
"Pak...bu...saya mau menyampaikan pesan dari Sasha." Bisik Yusva agak pelan.
"Apa??" teriak bu Ratna tanpa sadar.
"Bu...tahan dirimu!!" jawab suaminya berusaha setenang mungkin padahal hatinya juga sebenarnya sudah kebat kebit mendengar nama putrinya yang telah menghilang hampir dua bulan itu disebut oleh Yusva.
"Ibu sama bapak ngga usah khawatir, Sasha baik-baik aja sekarang ada di pondok pesantren Kyai Hamas." Jelas Yusva.
"Mengapa dia tidak pulang kerumah, nak?? kami dan juga calon suaminya menunggunya!!" lirih ibu Ratna.
"Bu, pak...nyawa Sasha sedang terancam makanya kami melarang Sasha untuk pulang dulu, karena kecelakaan yang terjadi padanya waktu itu adalah kecelakaan yang sudah diatur agar Sasha dan calonnya celaka.
"Berarti nak Alfath juga dalam bahaya, yah!!" ucap bu Ratna tampak khawatir.
"Alfath itu nama calonnya Sasha kah bu??" tanya Yusva.
"Benar nak...mereka akan menikah setelah Sasha melahirkan nanti!!" kata bu Ratna lagi.
"Bisakah ibu pinjamkan saya apapun milik Alfath sebentar saja??" tanya Yusva.
Walau agak bingung akhirnya ibu Ratna mengambilkan sweater milik Alfath yang pernah dipinjam oleh Sasha tempo hari dan memberikannya pada Yusva.
Yusva menyentuh sweater itu sesaat dan berkonsentrasi sambil memejamkan kedua matanya, dan seperti tersengat listrik ribuan volt tubuhnya menegang dan bergetar hebat.
"Alfath akan baik-baik saja, dia akan selalu melindunginya sampai waktunya tiba sebelum dia akan meninggalkan Alfath pergi untuk selamanya."
"Berarti yang di khawatirkan sekarang ini adalah Sasha!!" kata Yusva.
"Sasha dalam bahaya bu, pak...saya mohon sama ibu dan bapak tolong rahasiakan pada siapapun tentang Sasha tak terkecuali pada Anjar dan Tyas." Penekanan kata-kata Yusva itu tentu saja membuat bu Ratna dan suaminya merasa cemas.
Hampir jam 9 malam akhirnya Yusva pamit pulang. Sepanjang perjalanannya dia merasa seperti diikuti oleh seseorang dan akhirnya Yusva memutuskan menghentikan motornya di pinggir jalan.
"Keluarlah...saya tau kamu mengikuti saya sejak keluar dari kediaman pak Tio tadi!!" kata Yusva.
Angin dingin tiba-tiba berhembus lalu dari atas sebuah pohon melayang sosok berpakaian putih turun dan berdiri tak jauh dari Yusva.
Yusva dan Yusuf itu sebenarnya sama-sama bisa melihat mereka yang tak kasat mata, tetapi Yusva lebih istimewa karena dia dianugerahi kemampuan untuk bisa melihat masa lalu dan masa yang akan datang dari seseorang.
"Tidak usah kamu memperlihatkan mode wajah penuh darahmu karena saya tidak takut padamu!!" kata Yusva.
Perlahan sosok itu memperlihatkan wujud aslinya.
"Kamu siapa dan mau apa??" tanya Yusva.
"Aku Rani...aku dulu tunangan Alfath yang sekarang akan menikah dengan Sasha...aku ingin membalas semua dusta yang pernah aku berikan padanya dengan selalu menjaganya sampai kelak dia memaafkanku dan aku bisa pergi dengan tenang...tetapi aku tidak bisa menjaga keduanya...Sasha dalam bahaya...seseorang dari masa lalu suaminya menginginkan kehancurannya..."
"Iya saya tau makanya saya memilih tidak membawa Sasha pulang...dan kamu...bunuh diri bukan jalan terbaik untuk menyelesaikan masalah...segera selesaikan masalahmu di dunia ini karena di sini bukanlah lagi tempatmu, ikhlaskan lah!!" ucap Yusva lirih dengan dibarengi linangan air mata dari Rani.
*******
Tok...tok...tok
"Masuk..."
Cekriet...
"Maaf pak ini pesanan tehnya...apa ada lagi yang ingin bapak mau saya buatkan??" Sari menawarkan lagi.
"Tidak, ini saja sudah cukup...terima kasih!!" tetapi mata Alfath tak lepas menatap layar laptopnya.
"Sombong...lihat saja setelah kamu meminum teh buatanku itu...akan kubuat kamu bertekuk lutut sama seperti Anjar yang kini tak bisa lepas dari pelukanku walaupun istrinya sekarang tengah hamil!!" Sari Inayah tersenyum smirk lalu keluar ruangan.
