Maaf Atas Dustaku

Maaf Atas Dustaku
Bab 67 Menyamar


__ADS_3

"Lho jika tadi yang saya telepon bukan bidan Ria, lalu siapa??" tanya Japra mulai was-was.


"Ada yang tidak beres mas Japra...sebaiknya ayo cepat menuju ke kediaman pak lurah!!" jawab bidan Ria dengan cepat mempersiapkan alat-alat medisnya kemudian menutup pintu lalu mereka berdua pergi menerobos hujan kembali.


Keduanya melewati jalanan yang masih diguyur hujan lebat itu dalam keheningan. Semua bermain dalam pikiran masing-masing.


"Ayo cepat mas Japra...saya takut terjadi hal-hal yang tidak diinginkan pada putri pak lurah itu!!" kata bidan Ria yang membuat Japra semakin melajukan motornya dalam pekatnya malam dan derasnya hujan serta kencangnya hembusan angin.


Sementara di kamar di tempat kediaman pak lurah Danu....


Wanti yang sedang kesakitan dan ditemani oleh ayahnya karena suaminya yang seorang abdi negara sedang menjalankan tugas negara selama enam bulan dan diperkirakan akan pulang dalam bulan-bulan ini, tetapi si jabang bayi nampaknya ingin lebih dahulu keluar ke dunia untuk menyongsong kedatangan ayahnya.


Danu membuka pintu kamar saat si mbok mengetuk pintu.


Dia membuka pintu dan melihat seseorang bersama si mbok yang memperkenalkan bahwa wanita itu adala bidan Ria yang akan membantu persalinan Wanti.


Pak Danu memperhatikan wanita itu. Dia merasa seperti ada yang aneh dengan wanita berbaju hitam dan berkerudung hitam itu, tetapi karena mendengar suara putrinya sudah merintih-rintih kesakitan, akhirnya pak Danu melupakan tentang pikirannya sendiri.


"Sebaiknya si mbok dan pak lurah menunggu di luar dahulu ya...biar mba Wanti akan saya tangani!!" kata bidan Ria lalu menutup pintu setelah pak Danu dan si mbok keluar dari dalam kamar.


"Coba saya periksa dulu mba..." kata bidan Ria.


Karena kesakitan maka Wanti sudah tidak memperhatikan kelakuan wanita yang duduk di depan kedua pahanya yang terbuka itu.


Mata wanita berbaju dan berkerudung hitam yang mengaku dirinya adalah bidan Ria itu tampak berkilat kemerahan dengan air liur yang berkali-kali menetes dari mulutnya.


"Tampaknya sudah waktunya mba Wanti...sebaiknya mba Wanti bersiap tarik napas saat mengumpulkan tenaga kemudian buang napas saat mengejan ya...!!" kata bidan Ria yang hanya ditanggapi anggukan kesakitan dari Wanti.


"Tarik napas...dorong...!!" teriak aba-aba dari si bidan Ria palsu memberi instruksi.


Wanti sudah hampir kehabisan tenaga saat bayi dan ari-arinya keluar dari rahimnya.


Tapi Wanti keburu pingsan terlebih dahulu karena kehabisan darah sementara bayi merah itu hanya menangis sesaat sebelum akhirnya diam untuk selamanya karena ubun-ubunnya ditusuk oleh bidan palsu itu dengan kuku jari tangannya yang mendadak memanjang dan runcing membengkok.


Dia tampak tersenyum lega saat merasakan kesegaran darah dari ibu dan bayinya dan kemudian tanpa jijik melahap ari-ari sang bayi.


Kemudian ibu dan bayinya yang malang ditinggalkannya begitu saja, dia segera melompat dari jendela dan kabur dari sana.


Sementara pak Danu dan si mbok yang tadi sempat mendengar suara tangisan bayi dari dalam kamar terpecah fokus mereka saat mendengar ada ketukan keras di pintu bukan hanya ketukan tetapi sudah berupa gedoran.


"Buka pintunya mbok, siapa malam-malam gini yang datang menggedor pintu palingan juga si Japra!!" kata pak Danu.


