Maaf Atas Dustaku

Maaf Atas Dustaku
Bab 26 Kehidupan Setelah Pernikahan


__ADS_3

Dia tidak mengenali gadis itu bahkan baru bertemu sekali ini tetapi mengapa dia seperti pernah melihat dia sebelumnya??


Alfath tampak memijit keningnya memikirkan pekerjaan, tunangannya, mimpinya dan sekarang gadis yang menjengkelkan itu...!!


Sementara itu Sasha pun merasakan kejanggalan yang sama.


"Apakah benar bahwa ada kembaran kita dibelahan bumi yang lain yang sangat mirip dengan kita??"


"Itu buktinya pria bermulut lemez macam perempuan itu contohnya!!" kata Sasha bergumam sendiri.


"Ah, bodo amat...Ali adalah kenangan dan kenangan hanya akan tertinggal jauh di belakang, aku sudah memutuskan menikah dengan Yusuf karena aku percaya Yusuflah masa depanku walaupun usia kami masih muda tapi usia muda tidak menjamin seseorang untuk tidak bisa menjadi dewasa!!" gumam Sasha.


Tibalah hari di mana akad nikah akan dilaksanakan.


Sasha sudah tampak cantik dengan kebaya satin putihnya. Yusuf memintanya sekarang untuk mengenakan hijab karena dia akan menjadi seorang istri, tak perlu memakai cadar..."kamu bisa menutup seluruh auratmu untuk tidsk dilihat oleh orang lain pun sudah membuat mas bahagia!!" begitulah kira-kira yang dikatakan oleh Yusuf.


Mereka sudah duduk dihadapan penghulu.


Hanya ada beberapa teman yang diundang termasuk beberapa guru mereka.


Fauziah, Ramlah dan Adit serta orang tua mereka tentu saja ada di sana.


Gurupun hanya wali kelas Sasha dan Yusuf saja yang diundang.


"Aku tak menyangka sepupumu itu memilih untuk menikah muda!!" bisik Ramlah pada Adit.


"Apakah kamu mau menikah muda juga denganku??" seringai Adit membuat Ramlah kesal sekali pada pemuda begajulan itu.


"Saya nikahkan saudara Yusuf Darmawan bin Suwiryo dengan saudari Sasha Hafiza binti Bramantio dengan mas kawin seperangkat alat sholat dibayar tunai..."


"Sah...."


Kata sah dari orang banyak seakan mengagetkan Sasha bahwa kini dia sudah berstatus sebagai istri dari seorang Yusuf Darmawan.


"Selamat ya Yusuf...Sasha...kalian luar biasa menikah agar terhindar dari fitnah dan perbuatan zinah."


"Bapak harap kalian walaupun masih berusia muda tetapi bisa menjadi pasangan yang Samawa...benar kamu bilang Suf, usia bukanlah takaran untuk menentukan tingkat kedewasaan seseorang."


Pak Darma dan pak Harun sebagai wali kelas dari Sasha dan Yusuf memberikan wejangan mereka untuk kedua pasangan muda itu.


*******


"Dek, mas ngga memaksamu untuk ikut bersama mas kerumah ayah, terserah kamu...mas memberikan kebebasan padamu!!" kata Yusuf kepada gadis yang kini telah resmi menjadi istrinya itu.


"Mas, adek sekarang sudah menjadi istri mas Yusuf...kata ayah dan ibu, seorang istri yang baik wajib mengikuti suaminya di manapun suaminya itu tinggal." kata Sasha saat malam itu mereka untuk pertama kali berada hanya berdua di dalam kamar.


"Terima kasih dek, mas ngga akan memaksamu untuk melakukan kewajiban sebagai seorang istri...kita bisa mulai dari awal lagi misalnya berpacaran gitu untuk menambah rasa cinta mengingat selama ini adek yang mas tau hanya mencintai Ali!!"


"Terima kasih atas pengertiannya mas!!" Yusuf tersenyum dan menggenggam erat tangan istrinya.


Inilah babak baru kehidupan Yusuf dan Sasha sebagai pasangan suami istri.