Sudah dua jam Alfath berkutat dengan pekerjaannya yang akhir-akhir ini memadatinya sehingga dia bisa sejenak melupakan calon istri dan anaknya yang masih menghilang itu.
Dia melirik kearah teh yang sudah dingin di atas meja ruang kerjanya. Dia berdiri dan berniat mengambil cangkir untuk meminumnya tapi tiba-tiba saja kakinya seperti tersandung sesuatu lalu tanpa ampun dia jatuh dan cangkir teh itu tumpah semua.
__ADS_1
"Aduhhh bodohnya aku, sudah tua masih saja jatuh...perasaan mataku tidak berpindah posisi tapi mengapa tadi aku melihat seolah cangkir teh itu bergeser...ya??" gumam Alfath.
Alfath lalu menekan tombol intercom di mejanya.
"Cin...tolong panggilkan Sari bawa peralatan pel nya sekalian karena saya tadi menumpahkam teh di lantai." kata Alfath.
Tak lama Sari muncul dengan peralatannya.
"Sari, tolong dibersihkan ya...saya tadi tak sengaja menumpahkannya!!" kata Alfath.
Dengan cemberut Sari mulai membersihkan lantai.
"Sialan...ditunggu berjam-jam bukannya habis diminum malah habis ditumpah!! dasar laki-laki bodoh..." umpat Sari.
"Apa bapak mau saya buatkan minum yang baru??" tanya Sari sambil tersenyum genit.
Alfath mengangkat wajahnya menatap Sari tanpa dia tau Sari telah memakai guna-guna pengasihan padanya sama persis yang digunakan Sari untuk menaklukan Γnjar.
Sekejap lagi pelet pengasihan itu akan bereaksi pada Alfath..
SYUTTT...
Alfath dan Sari merasakan angin dari jendela kaca yang sedikit dibuka oleh Alfath berhembus agak kencang sehingga mengalihkan perhatian Alfath pada Sari.
"Tidak usah...saya mau makan di luar nanti!!" kata Alfath memutus tatapan mata mereka.
Tentu saja Sari sangat kecewa.
"Dasar angin sialan!!" umpatnya dalam hati. Lalu dia beranjak keluar meninggalkan ruangan Alfath.
"Syukurin...jahatnya kuntilanak hidup ini...aku yang kuntilanak sejati aja tak sejahat dia!!" tampak Rani menggerutu pelan.
Untunglah tadi Rani menutup pemandangan Alfath pada Sari dengan melebarkan pakaian putihnya di depan tubuh Alfath lalu meniup kearah jendela kaca agar angin masuk berhembus sehingga mementalkan ilmu pelet yang dihembuskan Sari lewat udara dan tatapan matanya.
Alfath keluar dari ruangannya mau menuju kafe yang biasa dia datangi untuk makan siang dan masuk kemobilnya.
Alfath tak jadi menyalakan mesin mobilnya saat melihat ada nomor asing masuk ke ponselnya.
"Nomor siapa ini ya??" gumam Alfath.
π±"Assalamualaikum..."
π±"Mas....!!"
Belum sempat Alfath bertanya suara wanita yang ada di ponsel itu terasa melumpuhkan seluruh indra di tubuhnya.
π±"Mas...ini adek!!"
Suara itu seperti tercekat seperti menahan tangis.
π±"Sayang...sayang adek sayang, kamu di mana?? kenapa baru menghubungi mas??"
Bukan main gembiranya hati Alfath mendengar suara itu.
π±"Adek ngga bisa kasih tau dulu adek ada di mana, yang jelas adek di sini baik-baik aja...ayah dan ibu juga sudah tau bahwa adek masih hidup!!"
π±"Adek pulang ya...kasihan anak kita yang ada di dalam kandungan adek!!"
π±"Mas...bukannya adek ngga mau pulang, tapi saat ini nyawa adek dan anak kita ada dalam bahaya...seseorang mengincar kematian kami...mas di sana juga hati-hati ya...jangan lengah walaupun dengan orang terdekat sekalipun...tolong rahasiakan pembicaraan kita dari siapapun dan bersikaplah seolah mas belum menemukan adek!!"
π±"Baik dek, kamu juga di sana hati-hati dan jaga kesehatan kalian ya...karena mas ngga bisa ada untuk kalian saat ini!!"
π±"Sudah cukup mas, adek tutup dulu takut ada yang menguping pembicaraan kita...Assalamualaikum!!"
π±"Waalaikum Salam!!"
