Maaf Atas Dustaku

Maaf Atas Dustaku
Bab 66 Siapa Dia


__ADS_3

"Tetapi paklek cepat datang dan menggagalkan semua dan karena perkelahian itu membuat Surtinah terluka parah dan melarikan diri."


"Sehingga dia kembali meneror mulai dari pesantren pas adek mau melahirkan hingga pas Tyas melahirkan juga diganggu olehnya." Sasha mengakhiri ceritanya.


"Waduh...mas jadi ikutan khawatir!!" kata Alfath.


"Jangan jauh-jauh dari Fathir ya dek...takut ada apa-apa sama anak kita!!" Alfath mengingatkan istrinya kembali.


***************


"Koh Juan, sebenarnya kita mau kemana sih?? perasaan dari tadi kita ngga berhenti??" tanya Keikei si hantu bocah yang selalu mengikuti Juan kemanapun dia pergi.


"Entahlah Kei instingku membawaku kesuatu tempat tapi aku juga belum tau di mana." Kata Juan.


"Untung mommy pas lagi kumpul acara keluarga dalam dua hari, jadi aku bisa bebas pergi kemanapun aku mau!!" kata Juan


"Sebenarnya insting koh Juan itu akan terjadi apa??" tanya Keikei.


Belum sempat Juan menjawab, dari langit sebelah timur muncul satu titik merah yang terbang membentuk satu garis lurus berkelap kelip.


"Apa itu Kei??" tanya Juan menunjuk pada benda yang terbang melintas di atas kepala mereka.


"Sebaiknya kita ikuti cahaya itu koh, perasaanku juga jadi ngga enak!!" kata Keikei.


Lalu Juan menghidupkan mesin motornya kembali dan melaju mengikuti cahaya itu.


Mereka tiba di depan sebuah warung kecil yang masih buka, kampung itu agak jauh letaknya dari kota tempat Juan tinggal. Sekitar perjalanan hampir tiga jam.


"Mau minum apa den??" tanya tukang warung saat melihat Juan masuk ke warungnya.


"Teh campur jahe aja pak, badan saya rada menggigil karena menempuh perjalanan yang cukup jauh." Jawab Juan.


"Pak, kok baru jam sembilan suasananya sudah sepi banget...memang keadaan kampung ini begini ya pak setiap harinya??" tanya Juan sambil menyomot sanggar yang sudah dingin.


"Mau bapak goreng ulang nak?? rasanya sudah dingin pasti ngga enak lagi" Kata bapak tua itu.


"Boleh pak, sambil nunggu sambil ngobrol." Kata Juan.


"Sebenarnya keadaan sepi begini baru kurang lebih dua minggu ini aja nak, semenjak putri pak lurah yang sedang hamil tua dan siap akan melahirkan, meninggal mengenaskan bersama bayinya karena seperti dihisap habis darahnya."


"Oleh apa pak??" tanya Juan makin tertarik.


Sementara menunggu sanggar dan gorengan lain dipanaskan, pak Sukri nama bapak tua itu lalu bercerita.


****Flashback off****


"Japra...bisa siapkan mobilkah jadi jika sewaktu-waktu Wanti akan melahirkan kita tinggal berangkat aja kerumah sakit!!" kata pak lurah pada asistennya.


"Suami Wanti pas lagi tugas ke kota lain lagi...seandainya suaminya mendampingi dia, saya tidak perlu was-was begini!!" gumam pak lurah Danu.

__ADS_1


Istri pak lurah ibunya Wanti sudah meninggal bertahun-tahun yang lalu, Wanti dan ayahnya hanya berempatdengan si mbok dan seorang tukang kebun yang merangkap sebagai penjaga rumah.


Suami Wanti seorang tentara yang sering bertugas keluar daerah seperti sekarang ini, sejak usia kandungannya memasuki usia tiga bulan, suaminya berangkat bertugas selama enam bulan, jadi menurut perkiraan, suami Wanti akan kembali saat menjelang persalinan istrinya nanti.


Pak lurah juga sudah menyiapkan mobil kelurahan untuk berjaga-jaga.


"Pak, anak pak Kardi yang hamil tujuh bulan itu bayinya tau-tau meninggal di dalam kandungan!!" kata Japra.


"Kok bisa gitu, memangnya kenapa Pra?? apa dia jatuh??" tanya pak Danu.


"Ngga pak, tiba-tiba malam itu dia mengalami sakit perut hebat seperti mau melahirkan padahal sore itu dia baik-baik saja ngga ada gejala apapun.


"Saat dibawa kerumah sakit, bayinya dilahirkan sudah dalam keadaan tak bernyawa dengan seluruh tubuh membiru!!" kata Japra.


"Waduh, ini sudah kali ketiga di kampung kita kejadian seperti ini Japra, mana suami Wanti sedang ngga ada lagi!!" jawab pak lurah was-was.


