Maaf Atas Dustaku

Maaf Atas Dustaku
Bab 56 Sifat Asli


__ADS_3

Dulu secapek-capeknya Tyas sepulang bekerja, selalu dia sempatkan memasak untuk mereka, membersihkan dan merapikan rumah menyiapkan teh hangat untuk menyambut kepulangannya.


Begitupun kalau pagi, sarapan selalu tersedia sebelum dia bangun tidur bahkan saat Tyas harus dinas pagi sekalipun dia tak pernah absen untuk membuatkan sarapan dan membawakan bekal untuk Anjar bekerja, tetapi sekarang??


Calon istrinya yang ini hanya pandai memuaskan dirinya di ranjang tapi tidak pandai untuk mengerjakan hal yang lainnya.


Sekarang aja bukannya masak atau mengurus calon suaminya, malah dia molor.


"Sari ini tidur atau akting mati sih??" omel Anjar jengkel.


"Assalamualaikum!!"


"Waalaikum Salam!!"


"Oh kamu Lia!!" ucap Anjar lalu sibuk mengepak barang miliknya untuk dibawa pindah.


"Mas Anjar sudah makan??" tanya Lia yang akhirnya ikut membantu Anjar.


"Sudah Lia...kakak kamu tuh yang belum makan, bagaimana mau makan molor aja kayak kebo mulai siang tadi!!" gerutu Anjar.


Lia tidak menjawab, tapi tangannya turut membantu Anjar setelahnya dia memasak untuk makan malam dan mencuci piring padahal Anjar tau, Lia itu lebih capek dan lebih berat pekerjaannya dibandingkan dengan Sari.


Lia bekerja di sebuah kantin yang merangkap sebagai rumah makan di sebuah lingkungan perkantoran mulai pagi sampai sore menjelang.


Anjar melihat Lia banyak membawa sayur matang dan ikan rica-rica...itu yang tadi dia panaskan untuk makan malam nanti setelah itu dia mengambil beras dan memasaknya di magicom.


Anjar menyiram bunga-bunga yang ditanam oleh Tyas dulu...biarlah ini akan jadi kenangan terakhirnya di rumah ini.


Dia masih membayangkan senyum dan tawa Tyas saat mereka saling menyemprotkan air saat Tyas menyiram tanaman dan Anjar mencuci mobil, ya...di halaman ini.


*************


"Koh Juan kok melamun??" sapa Keikei si hantu kecil itu saat dia melihat Juan duduk melamun di atas ayunan di depan halaman rumahnya yang lumayan luas.


"Oh, kamu Kei...kamu dari mana?? koh Juan liat kamu juga keliatan sedih?? ada apa??" tanya Juan.


"Keikei sudah bertemu dengan ibu Keikei, koh Juan!!" kata Keikei.


"Oh ya?? di mana??" tanya Juan ikut merasa senang.


"Di pemakaman tak jauh dari tempat kita suka bermain, koh!!" kata Keikei pelan.


"Ibumu kerja di sana??" tanya Juan.


"Ibu Keikei sudah meninggal 10 tahun lalu, koh!!" jawab Kei lagi.


Berarti setelah ibu meninggalkan Hongkong bersama saudari kembarku saat itu, tak lama kemudian ibu meninggal dunia...lalu selama ini saudariku tinggal dengan siapa??" tanya Keikei pada dirinya sendiri.


Sebenarnya itulah hal yang membuat Keikei tidak bisa meninggalkan dunia yang fana ini dengan tenang.


Kerinduannya pada sosok sang ibu juga saudarinya dan keinginannya bertemu dengan mereka itulah yang membuat perjalanannya terhambat selama belasan tahun.


"Kok kamu tau itu adalah makam ibumu??" tanya Juan.


Di atas makam itu ada fotonya ibuku, koh!!" sahut Keikei.


"Kei kamu masih ingat nama aslimu??" tanya Juan.


"Tidak koh...tapi Kei ingat wajah laki-laki yang dengan sengaja menabrak kami hingga ayahku tewas di tempat saat itu!!" kata Keikei sedih.


"Kei...ini menurut koh Juan, ya...kenapa makin koh Juan lihat, wajahmu itu semakin mirip dengan Kei Lin?? tapi versi dewasa." Ucap Juan sambil memandang kearah Keikei lagi.


"Iya koh...setiap Kei dekat sama Kei Lin, rasanya hati Kei itu tenang banget, seperti menemukan sesuatu yang telah hilang dari diri Kei sejak lama!!"


"Apakah bukan tidak mungkin Kei Lin itu adalah saudari kembarmu Kei??" tanya Juan.


