
Anjar ingin berbalik melarikan diri tetapi satu tangan kekar menahannya dari belakang.
Anjar spontan berbalik dan melihat sekuriti tadi menyeringai memandangnya. Tampak matanya yang menyorot merah menyala tetapi tatapan itu begitu kosong seperti seseorang yang tengah dihipnotis.
"Ja...ja...jangan kumohon jangan sakiti aku!!" mohon Anjar.
"Sebenarnya apa salahku padamu sehingga kamu mau membunuh aku dan anakku??" tanya Anjar ketakutan.
"Ha...ha...ha...kamu tidak salah Anjar...tapi putramu yang buta itu yang salah mengapa dia terlahir untuk menjadi musuh junjungan kami??" jawab sekuriti itu.
"Apa maksudmu?? siapa kalian ini sebenarnya??" tanya Anjar sangat ketakutan.
"Kami hanya perantara dari junjungan kami, Anjar...!!" tawa mereka berdua mengekeh seperti datang dari jurang yang paling dalam.
Tiba-tiba....
GREB...KREK....
Wanita iblis itu memutar tubuh Anjar menghadapnya, sementara satu tangan yang lain mencengkeram erat kepala Anjar.
Selarik sinar berwarna merah menembus masuk melalui mata dan mulut Anjar yang terbuka.
Anjar sesaat berteriak kesakitan. Selebihnya Anjar tergeletak pingsan di pinggir pos sekuriti dan ditolong oleh seorang sekuriti komplek.
"Mas...mas kenapa bisa tiduran di sini??" tanyanya.
Tanpa sepatah katapun Anjar bangkit dari berbaringnya lalu melangkah masuk melewati mereka tanpa bicara sepatah katapun.
"Aneh...mas itu yang tinggal di rumahnya den Badai itu kan?? biasanya dia selalu ramah pada kita-kita kan?? tapi mengapa sore ini kok beda??" tanya mereka satu dengan yang lain, seperti bukan dirinya ya??" tanya sekuriti yang lebih tua.
"Maksud pak Manto?? mas itu kesurupan?? tapi kok masih bisa jalan-jalan!!" tanya Iwan sekuriti yang lebih muda.
"Entahlah Wan...tapi bapak seperti melihat sesuatu yang aneh pada anak muda itu, tapi bapak tidak tau apa itu!!" jawab pak Manto.
Sementara Anjar terus berjalan dengan langkah yang kaku kearah rumah Badai.
Sementara di rumah Badai, Ansar terus menerus rewel padahal sebelumnya Ansar tidak begitu.
__ADS_1
"Ansar sayang...ada apa??? kok kamu jadi rewel begini?? kamu sakit?? tadi kamu nggak begini?" tanya Badai sambil menggendong tubuh bayi itu.
"Aneh...kenapa perasaanku juga berdebar kencang seperti ini??" gumam Badai.
"Ada sesuatu yang aneh, aku merasa bahaya besar mengancam tak jauh dari kami!!" gumam Badai lagi.
"Nah itu ayah sudah pulang...ayo kita sambut ayah!!" ajak Badai membawa Ansar mendekati Anjar tetapi tangisan Ansar bertambah kencang seolah tak mau Badai memberikannya pada ayahnya sendiri.
"Aneh ada apa dengan anak ini??" batin Badai.
Tangan Anjar sudah terulur untuk menggendong Ansar tetapi karena bayi berumur 3 bulan itu berkeras tidak mau dilepas dari Badai, jadi Badai tak jadi menyerahkannya pada Anjar.
"Sebaiknya bang Anjar mandi terus sholat dulu sana, biar Ansar aku aja yang jaga dulu!!" kata Badai yang dijawab dengan anggukan kepala oleh Anjar yang terlihat sangat kaku.
"Aneh...kenapa bang Anjar tidak berkata apapun ya??" batin Badai.
Untuk menenangkan Ansar, Badai membawa Ansar berjalan-jalan di luar membuat bayi itu sedikit tenang.
Tak sengaja matanya melirik ke lantai dua tepat di atas balkon.
Sambil pura-pura menggendong Ansar, perlahan Badai melangkah menjauh menuju ke motornya. Sesekali matanya mengawasi ke lantai atas.
"Aku harus membawa Ansar keluar dari sini sepertinya ada yang tak beres terjadi pada bang Anjar." Gumam Badai pelan.
Saat Anjar lengah, perlahan Badai menggeret motornya kedepan pagar dan...
Brummm...
Dia melaju cepat meninggalkan rumahnya.
Seolah baru tersadar karena ditipu oleh Badai, Anjar jadi-jadian berteriak marah dan melompat dari lantai dua ke bawah.
Dia mengejar keluar halaman tetapi terlambat, motor yang dikendarai Badai telah melaju pergi dan menghilang.
"Kamu tenang saja Ansar...abang akan terus berusaha melindungimu!!" kata Badai terus melaju.
"Koh...koh...lihat motor di belakang kita...tampaknya dia ketakutan akan sesuatu!!" kata Kei Lan yang duduk berboncengan di belakang Juan.
__ADS_1
"Astagfirullah...apa itu yang mengejarnya??? cepat sekali!!" seru Juan.
"Bukankah itu abang sepupu yang mantan istrinya koh Juan taksir??" kata Kei Lan.
"Kurang ajar kamu Kei??" kata Juan.
"Sudah Koh...nggak usah malu-malu begitu...cepat tamatkan SMA koh Juan, setelah itu nikahi dia!!" kata Kei Lan semakin menggoda Juan.
"Diamlah Kei...coba lihat sejak kapan bang Anjar punya ilmu sehingga bisa lari secepat angin seperti itu??" kata Juan.
"Iya ya??? dan hei...bukankah itu yang digendong pengendara motor itu anaknya bang Anjar?? sebenarnya ada apa ini??" tanya Juan semakin bingung.
"Minggir dulu koh, minggir....!!" seru Kei Lan memperingatkan Juan.
Juan meminggirkan motornya memberi jalan pada motor di belakangnya untuk melaju dengan dikejar oleh sosok mahluk yang menyerupai Anjar itu.
Setelah itu Juan mengikuti mereka dari belakang.
"Koh...itu memang sosok bang Anjar tetapi tubuhnya sudah dirasuki oleh satu kekuatan jahat yang luar biasa kuat." Kata Kei Lan.
"Roh itu berasal dari orang yang sudah mati kemudian dibangkitkan kembali, mungkinkah sosok itu adalah sosok Surtinah yang merasuki bang Anjar??" kata Kei Lan lagi.
"Jika seperti itu, pengendara motor dan putranya bang Anjar dalam bahaya!!" seru Juan yang kemudian meningkatkan kecepatan laju motor nya untuk mengejar motor di depan nya.
"Mati aku!!!" seru Kei Lan terkejut melihat tangan Anjar menjulur panjang hendak menangkap pengendara di depannya.
"Bukannya kamu memang sudah mati, Kei??" seru Juan disela laju motornya.
*
*
***Bersambung...
Akanlah Anjar bisa berubah kembali keasalnya atau dia akan menjadi momok yang sangat menakutkan bagi semua orang??
Ikuti terus lanjutan kisahnya di next episode!!!
__ADS_1