menghancurkan botol-botol kaca tersebut menjadi serpihan dan dengan cepat dia memasukan remahan kaca tadi kedalam tubuh tanpa kepala dan organ dalamnya itu.


Valen memang luar biasa saat meremas botol kaca itu, jangankan hanya tangan kecil sebesar tangannya tangan segede gaban pun pasti akan terluka tetapi tak ada tanda-tanda luka di dua telapak tangannya.


Setengah meter lagi bayi yang ada di dalam gendongan itu akan diterkamnya, tiba-tiba mahluk itu menjerit histeris kemudian berbalik terbang kearah ruang laboratorium.


Para wanita berkumpul semua menjadi satu sementara Alfath, pak Tio dan seorang admin laki-laki ikut mengejar kearah larinya mahluk tersebut.


Mahluk itu meraung dan menjerit sangat marah saat berusaha memasuki tubuhnya tapi tidak bisa. Matanya berkilat menyorotkan dendam tapi dia tidak tau itu perbuatan siapa sementara di balik pilar besar, Valen tampak menyeringai.


Karena tak bisa lagi masuk ketubuhnya sendiri, mahluk itu terbang kearah barat diiringi dengan jeritan histeris yang menyayat hati.

__ADS_1


"Mas, sudah seringkah kejadian serupa terjadi di puskesmas ini??" tanya Alfath.


"Tidak juga pak, karena mereka yang dirawat di sini rata-rata hanya sakit biasa jarang ada yang dirawat karena melahirkan."


"Biasanya yang melahirkan langsung pulang hari ngga sampai nginep di sini!!" jelas tiga orang perawat yang berjaga malam itu.


"Makamkan tubuh tanpa kepala ini besok mas!!" kata Alfat akhirnya.


Lalu mereka semua kumpul dalam satu ruangan berhimpitan di tengah malam menjelang dini hari itu.


"Ini adalah pengalaman terjelek, terburuk dan paling menakutkan yang pernah ayah dan ibu alami di Indonesia." Kata Alfredo bergidik.


Pak Tio pun yang juga lama mengabdi di kantor kepala desa di daerah pedalaman kalimantan pun baru malam ini mengalami hal menakutkan seperti ini.


Hingga pagi menjelang mereka tak ada yang berani tidur kembali.


"Aduh...ayah lelah sekali!!" ucap Alfredo dan pak Tio bersamaan.


"Kalian pikir hanya kalian yang lelah Alfath dan yang lainnya tidak??" gerutu Alfath.


"Lihat itu Valen dan ibu malah tidur saling berpelukan!!" kata Alfath.


Tyas dan bu Ratna juga baru tertidur menjelang subuh.


Sasha walaupun mengantuk lebih memilih mandi untuk menyegarkan tubuhnya sementara bayi yang baru berusia dua hari itu tidur dengan nyenyaknya.


"Dek, kamu masih kuatkan?? tidur di pondok pesantren aja nanti ya...sebab pagi ini kita akan pulang!!" kata Alfath saat melihat Sasha keluar dari kamar mandi.


"Iya mas, sebenarnya rada pusing sih kita semua cuma tidur ayam semalam!! mas itu yang ngga ada istirahat sama sekali, sebaiknya nanti mas langsung tidur!!" kata Sasha.


**********


Malam yang mendebarkan dan menakutkan itu telah berakhir mereka semua disambut baik di pondok pesantren Kyai Hamas. Sekalian memberikan nama untuk putra Alfath dan Sasha.


Bayi mungil yang diberi nama Alfathir itu jadi rebutan kedua pasang kakek dan neneknya.


Tyas merasa sangat sedih mengingat nasib bayinya juga tidak jelas karena perselingkuhan ayahnya dengan perempuan lain.


"Sudah kamu jangan merasa sedih, masih ada bude, pakde, mba Sasha bersamamu...ingat kamu tidak sendiri...kami selalu mendukungmu...suatu hari nanti Anjar pasti menyesal telah membuang wanita sebaik dan secantik serta sehebat dirimu, biarkan saja dia toh itu jalan yang telah dia pilih untuk hidupnya." Kata Sasha memberi semangat pada Tyas.


*


*


Bersambung


Lanjut next episode ya reader...mohon selalu dukungannya, ya....

__ADS_1


__ADS_2