"Entahlah koh!!" Kei hanya mengangkat bahu.


"Koh, bolehkah Keikei bertanya pada koh Juan??" tanya Keikei ragu-ragu.

__ADS_1


"Kamu mau tanya apa, Kei??" tanya Juan.


"Koh Juan, suka kah sama wanita yang bernama Tyas itu??" tanya Kei yang spontan membuat Juan terdiam.


"Mba Tyas itu istri bang Anjar sepupuku, Kei!!" kata Juan.


""Hampir jadi mantan, koh...bukan istri lagi!!" kata Keikei.


"Sok tau kamu Kei...dengar dari mana kamu hingga bisa bicara seperti itu??" Juan menoel pipi Keikei.


"Kei suka jalan keliling, koh...jadi sedikit banyak Kei dengar bahasa manusia!!" kata Keikei lagi.


"Lalu kalau dengan Kei Lin, apakah Koh Juan suka??" tanya Kei tiba-tiba.


Huft...ha..ha..ha..ha


Juan tidak bisa lagi menahan tawanya.


"Kok koh Juan malah tertawa?? apakah pertanyaan Keikei ada yang lucu??" balik bertanya Kei dengan herannya.


"Ngga mungkinlah koh Juan suka sama Kei Lin...karena..." Juan menggantung kata-katanya karena dia merasa sudah keceplosan bicara.


"Karena koh Juan suka sama


wanita yang bernama Tyas itukam?? kalau koh Juan ngga suka sama dia, ngga mungkin koh Juan bela-belain meracik ramuan untuk suaminya yang terkena guna-guna itu, kan koh??" skak match Keikei pada Juan.


"Kei...aku...!!"


"Koh Juan ngga perlu malu untuk curhat sama Kei, Kei ngga ember kok cerita kemana-mana, lagian teman manusia Kei hanya koh Juan!!" kata Keikei lagi.


"Koh Juan memang suka sama mba Tyas, Kei...tapi semoga rasa suka koh Juan hanya sebatas suka dan sayang adik pada kakaknya saja..." jawab Juan.


"Koh Juan yakin??" tanya Kei sambil tersenyum.


"Apaan sih, kamu Kei??" kata Juan, sementara pipinya memerah seperti tomat.


"Nah itu pipinya memerah!!" kata Kei lari takut jadi sasaran kemarahan Juan.


"Yas, kamu yakin untuk mengambil rumah itu dan menempatinya??" tanya pak Ridwan, ayah Tyas.


"Yakin yah...setidaknya Tyas sewaktu-waktu bisa tinggal di sana bersama Tiara." Jawab Tyas.


"Maafkan Tyas ya ayah!!" ucap Tyas dengan suara paraunya menahan tangis.


"Kamu minta maaf untuk apa?? memang kamu salah apa pada ayah!!" tanya pak Ridwan bingung dengan sikap Tyas.


"Dulu ayah sempat tidak setuju hubungan Tyas dengan mas Anjar, bahkan bude dan pakde juga ikut nenentang hubungan kami!!" kata Tyas sedih.


"Karena kami tau bahwa Anjar itu bukan lelaki yang baik, Tyas...kalau soal baik, ayah lebih condong pada Juan Fernandes itu, walaupun usianya baru delapan belas tahun, tapi ayah suka cara pola pikir pemuda itu." Kata pak Ridwan.


"Sikapnya dewasa dan sopan jika bicara dengan orang yang lebih tua, tidak seperti lelaki yang nanti bakal jadi mantan terindahmu itu!!" celoteh pak Ridwan tanpa dia tau hati Tyas kebat kebit saat mendengar nama Juan disebut oleh ayahnya.


"Ayah...bocil gitu juga malah dikagumi!!" kata Tyas menutup kegugupannya dengan ucapannya


"Tyas...ukuran kedewasaan bukan dilihat dari segi usia belaka, tetapi dari kemampuan dia untuk mengekspresikan dirinya di depan orang banyak!!"


"Contoh nih, mantan suamimu...usianya bahkan lebih tua dari pada kamu tetapi sifatnya masih saja egois dan kekanakan bahkan sekarang satu lagi sebutan untuknya, yaitu si bodoh!!" ucap pak Ridwan berapi-api.


"Sudahlah, pergilah tidur...nanti besok kamu kesiangan berangkat bekerja!!" kata pak Ridwan.


**************


"Yah, kalau kita tinggal di sini, siapa yang tinggal di apartemenmu??" tanya Sasha sambil membenarkan letak posisi tidur Fathir di dalam boksnya yang berukuran lebih besar sekarang.