********


Sebulan telah berlalu semenjak pernikahan mereka.


Sasha sudah bisa beradaptasi sebagai seorang istri. Dia bangun untuk sholat subuh berjamaah dengan suami dan mertuanya, memasak sarapan pagi untuk mereka terkadang menemani suaminya menjalankan bisnis toko onlinenya.

__ADS_1


Dari hasil toko itulah Yusuf membiayai rumah tangganya bahkan mereka berdua bisa melanjutkan kuliah lagi.


"Mas Yusuf ngga kerepotan sambil kuliah sambil berbisnis??" tanya Sasha saat mereka berada di dalam kamar.


Sasha sudah bisa menerima Yusuf seutuhnya setelah tiga bulan mereka menikah.


"Insya Allah bisa dek...mas juga masih perlu banyak belajar tentang strategi ilmu marketing untuk lebih meningkatkan penjualan kita!!" katanya pada sang istri.


"Mas, memang uangnya cukup jika kita berdua kuliah bersamaan??" tanya Sasha agak khawatir mengenai kondisi keuangan suaminya.


"Insya Allah cukup dek!!" kata Yusuf.


Akhirnya mereka berdua sepakat untuk kuliah di fakultas ekonomi. Sasha di ekonomi akuntansi dan Yusuf di ekonomi manajemen.


"Jadi tekad kalian sudah bulat untuk melanjutkan kuliah lagi??" kata ibu dan ayah Sasha saat mereka berdua berkunjung kerumah orang tua Sasha.


"Iya yah...biar kami berdua bisa mendapatkan kehidupan yang lebih baik!!" kata Yusuf menimpali ucapan ayah mertuanya.


"Tyas kuliah di mana bu??" kata Sasha sambil membantu ibunya memasak buat makan malam mereka.


"Sepertinya anak manja itu mau mengambil kuliah di jurusan keperawatan deh!!" kata ibu Ratna.


"Serius bu?? bukannya Tyas itu takut sama darah dan takut sama hantu??" kata Sasha menahan tawanya.


"Melihat darah ayam dipotong aja dia sudah kelojotan ngga karuan??" kata Sasha.


"Memangnya kamu ngga, dek?? liat darah ikan aja kamu jijik!!" kata suaminya.


"Makanya Sasha ngga mau kuliah di jurusan keperawatan mas, jujur Sasha takut sama darah!!" ungkapnya.


"Cucu tetangga banyak bu!!" celetuk Sasha.


"Hush ngawur...!!" kata Yusuf.


"Yusuf tidak mau memaksakan jika Sasha belum siap bu, lagi pula usia kami beberapa bulan lagi baru menginjak sembilan belas tahun!!" kata Yusuf.


"Tetapi seandainya kami dipercayakan oleh Allah bisa cepat dapat momongan ya, alhamdulillah!!" kata Yusuf.


Sasha memandang wajah teduh suaminya. Walaupun di usianya yang relatif muda, dia sudah menunjukan tanggung jawabnya dan kebijaksanaannya sebagai seorang suami.


******


"Assalamualaikum...."


Suara cempreng itu sudah terdengar walaupun orangnya masih jauh di halaman.


"Tyas....kebiasaan deh!!" kata Sasha.


Tyas mengambil jurusan keperawatan di kota lain, karena di kota mereka hanya sampai jenjang diploma III saja.


Seminggu sekali dia selalu dijemput oleh Anjar dan di minggu sore baru mereka balik lagi.


Sebenarnya hanya memakan waktu perjalanan sekitar tiga jam dari tempat kediaman mereka tetapi pak Ridwan ayah Tyas memutuskan putri tunggalnya untuk ngekost aja karena kasihan jika harus bolak balik, tetapi bukan Tyas namanya jika tidak merepotkan dirinya dan orang lain, tetap saja dia pulang di sabtu sore dan kembali juga di minggu sore...siapa lagi yang akan direpotkannya selain Anjar.


"Mba...ini Tyas bawakan kue kesukaanmu dan Yusuf!!" katanya sambil meletakan paper bag berisi kue di atas meja ruang makan.