Benar saja Japra datang tetapi tidak sendiri, dia datang bersama seorang wanita yang wajahnya mirip sekali dengan wanita berbaju hitam tadi yang sekarang ada di dalam kamar sedang menolong persalinan Wanti.


"Lho, Japra?? ini siapa?? kata si mbok menunjuk bidan Ria yang asli.


"Saya tadi menjemput bidan Ria dulu kan mbok, masa mbok lupa??" tanya Japra.


"Lalu jika ini bidan Ria, terus siapa wanita berbaju hitam yang mengaku juga bernama bidan Ria yang sekarang ada di dalam sana sedang menolong persalinan mba Wanti??" tanya si mbok.


"Benar kata saya, ada yang tidak beres mas, ayo cepat kita lihat ke dalam kamar takut sudah terjadi sesuatu pada mba Wanti dan bayinya..." kata bidan Ria yang asli.


Mereka berdua berlari bergegas diikuti oleh si mbok yang walaupun masih nampak bingung, tapi respek menutup pintu dan lari menyusul keduanya.


"Ada apa Japra?? lho, bukannya mba ini bidan Ria yang tadi masuk ke kamar membantu persalinan anak saya?? kapan keluarnya kok tau-tau ada sama si Japra??" cecat pak Danu.


"Aduh pak, jangan banyak tanya dulu...mba Wanti dan bayinya dalam bahaya karena yangbada di dalam kamar bersama mba Wanti itu adalah bidan Ria yang palsu, inilah bidan Ria asli yang datang bersama saya ini yang tadi saya jemput datang ke rumahnya!!" tekan Japra.


"Apa??" Danu terlihat sangat panik apalagi hanya sebentar dia mendengar suara tangisan cucunya setelah itu tidak terdengar lagi sampai sekarang.


Mereka berempat ramai mengetuk pintu kamar bahkan mencoba membukanya dan akhirnya Japra berinisiatif mendobrak pintu kamar itu.


Pemandangan pertama yang mereka lihat adalah angin yang berhembus kencang dari jendela yang terbuka, lalu mata keempatnya beralih pada dua sosok di atas tempat tidur yang sepreinya masih basah oleh darah, tetapi tak ada ceceran sama sekali di lantai dan di tubuh keduanya, bersih seperti dijilat oleh sesuatu.


"Wanti....!!" teriak pak Danu lalu lari kearah tempat tidur di mana tergeletak putrinya dan cucunya.

__ADS_1


Bidan Ria memeriksa Wanti dengan seksama.


"Mba Wanti sudah meninggal pak, sepertinya kurang lebih setengah jam yang lalu, rupanya dia pingsan dulu sebelum meninggal lalu karena kehabisan darah itulah yang membuatnya meninggal." kata bidan Ria membuat pak Danu duduk terhempas lemas ke lantai.


Lalu bidan Ria kembali memeriksa kondisi bayi merah yang kini tampak sangat pucat itu.


"Astagfirullah....!!" teriak bidan Ria mengakibatkan semua yang ada di situ kembali merasa syok.


"Ubun-ubunnya bolong pak!!" teriak bidan Ria dan spontan mengagetkan semuanya.


"Jaha*nam...!!" teriak pak Danu lalu menangis seperti orang gila dan mengamuk seperti orang kesetanan.


"Siapa mahluk yang telah membunuh anak dan cucuku??" teriaknya dan segera ditenangkan oleh Japra sementara si mbok dan bidan Ria asli sibuk membersihkan jenazah anak dan cucu pak lurah.


Dan ramailah bunyi kentongan lonceng besi yang dipukulkan bertalu-talu ditengah malam hujan badai itu pertanda kampung mereka sedang dalam bahaya.


Tak jauh dari sana dari balik rimbunnya pohon dan gelapnya malam serta derasnya curah hujan, sesosok tubuh berdiri tegak sambil menyeringai puas.


Tubuh yang tadinya lesu dan lemas serta wajah yang pucat dan kulit yang mengeriput, kini segar kembali, dengan wajah dan kulit tubuhnya yang seolah bersinar dan kecang serta kembali muda dan bercahaya lagi.