__ADS_1
Alfath menebarkan pandangannya ke segala arah dan benar apa yang di katakan Sasha tadi dilihatnya Sari inayah tergopoh-gopoh menuju mobilnya.
"Permisi pak...bisakah saya ikut sampai ke mini market depan?? Ada yang ingin saya beli untuk keperluan kantor!!" terangnya pada Alfath.
Alfath masih memasang mode diam dan dingin walaupun Sari beberapa kali menoleh diam-diam dan curi-curi pandang padanya.
"Mini market ini yang kamu maksudkan??" tanya Alfath tapi tidak memandang wajah Sari apalagi dia ingat dengan perkataan Sasha barusan untuk mewaspadai siapapun.
Sebenarnya Sari berharap bisa diajak makan siang oleh Alfath, pria yang telah menarik hatinya sejak pertama kali bertemu di resepsi pernikahan Tyas dan Anjar waktu itu...pria yang juga telah melaporkannya ke polisi gara-gara dia bertindak kasar pada Sasha yang dia baru ketahui adalah calon istri Alfath...bertambahlah sudah kebencian Sari pada Sasha.
Setelah menurunkan Sari, Alfath mampir di kafe langganannya.
Sambil menunggu pesanannya datang, tak henti dia memandang foto Sasha yang di jadikan wall papernya.
"Mulai sekarang aku harus hati-hati...apalagi semenjak kecelakaan itu terjadi!!" gumam Alfath.
*******
"Yusva....!!"
Sudah bunda bilang jangan suka bicara yang tidak-tidak di depan teman-teman arisan bunda!!"
"Pakai ngatain bu Marni kalau tidur ileran lah...ngatain bu Patmi besok bakal jatuh di comberanlah!!"
Coba kamu bersikap yang sewajarnya saja seperti Yusuf abang sepupumu itu...sudah ganteng, anteng lagi kalau dibawa kemana-mana ngga petakilan macam kamu ini!!"
"Jika kamu terus bersikap seperti ini kamu bakal bunda titipkan pada paman Kyai Hamas!! mau??" tanya ibu Fitri pada putra kecilnya yang kala itu baru berumur 6 tahun.
"Mau!! paling...paling nanti bunda yang bakal kangen berat sama Yusva!!" ledek bocah 6 tahun itu pada bundanya.
"Sudah...kita sudah ditunggu oleh ayah, bunda Rara dan Yusuf di mobil." Kata ibu Fitri.
"Kok lama sekali, Fit??" tanya Rara pada adik iparnya itu.
Rara adalah adik kandung dari Yunus suami Fitri...mereka berlima hari ini rencananya akan menyusul pak Wiryo yang lebih dahulu tadi pagi pergi kepuncak dengan rombongan guru lainnya.
"Biasa ini Yusva kerjanya menggibah dengan ibu-ibu...dan herannya mereka itu percaya aja apa yang dibilang sama Yusva!!" kata Fitri agak kesal dengan bocah gembul slengean yang dari tadi mulutnya tak bisa diam dan berhenti mengunyah.
Belum ada setengah jam perjalanan mereka, Yusva sudah berulah lagi minta carikan kamar mandi sebab dia kepengen buang air besar dahulu.
"Yusuf...temani adikmu sana!!" kata Rara pada putra tunggalnya.
"Iya bu, ayo dek...abang temani!!" kata Yusuf turun dari mobil dan menggandeng tangan Yusva.
"Kenapa kamu menangis??" kata Yusuf pada adik sepupunya itu.
"Bang, sepertinya hari ini adalah hari terakhir kita bertemu dengan ayah, bunda dan ibu Rara..." isak Yusuf.
Tiba-tiba dari kejauhan tampak truk pengangkut pasir melaju seperti tak terkendali di jalan menurun kearah mobil mereka yang terparkir di pinggir jalan.
Yusuf segera berteriak kencang..."Paklek...bulek...ibu...."
Tak ada satu detik sehabis Yusuf berteriak ketika truk menghantam telak dan mendorong mobil yang ditumpangi oleh orang tua mereka masuk ke dalam jurang.
"Bunda....ayah...ibu....!!" teriak dua anak malang itu bersamaan menyaksikan pula mobil itu meledak di dasar jurang sana.
"Yusva....kamu punya kemampuan...tapi mengapa kamu tidak bisa menyelamatkan orang tua kita??" teriak Yusuf dalam tangisannya.
"Itu karena bunda tidak pernah mempercayai Yusva bang...selain itu Yusva juga melihat bahwa itulah garis hidup mereka!!" kata Yusva dengan suara bergetar.
*
*
**** Bersambung....
__ADS_1
Demi ambisi dan dendam Sari mengandalkan segala cara untuk mendapatkannya...
Ikuti terus kisah mereka ya reader tercintaππ