"Anjar mana?? biasanya sudah seperti lem dan perangkonya!!" kata Sasha sambil menata kue di atas piring.

__ADS_1


"Itu...menyusul bapak dan Yusuf kearea pemakaman...awas aja jika dia pulang malah ketempelan tuyul!!" sungut Tyas.


"Mba...apa Anjar sudah memberi tahu mba Sasha??" tanya Tyas sambil mencomot apel dari dalam kulkas.


"Kasih tau apa??" tanya Sasha.


"Di perusahaan mas Anjar itu membutuhkan seorang tenaga akuntansi untuk wanita...kenapa mba Sasha ngga coba untuk memasukan lamaran aja?? kan ngga tau siapa tau nasib mujur bisa diterima bekerja...hitung-hitungkan cari pengalaman...syukur-syukur bisa dapat posisi yang lebih baik dan gaji yang lebih baik lagi...hitung-hitung juga bisa menambah penghasilan keluarga...mumpung kalian belum punya baby!!" cerocos Tyas.


Sasha tampak berpikir.


"Iya deh...nanti mba coba rundingkan dulu dengan mas Yusuf...bagaimanapun dia kan kepala keluarga dan dialah yang memutuskan boleh ataupun tidaknya.!!" kata Sasha lagi.


"Duh...nurutnya jadi istri...kalau aku mas Anjar ngga setuju apa yang aku inginkan?? bakal aku injek-injek dia." Kata Tyas.


"Hushhh ngga boleh gitu!! kualat ntar kamu sama suami!!" kata Sasha melototkan matanya.


*******


"Mas...boleh Sasha bicara??" tanya Sasha hati-hati karena dilihatnya suaminya juga tengah sibuk dengan laptopnya.


"Adek mau bicara apa??" kata Yusuf lalu menyudahi pekerjaannya dan menutup laptopnya.


Dia memang ingin serius mendengarkan setiap pertanyaan atau obrolan sang istri dengan menyudahi pekerjaannya dan mendengarkan unek-unek istrinya dia ingin Sasha akan merasa lebih dihargai setiap perkataannya.


"Adek ingin bilang apa?? sini dong duduk dekat dengan mas...jauhan amat seperti orang mau diinterogasi aja!!" candanya.


"Tadi sore Tyas cerita kalau di perusahaan tempat mas Anjar bekerja butuh tenaga akuntansi wanita...apakah...!!"


Sasha tampak ragu dan menggantungkan ucapannya.


"Maksud adek, adek ingin melamar kerja di sana, gitu?? dek, mas ngga pernah melarangmu untuk maju asal tidak terlalu membebanimu saja mengingat kamu harus kuliah di sore hari...apakah tidak capek???"


"Lain halnya dengan mas yang hanya bekerja dari rumah saja...tentu waktu dan tenaga tidak akan terkuras habis, kalau capek kan ada adek yang bisa mijitin mas Yusuf!!" katanya tersenyum.


"Ishhh dasar mesum!!" kata Sasha mencubit pinggang suaminya.


"Kan ngga ada larangan mesum sama istri sendiri!!" kata Yusuf sambil mengacak kepala istrinya.


"Kapan adek mau melamar kerja kesana?? mas antar ya??" katanya.


"Iihhh pakai diantar segala mas...seperti anak kecil aja!!" gerutu Sasha.


"Kamukan memang istri kecilnya mas Yusuf!!" lalu diraihnya tubuh mungil itu dan dipeluknya.


"Intinya, mas akan selalu mendukung apapun yang kamu inginkan asal kamu tidak mengabaikan tugasmu sebagai seorang istri."


Sasha tersenyum memandang lekat wajah suaminya yang bijaksana itu. Tak salah dulu almarhum Ali mempercayakan Yusuf untuk menjadi pendampingnya. Karena selain baik, suaminya juga penyayang dan penyabar serta hormat pada ayah dan juga kedua mertuanya.


*


*


****Bersambung...


Bagaimanakah kisah perjalanan pernikahan Sasha dan Yusuf selanjutnya??


Janga lupa ikuti terus kisah mereka ya reader tercinta😊😊

__ADS_1


__ADS_2