"Rani!!" jawab Alfath singkat.


"Ayah...yang benar dong...bunda serius nanyanya!!" kesal Tyas.


"Untuk apa ayah bercanda, bun?? memang ayah menitipkannya pada Rani.

__ADS_1


"Tapi Ranikan??" tanya Sasha dengan keputusan konyol suaminya.


"Maksudmu Rani sudah jadi hantu, begitukan!!" tanya Alfath.


Alfath lalu menutup laptopnya dan mendatangi istrinya dan memeluknya erat.


"Sudahlah, ayo kita tidur...apakah bunda tidak ingin menambah dedek lagi teman untuk Fathir??" kata Alfath.


"Apa sih yah...Fathir lho masih kecil masak mau punya adek lagi??" cubit Sasha di pinggang suaminya.


Akhirnya mereka tidur saling berpelukan.


"Yah, janji sama bunda satu hal!!" bisik Sasha di telinga suaminya.


"Apa janji yang harus ayah ucapkan, bun??" tanya Alfath.


"Kangan tinggalin bunda ya, yah...dulu bunda pernah dikhianati lalu pernah ditinggal mati..."


"Jangan ayah mengambil contoh mas Anjar ya ayah..." pikiran Sasha kearah jeleknya dulu.


"Nanti seperti Anjar berselingkuh lalu mau menikahi selingkuhannya." Kata Sasha.


"Ayah tidak segoblok dan sedungu Anjar bun, yang mau melepaskan permata indah di jarinya dan menggantinya dengan emas sepuhan."


Tyas itu ibarat permata dan Sari itu ibarat mas sepuhan yang bagus hanya sesaat saja, dan akan luntur sedikit demi sedikit jika sering terkena keringat, begitulah perumpamaan Sari dan Tyas itu bun!!" kata Alfath.


***************


"Sari, kamu ini gimana sih?? tidur mulai siang jam 12 sampai malam begini baru bangun??" kata Anjar kesal.


"Begitu bangun bukan nya mandi malah langsung makan, ganti bajupun enggak!!" cibir Anjar.


"Mas...sudah dong, aku baru bangun sudah kena omel seperti ini!!" sentak Sari.


"Habis kamu sebagai perempuan jorok banget sih??" sinis Anjar.


"Iya...iya...aku mau cuci muka dulu baru ganti baju...puas mas Anjar??" kata Sari lalu merajuk membuat Lia dan Anjar mengangkat bahunya.


"Kakakmu itu di kasih tau bukannya terima malah marah-marah..." kata Anjar.


"Makanlah, besok hari sabtu akukan libur, besok akan cari rumah kontrakan baru...." kata Anjar pada Sari yang masih diam merajuk.


"Jadi Alfath sudah mengetahui soal kehamilanmu??" tanya Anjar.


"Iya...terus aku langsung dipecat karena perusahaan Alfath tidak terima wanita hamil karena aku kerja di sana belum setahun katanya."


"Ya sudah...setelah perceraianku selesai nanti, kamu tidak usah bekerja...kamu jadi ibu rumah tangga yang baik aja yang akan mengurus anak dan suaminya." kata Anjar.


"Tapi aku masih ingin bekerja, mas!! enak banget jadi Tyas dia masih bisa bekerja setelah menikah, melahirkan dan punya anak, sementara aku??" kata Sari cemberut,


Kentara sekali dia iri pada Tyas dan dengan segala kebisaan yang dia miliki.


"Tyas itu seorang perawat, wajarlah dia harus mengabdikan seluruh hidupnya untuk orang banyak!!" jawab Anjar.


Sari hanya mencibir lalu dia meneruskan makannya tanpa berkata-kata lagi.


Anjar benar-benar merasakan kehilangannya malam ini. Dia kangen sekali untuk bisa bersama Tyas lagi.


Tyas yang bisa berubah menjadi wanita yang lembut tetapi juga bisa berubah menjadi wanita yang sangat keras kepala.


"Yas...sedang apa kamu sekarang?? masihkah kamu merindukanku seperti aku yang juga merindukanmu??" kata Anjar pelan.


Begitu pun di tempat lain, seorang pemuda sedang menatap bulan yang bersinar penuh tetapi dia sangat kaget saat bulan itu berubah menjadi wajah seorang wanita dewasa yang akhir-akhir ini memenuhi rongga kepalanya.


*


*


Bersambung....

__ADS_1


Lanjut ke next selanjutnya ya reader🙏🙏


__ADS_2