****Flashback off****


Pak tua penjaga warung mengakhiri kisahnya seiring dengan gorengan yang dia panaskan tadi sudah siap disantap oleh Juan.


"Lalu, apakah pembunuh itu sudah tertangkap pak??" tanya Juan sambil mengunyah pisang goreng.


"Boro-boro tertangkap nak...bahkan selang dua minggu kemudian kejadian serupa terjadi kembali." Kata bapak tua pemilik warung.


Lama Juan merenung. Dia nampak berpikir.


"Sepertinya aku harus turun tangan nih, kasihan para keluarga yang mempunyai istri dan anak yang sedang hamil jika dibiarkan terus menerus maka pembunuh itu akan semakin meraja lela." Pikirnya yang juga dibenarkan oleh Keikei.


"Pak, saya kan sedang libur sekolah...mommy saya juga ada acara kumpul keluarga besar di Batam sana dalam semingguan ini...saya akan berusaha untuk membantu warga menangkap si pembunuh itu, bolehkah saya tinggal sementara di warung bapak ini, karena warung ini saya lihat ada di poros jalan utama yang memungkinkan saya bisa memantau setiap orang yang keluar masuk kampung ini pak!!" kata Juan memberi saran.


"Bapak tidak usah khawatir, saya akan membayar biaya selama saya makan dan menginap di warung bapak ini!!" kata Juan.


"Aduh nak, ngga usah dipikirkan itu dulu...bapak sudah senang nak Juan mau menemani bapak di sini!!" ucap pemilik warung.


Jadilah mulai hari itu Juan tinggal di rumah pemilik warung yang bernama pak Tono itu.


***************


Malam ini tepat seratus harinya anak pak lurah Danu dan cucunya meninggal dunia.


Juan yang sudah diperkenalkan pak Tono sebagai ponakannya dari kota ikut serta menghadiri pengajian di rumah pak Danu.


"Juan...nak Juan...ayo kita masuk??" kata pak Tono yang melihat Juan berhenti di tengah-tengah rimbunnya tanaman bambu kuning hias di samping rumah pak Danu.


Juan dan tentu saja Keikei melihat sesosok tubuh berbaju putih menggendong bayi tengah berdiri di samping tanaman yang agak gelap karena pencahayaan lampu tidak terlalu menjangkau kesana.


Karena sudah dipanggil oleh pak Tono, akhirnya mereka melangkah masuk meninggalkan tempat itu.


Kei tentu tidak bisa ikut masuk karena orang akan membaca ayat-ayat suci di dalam sana, hantu usil itu akhirnya bergerak mendekati wanita bergaun putih yang tengah menggendong bayinya itu.


"Hai...kamu hantu juga seperti aku kan?? ngapain kamu berdiri di situ?? itu anakmu??" tanya Keikei.


"Aku Wanti...dan ini putriku yang tak sempat melihat indahnya dunia harus mati oleh seorang perempuan penganut ilmu hitam yang telah menghisap darahku dan putriku." Hantu itu ternyata Wanti yang mati penasaran karena dibunuh oleh seseorang.


"Kasihan suamiku, dia selalu murung sejak kami tiada!!" desah Wanti sambil menyusut air matanya.


"Aku mau minta tolong pada sahabat manusiamu itu tadi, aku ingin dia membantuku mencari siapa pembunuhku." Jawab Wanti.


"Kami datang ke kampung ini memang ingin mencari siapa sebenarnya pembunuh ini...kamu tenang saja, teman manusiaku orang yang sangat baik, dia tentu mau membantumu!!" kata Keikei.


Setelah acara selesai Juan mendekati pak RT diikut oleh pak Tono.

__ADS_1


"Pak bisakah kita bicara sebentar??" tanya Juan pada pak Danu.


"Pak saya datang ke kampung ini karena saya tengah mengejar seseorang!!"