"Ya mudahan non Wanti bisa melahirkan dengan lancar nanti, pak!!" kata Japra.


"Oh iya pak, di kampung kita ada pendatang baru dari luar kota, dia seorang wanita sepertinya dia janda tanpa anak namanya Tina kalau tidak salah, apa dia sudah melapor tentang kepindahannya ya??" gumam Japra.


"Sepertinya belum ada laporan masuk, Pra...memang pindahnya sudah berapa lama??" yanya pak Danu.


"Sepertinya sudah hampir dua minggu, mbak Tina tinggal di rumah ujung jalan milik almarhum pak Suryo yang dijual itu.


"Mba Tina itu kerja atau gimana??" tanya pak lurah.


"Jadi mba Tina di situ hanya sekedar mengontrak rumahnya almarhum pak Suryo ya!!" kata pak lurah lagi.


"Betul pak!!" jawab Japra.


"Tapi mba Tina sudah melapor pada pak RT kan?? secara sudah lebih dua minggu lho!!" kata pak lurah.


"Nah itu saya kurang tau pak!!" kata Japra.


Seminggu telah berlalu, tepat malam jumat di kediaman pak lurah....


"Yah, perut Wanti sakit banget!!" rintih Wanti.


"Japra...bisakah kita antar Wanti sekarang kerumah sakit??" tanya pak Danu pada Japra.


"Tapi pak di luar hujan badai dan menurut teman saya tadi di ujung jalan kampung ada pohon besar tumbang menutupi jalan!!" ucap Japra.


"Aduh...bagaimana ini Japra?? Coba kamu telepon bidan Ria saja, apakah dia bertugas malam ini, jika tidak kamu tolong jemput bidan Ria saja untuk membantu persalinan Wanti." Kata pak lurah Danu.


Setelah di telepon oleh Japra yang mengatakan bahwa bidan Ria tidak bertugas, akhirnya dengan menggunakan jas hujan Japra bersiap menjemput dengan motor saja agar cepat sampai tujuan.


Selang tak berapa lama Japra pergi tiba-tiba pintu depan diketuk dari luar.


Si mbok yang kebetulan sedang mengambil air hangat untuk Wanti segera mengintip keluar.

__ADS_1


Tampak bidan Ria berdiri dengan memakai setelan hitam dan memakai payung berdiri di depan pintu rumah.


"Lho, Japranya mana?? kok bidan Ria datang sendiri berpayung-payung, naik apa ya dia kemari tadi?? hujan-hujan lagi!!" kata si mbok tapi orang tua itu tidak ambil pusing lalu membukakan pintu untuk bidan Ria di luar.


"Lho, mba Ria...tadi dijemput sama Japra memang ngga ketemu di jalan??" tanya si mbok pada bidan Ria.


"Ngga mbok, paling keselisihan di jalan maklumkan hujan deras begini!!" kata bidan Ria yang dibenarkan oleh si mbok.


Tanpa rasa curiga si mbok membawa masuk bidan Ria kedalam.


"Mba Wanti nya di mana mbok??" tanya bidan Ria.


"Di dalam kamar mba ditemani sama pak Danu." Kata si mbok


"Siapkan baskom dan waslap dan bawa ke kamar ya mbok!!" kata bidan Ria.


Setelah itu mereka mengetuk pintu kamar.


KRIET...


"Oh bidan Ria nya sudah datang, masuklah mba...anak saya sangat kesakitan!!" kata pak lurah.


Sebaiknya saya aja yang menangani, bapak dan si mbok tunggu di luar kamar aja dulu!!" kata bidan Ria.


Sementara itu...


"Ah, akhirnya sampai juga walau di tengah hujan deras begini!!" ucap Japra senang.


Tok...tok...tok


Tak lama keluarlah bidan berusia sekitar 30 tahunan menyambut kedatangan Japra.


"Ada apa mas Japra?? apakah mba Wanti sudah mau melahirkan??" tanya bidan Ria.


"Lho bidan Ria ini gimana tho?? tadi kan sudah saya telepon suruh siap-siap nanti saya jemput kok malah belum apa-apa??" tanya Japra.


"Menelpon saya?? saya baru mengaktiflan ponselnya saya lho mas Japra...baru aja!!" jawab bidan Ria lagi.


"Lho jika tadi yang saya telepon bukan bidan Ria, lalu siapa??" tanya Japra mulai was-was.


"Ada yang tidak beres mas Japra...sebaiknya ayo cepat menuju ke kediaman pak lurah!!" jawab bidan Ria dengan cepat mempersiapkan alat-alat medisnya kemudian menutup pintu lalu mereka berdua pergi menerobos hujan kembali.


*


*


***Bersambung...


Lanjut ke next episode...jangan lupa dukungannya ya reader🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2