"Dia sangat berbahaya pak karena dia menganut ilmu hitam yang gemar mengisap darah...teman saya beberapa waktu yang lalu hampir menjadi korbannya, untuk cepat ketauan makanya saya mengejarnya sampai kemari, karena saya tidak ingin ada korban lagi!!" kata Juan.


"Oleh sebab itu saya minta ijin untuk tinggal sementara waktu di rumah pak Tono supaya saya gampang mengawasi mereka yang keluar masuk kampung." Kata Juan lagi.


Lalu pak Tono dan Juan kembali lagi ke warung.


Karena warung pak Tono buka sampai malam maka memungkinkan Juan untuk mengawasi keadaan sekitar.


Dengan memakai masker dia ikut melayani pembeli. Dan atas saran Juan juga dilarang penduduk keluar masuk daerah perbatasan kampung lewat dari jam sepuluh malam.


Malam itu sekitar setengah sepuluh malam ada seorang wanita yang baru masuk ke kampung. Rupanya dia adalah Tinah yang dikenal orang sekitar berjualan keliling sampai malam hari dari satu kampung ke kampung lain.


Waktu itu Juan sedang mencuci piring dan gelas kotor saat Tinah singgah kewarung pak Tono untuk membeli gorengan.


"Permisi pak, saya mau beli gorengannya sepuluh ribu!!" kata Tinah.


"Iya mba Tinah sebentar saya bungkuskan!!" kata pak Tono.


Juan yang sedang mencuci piring di dapur tiba-tiba mencium sesuatu yang berbau anyir maka dia menghentikan pekerjaannya dan melihat siapa pembeli yang tengah dilayani oleh pak Tono.


Alangkah terkejutnya Juan melihat wanita itu.


"Dia??" gumam Juan.


"Bukankah itu wanita iblis yang bernama Surtinah yang tempo hari meneror keluarga mba Tyas?? seberapapun pintarnya kamu menyamar tak akan bisa mengelabui mataku dan penciumanku!!" gumam Juan.


"Atau jangan-jangan....wanita inilah penyebar teror dan pembunuhan di kampung ini!!" bisik Juan lagi sambik terus memperhatikan Tinah yang hilang di kegelapan malam.


"Siapa yang barusan membeli, pak??" kata Juan pura-pura bertanya pada pak Tono.


"Oh tadi itu mba Tinah, dia menyewa di rumah ujung kampung!!" jawab pak Tono sambil membereskan tempat gorengan yang sudah kosong.


"Oohhh...lalu apa pekerjaan mba Tinah itu sampai malam gini baru kembali pak??" tanya Juan lagi.


"Dia berjualan baju keliling dari satu kampung ke kampung lain!!" jawab pak Tono.


"Modus....paling dia sekedar ingin mencari siapa lagi yang bisa dijadikannya korban selanjutnya!!" bisik Juan.


"Pak, apa di kampung ini ada lagi wanita yang tengah hamil??" tanya Juan sambil mengelap piring-piring yang baru dicucinya.


"Setau bapak ada, dia Marni anaknya pak Broto yang pedagang beras itu...itupun keluarga mereka merasa sangat was-was karena mendengar sudah banyaknya jatuh korban tetapi hingga kini belum juga terungkap siapa pelakunya...bahkan anggota kepolisian pun sudah ikut terlibat dalam masalah ini tetapi hasilnya tetap nihil!!" ucap pak Tono.


"Nak, jualan bapak semenjak kamu ada di sini selalu laris manis, kamu memang benar-benar membawa untung!! ini saja warung mau bapak tutup cepat karena semua dagangan sudah habis!!" kata pak Tono yang membuat Juan hanya tersenyum saja.


Sementara di perjalanannya....


Tinah si wanita yang dicurigai oleh Juan adalah Surtinah melangkah perlahan sambil sesekali menoleh kebelakang.


Dia seperti merasa ada yang tengah mengikuti dia sepanjang perjalanan tadi...


Sebentar-sebentar dia menoleh untuk memastikan siapa yang membuntuti dia sedari tadi.


*


*


***Bersambung...


Siapa orangnya yang berani mengikuti Tinah si wanita misterius itu??


Lanjut ke next episode ya reader🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2